Tampilkan postingan dengan label Kisah Orang Sholeh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Orang Sholeh. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 April 2014

Jantung Muadzin Kumandangkan Adzan

Dokter Jasim al-Haditsy seorang penasehat jantung anak di ‘Amir Sulthan Center Untuk Penyakit Jantung’ Rumah Sakit Angkatan Bersenjata Riyadh, megkisahkan kepadaku, “Salah seorang rekanku yang bisa dipercaya bercerita kepadaku, bahwa suatu malam saat ia sedang bertugas di rumah sakit , ada seorang pasien yang meninggal dunia, maka ia segera memastikan akan kematian pasien tersebut, ia meletakkan stetoskop di atas dadanya hingga ia mendengarkan suara,‘Allahu akbar, Allahu akbar, Asyhadu alla ilaha illallah’…
Ia berkata, “Saya rasa adzan subuh”. Kemudian saya bertanya kepada perawatnya, “Jam berapa sekarang?” ia menjawab,”Jam satu malam.” Saya tahu bahwa saat ini belum tiba saatnya adzan subuh, kemudian saya kembali meletakkan stetoskop di atas dadanya dan saya kembali mendengarkan adzan tersebut selengkapnya.
Saya bertanya kepada keluarga orang ini, tentang keadaanya semasa hidup, mereka menjelaskan, “Ia bekerja sebagai muadzin pada sebuah masjid, biasanya ia datang ke masjid seperempat jam sebelum tiba waktunya atau kadang lebih awal lagi, ia selalu mengkhatamkan Al Qur’an dalam tiga hari dan sangat menjaga lisannya dari kesalahan”
.
Tanggal lima belas Bulan Ramadhan 1421 H, seorang jamaah shalat pingsan di Masjid saat ia mengumandangkan iqamah shalat subuh, dengan segera tiga orang dari jamaah shalat membawanya ke Rumah Sakit Angkatan Bersenjata di Riyadh. Orang itu kemudian sadar saat mereka masih dalam perjalanan menuju rumah sakit. Sekonyong-konyong ia berdzikir seakan-akan tidak pernah terjadi apapun.
Sesampainya di instalasi gawat darurat, ia disambut oleh seorang pemeriksa jantung yang menceritakan kisah ini kepadaku, “Kami menemukan adanya peradangan mematikan yang parah sekali pada sebagian besar jantungnya”. Kondisi iu membuat kami tercengang.
Saat saya berusaha untuk membawanya ke ruang ICU, tiba-tiba saya mendengar suara tasbih dan tahlil, dan ia membisikkan sesuatu ke telinga salah seorang rekanku lalau tersenyum sambil membaca, “Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah” . Setelah itu jiwanya terbang menuju keharibaan Tuhan-nya.
Rekanku yang mendengar bisikan orang tersebut tiba-tiba menangis tersedu-sedu. Aku kaget atas kejadian ini dan segera menanyakan keadaanya. Ia berkata, “Orang ini telah membisikkan kepadaku, “Dokter! Usahlah Anda menyibukkan diri, sungguh aku akan mati, aku telah melihat surga, insyaAllah aku akan segera menuju ke sana, aku melihatnya sekarang, sungguh aku melihatnya.”
Saat orang ini ditanya tentang riwayat hidup (sisi kehidupan) orang yang telah meninggal ini, ia berkata, “Ia sangat menjaga dua perkara:
Pertama, ia dan muadzin selalu saling dahulu mendahului untuk datang ke masjid, kadang muadzin mendahuluinya dan lebih sering ia yang datang terlebih dahulu.
Kedua, ia tidak dikenal kecualii sebagai pribadi yang baik. Allah Ta’ala telah menjaganya dari perbuatan keji dan mungkar, ia tidak pernah berbohong atau menggunjing orang lain”.
Allah telah mencukupinya dan Allah telah menjaminnya. Dan sungguh kita tidak bisa memberikan rekomendasi apapun untuk siapapun di hadapan Allah.
*****
Saya telah melakukan operasi penambalan pembuluh darah terhadap seorang pasien yang berada di ruang Bagian Jantung. Sehari sebelum ia diperbolehkan untuk pulang -karena menurut perhitungan kami saat itu, ia telah sembuh- ia memanggil anak-anak dan istrinya, ia mengharapkan mereka segera hadir. Sesaat setelah mereka semua hadir ia berkata, “Aku akan meninggal sebentar, maka maafkanlah aku”.
Kemudian ia memanggil dokter dan para perawat yang merawatnya untuk mengucapkan terima kasih kepada mereka. Lalu ia berbaring di atas sisi kanannya seraya mengucapkan, “Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah”, ia telah menghadap Tuhan-nya
a.
Saya bertanya kepada anak-anaknya tentang riwayat hidup (sisi kehidupan) ayah mereka, mereka menjelaskan, “Ayah kami orang yang baik, kami tidak pernah melihatnya menggunjing, berbohong, berbuat keji, atau kemungkaran.”
*****
Ketika masih duduk di bangku kuliah di Kairo,Mesir, saya mengenal seseorang yang sangat taat kepada Allah. Ia mengajarkan Al Qur’an dan membimbing penghafal Al Qur’an di komplek tempat tinggalku. Selama bertahun-tahun ia tidak pernah terlambat untuk datang mnegajar pada waktunya, yaitu setelah selesai shalat Subuh hingga terbit matahari.
Suatu hari ia mengucapkan selamat tinggal kepada semua yang hadir setelah menutup pelajarannya, seakan-akan ia tidak akan mengajar kembali setelah hari itu. Hari itu juga, sebelum tiba saat Dzuhur kami mendapatkan berita tentang kematiannya pada jam sepuluh pagi.
Keesokan harinya kami mendapatkan kisah kematiannya berdasarkan cerita istrinya, “Sebagaimana biasa ia pulang ke rumah jam tujuh lebih tiga puluh menit. Ia mengucapkan salam kepadaku, kemudian berkata, “Sesungguhnya saya akan mati pada jam sepuluh.” Sayapun mengiranya bercanda, lalu ia berkata, “Siapkanlah sarapan untukku.” Saya menyiapkan sarapan, lalu kami menyantapnya berdua.
Pada jam delapan tiga puluh menit ia masuk ke kamar mandi. Ia mandi agak lama, kemudian ia keluar dan memakai wewangian sebagaimana yang ia lakukan ketika hendak berangkat untuk shalat Jumat. Lalu ia memakai pakaian yang paling bagus dan membaca Al Qur’an.
Beberapa menit sebelum jam sepuluh ia berkata, “Saya akan mati pada jam sepuluh, maka maafkanlah aku, lupakanlah semua kesalahan dan kekhilafanku kepadamu.” Saya sangat terkejut hingga tidak bisa mengucap apapun, beberapa detik sebelum jam sepuluh, ia bersiap-siap untuk tidur lalu membaca, “Asyhadