Tampilkan postingan dengan label Artikel Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Keluarga. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 April 2014

Kasih Sayang Ayah yang Sebenarnya

Suatu malam, di sebuah stasiun radio, sedang berlangsung acara dimana orang- orang berbagi pengalaman hidup mereka. Perhatian saya yang semula tercurah pada tugas statistik beralih ketika seorang wanita bercerita tentang ayahnya. Wanita ini adalah anak tunggal dari sebuah keluarga sederhana yang tinggal di pinggiran kota Jakarta. Sejak kecil ia sering dimarahi oleh ayahnya. Di mata sang ayah, tak satupun yang dikerjakan olehnya benar.
Setiap hari ia berusaha keras untuk melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginan ayahnya, namun tetap saja hanya ketidakpuasan sang ayah yang ia dapatkan. Pada waktu ia berumur 17 tahun, tak sepatah ucapan selamat pun yang keluar dari mulut ayahnya. Hal ini membuat wanita itu semakin membenci ayahnya. Sosok ayah yang melekat dalam dirinya adalah sosok yang pemarah dan tidak memperhatikan dirinya. Akhirnya ia memberontak dan tak pernah satu hari pun ia lewati tanpa bertengkar dengan ayahnya.
Beberapa hari setelah ulang tahun yang ke-17, ayah wanita itu meninggal dunia akibat penyakit kanker yang tak pernah ia ceritakan kepada siapapun kecuali pada istrinya. Walaupun merasa sedih dan kehilangan, namun di dalam diri wanita itu masih tersimpan rasa benci terhadap ayahnya.
Suatu hari ketika membantu ibunya membereskan barang-barang peninggalan almarhum, ia menemukan sebuah bingkisan yang dibungkus dengan rapi dan di atasnya tertulis “Untuk Anakku Tersayang”.
Dengan hati-hati diambilnya bingkisan tersebut dan mulai membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah jam tangan dan sebuah buku yang telah lama ia idam-idamkan. Di samping kedua benda itu, terdapat sebuah kartu ucapan berwarna merah muda, warna kesukaannya. Perlahan ia membuka kartu tersebut dan mulai membaca tulisan yang ada di dalamnya, yang ia kenali betul sebagai tulisan tangan ayahnya.
Ya Allah, Subhanallah,Terima kasih karena Engkau mempercayai diriku yang rendah ini Untuk memperoleh karunia terbesar dalam hidupku Kumohon Ya Allah, Jadikan buah kasih hambaMu ini Orang yang berarti bagi sesamanya dan bagiMu Jangan kau berikan jalan yang lurus dan luas membentang Berikan pula jalan yang penuh liku dan duri Agar ia dapat meresapi kehidupan dengan seutuhnya
Sekali lagi kumohon Ya Allah, Sertailah anakku dalam setiap langkah yang ia tempuh Jadikan ia sesuai dengan kehendakMu Selamat ulang tahun anakku Doa ayah selalu menyertaimu “Dari Ayah yang Selalu Menyayangimu, sayang”
Meledaklah tangis sang anak usai membaca tulisan yang terdapat dalam kartu tersebut. Ibunya menghampiri dan menanyakan apa yang terjadi. Dalam pelukan ibunya, ia menceritakan semua tentang bingkisan dan tulisan yang terdapat dalam kartu ulang tahunnya. Ibu wanita itu akhirnya menceritakan bahwa ayahnya memang sengaja merahasiakan penyakitnya dan mendidik anaknya dengan keras agar sang anak menjadi wanita yang kuat, tegar dan tidak terlalu kehilangan sosok ayahnya ketika ajal menjemput akibat penyakit yang diderita……..
Pada akhir acara, wanita itu mengingatkan para pemirsa agar tidak selalu melihat apa yang kita lihat dengan kedua mata kita. Lihatlah juga segala sesuatu dengan mata hati kita. Apa yang kita lihat dengan kedua mata kita terkadang tidak sepenuhnya seperti apa yang sebenarnya terjadi.
“Kasih seorang ayah, seorang ibu, saudara-saudara, orang-orang di sekitar kita, dan terutama kasih Allah dilimpahkan pada kita dengan berbagai cara. Sekarang tinggal bagaimana kita menerima, menyerap, mengartikan dan membalas Kasih Yang Sebenarnya……………” kata wanita tersebut menutup acara pada malam hari itu.
Sumber: Erva Kurniawan Blog

Kamis, 17 April 2014

Mandi Menyenangkan dapat Mencerdasan Anak

Buat para bunda yang masih memiliki anak balita, tentunya ingin memiliki anak yang cerdas bukan ?? ternyata kegiatan mandi dapat dijadikan ajang sebagai salah satu cara untuk mencerdaskan anak.., yaitu dgn membuat suasana mandi menjadi nyaman dan menyenangkan.., yuuk liat bagaimana caranya..??
Mandi dan Kecerdasan Anak
Oleh : Widianingsih, M.Ag.
BEBERAPA waktu lalu, saya melihat adik saya memandikan anak pertamanya. Usia anaknya 1 tahun lebih. Bayinya tertawa menikmati dinginnya air. Namun ibunya teramat fokus menggosok badan anaknya dengan sabun. Lalu membilasnya dengan air tanpa berkata-kata sedikitpun.
Setelah keduanya keluar kamar mandi saya pun bertanya, “Dek, apa yang baru saja kamu lakukan?” Ia pun menjawab, “Oh tadi itu, habis mandiin Azam.” Azzam itu nama anaknya. “Dikira sedang mencuci baju,” tukas saya. Ia pun berlalu menuju kamarnya.
Ba’da maghrib setelah anaknya tidur, saya bicara dengan adik. Saya sampaikan bahwa kegiatan mandi bisa membuat anaknya cerdas. Memang tidak sedikit para ibu yang belum memahami hal ini. Kebanyakan mereka merasa ingin cepat-cepat menyelesaikan satu kegiatan bersama anak karena pekerjaan rumah tangga lain menunggu
Usia 0-2 tahun disebut sebagai jendela kesempatan oleh neuroscientist. Karena pada usia inilah terjadi proses tahap awal penyambungan antar sel otak. Jika pada usia ini ada sel yang tidak tersambung, maka sel tersebut akan hilang melalui program penghapusan.Itulah mengapa kehidupan seorang anak setelah dewasa tergantung pada masa golden age-nya.
Dalam setiap kegiatan rutin yang dilakukan ibu dan bayinya terdapat banyak kesempatan untuk membangun sambungan sel-sel otak. Orangtua perlu memverbalkan apa kegiatan yang dilakukan dengan bayi. Bayi mendapat pengetahuan melalui semua inderanya. Maka dengan membahasakan semua yang dilakukan, bayi akan menerima pengetahuan melalui semua inderanya dengan lengkap.
Saat mandi misalnya, diawali dengan membantu bayi membuka baju. Ibu atau ayah yang membantu bayi harus bicara. “Anakku sayang, kegiatan mu sekarang adalah mandi. boleh ya ibu/ayah bantu buka bajunya. Bismillahirrahmanirrahiim. “ Ibu/ayah membuka baju anak perlahan-lahan tanpa berhenti bicara.
Kita katakan pertama yang dibuka kancingnya, lalu tangan kanannya dan seterusnya. Setelah bajunya di buka, ibu terus bicara bahwa sekarang sedang bergerak menuju kamar mandi, bisa ditambah dengan menghitung langkah kaki ibu dari kamar tidur menuju kamar mandi. Setelah siap di depan pintu kamar mandi, orangtua tetap tak berhenti bicara, sampaikan bagaimana Islam mengajarkan adab masuk kamar mandi disertai do’a sebelum masuk kamar mandi.
Setelah anak masuk bak mandi, tetap orangtua harus bicara. Satu-persatu anggota tubuhnya disebutkan. Tak lupa fungsi-fungsi setiap bagian tubuhnya. Sampaikan benda-benda yang ada di kamar mandi. Dingin atau hangatnya air yang dipakai. Benda-benda yang sedang digunakannya. Usapan disertai pijitan lembut dan hangat di tubuhnya akan membuat sambungan semua sel otaknya.
Hingga selesai bilasan terakhir orang tua tetap tidak boleh berhenti bicara. Kemudian ulang seperti diawal kita sampaikan adab keluar kamar mandi. Lalu terus bicara bergerak kemana setelah keluar dari sana.
Satu kegiatan rutin mandi saja akan membuat sambungan yang banyak pada sel-sel otaknya. Rangsangan dari semua inderanya membuat anak kita menjadi anak yang cerdas. Bisa kita bayangkan berapa sambungan yang akan terlewatkan ketika orangtua tidak mendampingi anaknya.
Kita tidak bisa memilih dilahirkan dari orangtua yang cerdas atau biasa saja. Tapi kita bisa memilih untuk menjadi orangtua yang cerdas bukan? [islampos]
Dari uraian diatas, anak cerdas dihasilkan dari ibu yang penuh kelembutan dan komunikatif, walaupun anak tersebut masih balita yang mungkin belum mengerti perkataan ibunya.. namun yang penting jalinan sentuhan kasih sayang dan komunikasi yang baik itulah yang menumbuhkan kembangkan sel-sel otaknya, semoga hal ini bisa dilanjutkan sampai mereka dewasa, maksudnya kenjadi ibu yang komunikatif dalam setiap kesempatan. wallahu alam bi showab.

Rabu, 26 Maret 2014

Rahasia Kepintaran Orang yahudi

DALAM Qur’an, tertulis bahwa kebanyakan dari golongan Yahudi ialah diberi karunia berupa kepintaran akal. Artikel Dr Stephen Carr Leon patut menjadi renungan bersama. Stephen menulis dari pengamatan langsung. Setelah berada 3 tahun di Israel karena menjalani housemanship dibeberapa rumah sakit di sana. Dirinya melihat ada beberapa hal yang menarik yang dapat ditarik sebagai bahan tesisnya, yaitu, “Mengapa Yahudi Pintar ?”
Ketika tahun kedua, akhir bulan Desember 1980, Stephen sedang menghitung hari untuk pulang ke California, terlintas di benaknya, apa sebabnya Yahudi begitu pintar? Kenapa tuhan memberi kelebihan kepada mereka? Apakah ini suatu kebetulan? Atau hasil usaha sendiri?
Maka Stephen tergerak membuat tesis untuk Phd-nya. Sekadar untuk Anda ketahui, tesis ini memakan waktu hampir delapan tahun. Karena harus mengumpulkan data-data yang setepat mungkin.
Marilah kita mulai dengan persiapan awal melahirkan. Di Israel, setelah mengetahui sang ibu sedang mengandung, sang ibu dan bapak akan membeli buku matematika dan menyelesaikan soal bersama suami. Stephen sungguh heran karena temannya yang mengandung sering membawa buku matematika dan bertanya beberapa soal yang tak dapat diselesaikan. Kebetulan Stephen suka matematika.
Stephen bertanya, “Apakah ini untuk anak kamu?” Dia menjawab, “Iya, ini untuk anak saya yang masih di kandungan, saya sedang melatih otaknya, semoga ia menjadi jenius.” Hal ini membuat Stephen tertarik untuk mengikut terus perkembangannya.
Kembali ke matematika tadi, tanpa merasa jenuh si calon ibu mengerjakan latihan matematika sampai genap melahirkan. Hal lain yang Stephen perhatikan adalah cara makan. Sejak awal mengandung dia suka sekali memakan kacang badam dan korma bersama susu. Tengah hari makanan utamanya roti dan ikan tanpa kepala bersama salad yang dicampur dengan badam dan berbagai jenis kacang-kacangan.
Menurut wanita Yahudi itu, daging ikan sungguh baik untuk perkembangan otak dan kepala ikan mengandungi kimia yang tidak baik yang dapat merusak perkembangan dan penumbuhan otak anak didalam kandungan. Ini adalah adat orang orang Yahudi ketika mengandung. menjadi semacam kewajiban untuk ibu yang sedang mengandung mengonsumsi pil minyak ikan.
Ketika diundang untuk makan malam bersama orang orang Yahudi. Begitu Stephen menceritakan, “Perhatian utama saya adalah menu mereka. Pada setiap undangan yang sama saya perhatikan, mereka gemar sekali memakan ikan (hanya isi atau fillet),” ungkapnya.
Biasanya kalau sudah ada ikan, tidak ada daging. Ikan dan daging tidak ada bersama di satu meja. Menurut keluarga Yahudi, campuran daging dan ikan tak bagus dimakan bersama. Salad dan kacang, harus, terutama kacang badam.
Uniknya, mereka akan makan buah buahan dahulu sebelum hidangan utama. Jangan terperanjat jika Anda diundang ke rumah Yahudi Anda akan dihidangkan buah buahan dahulu. Menurut mereka, dengan memakan hidangan kabohidrat (nasi atau roti) dahulu kemudian buah buahan, ini akan menyebabkan kita merasa ngantuk. Akibatnya lemah dan payah untuk memahami pelajaran di sekolah.
Di Israel, merokok adalah tabu, apabila Anda diundang makan dirumah Yahudi, jangan sekali kali merokok. Tanpa sungkan mereka akan menyuruh Anda keluar dari rumah mereka. Menyuruh Anda merokok di luar rumah mereka. Menurut ilmuwan di Universitas Israel, penelitian menunjukkan nikotin dapat merusakkan sel utama pada otak manusia dan akan melekat pada gen. Artinya, keturunan perokok bakal membawa generasi yang cacat otak ( bodoh). Suatu penemuan yang dari saintis gen dan DNA Israel.
Perhatian Stephen selanjutnya adalah mengunjungi anak-anak Yahudi. Mereka sangat memperhatikan makanan, makanan awal adalah buah buahan bersama kacang badam, diikuti dengan menelan pil minyak ikan (code oil lever). yahudi 4 Rahasia Kecerdasan Orang Orang Yahudi; Ambil Yang Baik Buang Yang Buruk Dalam pengamatan Stephen, anak-anak Yahudi sungguh cerdas. Rata rata mereka memahami tiga bahasa, Hebrew, Arab dan Inggris.
Seterusnya di kelas 1 hingga 6, anak anak Yahudi akan diajar matematika berbasis perniagaan. Pelajaran IPA sangat diutamakan. Di dalam pengamatan Stephen, “Perbandingan dengan anak anak di California, dalam tingkat IQ-nya bisa saya katakan 6 tahun kebelakang!! !” katanya.Segala pelajaran akan dengan mudah di tangkap oleh anak Yahudi. Selain dari pelajaran tadi olahraga juga menjadi kewajiban bagi mereka. Olahraga yang diutamakan adalah memanah, menembak dan berlari.Menurut teman Yahudi-nya Stephen, memanah dan menembak dapat melatih otak fokus. Disamping itu menembak bagian dari persiapan untuk membela negara.
Selanjutnya perhatian Stephen ke sekolah tinggi (menengah). Di sini murid-murid digojlok dengan pelajaran sains. Mereka didorong untuk menciptakan produk. Meski proyek mereka kadangkala kelihatannya lucu dan memboroskan, tetap diteliti dengan serius.
Apa lagi kalau yang diteliti itu berupa senjata, medis dan teknik . Ide itu akan dibawa ke jenjang lebih tinggi. Satu lagi yg di beri keutamaan ialah fakultas ekonomi. Saya sungguh terperanjat melihat mereka begitu agresif dan seriusnya mereka belajar ekonomi. Diakhir tahun diuniversitas, mahasiswa diharuskan mengerjakan proyek. Mereka harus memperaktekkanya. Anda hanya akan lulus jika team Anda (10 pelajar setiap kumpulan) dapat keuntungan sebanyak $US 1 juta !
Hal ini cukup mengejutkan bukan ?? Itulah kenyataannya, dan bagaimana dengan di negeri kita? Apa syarat kelulusan? Banyak yang hanya dengan syarat mencapai nilai 60 saja, bahkan ada beberapa yang hanya cukup dengan nilai 55 saja, dan malah banyak yang di katrol. Praktek Kerja Lapangan hanya sekedarnya, tidak benar-benar memikirkan sebuah proyek yang berguna bagi UMMAT. Setidaknya, ini yang harus kita cermati & perbaiki.
Kesimpulan, pada teori Stephen adalah, melahirkan anak dan keturunan yang cerdas adalah keharusan.. Tentunya bukan perkara yang bisa diselesaikan semalaman. Perlu proses, melewati beberapa generasi mungkin?
Nah jika ada wanita hamil di sekitar kita, ada baiknya kita informasikan hal ini plus ibunya sering-sering baca al Qur'an agar kelak akan lahir generasi yang pandai dan rabbani.. amiinn ya rabbul alamina..

Selasa, 27 Agustus 2013

10 Kisah Cinta Paling Indah Sepanjang Masa

1. Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra
Cinta Ali dan Fatimah luar biasa indah, terjaga kerahasiaanya dalam sikap, ekspresi, dan kata, hingga akhirnya Allah menyatukan mereka dalam suatu pernikahan. Konon saking rahasianya, setan saja tidak tahu menahu soal cinta di antara mereka. Subhanallah.
Ali terpesona pada Fatimah sejak lama, disebabkan oleh kesantunan, ibadah, kecekatan kerja, dan paras putri kesayangan Rasulullah Saw. itu. Ia pernah tertohok dua kali saat Abu Bakar dan Umar ibn Khattab melamar Fatimah sementara dirinya belum siap untuk melakukannya. Namun kesabarannya berbuah manis,lamaran kedua orang sahabat yang tak diragukan lagi kesholehannya tersebut ternyata ditolak Rasulullah Saw. Akhirnya Ali memberanikan diri. Dan ternyata lamarannya kepada Fatimah yang hanya bermodal baju besi diterima.
Di sisi lain, Fatimah ternyata telah memendam cintanya kepada Ali sejak lama. Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah kedua menikah, Fatimah berkata kepada Ali: “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya”. Ali pun bertanya mengapa ia tetap mau menikah dengannya, dan apakah Fatimah menyesal menikah dengannya. Sambil tersenyum Fathimah menjawab, “Pemuda itu adalah dirimu”
2. Umar bin Abdul Aziz
Umar bin Abdul Aziz, khalifah termasyhur dalam Bani Umayyah, suatu kali jatuh cinta pada seorang gadis, namun istrinya, Fatimah binti Abdul Malik tak pernah mengizinkannya menikah lagi. Suatu saat dikisahkan bahwa Umar mengalami sakit akibat kelelahan dalam mengatur urusan pemerintahan. Fatimah pun datang membawa kejutan untuk menghibur suaminya. Ia menghadiahkan gadis yang telah lama dicintai Umar, begitu pun si gadis mencintai Umar. Namun Umar malah berkata: "Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Saya benar-benar tidak merubah diri saya kalau saya kembali kepada dunia perasaan semacam itu,"
Umar memenangkan cinta yang lain, karena memang ada cinta di atas cinta. Akhirnya ia menikahkan gadis itu dengan pemuda lain. Tidak ada cinta yang mati di sini. Karena sebelum meninggalkan rumah Umar, gadis itu bertanya, "Umar, dulu kamu pernah mencintaiku. Tapi kemanakah cinta itu sekarang?" Umar bergetar haru, tapi ia kemudian menjawab, "Cinta itu masih tetap ada, bahkan kini rasanya lebih dalam!"
3. Abdurrahman ibn Abu Bakar
Abdurrahman bin Abu Bakar Ash Shiddiq dan istrinya, Atika, amat saling mencintai satu sama lain sehingga Abu Bakar merasa khawatir dan pada akhirnya meminta Abdurrahman menceraikan istrinya karena takut cinta mereka berdua melalaikan dari jihad dan ibadah. Abdurrahman pun menuruti perintah ayahnya, meski cintanya pada sang istri begitu besar.
Namun tentu saja Abdurrahman tak pernah bisa melupakan istrinya. Berhari-hari ia larut dalam duka meski ia telah berusaha sebaik mungkin untuk tegar. Perasaan Abdurrahman itu pun melahirkan syair cinta indah sepanjang masa:
Demi Allah, tidaklah aku melupakanmu Walau mentari tak terbit meninggi Dan tidaklah terurai air mata merpati itu Kecuali berbagi hati Tak pernah kudapati orang sepertiku Menceraikan orang seperti dia Dan tidaklah orang seperti dia dithalaq karena dosanya Dia berakhlaq mulia, beragama, dan bernabikan Muhammad Berbudi pekerti tinggi, bersifat pemalu dan halus tutur katanya
Akhirnya hati sang ayah pun luluh. Mereka diizinkan untuk rujuk kembali. Abdurrahman pun membuktikan bahwa cintanya suci dan takkan mengorbankan ibadah dan jihadnya di jalan Allah. Terbukti ia syahid tak berapa lama kemudian.
4. Rasulullah Saw. dan Khadijah binti Khuwailid
Teladan dalam kisah cinta terbaik tentunya datang dari insan terbaik sepanjang masa: Rasulullah Saw. Cintanya kepada Khadijah tetap abadi walaupun Khadijah telah meninggal. Alkisah ternyata Rasulullah telah memendam cintanya pada Khadijah sebelum mereka menikah. Saat sahabat Khadijah, Nafisah binti Muniyah, menanyakan kesedian Nabi Saw. untuk menikahi Khadijah, maka Beliau menjawab: “Bagaimana caranya?” Ya, seolah-olah Beliau memang telah menantikannya sejak lama.
Setahun setelah Khadijah meninggal, ada seorang wanita shahabiyah yang menemui Rasulullah Saw. Wanita ini bertanya, "Ya Rasulullah, mengapa engkau tidak menikah? Engkau memiliki 9 keluarga dan harus menjalankan seruan besar."
Sambil menangis Rasulullah Saw menjawab, "Masih adakah orang lain setelah Khadijah?"
Kalau saja Allah tidak memerintahkan Muhammad Saw untuk menikah, maka pastilah Beliau tidak akan menikah untuk selama-lamanya. Nabi Muhammad Saw menikah dengan Khadijah layaknya para lelaki. Sedangkan pernikahan-pernikahan setelah itu hanya karena tuntutan risalah Nabi Saw, Beliau tidak pernah dapat melupakan istri Beliau ini walaupun setelah 14 tahun Khadijah meninggal.
Masih banyak lagi bukti-bukti cinta dahsyat nan luar biasa islami Rasulullah Saw. kepada Khadijah. Subhanallah.
5. Rasulullah Saw. dan Aisyah
Jika Rasulullah SAW ditanya siapa istri yang paling dicintainya, Rasul menjawab, ”Aisyah”. Tapi ketika ditanya tentang cintanya pada Khadijah, beliau menjawab, “cinta itu Allah karuniakan kepadaku”. Cinta Rasulullah pada keduanya berbeda, tapi keduanya lahir dari satu yang sama: pesona kematangan.
Pesona Khadijah adalah pesona kematangan jiwa. Pesona ini melahirkan cinta sejati yang Allah kirimkan kepada jiwa Nabi Saw. Cinta ini pula yang masih menyertai nama Khadijah tatkala nama tersebut disebut-sebut setelah Khadijah tiada, sehingga Aisyah cemburu padanya.
Sedangkan Aisyah adalah gabungan dari pesona kecantikan, kecerdasan, dan kematangan dini. Ummu Salamah berkata, “Rasul tidak dapat menahan diri jika bertemu dengan Aisyah.”
Banyak kisah-kisah romantis yang menghiasi kehidupan Nabi Muhammad dan istrinya, Aisyah. Rasul pernah berlomba lari dengan Aisyah. Rasul pernah bermanja diri kepada Aisyah. Rasul memanggil Aisyah dengan panggilan kesayangan ‘Humaira’. Rasul pernah disisirkan rambutnya, dan masih banyak lagi kisah serupa tentang romantika suami-istri.
6. Thalhah ibn ‘Ubaidillah
Berikut ini kutipan kisah Thalhah ibn ‘Ubaidillah. Satu hari ia berbincang dengan ‘Aisyah, isteri sang Nabi, yang masih terhitung sepupunya. Rasulullah datang, dan wajah beliau pias tak suka. Dengan isyarat, beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam meminta ‘Aisyah masuk ke dalam bilik. Wajah Thalhah memerah. Ia undur diri bersama gumam dalam hati, “Beliau melarangku berbincang dengan ‘Aisyah. Tunggu saja, jika beliau telah diwafatkan Allah, takkan kubiarkan orang lain mendahuluiku melamar ‘Aisyah.”
Satu saat dibisikannya maksud itu pada seorang kawan, “Ya, akan kunikahi ‘Aisyah jika Nabi telah wafat.”
Gumam hati dan ucapan Thalhah disambut wahyu. Allah menurunkan firmanNya kepada Sang Nabi dalam ayat kelimapuluhtiga surat Al Ahzab, “Dan apabila kalian meminta suatu hajat kepada isteri Nabi itu, maka mintalah pada mereka dari balik hijab. Demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka. Kalian tiada boleh menyakiti Rasulullah dan tidak boleh menikahi isteri-isterinya sesudah wafatnya selama-lamanya.”
Ketika ayat itu dibacakan padanya, Thalhah menangis. Ia lalu memerdekakan budaknya, menyumbangkan kesepuluh untanya untuk jalan Allah, dan menunaikan haji dengan berjalan kaki sebagai taubat dari ucapannya. Kelak, tetap dengan penuh cinta dinamainya putri kecil yang disayanginya dengan asma ‘Aisyah. ‘Aisyah binti Thalhah. Wanita jelita yang kelak menjadi permata zamannya dengan kecantikan, kecerdasan, dan kecemerlangannya. Persis seperti ‘Aisyah binti Abi Bakr yang pernah dicintai Thalhah.
Subhanallah. Mantab.
7. Kisah cinta yang membawa surga
Al-Mubarrid menyebutkan dari Abu Kamil dari Ishaq bin Ibrahim dari Raja' bin Amr An-Nakha'i, ia berkata, "Adalah di Kufah, terdapat pemuda tampan, dia sangat rajin dan taat. Suatu waktu dia berkunjung ke kampung dari Bani An-Nakha'. Dia melihat seorang wanita cantik dari mereka sehingga dia jatuh cinta dan kasmaran. Dan ternyata cintanya pada si wanita cantik tak bertepuk sebelah tangan. Karena sudah jatuh cinta, akhirnya pemuda itu mengutus seseorang untuk melamar gadis tersebut. Tetapi si ayah mengabarkan bahwa putrinya telah dojodohkan dengan sepupunya. Walau demikian, cinta keduanya tak bisa padam bahkan semakin berkobar. Si wanita akhirnya mengirim pesan lewat seseorang untuk si pemuda, bunyinya, 'Aku telah tahu betapa besar cintamu kepadaku, dan betapa besar pula aku diuji dengan kamu. Bila kamu setuju, aku akan mengunjungimu atau aku akan mempermudah jalan bagimu untuk datang menemuiku di rumahku.
'
Dijawab oleh pemuda tadi melalui orang suruhannya, 'Aku tidak setuju dengan dua alternatif itu, sesungguhnya aku merasa takut bila aku berbuat maksiat pada Rabbku akan adzab yang akan menimpaku pada hari yang besar. Aku takut pada api yang tidak pernah mengecil nyalanya dan tidak pernah padam kobaranya.'
Ketika disampaikan pesan tadi kepada si wanita, dia berkata, "Walau demikian, rupanya dia masih takut kepada Allah? Demi Allah, tak ada seseorang yang lebih berhak untuk bertaqwa kepada Allah dari orang lain. Semua hamba sama-sama berhak untuk itu." Kemudian dia meninggalkan urusan dunia dan menyingkirkan perbuatan-perbuatan buruknya serta mulai beribadah mendekatkan diri kepada Allah. Akan tetapi, dia masih menyimpan perasaan cinta dan rindu pada sang pemuda. Tubuhnya mulai kurus karena menahan rindunya, sampai akhirnya dia meninggal dunia karenanya. Dan pemuda itu seringkali berziarah ke kuburnya, Dia menangis dan mendo'akanya. Suatu waktu dia tertidur di atas kuburannya. Dia bermimpi berjumpa dengan kekasihnya dengan penampilan yang sangat baik. Dalam mimpi dia sempat bertanya, "Bagaimana keadaanmu? Dan apa yang kau dapatkan setelah meninggal?"
Dia menjawab, "Sebaik-baik cinta wahai orang yang bertanya, adalah cintamu. Sebuah cinta yang dapat mengiring menuju kebaikan." Pemuda itu bertanya, "Jika demikian, kemanakah kau menuju?" Dia jawab, "Aku sekarang menuju pada kenikmatan dan kehidupan yang tak berakhir. Di Surga kekekalan yang dapat kumiliki dan tidak akan pernah rusak." Pemuda itu berkata, "Aku harap kau selalu ingat padaku di sana, sebab aku di sini juga tidak melupakanmu." Dia jawab, "Demi Allah, aku juga tidak melupakanmu. Dan aku meminta kepada Tuhanku dan Tuhanmu (Allah SWT) agar kita nanti bisa dikumpulkan. Maka, bantulah aku dalam hal ini dengan kesungguhanmu dalam ibadah."
Si pemuda bertanya, "Kapan aku bisa melihatmu?" Jawab si wanita: "Tak lama lagi kau akan datang melihat kami." Tujuh hari setelah mimpi itu berlalu, si pemuda dipanggil oleh Allah menuju kehadiratNya, meninggal dunia. Hmm, sebuah kisah cinta yang agung dengan berdasarkan janji bertemu di surga. Luar biasa. AllahuAkbar.
8. Ummu Sulaim dan Abu Thalhah
Ummu Sulaim merupakan janda dari Malik bin Nadhir. Abu Thalhah yang memendam rasa cinta dan kagum akhirnya memutuskan untuk menikahi Ummu Sulaim tanpa banyak pertimbangan. Namun di luar dugaan, jawaban Ummu Sulaim membuat lidahnya menjadi kelu dan rasa kecewanya begitu menyesakkan dada, meski Ummu Sulaim berkata dengan sopan dan rasa hormat,
"Sesungguhnya saya tidak pantas menolak orang yang seperti engkau, wahai Abu Thalhah. Hanya sayang engkau seorang kafir dan saya seorang muslimah. Maka tak pantas bagiku menikah denganmu. Coba Anda tebak apa keinginan saya?"
"Engkau menginginkan dinar dan kenikmatan," kata Abu Thalhah. "Sedikitpun saya tidak menginginkan dinar dan kenikmatan. Yang saya inginkan hanya engkau segera memeluk agama Islam," tukas Ummu Sualim tandas. "Tetapi saya tidak mengerti siapa yang akan menjadi pembimbingku?" tanya Abu Thalhah. "Tentu saja pembimbingmu adalah Rasululah sendiri," tegas Ummu Sulaim.
Maka Abu Thalhah pun bergegas pergi menjumpai Rasulullah Saw. yang mana saat itu tengah duduk bersama para sahabatnya. Melihat kedatangan Abu Thalhah, Rasulullah Saw. berseru, "Abu Thalhah telah datang kepada kalian, dan cahaya Islam tampak pada kedua bola matanya."
Ketulusan hati Ummu Sulaim benar-benar terasa mengharukan relung-relung hati Abu Thalhah. Ummu Sulaim hanya akan mau dinikahi dengan keislamannya tanpa sedikitpun tegiur oleh kenikmatan yang dia janjikan. Wanita mana lagi yang lebih pantas menjadi istri dan ibu asuh anak-anaknya selain Ummu Sulaim? Hingga tanpa terasa di hadapan Rasulullah Saw. lisan Abu Thalhah basah mengulang-ulang kalimat, "Saya mengikuti ajaran Anda, wahai Rasulullah. Saya bersaksi, bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusanNya."
Menikahlah Ummu Sulaim dengan Abu Thalhah, sedangkan maharnya adalah keislaman suaminya. Hingga Tsabit –seorang perawi hadits- meriwayatkan dari Anas, "Sama sekali aku belum pernah mendengar seorang wanita yang maharnya lebih mulia dari Ummu Sulaim, yaitu keislaman suaminya." Selanjutnya mereka menjalani kehidupan rumah tangga yang damai dan sejahtera dalam naungan cahaya Islam.
9. Kisah seorang pemuda yang menemukan apel
Alkisah ada seorang pemuda yang ingin pergi menuntut ilmu. Dictengah perjalanan dia haus dan singgah sebentar di sungai yang airnya jernih. dia langsung mengambil air dan meminumnya. tak berapa lama kemudian dia melihat ada sebuah apel yang terbawa arus sungai, dia pun mengambilnya dan segera memakannya. setelah dia memakan segigit apel itu dia segera berkata "Astagfirullah"
Dia merasa bersalah karena telah memakan apel milik orang lain tanpa meminta izin terlebih dahulu. "Apel ini pasti punya pemiliknya, lancang sekali aku sudah memakannya. Aku harus menemui pemiliknya dan menebus apel ini". Akhirnya dia menunda perjalanannya menuntut ilmu dan pergi menemui sang pemilik apel dengan menyusuri bantaran sungai untuk sampai kerumah pemilik apel. Tak lama kemudian dia sudah sampai ke rumah pemilik apel. Dia melihat kebun apel yang apelnya tumbuh dengan lebat.
"Assalamualaikum...." "Waalaikumsalam wr.wb.". Jawab seorang lelaki tua dari dalam rumahnya. Pemuda itu dipersilahkan duduk dan dia pun langsung mengatakan segala sesuatunya tanpa ada yang ditambahi dan dikurangi. Bahwa dia telah lancang memakan apel yang terbawa arus sungai. "Berapa harus kutebus harga apel ini agar kau ridha apel ini aku makan pak tua". tanya pemuda itu.
Lalu pak tua itu menjawab. "Tak usah kau bayar apel itu, tapi kau harus bekerja di kebunku selama 3 tahun tanpa dibayar, apakah kau mau?" Pemuda itu tampak berfikir, karena untuk segigit apel dia harus membayar dengan bekerja di rumah bapak itu selama tiga tahun dan itupun tanpa digaji, tapi hanya itu satu-satunya pilihan yang harus diambilnya agar bapak itu ridha apelnya ia makan."Baiklah pak, saya mau." Alhasil pemuda itu bekerja di kebun sang pemilik apel tanpa dibayar. Hari berganti hari, minggu, bulan dan tahun pun berlalu. Tak terasa sudah tiga tahun dia bekerja dikebun itu. Dan hari terakhir dia ingin pamit kepada pemilik kebun.
"Pak tua, sekarang waktuku bekerja di tempatmu sudah berakhir, apakah sekarang kau ridha kalau apelmu sudah aku makan?" Pak tua itu diam sejenak. "Belum." Pemuda itu terhenyak. "Kenapa pak tua, bukankah aku sudah bekerja selama tiga tahun di kebunmu." "Ya, tapi aku tetap tidak ridha jika kau belum melakukan satu permintaanku lagi." "Apa itu pak tua?" "Kau harus menikahi putriku, apakah kau mau?" "Ya, aku mau." jawab pemuda itu. Bapak tua itu mengatakan lebih lanjut. "Tapi, putriku buta, tuli, bisu dan lumpuh, apakah kau mau?"
Pemuda itu tampak berfikir, bagaimana tidak...dia akan menikahi gadis yang tidak pernah dikenalnya dan gadis itu cacat, dia buta, tuli, dan lumpuh. Bagaimana dia bisa berkomunikasi nantinya? Tapi diap un ingat kembali dengan segigit apel yang telah dimakannya. Dan dia pun menyetujui untuk menikah dengan anak pemilik kebun apel itu untuk mencari ridha atas apel yang sudah dimakannya.
"Baiklah pak, aku mau." Segera pernikahan pun dilaksanakan. Setelah ijab kabul sang pemuda itupun masuk kamar pengantin. Dia mengucapkan salam dan betapa kagetnya dia ketika dia mendengar salamnya dibalas dari dalam kamarnya. Seketika itupun dia berlari mencari sang bapak pemilik apel yang sudah menjadi mertuanya. "Ayahanda...siapakah wanita yang ada didalam kamar pengantinku? Kenapa aku tidak menemukan istriku?" Pak tua itu tersenyum dan menjawab. "Masuklah nak, itu kamarmu dan yang di dalam sana adalah istimu." Pemuda itu tampak bingung. "Tapi ayahanda, bukankah istriku buta, tuli tapi kenapa dia bisa mendengar salamku? Bukankah dia bisu tapi kenapa dia bisa menjawab salamku?"
Pak tua itu tersenyum lagi dan menjelaskan. "Ya, memang dia buta, buta dari segala hal yang dilarang Allah. Dia tuli, tuli dari hal-hal yang tidak pantas didengarnya dan dilarang Allah. Dia memang bisu, bisu dari hal yang sifatnya sia-sia dan dilarang Allah, dan dia lumpuh, karena tidak bisa berjalan ke tempat-tempat yang maksiat." Pemuda itu hanya terdiam dan mengucap lirih: "Subhanallah....." Dan merekapun hidup berbahagia dengan cinta dari Allah.
10. Zulaikha dan Yusuf As.
Cinta Zulaikha kepada Yusuf As. konon begitu dalam hingga Zulaikha takut cintanya kepada Yusuf merusak cintanya kepada Allah Swt. Berikut sedikit ulasan tentang cinta mereka Zulaikha adalah seorang puteri raja sebuah kerajaan di barat (Maghrib) negeri Mesir. Beliau seorang puteri yang cantik menarik. Beliau bermimpi bertemu seorang pemuda yang menarik rupa parasnya dengan peribadi yang amanah dan mulia. Zulaikha pun jatuh hati padanya. Kemudian beliau bermimpi lagi bertemu dengannya tetapi tidak tahu namanya.
Kali berikutnya beliau bermimpi lagi, lelaki tersebut memperkenalkannya sebagai Wazir kerajaan Mesir. Kecintaan dan kasih sayang Zulaikha kepada pemuda tersebut terus berputik menjadi rindu dan rawan sehingga beliau menolak semua pinangan putera raja yang lain. Setelah bapanya mengetahui isihati puterinya, bapanya pun mengatur risikan ke negeri Mesir sehingga mengasilkan majlis pernikahan dengan Wazir negri Mesir.
Memandang Wazir tersebut atau al Aziz bagi kali pertama, hancur luluh dan kecewalah hati Zulaikha. Hatinya hampa dan amat terkejut, bukan wajah tersebut yang beliau temui di dalam mimpi dahulu. Bagaimanapun ada suara ghaib berbisik padanya: “Benar, ini bukan pujaan hati kamu. Tetapi hasrat kamu kepada kekasih kamu yang sebenarnya akan tercapai melaluinya. Janganlah kamu takut kepadanya. Mutiara kehormatan engkau sebagai perawan selamat bersama-sama dengannya.”
Perlu diingat sejarah Mesir menyebut, Wazir diraja Mesir tersebut adalah seorang kasi, yang dikehendaki berkhidmat sepenuh masa kepada baginda raja. Oleh yang demikian Zulaikha terus bertekat untuk terus taat kepada suaminya kerana ia percaya ia selamat bersamnya. Demikian masa berlalu, sehingga suatu hari al-Aziz membawa pulang Yusuf a.s. yang dibelinya di pasar. Sekali lagi Zulaikha terkejut besar, itulah Yusuf a.s yang dikenalinya didalam mimpi. Tampan, menarik dan menawan. Sabda Nabi Saw. yang diriwayatkan oleh Hammad dari Tsabit bin Anas memperjelasnya: "Yusuf dan ibunya telah diberi oleh Allah separuh kecantikan dunia."
Kisah Zulaikha dan Yusuf direkam di dalam Al Quran pada Surah Yusuf ayat 21 sampai 36 dan ayat 51. Selepas ayat tersebut Al Quran tidak menceritakan kelanjutan hubungan Zulaikha dengan Yusuf a.s. Namun Ibn Katsir di dalam Tafsir Surah Yusuf memetik bahwa Muhammad bin Ishak berkata bahawa kedudukan yang diberikan kepada Yusuf a.s oleh raja Mesir adalah kedudukan yang dulunya dimiliki oleh suami Zulaikha yang telah dipecat. Juga disebut-sebut bahwa Yusuf telah beristrikan Zulaikha sesudah suaminya meninggal dunia, dan diceritakan bahwa pada suatu ketika berkatalah Yusuf kepada Zulaikha setelah ia menjadi isterinya, “Tidakkah keadaan dan hubungan kita se¬karang ini lebih baik dari apa yang pernah engkau inginkan?”
Zulaikha menjawab, “Janganlah engkau menyalahkan aku, hai kekasihku, aku sebagai wanita yang cantik, muda belia bersuamikan seorang pemuda yang berketerampilan dingin, menemuimu sebagai pemuda yang tampan, gagah perkasa bertubuh indah, apakah salah bila aku jatuh cinta kepadamu dan lupa akan kedudukanku sebagai wanita yang bersuami?” Dikisahkan bahwa Yusuf menikahi Zulaikha dalam keadaan gadis (perawan) dan dari perkawinan itu memperoleh dua orang putra: Ifraitsim bin Yusuf dan Misya bin Yusuf.
Demikianlah kisah-kisah cinta yang menggugah hati saya baru-baru ini. Semoga kisah cinta kita sekalian –saya dan anda, wahai para pembaca- seindah cinta mereka. Wallahu wa Rasulullahu bisshowab.
sumber:http://myrednotes.blogspot.com

Rabu, 13 Juni 2012

Jangan Siksa Anak dengan Kesenangan

Sebuah artikel menarik tentang anak yang sangat berguna khususnya untuk diriku pribadi..dalam memdidik anak, dan mudah2an juga berguna untuk para pembaca yang memiliki anak dengan usia dibawah 18 tahun.. karena untuk kemandirian anak tersebut pada masa dewasanya..
Jangan Siksa Anak dgn Kesenangan
Anak yang lahir dan tumbuh dalam keluarga-keluarga yang serba ada, penuh kasih sayang tetapi kurang disiplin, menghasilkan anak manja. Semua keinginan mereka relatif terpenuhi berlimpah.
Ada banyak alasan orangtua memanjakan anak. Di kota besar alasan klasik adalah orangtua kasihan dengan anak yang ditinggal sendirian di rumah hanya dengan pembantu. Kesibukan kerja membuat mereka lebih mengikuti kemauan anak. Pemanjaan sebagai jalan mengatasi rasa bersalah. Semua fasilitaspun disediakan.
Sementara itu, ada orangtua yang tergoda memanjakan anak karena trauma dengan masa lalunya yang sulit dan pahit. Hidup dalam kemiskinan (ortu) yang menyakitkan. Setelah dia menjadi “orang” alias kaya, dia mau anaknya senang. Fasilitas diberikan secara berlebihan.
Tak jarang anak sampai taraf duduk di SMP, untuk membuat minumanpun selalu sang Ibu atau pembantu yang menyediakan. Mengangkat tas ke mobil, dan sebagainya ada supir. Akibanya anak tidak mandiri. Daya juangnya tidak bertumbuh.
Harga diri mereka pun relatif rendah. Sebab harga diri mereka dibangun atas apa yang mereka miliki (secara lahiriah) bukan pada karakter dan nilai hidup yang sehat. Penyebab lainnya adalah hubungan batin dengan orang tua tidak terbangun, sehingga mereka cenderung menjadikan teman sebagai sarana curhat dan menghabiskan waktu. Jika mereka bertemu dengan teman yang salah, mereka mudah tersesat dalam pergaulan yang buruk. Apalagi mereka diberi uang jajan berlebihan.
Akibat dimanjakan, daya tahan stres merekapun tidak terbangun dengan baik. Tantangan dan kesulitan menjadi barang mewah bagi anak yang dimanjakan ini. Hingga masa remaja, mereka tidak cakap membedakan mana itu keinginan (wants) dan kebutuhan (needs).
Dalam pengalaman kerja, di beberapa pusat rehab dan depresi, kami menemukan banyak dari remaja tersebut besar dengan dimanjakan. Mereka tidak cakap mengelola konflik saat berada di bangku SMP dan SMU. Mereka mulai menghadapi pelbagai kesulitan yang mereka tidak jumpai di rumah. Apalagi saat menjumpai orangtuanya mulai keras dan kasar, tidak seperti dia masih duduk di sekolah TK dan SD.
Akibatnya anak mudah stres, marah dan frustrasi, dan obat (narkoba) yang ditawarkan teman mereka rasakan mampu meredakan konflik batin tersebut. Meski mereka mungkin tidak sampai menggunakan narkoba, daya juang mereka relatif rendah. Ini mempengaruhi prestasi studi dan jenjang karir. Tidak sedikit mereka berpindah-pindah kerja hanya dengan alasan tidak enak dan tidak cocok dengan rekan sekerja.
Sebagai penutup tulisan ini, Penulis mengajak kita memikirkan hal ini. Bahwa hal yang menyiksa hidup (anak) kita sesungguhnya bukanlah kesusahan tetapi justru kesenangan (berlebih). Mereka yang terbiasa dengan kesenangan, (sering) merasa tak pernah puas dengan kesenangan. Saat kesusahan datang dia bingung bukan kepalang serta sulit bersyukur. Mudah stres dan mencari jalan pintas, seperti drug hingga mencelakakan diri.
Sedangkan mereka yang terbiasa hidup dengan disiplin dan hidup dengan kesusahan, justru lebih tahan banting dengan kesusahan. Mereka mudah terhibur dan menghargai kesenangan meski hanya sedikit. Mereka tertantang mengejar kesenangan (kesuksesan) secara sportif, bukan dengan jalan pintas karena fasilitas orangtua mereka. Bagi mereka kesulitan justru menjadi pemicu untuk maju dan bertumbuh. Ketika sukses mereka menghargai proses lebih dari pada hasil.
Semoga kita diberi hikmat, kasih dan kebijaksanaan mengasuh anak-anak titipanNya. Terhindar dari perilaku yang bisa menjadi “penyiksa” anak-anak dengan memanjakan mereka secara berlebihan.
Editor : fitriadi Sumber : Kompas.com

Jumat, 16 Maret 2012

Bidadariku, Jangan Bakar Amalmu

Bidadari Syurgaku , maafkan suami ini yang baru membalas suratmu , dan maafkanlah suamimu ini karena tak bisa mendampingimu dalam menghadapi cobaan yang meremuk redamkan hatimu ... namun izinkanlah suamimu mengajakmu tuk memahami dan menerima kejadian yang menimpamu tatkala diri yang dhaif ini tak ada disampingmu .... Istriku, Jangan menangis , karena nanti engkau akan ditertawakan orang, apapun yang mereka tertawakan, anggaplah bahwa semua itu tak pernah ada , tutup matamu rapat rapat , sumpal telingamu dari mendengar perkataan mereka , dan tetaplah pada kebaikan, berlakulah baik seperti Wanita-wanita Muslimah yang sebelummu berbuat baik.
Bidadari Syurgaku ... Jangan Bakar amal amal baikmu selama ini karena engkau membalas umpatan orang orang yang mengumpatmu, hilangkan keinginan membalas dendam, hasud, ingin balik mencerca dan memaki-maki , karena semua itu hanya akan menimbulkan kerusakan belaka pada ketaatanmu kepada Alloh Yang Maha Suci lagi Maha Agung, Sikap hasud itu hanya akan membakar semua amalmu... Camkanlah Sabda Mulia Rasulullah "Jauhilah Hasud, karena Hasud itu akan memakan amal kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar "( HR. Abu Dawud dalam sunannya (4257) Al-Kutubut Tis'ah)
Duhai Bidadari Syurgaku Sikap terbaik adalah tetaplah tersenyum menghadapi orang orang yang tidak menyukaimu, memberinya salam seperti Rasulullah perintahkan, dan mudah mudahan mereka berhenti dari menghinamu , mencaci makimu dan membuat susah, dan berbalik saling mencintai. Istri ku Terkasih.... Allah dan Rasul-Nya melarang saking menghina, saling mencaci maki dan saling menyusahkan , tetapi Allah dan Rasul-Nya menyeru untuk saling mencintai , saling memberi keselamatan (salam) supaya kita mendapat kemenangan , sebagaimana sabda sabda Rasulullah yang mulia berikut ;
"Janganlah meremehkan suatu kebaikan , walaupun sekedar bertemu saudaramu dengan wajah berseri-seri " (HR. Muslim dalam Shahihnya (4760) dan Tirmidzi dalam sunannya (1756) Al-Kutubut Tis'ah) " Barang siapa yang memberi kesusahan kepada orang Islam, Niscaya Allah akan memberi kesusahan kepadanya, dan barang siapa memberi kepayahan kepada orang Muslim niscaya Allah akan memberi Kepayahan " (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud) "Mengata-ngatai atau mencaci maki Orang Islam itu suatu kefasiqan dan membunuh orang Islam itu suatu Kekufuran " ( HR. Mutafaq Alaih)
Apabila orang lain menghinamu dan engkau tidak melawannya , walaupun engkau mampu untuk melawan, tapi engkau malah memaafkan dan memberinya salam , Maka Allah SWT tidak akan mengingkari Janjinya .... "Dan dimasukkanlah orang2 yang beriman dan beramal shaleh ke dalam syurga yang mengalir dibawahnya sungai sungai , maka kekal didalamnya dengan izin Rabb Mereka , ucapan penghormatan mereka dalam syurga itu ialah Salam " (QS. Ibrahim :23)
Duhai Bidadari Syurgaku.... Jangan Bakar amalmu karena engkau membalas dendam itu semua tidaklah sekali-kali mendatangkan manfaat bagimu , tapi berbuat baiklah dan tebarkanlah salam semoga Allah Ta'ala merahmatimu Jauhi sifat Dengki agar engkau terjauh dari bahaya yang timbul dari dirimu sendiri , dengki akan menghapus segala amal kebaikanmu , membuat hati tidak tentram , selalu dirasuki rasa ketakutan, dan tidak akan pernah puas atas keberadaaan diri sendiri, bahaya dengki aKan menimpa si pendengki sendiri
Maafkan suamimu bila ungkapan Rindu suamimu ini melukai hatimu , semata suamimu ini hanya ingin engkau terlepas dari kesia-siaan dan menjadi Bidadari di dunia dan akherat kelak ... peluk sayang untukmu duhai Bidadari Syurgaku dan sampaikan cium rindu suami ini pada buah hati kita ... InsyaAllah kita kan berkumpul lagi di beranda penghambaan kita pada Allah Yang Maha Rahman dan Rahim..... aku khan selalu menyayangi dan mencintaimu karena Allah Bidadari syurgaku , dan tersenyumlah ... Wassallammu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
From: Neighbord.blog

Sabtu, 14 Januari 2012

Gigi Sehat dan Bersih, Tubuh Kuat

Gigi Sehat Anak Kuat
Siapa sangka penulis buku-buku islami Asma Nadia saat kecil sangat akrab dengan beberapa penyakit. Sang bunda menceritakan di suatu stasiun televisi, Asma Nadia kecil sering bolak-balik ke rumah sakit. Penyakit ini kemungkinan besar muncul karena kerusakan gigi Asma. Tapi Asma Nadia kecil yang cerdas mendapatkan hikmah dari sakitnya. Dia menjadi pencinta buku, yang akhirnya mengantarnya menjadi penulis buku ternama. Penyakit gigi rupanya menjadi penyakit yang paling umum untuk sebagian masyarakat Indonesia. Bahkan hampir 70 persen penduduk Indonesia bergigi bolong alias terkena karies.
"Bukan hanya orang tua, tapi juga anak-anak," ujar Ketua Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Profesor Dr drg Eky S. Soeria Soemantri, SpOrth (K), di sela-sela konferensi pers Bulan Kesehatan Gigi Nasional di Hotel Mulia, 16 Agustus lalu. Menurut Eky, hasil riset kesehatan dasar empat tahun lalu menyebutkan penyakit gigi serta penyangga gusi dan sarafnya merupakan urutan ke-8 di Indonesia. Selain itu, 89 persen anak-anak di bawah usia 12 tahun mengalami gigi berlubang.
Ketua Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi drg Zaura Rini Anggraeni, MDS, mengatakan pemeriksaan gigi secara rutin sangat penting dilakukan. Kesehatan gigi memainkan peran vital bagi kesehatan organ tubuh. Kesehatan gigi, kata dia, juga memperlihatkan kualitas hidup dan memberi dampak pada kesehatan tubuh. Rini juga mengatakan gigi yang berlubang mempunyai dampak lebih jauh terhadap potensi sumber infeksi dan penyakit yang berbahaya. Organ-organ penting, seperti jantung, persendian, dan ginjal, bisa terancam akibat kerusakan gigi. "Kuman bisa ikut masuk ke organ-organ vital melalui pembuluh darah dari gigi yang bolong," ujarnya.
Selain itu, pada balita atau anak-anak, kerusakan gigi mempunyai dampak yang signifikan. Pencernaan dan pertumbuhan si anak bisa terganggu. Anak pun bisa sering sakit-sakitan karena kuman yang masuk dari gigi yang rusak. Rini juga menjelaskan, saat gigi anak rusak, dia tak akan dapat mencerna makanan dengan baik. Usus dan lambung bekerja lebih keras untuk mengeluarkan enzim. Makanan yang dicerna ini, kata Rini, merupakan sumber untuk tumbuh kembang dan menghasilkan tenaga untuk melawan infeksi. Jika tak banyak asupan makanan dan prosesnya terganggu, proses tumbuh kembang anak juga terganggu.
Gigi susu pada balita pun mempunyai fungsi penting dalam pembentukan gigi tetapnya. Maka Rini menekankan pentingnya melakukan perawatan gigi susu hingga tanggal dan diganti gigi tetap. Jika gigi mengalami kerusakan atau berlubang, hendaknya lekas ditambal. Jika gigi masih memungkinkan dipertahankan, dia menyarankan agar tetap dirawat. Semaksimal mungkin gigi susu dipertahankan hingga munculnya gigi tetap. "Gigi susu ini menjadi petunjuk tumbuhnya gigi tetap. Kalau bisa jangan dicabut jika masih bisa dirawat," ujar Rini. Tapi, jika gigi sudah rusak parah dan terjadi infeksi, dia menyarankan agar dicabut, sehingga tidak terjadi keadaan yang lebih parah dan menimbulkan gangguan pergerakan gigi.
Rusaknya gigi anak-anak ini, kata Rini, terjadi karena konsumsi makanan atau minuman manis yang kurang baik untuk gigi. Hal ini diperparah oleh rendahnya pengetahuan tentang kesehatan gigi dan perawatan gigi yang benar. Nah, sayangnya pula, orang tua sering kurang telaten mengajari anak-anak melakukan perawatan gigi. "Anak-anak sering dipaksa menyikat gigi saat sudah ngantuk. Anak jadi malas dan asal-asalan sikat giginya," ujar Rini. Padahal perawatan dengan menyikat gigi yang benar minimal dua kali sehari dan pemeriksaan rutin setiap enam bulan sekali bisa mencegah kerusakan gigi.
Adapun Eky menjelaskan, kesadaran atau keinginan menambal untuk mempertahankan gigi tetap masih sangat rendah, angkanya hanya 1,6 persen. "Masyarakat enggan karena takut sakit dan biaya mahal, sehingga baru datang kalau sudah sakit," ujarnya.
From : Tempo ; Interaktif

Kamis, 05 Januari 2012

PSPA=Program Shool Pengasuhan Anak

Guru adalah pengalaman yang berharga, walaupun hanya membaca dari Blog tetangga = Blog Mama Cerdas saya ingin menyebarluaskan Modul hasil mengikuti PSPA tersebut, Seperti yang tercantum dibawah ini ;
PSPA
Alhamdulillah tanggal 16-17 Oktober ini, saya bisa ikut PSPA (Program Sekolah Pengasuhan Anak). Setelah menunggu berbulan-bulan akhirnya ada lagi jadwal PSPA di Bandung. Tak saya lewatkan kesempatan ini, yang pertama saya lakukan adalah bilang ke suami dan booking jadwal suami. Buat apa? Buat gantian ngasuh anak . Alhamdulillah anak kami ini belum terbiasa di asuh oleh selain kami, karena memang sejak bayi kami hanya tinggal bertiga dan hanya sesekali saja berkunjung ke rumah kakek-nenek, serta sanak saudara. Baru kali ini, saya meninggalkan anak dengan waktu lumayan lama rada was-was juga, tapi saya yakin dan percaya semua akan baik-baik saja. Sebelumnya, saya bicarakan dengan anak saya “tih, besok mama mau ikut seminar, atih sama bibih yah….” Alhamdulillah ketika saya berangkat, tak ada tangisan, kerewelan, dan sebagainya dan saya pun tenang ikut PSPA. ^_*
Setelah ikut Program PSPA, saya serasa menjadi orangtua yang berbeda. Tak sedikitpun rasa kesal apalagi pengen marah sama anak, padahal anaknya sama, ‘rewelnya’ juga sama. Jadi aneh, kok kemaren-kemaren bawaannya keseeeeel aja, klo anak rewel apalagi klo rewelnya tanpa sebab. Sekarang mah… biasa aja tuh… Memang wajar anak rewel, memang wajar juga kita kesel… karena kita bukan malaikat dan anak kita juga bukan malaikat yang memang tercipta sebagai ahli ibadah yang langsung terampil melakukan semua kebaikan, anak-anak kita tengah belajar sedang berproses,bereksplorasi menjadi cahaya kehidupan. Dan….jika kita memahaminya, Insya Allah anak-anak kita akan menebar cahaya untuk kehidupan bahkan juga untuk kita, orangtuanya sekalipun kita tidak lagi hidup di dunia.
“Ya.. ya.. ya… itu sih saya sudah tahu… Tetap aja, klo udah kesel mah kesel, hi geregetan jadi pengen nyubit…” Itulah yang saya rasakan sebelum ikut PSPA mungkin ibu-ibu yang lain juga? Ini terjadi akibat “program yang diinstall di otak kita ” negatif”. saat kita punya anak, darimana kita mendapatkan informasi tentang bagaimana mereka membesarkan anak? darimana kita mengetahui cara mereka membesarkan anak? pilihannya besarnya ada 3: 1. kita menggunakan cara sebagaimana mereka diperlakukan oleh orangtua mereka saat mereka kecil dulu (warisan). 2. kita menggunakan cara coba-coba (try & error) 3. kita menggunakan cara baru melalui BELAJAR.
Saat kita tidak melakuan hal yang kedua dan yg ketiga maka sebagian besar orangtua tanpa sadar sebenanrya melakukan lebih banyak metode yang pertama: Yakni dari warisan. Akibatnya, banyak orangtua faham bahwa membentak anak itu tidak boleh, banyak orangtua faham bahwa mencubit anak itu harus dihindari. Tapi mengapa sebagian mereka masih melakukannya secara spontan saat anak melihat anak berbuat negatif? Sebab terbesar adalah karena mereka pernah DIPERLAKUKAN HAL YANG SAMA saat mereka kecil. Jadi, program itu sudah berpuluh tahun terinstall lama dalam otak orangtua dari kecil sehingga saat mereka mengalami kejadian yang sama mereka memanggil kembali dalam memorinya referensi tersebut. Insya Allah ini akan hilang jika orangtua terus menginsttal program baru ke dalam pikirannya melalui BELAJAR. Belajar bagaimana mencari cara mengungkapkan perasaan2 kita lebih positif tanpa harus menyakiti anak2 kita. Begitu kata Abah (Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari) trainer di PSPA. ^_*
Day 1
Modul I tentang Karunia Fitrah
Kita sudah sering dingatkan, bahwa semua anak lahir fitrah kita juga sudah sepakat bahwa anak adalah anugrah, anugrah terindah ^^ tapi seringkali, sadar atau tidak, mereka seolah menjadi beban buat kita bahkan kita sering merasa anak-anak tertalu banyak meminta disaat sebenarnya mereka sedang memberi. buktinya… disaat kita begiiitu lelah sepulang kerja, anak-anak dengan polos dan lucunya memberikan konser dadakan, dengan kata-kata yang tentu saja belum jelas dan cadel mereka bernyanyi ingin menghibur orangtua nya yang ‘kecapean’ sepulang kerja. Seketika hilaaaaang rasa cape itu… Bukankah anak selalu memberi? Memberi kebahagiaan…
Anak adalah anugrah… seharusnya bersama mereka adalah suatu kebahagiaan tapi mengapa banyak anak menjadi “yatim piatu” disaat ortunya masih lengkap berapa banyak anak enggan bercerita kepada orangtua, mereka justru memilih yang lain: teman, sahabat, pacar dan lain-lain. Kita ingin menjadi orangtua terbaik… tapi, sudahkah kita menyediakan waktu bersama anak hanya bersama anak saja. tidak bertiga dengan kompor, berempat dengan majalah, berlima dengan cucian, berenam dengan laptop. Mereka tak perlu 24 jam kita, mereka juga tak butuh itu 30 menit saja/hari, ini sungguh fantastis, hasilnyapun akan dahsyat
Sudahkah??? Andai saja kita mau meluangkan waktu sesaat untuk menatap mata mereka betapa mereka sangat menggemaskan beruntungnya kita dipercaya dititipi Allah karunia fitrah
Modul II : Karunia Belajar
Belajar… apa yang dimaksudkan dengan belajar adalah ini: * Mengulang pelajaran sekolah * Baca buku pelajaran * Duduk di meja belajar * dan lain-lain tujuan nya apa ya? Supaya pintar, menambah wawasan, dapat gelar…. Klo udah gitu trus ngapain? Adalagi, pintar itu yang bagaimana? Apakah anak yang tidak 10 besar di Kelas tidak pintar? Apa saja yang penting dipelajari anak? Bahasa Arab penting, matematika penting, Bahasa Inggris juga penting. Trus penting mana dengan disiplin, kejujuran, tanggungjawab dan sejenisnya? Nah lho… Penasaran? Bagus!!!
Memang penasaran inilah yang dibutuhkan anak-anak kita agar keranjingan belajar penasaran mereka sering kita salah artikan kita renggut dengan pelototan, atau pengalihan lalu kita omeli saat mereka enggan belajar Belajar itu menyenangkan, sebenarnya… tapi hari gini berapa banyak anak yang mengalami kesulitan belajar belajar membuat anak stress Kok bisa? Anak dituntut untuk tau sesuatu sebelum waktunya belajar bahkan kursus baca saat mereka masih sangat belia. Bisa cepat baca, tidak membuat anak jadi gemar membaca, padahal sebagai ortu sebenarnya yang kita inginkan anak suka membaca. Ehhmmm…
Tidak masalah anak bisa baca di usia sangat belia (anak saya bisa baca di usia 20 bulan), asalkan orangtua lebih mempersiapkan anak untuk suka membacanya bukan bisa membaca-nya. Bagaimana nantinya anak suka membaca (walaupun sudah bisa membaca) melihat orangtuanya memegang buku pun tak pernah? Dibacakan buku cerita tak pernah… jalan-jalan ke toko buku atau pameran buku saja tak pernah… dan dirumah pun tak ada buku karena tak pernah dibelikan. Belum lagi berapa banyak informasi yang sesungguhnya tidak perlu tapi mereka harus menghafalnya hanya demi sebuah nilai ujian, supaya lulus UN gitu lho.. Harus kita ingat… semua anak cerdas… Jangan pernah mengecilkan mereka hanya karena nilai 6 untuk satu pelajaran sekolah. Jangan sekali-kali menganggap mereka ‘sulit’ hanya karena sulit menghitung bahkan seorang Thomas Alva Edisaon tidak sucses di Sekolah formalnya ia berhasil menemukan ‘bola lampu’ bukan karena juara umum di Sekolah atau menang Olympiade Fisika
bukan… tapi karena ia punya Nancy Elliot sebagai ibu, sebagai orangtua Nancy bukan orang hebat yang tau segalanya tentang dunia, sebagai ortu Nancy hebat karena memberikan “wadah” bagi Thomas untuk terus bergairah belajar meski sudah dicap bodoh dan dikeluarkan dari Sekolah Sekali lagi belajar adalah proses dari tidak tau menjadi tau, yang sudah tau menjadi lebih tau, yang melibatkan fisik, pikiran dan emosi dan agar proses ini tidak terhenti buatlah belajar itu menyenangkan Kelola penasaran-penasaran anak mereka adalah anak-anak kita dengan semua keistimewaan yang ada bukan Thomas Alva, bukan siapa kitalah orangtua terbaik buat mereka
Modul III tentang Karunia Konsistensi Ada 2 prinsip keliru dalam mendidik anak; pertama, orangtua selalu menuruti segala kemauan anak, kedua; orangtua terlalu mengekang anak. Apakah kita termasuk mendidik anak dengan cara seperti itu? semoga saja tidak…. jadi harus bagaimana??? Ada kalanya kita harus menuturi keinginan anak, tapi tetap harus tegas kepada anak, jangan sampai kita diatur oleh anak. Sekali melarang, maka laksanakan larangan itu. Sekali tidak boleh, maka laksanakan statement itu. Orangtua harus bertanggung jawab terhadap apa yang telah dikatakan kepada anak. Anak kita memiliki memory yang sangat dahsyat, jauh melebihi kita para orangtua Itulah kenapa anak-anak kan selalu ingat dengan janji-janji yang pernah kita ucapkan sekalipun kita sudah melupakan janji tersebut maka jangan sembarangan ingkar janji Tegas pada anak sekali sudah disepakati, jangan diubah rengekan bahkan amukan, abaikan saja sekali tidak tetap tidak Ingat; TEGAS bukan keras tegas bukan teriak dengan kencang kita bisa tegas dengan tetap tersenyum
_______
Modul IV tentang Karunia Kiblat (+)
Fokus pada kebaikan mereka saja betapa banyak kelebihan mereka yang membuat kita bangga tapi kita sering lupa, suka kita tutupi dengan kejengkelan yang tak layak padahal enegi (+) akan membuat potensi baik mereka melejit begitupun dengan energi (-) bisa membuat anak kita terpuruk dalam kelemahan Masih ingatkah tentang hukum kekekalan energi yang kita perlajari saat sekolah dulu? “energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, tapi bisa berpindah dari satu bentuk ke bentuk yang lain” Hubungannya dengan bahasan ini??? Ketika kita mengeluarkan energi positif (+) pada anak, maka anak itu akan mengeluarkan energi positif pula, begitu pun sebaliknya.
Ketika kita memberikan kebaikan kepada anak, maka anak pun akan mengeluarkan kebaikan pula, tapi ketika kita memarahi anak (energi -), maka anak pun akan kembali mengeluarkan kemarahan tersebut. bingung ya? Pokoknya kita harus berbuat positif aja deh sama anak, biar anak juga berlaku positif… Bagaimana mengarahkan anak menuju kiblat (+)? lakukan TARIAN BERMANPAAT: Temukan hal (+) pada diri anak Akui perbuatan ++ Rayakan Perbuatan +++ Ingatkan perbuatan ++++ BERikan rencana +++ MANfaatkan imbalan dari pada hukuman PAku perbuatan + yang telah mereka lakukan ATur waktu untuk berbicara dan bercerita kisah-kisah + Berkiblat (+) bukan berarti mengabaikan perasaan (-), tapi mengatur energi agar lebih terarah pada hal (+)
Modul V tentang Karunia Mendengar
Dua telinga dengan satu mulut Allah arahkan agar kita lebih banyak mendengar daripada bicara Banyak orang bisa menjadi pendengar yang baik buat temannya temapat curhat favorit bagi rekan dan saudara tapi mengapa banyak orangtua justru gagal membuat Sang anak mau bercerita panjang lebar pada orangtua Why??? Apa salah anak bila tak betah berlama-lama ada didekat ortu boro-boro curhat, ntar aja la yau… Karena anak justru sering jadi tempat sasaran kemarahan, lampiasan kejengkelan para orangtua setiap moment bersama ada saja ceramah, kultum, nasihat, tausiyah dkk dari orangtua. lantas kapan giliran anak bicara? mana ruang tempat mereka curhat ke orangtua? salah siapa bila mereka lari keluar rumah hanya demi cari pendengar yang baik? Dan ini terjadi sejak anak kecil sampai mereka remaja sambung dewasa mana telinga kita untuk anak terlebih mendengar disini bukan hanya sekedar pasang telinga sekali lagi bukan…. tapi mendengar yang menghadirkan rasa yang melibatkan CINTA
Dengar…hai dengar… mendengar sebenarnya mudah tak butuh biaya, tak perlu sarana tambahan bisa dalam posisi apa saja, duduk, telentang, tengkurep atau posisi bebas lainnya tak perlu perangkat tata bahasa selayaknya bicara apalagi menulis tapi mengapa kita enggan sungguh dengan mendengar kita bisa tau masalah dan hanya dengan tau masalah kita bisa berkontribusi sesuai kebutuhannya Jadi tak ada alasan lagi, siaplah jadi pendengar belajar dan berjuang menjadi tempat curhat yang baik buat anak-anak kita SEKARANG !!! dan SELANJUTNYA !!!
Modul VI tentang Karunia Saffat
Q.S Ash-Shaffat : 102 “……..Ibrahim berkata: Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi aku menyembelihmu. Maka pikirkan bagaimana pendapatmu?…………” Selalu ajak anak untuk berkomunikasi, berdiskusi untu memutuskan hal yang berhubungan dengan anak. Seperti nabi Ibrahim, meminta pendapat anaknya Ismail untuk satu keputusan yang berhubungan dengannya. Anak dilibatkan !!! bantu anak untuk membuat kepustusan bagi dirinya sendiri, misalnya dengan mengajukan pertanyaan, tentunya pertanyaan yang diajukan harus: - membuat anak berfikir - mendorong gagasan yang lebih baik - mengarahkan anak akhirnya dapat membuat keputusan sendiri - menuju kiblat positif - membuat perasaannya didengar
Ketika keputusan itu berasal dari anak maka: * Seorang anak tidak dapat memerangi keputusan yang telah dibuatnya sendiri * Seorang anak senang menggapai sesuatu dengan inisiatifnya sendiri * Beri kesempatan anak untuk membuat keputusan bagi dirinya, maka ia akan memiliki inisiatif, semangat dan energi untuk melaksanakan apa yang diputuskannya. From: Mamacerdas.com

Selasa, 22 November 2011

Kasihilah Pasanganmu

Gambaran seorang bapak single parent..:'(( Lima tahun yang lalu, Alloh telah memanggil orang yang kusayangi, sering aku bertanya-tanya, bagaimana keadaan istri saya sekarang di alam surga, baik-baik sajakah? Dia pasti sangat sedih karena sudah meninggalkan sorang suami yang tidak mampu mengurus rumah dan seorang anak yang masih begitu kecil. Begitulah yang kurasakan, karena selama ini saya merasa bahwa saya telah gagal, tidak bisa memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani anak saya, dan gagal untuk menjadi ayah dan ibu untuk anak saya. Pada suatu hari, ada urusan penting di tempat kerja, aku harus segera berangkat ke kantor, anak saya masih tertidur. Ohhh... aku harus menyediakan makan untuknya. Karena masih ada sisa nasi, jadi aku menggoreng telur untuk dia makan. Setelah memberitahu anak saya yang masih mengantuk, kemudian aku bergegas berangkat ke tempat kerja. Peran ganda yang kujalani, membuat energiku benar-benar terkuras. Suatu hari ketika aku pulang kerja aku merasa sangat lelah, setelah bekerja sepanjang hari. Hanya sekilas aku memeluk dan mencium anakku, saya langsung masuk ke kamar tidur, dan melewatkan makan malam. Namun, ketika aku merebahkan badan ke tempat tidur dengan maksud untuk tidur sejenak menghilangkan kepenatan, tiba-tiba saya merasa ada sesuatu yang pecah dan tumpah seperti cairan hangat! Aku membuka selimut dan..... di sanalah sumber 'masalah'nya ... sebuah mangkuk yang pecah dengan mie instan yang berantakan di seprai dan selimut! Ya Alloh..! Aku begitu marah, aku mengambil gantungan pakaian, dan langsung menghujani anak saya yang sedang gembira bermain dengan mainannya, dengan pukulan-pukulan! Dia hanya menangis, sedikitpun tidak meminta belas kasihan, dia hanya memberi penjelasan singkat: "Ayah, tadi aku merasa lapar dan tidak ada lagi sisa nasi. Tapi ayah belum pulang, jadi aku ingin memasak mie instan. Aku ingat, ayah pernah mengatakan untuk tidak menyentuh atau menggunakan kompor gas tanpa ada orang dewasa di sekitar, maka aku menyalakan mesin air minum ini dan menggunakan air panas untuk memasak mie. Satu untuk ayah dan yang satu lagi untuk saya ... Karena aku takut mie'nya akan menjadi dingin, jadi aku menyimpannya di bawah selimut supaya tetap hangat sampai ayah pulang. Tapi aku lupa untuk mengingatkan ayah karena aku sedang bermain dengan mainan saya ... Saya minta maaf Ayah ... " Seketika, air mata mulai mengalir di pipiku ... tetapi, saya tidak ingin anak saya melihat ayahnya menangis maka aku berlari ke kamar mandi dan menangis dengan menyalakan shower di kamar mandi untuk menutupi suara tangis saya. Setelah beberapa lama, aku hampiri anak saya, memeluknya dengan erat dan memberikan obat kepadanya atas luka bekas pukulan dipantatnya, lalu aku membujuknya untuk tidur. Kemudian aku membersihkan kotoran tumpahan mie di tempat tidur. Ketika semuanya sudah selesai dan lewat tengah malam, aku melewati kamar anakku, dan melihat anakku masih menangis, bukan karena rasa sakit di pantatnya, tapi karena dia sedang melihat foto ibu yang dikasihinya. Satu tahun berlalu sejak kejadian itu, saya mencoba, dalam periode ini, untuk memusatkan perhatian dengan memberinya kasih sayang seorang ayah dan juga kasih sayang seorang ibu, serta memperhatikan semua kebutuhannya. Tanpa terasa, anakku sudah berumur tujuh tahun, dan akan lulus dari Taman Kanak-kanak. Untungnya, insiden yang terjadi tidak meninggalkan kenangan buruk di masa kecilnya dan dia sudah tumbuh dewasa dengan bahagia. Namun... belum lama, aku sudah memukul anakku lagi, saya benar-benar menyesal.... Guru Taman Kanak-kanaknya memanggilku dan memberitahukan bahwa anak saya absen dari sekolah. Aku pulang kerumah lebih awal dari kantor, aku berharap dia bisa menjelaskan. Tapi ia tidak ada dirumah, aku pergi mencari di sekitar rumah kami, memangil-manggil namanya dan akhirnya menemukan dirinya di sebuah toko alat tulis, sedang bermain komputer game dengan gembira. Aku marah, membawanya pulang dan menghujaninya dengan pukulan-pukulan. Dia diam saja lalu mengatakan, "Aku minta maaf, Ayah". Selang beberapa lama aku selidiki, ternyata ia absen dari acara "pertunjukan bakat" yang diadakan oleh sekolah, karena yg diundang adalah siswa dengan ibunya. Dan itulah alasan ketidakhadirannya karena ia tidak punya ibu..... Beberapa hari setelah penghukuman dengan pukulan rotan, anakku pulang ke rumah memberitahu saya, bahwa disekolahnya mulai diajarkan cara membaca dan menulis. Sejak saat itu, anakku lebih banyak mengurung diri di kamarnya untuk berlatih menulis, yang saya yakin, jika istri saya masih ada dan melihatnya ia akan merasa bangga, tentu saja dia membuat saya bangga juga! Waktu berlalu dengan begitu cepat, satu tahun telah lewat. Saat ini musim dingin,dan hari raya idul fitri pun telah tiba. tapi astagfirulloh, anakku membuat masalah lagi. Ketika aku sedang menyelasaikan pekerjaan di hari-hari terakhir kerja, tiba-tiba kantor pos menelpon. Karena pengiriman surat sedang mengalami puncaknya, tukang pos juga sedang sibuk-sibuknya, suasana hati mereka pun jadi kurang bagus. Mereka menelpon saya dengan marah-marah, untuk memberitahu bahwa anak saya telah mengirim beberapa surat tanpa alamat. Walaupun saya sudah berjanji untuk tidak pernah memukul anak saya lagi, tetapi saya tidak bias menahan diri untuk tidak memukulnya lagi, karena saya merasa bahwa anak ini sudah benar-benar keterlaluan. Tapi sekali lagi, seperti sebelumnya, dia meminta maaf : "Maaf, Ayah". Tidak ada tambahan satu kata pun untuk menjelaskan alasannya melakukan itu. Setelah itu saya pergi ke kantor pos untuk mengambil surat-surat tanpa alamat tersebut lalu pulang. Sesampai di rumah, dengan marah saya mendorong anak saya ke sudut mempertanyakan kepadanya, perbuatan konyol apalagi ini? Apa yang ada dikepalanya? Jawabannya, di tengah isak-tangisnya, adalah : "Surat-surat itu untuk ibu.....". Tiba-tiba mataku berkaca-kaca. .... tapi aku mencoba mengendalikan emosi dan terus bertanya kepadanya: "Tapi kenapa kamu memposkan begitu banyak surat-surat, pada waktu yg sama?" Jawaban anakku itu : "Aku telah menulis surat buat ibu untuk waktu yang lama, tapi setiap kali aku mau menjangkau kotak pos itu, terlalu tinggi bagiku, sehingga aku tidak dapat memposkan surat-suratku. Tapi baru-baru ini, ketika aku kembali ke kotak pos, aku bisa mencapai kotak itu dan aku mengirimkannya sekaligus". Setelah mendengar penjelasannya ini, aku kehilangan kata-kata, aku bingung, tidak tahu apa yang harus aku lakukan, dan apa yang harus aku katakana .... Aku bilang pada anakku, "Nak, ibu sudah berada di surga, jadi untuk selanjutnya, jika kamu hendak menuliskan sesuatu untuk ibu, cukup dengan membakar surat tersebut maka surat akan sampai kepada ibu. Setelah mendengar hal ini, anakku jadi lebih tenang, dan segera setelah itu, ia bisa tidur dengan nyenyak. Saya berjanji akan membakar surat-surat atas namanya, jadi saya membawa surat-surat tersebut ke luar, tapi.... saya jadi penasaran untuk tidak membuka surat tersebut sebelum mereka berubah menjadi abu. Dan salah satu dari isi surat-suratnya membuat hati saya hancur...... 'Ibu sayang', Saya sangat merindukanmu! Hari ini, ada sebuah acara 'Pertunjukan Bakat' di sekolah, dan mengundang semua ibu untuk hadir di pertunjukan tersebut. Tapi kamu tidak ada, jadi saya tidak ingin menghadirinya juga. Aku tidak memberitahu ayah tentang hal ini karena aku takut ayah akan mulai menangis dan merindukanmu lagi. Saat itu untuk menyembunyikan kesedihan, aku duduk di depan komputer dan mulai bermain game di salah satu toko. Ayah keliling-keliling mencari saya, setelah menemukanku ayah marah, dan aku hanya bisa diam, ayah memukul aku, tetapi aku tidak menceritakan alasan yang sebenarnya. Ibu, setiap hari saya melihat ayah merindukanmu, setiap kali dia teringat padamu, ia begitu sedih dan sering bersembunyi dan menangis di kamarnya. Saya pikir kita berdua amat sangat merindukanmu. Terlalu berat untuk kita berdua, saya rasa. Tapi ibu, aku mulai melupakan wajahmu. Bisakah ibu muncul dalam mimpiku sehingga saya dapat melihat wajahmu dan ingat ibu? Temanku bilang jika kau tertidur dengan foto orang yang kamu rindukan, maka kamu akan melihat orang tersebut dalam mimpimu. Tapi ibu, mengapa engkau tak pernah muncul? Setelah membaca surat itu, tangisku tidak bisa berhenti karena saya tidak pernah bisa menggantikan kesenjangan yang tak dapat digantikan semenjak ditinggalkan oleh istri saya .... Untuk para suami, yang telah dianugerahi seorang istri yang baik, Untuk para istri, yang telah dianugerahi seorang suami yang baik, selalu berterima-kasihlah setiap hari pada pasanganmu . Dia telah rela menghabiskan sisa umurnya untuk menemani hidupmu, membantumu, mendukungmu, memanjakanmu, membimbingmu dan selalu setia menunggumu, menjaga dan menyayangi dirimu dan anak-anakmu. Hargailah keberadaannya, kasihilah dan cintailah dia sepanjang hidupmu dengan segala kekurangan dan kelebihannya, karena apabila engkau telah kehilangan dia, tidak ada emas permata, intan berlian yg bisa menggantikan posisinya. Referensi Lainnya : http://kembanganggrek2.blogspot.com/ 17/11/11

Selasa, 26 April 2011

Menghindari Kesalahan Memotivasi Anak

Sikap terbuka dan mau mendengarkan anak, sangat penting untuk dimiliki ibu

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim


Kalau boleh, saya ingin mengatakan bahwa setiap ibu mendambakan anak-anaknya menjadi manusia yang berguna sesuai harapan orangtua.

Naluri setiap ibu menyayangi dan mendidik anak-anaknya agar kelak tidak saja berhasil bagi dirinya sendiri, tetapi sekaligus membahagiakan orangtua, tetangga dan masyarakat.

Keberhasilan anak dalam meniti hidupnya adalah keberhasilan orangtua, terutama ibu. Karena perjalanan anak banyak ditentukan oleh pendidikan yang diberikan oleh ibu selama masa-masa perkembangan.

Didorong oleh rasa sayangnya kepada anak, seorang ibu banyak tampil memotivasi anak. Tindakan ini bagus. Anak yang berhasil, seringkali lahir justru bukan dari banyaknya fasilitas yang dimiliki. Lebih penting dari itu, motivasi tinggilah yang banyak memberi sumbangan pada semangat anak demi berusaha dan menyikapi “kesulitan-kesulitan“ yang dialami.

Tetapi…Ada tetapinya!

Keinginan ibu untuk memotivasi anak tidak jarang menghadapi benturan karena kesalahan-kesalahan “kecil”. Tindakan memotivasi justru menjadi bumerang. Alhasil, kemauan berprestasi anak malah lemah dan prestasinya rendah.

Ada beberapa kesalahan yang sering dilakukan ketika memotivasi anak, yaitu:

1. Membuat Anak Merasa Bersalah

Sebagian ibu menganggap bahwa dengan menimbulkan rasa bersalah, anak akan terpacu untuk memperbaiki diri. Anak akan bersemangat untuk meraih apa yang diharapkan oleh orangtua. Tetapi kenyataannya seringkali justru sebaliknya. Anak menjadi rendah diri. Tidak mempunyai percaya diri. Dalam jangka panjang, ini melemahkan kemampuan anak dalam menyesuaikan diri maupun dalam mengembangkan kecakapan intelektual dan keterampilan kerja.

“Motivasi” yang justru menimbulkan rasa bersalah pada anak, misalnya, “Kamu sayang sama Mama, nggak? Sayang, nggak?”

“Sayang, Ma,” kata Reza. Selebihnya Reza hanya diam.

“Makanya, kalau sayang sama Mama, belajar yang baik,” kata Mama.

Rasa bersalah juga muncul ketika ibu mengatakan, “Ibu tiap hari kerja keras untuk kamu. Kalau kamu kasihan sama Ibu, kamu harus belajar. Kamu harus mendapat ranking satu. Lihat itu, Bapak tiap hari pulang sore. Cari duit itu sulit.”

2. Menjadikan Anak Merasa Anda Tidak Menganggapnya Cukup Pandai

Dody pulang sekolah. Begitu tiba, ibu langsung menanyai tentang pelajaran apa yang diterimanya tadi. Tak lupa menanyakan ulangan.

Ini dia awal kesulitan Dody. Hari itu ada ulangan Matematika. Dia mendapat nilai 7.

Sebenarnya nilai yang bagus untuk Matematika. Tapi Dody tahu, kalau mengatakan yang sebenarnya, ia akan menghadapi risiko diomeli ibu. Tapi kalau berbohong, Dody ingat itu mendatangkan dosa.

Akhirnya Dody menunjukkan kertas hasil ulangan. Seperti diduga, ibunya segera berkomentar, “Aduh Dody. Masak berhitung begini kamu nggak bisa sih? Ini kan mudah, toh! Coba lihat itu Mas Iwan, pintar dia.”

Dody kecewa. Ia sudah mendapat nilai lebih tinggi dari kebanyakan temannya, tapi tetap tidak mendapatkan penghargaan dari orangtua. Ibu menganggapnya tidak cukup pandai.

Mental anak sangat terpukul. Ungkapan ibu semacam ini dapat menimbulkan rasa tidak percaya diri. Pada gilirannya, anak mudah merasa putus asa.

Anak juga merasa dirinya bodoh. Karena merasa bodoh, ia cenderung tidak mau belajar. Ia banyak melakukan hal-hal yang kurang meningkatkan kecerdasan. Sehingga, akhirnya ia mendapati benar-benar bodoh di sekolah. Inilah yang disebut self-fulfiling prophecy (nubuwah yang dipenuhi sendiri).

Memotivasi dengan bentuk-bentuk ungkapan semacam itu justru bisa membodohkan anak. Ungkapan yang dimaksudkan oleh ibu untuk membangkitkan potensi anak, sebenarnya justru merusak potensi yang besar.

Seharusnya, ibu tetap menunjukkan kehangatan. Bahkan ketika anak mendapat nilai jelek pun, ibu perlu memberikan kehangatan dan penerimaan. Sikap yang demikian akan menimbulkan rasa aman dan perasaan diterima pada diri anak, sehigga ia akan bersemangat untuk mencapai yang lebih di saat berikutnya tanpa perasaan tertekan dan terbebani.

Sementara kalau anak mencapai prestasi yang memuaskan, seperti yang dicapai oleh Dody misalnya, ibu perlu menunjukkan sikap menghargai. Ibu memberikan penghargaan dan pujian yang memadai. Tidak berlebihan, tetapi juga tidak terlalu kikir memuji.

3. Menghancurkan Harga Diri Anak

Anda sangat tidak menyukai kalau keburukan Anda atau hal-hal yang Anda anggap sebagai wilayah pribadi diungkapkan kepada orang lain. Apalagi jika yang mengungkapkan rahasia pribadi Anda itu adalah orang yang paling dekat, suami, misalnya. Rasanya sakit sekali. Ada kekecewaan bercampur amarah. Ada perasaan malu yang amat sangat bercampur dengan kejengkelan.

Kalau Anda saja merasa demikian, apalagi anak Anda yang masih belum memiliki integritas diri yang kukuh? Tapi ada kalanya orangtua menghancurkan harga diri anak dengan maksud menumbuhkan semangat pada diri anak untuk mencapai prestasi terbaik.

“Pokoknya kalau Andi tidak bisa mendapat nilai yang baik, Mama akan cerita sama Ita. Kalau Andi nggak ingin Mama cerita, Andi harus memperbaiki prestasi.”

Atau, “Sudah, kalau Tony nakal terus, nanti Mama bilang sama Papa.”

Ungkapan-ungkapan seperti itu sangat mengganggu harga diri anak. Tetapi yang lebih menghancurkan harga diri adalah kalau ibu benar-benar menceritakan kepada orang lain. Ini yang kadang secara tidak sadar dilakukan oleh ibu. Misalnya ketika ada teman sedang menceritakan anaknya melalui telepon, dengan maksud mengimbangi maupun basa-basi, kadang ibu tanpa sadar menghancurkan diri anak.

“Aduh, Bu. Sama dengan anak saya. Yang nomor tiga itu, Si Pras, itu, aduh… malas sekali kalau disuruh belajar. Sampai jengkel saya kalau menyuruh dia!”

Sikap ibu ini dapat menjadikan dawdling, yaitu sikap negatif anak dengan tidak mau melakukan apa yang diperintahkan orangtua dengan harapan orangtuanya marah. Kalau orangtua marah, ia memperoleh kepuasan (baca Suara Hidayatullah edisi Juni 2007). Pada saat ini, ia mengungkapkan kejengkelannya pada orangtua.

4. Membuat Anak Defensif

Situasi yang memojokkan membuat seseorang harus bersikap bertahan (defensif), tidak menuruti kemauan pihak yang menghendaki berubah. Jika sangat terpaksa, ia akan menurut. Tetapi hanya asal tidak mendapat tekanan. Asal tidak dimarahi. Atau, ia menjadi apatis.

Ibu kadang memotivasi anak dengan cara memojokkan, misalnya, “Kamu pasti nggak sayang sama Mama. Kalau kamu sayang sama Mama, kamu nggak akan malas. Ayo, sekarang belajar.”

5. Mendorong Anak Balas Dendam

Saya pikir, tidak ada orangtua yang menginginkan anaknya balas dendam. Tetapi ternyata, ada pola-pola komunikasi yang cenderung membuat anak terdorong untuk balas dendam. Misalnya, “Pokoknya kamu harus les Matematika. Ibu nggak mau mempunyai anak yang tidak pandai Matematika. Kalau Bahasa Indonesia , mudah dipelajari. Semua orang bisa menguasai.”

“Tapi, Deka pingin belajar karate, Ma.”

“Nggak. Pokoknya kamu harus les Matematika. Kamu boleh belajar karate, tapi nanti, kalau kamu sudah pandai Matematika,” tegas ibu keras.

Sebenarnya sikap tegas sangat perlu ditegakkan dalam keluarga. Tetapi ketegasan harus berlandaskan aturan yang jelas dan dipahami anak. Ketegasan harus selaras dengan sikap menghargai inisiatif anak.

Seorang ibu bisa mengajukan alternatif sebagai hal yang harus dipilih oleh anak. Tapi ibu harus mendapat menjamin bahwa anak memahami dan menerima penjelasan yang dikemukakan oleh ibu. Lebih dari itu, ibu harus memperhatikan apakah kehendak ibu tidak justru mematikan potensi anak yang sebenarnya sangat besar dan brilian. Inilah!

Karena itu, sikap terbuka dan mau mendengarkan anak, sangat penting untuk dimiliki ibu. Sebaiknya ibu lebih banyak mendampingi dan memberikan kehangatan sehingga anak memiliki percaya diri dan harga diri yang baik.

Ini akan lebih berharga bagi anak. Prestasi anak dapat lebih dipacu, sekalipun kelak anak jauh dari orangtua.

Demikian, semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua.

Penulis adalah kolumnis di Majalah Suara Hidayatullah

Selasa, 22 Maret 2011

Untuk Ibu..

Salut untuk musisi Indonesia yang konsen berkreasi
dgn lagu-lagu bermutu.. salah satunya dgn tema IBU..,
lagu-lagu yang sangat menyentuh bagi kita semua..
Lagu favorite ku..
Just for u Ibu...^_^

I B U
By. Haddad Ali feat Farhan
gudanglagu.com

Bersinar kau bagai cahaya
Yang selalu beri ku penerangan
Selembut citra kasihmu kan
Selalu ku rasa dalam suka dan duka

Kaulah ibuku cinta kasihku
Terima kasihku takkan pernah terhenti
Kau bagai matahari yang selalu bersinar
Sinari hidupku dengan kehangatanmu

Bagaikan embun kesejukan hati ini
Dengan kasih sayangmu
Betapa kau sangat berarti
Dan bagiku kau takkan pernah terganti

Kaulah ibuku cinta kasihku
Terima kasihku takkan pernah terhenti
Kau bagai matahari yang selalu bersinar
Sinari hidupku dengan kehangatanmu

Kaulah ibuku cinta kasihku

Pengorbananmu sungguh sangat berarti

Kaulah ibuku cinta kasihku
Terima kasihku takkan pernah terhenti
Kau bagai matahari yang selalu bersinar
Sinari hidupku dengan kehangatanmu

Kaulah ibuku cinta kasihku
Terima kasihku takkan pernah terhenti
Kau bagai matahari yang selalu bersinar
Sinari hidupku dengan kehangatanmu
Sinari hidupku dengan kehangatanmu



SATU RINDU
Album : Semesta Bertasbih
By : Opick Feat Amanda
From: liriknasyid.com

Hujan teringatkan aku
Tentang satu rindu
Dimasa yang lalu
Saat mimpi masih indah bersamamu

Terbayang satu wajah
Penuh cinta penuh kasih
Terbayang satu wajah
Penuh dengan kehangatan
Kau ibu Oh ibu

Alloh izinkanlah aku
Bahagiakan dia
Meski dia telah jauh
Biarkanlah aku
Berarti untuk dirinya
oh ibu oh ibu kau ibu

Terbayang satu wajah
Penuh cinta penuh kasih
Terbayang satu wajah
Penuh dengan kehangatan
Kau ibu

Terbayang satu wajah
Penuh cinta penuh kasih
Terbayang satu wajah
Penuh dengan kehangatan
Kau ibu oh ibu kau ibu
oh ibu oh ibu

Hujan teringatkan aku
Tentang satu rindu
Dimasa yang lalu
Saat mimpi masih indah bersamamu
Kau ibu kau ibu kau ibu

Selasa, 15 Maret 2011

Memberi Buku Bergizi Pada Anak

Buku bergizi berbeda dengan buku yang menarik. Sekedar menarik saja tidak cukup sebagai alasan untuk memilih buat anak kita

oleh Mohammad Fauzil Adhim*

Aku Bisa Pakai Kaos Kaki Sendiri. Begitu judul salah satu buku kesukaan anak saya –yang sekarang sudah tidak berbentuk lagi. Buku itu saya beli sewaktu jalan-jalan dengan anak saya yang ketiga, Muhammad Hibatillah Hasanin. Di rumah, kami memang biasa menjadikan toko buku sebagai tempat jalan-jalan, tujuan rekreasi, dan sekaligus sebagai hadiah terindah bagi anak-anak. Meskipun kadang saya harus belajar menahan diri untuk tidak membeli setiap buku yang menarik, tetapi toko buku tetap menjadi tempat rekreasi terindah.

Kalau ada buku bagus seperti itu, biasanya mereka minta ibunya membacakan. Kadang lampu sudah dimatikan pun mereka masih bersemangat minta dibacakan buku. Sekarang yang lagi semangat-semangatnya membaca adalah Muhammad Nashiruddin An-Nadwi, anak keempat kami yang usianya dua tahun satu bulan. Kadang-kadang bi¬ngung juga menghadapinya. Mata sudah mengantuk, lampu sudah dimatikan, tetapi Owi –begitu kami biasa memanggil—masih saja minta dibacakan buku. Apalagi kalau kakaknya turut serta minta dibacakan. Untunglah si sulung, Fathimah, sudah bisa mengajari adik-adiknya sekarang. Sering kalau ada buku bagus, Fathimah yang membacakan buku untuk adik-adiknya. Atau kadang Fathimah membaca buku untuk dirinya sendiri, kemudian adiknya datang ikut nimbrung mendengarkan.

Alhamdulillah, Fathimah sudah lancar membaca semenjak ia masih belajar di Ta¬man Kanak-kanak. Tepatnya di TKIT Salman Al-Farisi Warungboto, Yogyakarta. Sekarang usianya tepat enam tahun, duduk di kelas satu SDIT Salman Al-Farisi Klebengan, Yogya¬karta. Banyak buku yang ia sukai. Salah satunya adalah seri Ensiklopedi Bocah Muslim. Buku ini merupakan salah satu favorit anak-anak. Saking favoritnya, seri 15 Ensiklopedi Bocah Muslim sudah rusak. Padahal kami beli belum terlalu lama. Owi rupanya meman¬faatkan ensiklopedi ini sebagai buku mewarnai. Sementara ia biasa menggoreskan crayon dengan kekuatan penuh.

Ada cerita tersendiri tentang Ensiklopedi Bocah Muslim ini. Sebelum beredar, saya sudah mendengar kabar dari Mas Ali Muakhir –editor di penerbit DAR! Mizan yang menerbitkan ensiklopedi tersebut. Waktu itu saya sedang berada di Bandung. Begitu pu¬lang ke Yogya, saya ceritakan kabar dari Mas Ali ini kepada istri saya maupun kepada Fathimah dan adik-adiknya. Antusias sekali mereka. Apalagi ketika saya mendapat undangan peluncuran buku ini di Jakarta. Meskipun saya tidak bisa hadir, tetapi gambar di kartu undangan telah merangsang rasa ingin tahu mereka.

Bulan Maret 2004, ada Islamic Book Fair di Yogya¬karta. Salah satu stand men-jual ensiklopedi tersebut. Se¬gera saja kami berunding. Fa¬thimah punya celengan uang receh di rumah. Adik-adiknya punya celengan juga. Mereka berunding dan sepakat memecah semua celengan mereka. Terkumpullah uang yang membuat mata mereka berbinar-binar. “Wow, Pak. Banyak sekali!” kata Husain, anak saya yang kedua. Tapi uang sejumlah itu tetap masih kurang. Oh, ada tabungan Fathimah di sekolah. Kalau diambil mungkin men¬cukupi.

Esoknya tabungan itu diambil dan ternyata masih belum cukup. Lalu Fathimah berkata, “Ibu, bagaimana? Aku kepingin beli ensiklopedi.” Lalu Fathimah dan ibunya berbicara dengan saya, minta supaya ditambah dengan uang saya. Alhamdulillah, ada rezeki. Bisa buat menutupi kekurangan. Ensiklopedi pun kami beli saat itu (Fathim, alhamdulillah ya, Nak. Kita punya sesuatu yang lebih baik daripada TV. Ensi¬klopedi harganya lebih mahal, lho daripada TV).

Kembali ke soal buku Aku Bisa Pakai Kaos Kaki Sendiri. Hasanin segera saja memperoleh kegembiraan tersendiri ketika buku itu dibacakan ibunya. Saudara-saudara¬nya ikut serta. Mereka berkumpul melingkar, mengitari kaki ibunya. Mereka terpingkal-pingkal mendengar cerita tentang kaos kaki yang dipakai terbalik. Mereka bergembira. Dan yang lebih menggembirakan saya, Husain dan Hasanin bersemangat pakai kaos kaki sendiri. Tapi di rumah, anak laki-laki tidak biasa pakai kaos kaki–sebagaimana saya sen¬diri tidak biasa memakainya. Mereka kemudian belajar pakai celana sendiri dan baju sendiri–ketika itu usia Hasanin belum mencapai tiga tahun. Dan uff… jatuh. Dua kaki masuk satu lubang. Tentu saja sulit bergerak. Dan karena tidak seimbang, segera saja Hasanin terjatuh. Dan lihat apa yang terjadi dengan kakaknya? Rupanya Husain juga demikian. Jadilah mereka saling tertawa.

O ya, masih ada buku lain yang kami beli pada kesempatan berikutnya. Aku Be-rani Minum Obat. Buku tipis ini memberi manfaat yang besar. Saya tidak tahu pasti apakah anak saya terpengaruh oleh buku ini atau terpengaruh oleh cara ibunya meminumkan obat yang cerdas dan menarik. Yang jelas kami syukuri, Owi sangat mudah diminumi obat. Sejak usianya belum satu setengah tahun, ia begitu mudah menerima obat yang disodorkan kepadanya. Kalau pahit? Ia akan segera meminta segelas teh.

Banyak pengalaman menarik dari kegiatan sehari-hari bergaul dengan buku. Membaca buku Aku Sayang Adik (DAR! Mizan), Fathimah menjadi lebih sayang dengan adik-adiknya. Fathimah suka menggendong adiknya, mengajaknya bermain, dan mendiam¬kannya apabila menangis.

Ada buku-buku lain yang mengesankan. Tetapi pada kesempatan kali ini, biarlah saya mencukup¬kan cerita saya sampai di sini. Ada yang lebih penting un¬tuk saya sampaikan. Mengingat begitu kuatnya pengaruh buku –lebih-lebih pada masa kanak-kanak—maka penting seka¬li kita perhatikan nilai gizi buku untuk anak-anak kita. Ibarat makanan, kandungan gizi buku sangat meme-ngaruhi cara berpikir, bersikap, dan bertindak anak. Inilah yang sangat perlu kita perhatikan mengingat usia-usia me¬reka merupakan masa paling strategis untuk membangun fondasi kepribadian, termasuk di dalamnya fondasi para-digma berpikir, bersikap dan bertindak. Pada masa-masa ini pula kepekaan emosi anak sangat efektif un¬tuk diasah atau justru ditumpulkan.

Kalau David Shenk menggambarkan sebagian besar informasi yang beredar di era informasi sekarang ini sebagai kotoran dan buangan seperti tercermin dalam judul bukunya Data Smog (Ko¬toran Data); dan kotoran itu menyebabkan kita mengalami brain meltdown (penurunan kemampuan otak), maka bagaimana lagi jika anak-anak yang–ibarat komputer—operating system-nya belum terbangun kokoh? Sama seperti bayi yang perlu dilindungi dengan memberi makanan terbaik berupa ASI, anak-anak kita yang masih lucu-lucunya itu juga perlu kita lindungi kesehatan pikiran dan mentalnya dengan hanya memberi bacaan-ba¬caan bergizi. Melalui bacaan-bacaan bergizi tersebut, mereka akan memiliki kekuatan yang kokoh, imunitas yang tangguh dan rangsangan berpikir maupun mental yang kaya.

Buku bergizi berbeda dengan buku yang menarik. Sekedar menarik saja tidak cukup sebagai alasan untuk memilih buat anak kita. Tetapi buku bergizi yang tidak menarik, sulit membuat anak bergairah membacanya, kecuali kalau orangtua menunjukkan antusiasmenya yang besar atau anak memang sudah gila membaca. Pada sebagian buku yang benar-benar bergizi, baik tulisan maupun ilustrasi benar-benar merangsang pikiran, perasaan dan imajinasi anak.

Menimbang Gizi Buku Anak

Bincang soal buku bergizi, apa saja sih yang menentukan gizi sebuah buku, wa bil khusus buku anak-anak? Beberapa catatan berikut, mudah-mudahan bermanfaat.

Kita bicara secara ringkas saja tentang gizi buku buat anak-anak kita. Pertama, kita perhatikan kesesuaian buku dengan anak. Sue Bredekamp sangat menekankan aspek kesesuaian ini untuk memperoleh keberhasilan yang maksimal. Anak benar-benar menye¬rap manfaat yang besar tanpa harus merasa terbebani. Kesesuaian (appropriateness) itu mencakup kesesuaian usia dan kesesuaian individual. Saya tidak hendak mendiskusikan terlalu jauh tentang kesesuaian individual ini. Saya hanya ingin menekankan bahwa se¬tiap buku anak, seharusnya sesuai dengan tahap perkembangan di usia yang menjadi bi¬dikan buku tersebut. Tampaknya, masih banyak penerbit yang belum mampu membi¬dik umur sasaran dengan baik. Bayangkan, ada buku anak yang ditujukan untuk anak TK hingga SD kelas enam. Ini luar biasa (luar biasa mengherankan!). Padahal karakteristik perkembangan di rentang usia itu sangat beragam dan benar-benar berbeda.

Kedua, daya rangsang buku untuk memantik gagasan-gagasan segar pada anak, baik yang secara langsung ditulis atau pun tidak. Sering saya jumpai buku-buku anak yang pesan permukaannya (surface message) bagus, tetapi di dalamnya (inner message) buruk. Sekilas isinya bergizi, tetapi tanpa disadari –kadang penulisnya pun tak sadar-- me¬mantik gagasan buruk pada anak (inspiring bad).

Ketiga, kekuatan gagasan dan alur cerita. Ilustrasi yang bagus akan sangat me-nunjang kuatnya alur yang diciptakan penulisnya. Gagasan yang kuat dan memiliki pi¬jakan yang mampu membangun visi anak, akan lebih bertenaga apabila disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan hidup. Kekuatan bahasa inilah pertimbangan keempat dalam menakar gizi buku anak.

From [www.hidayatullah.com]

Penulis adalah kolumnis di Majalah Suara Hidayatullah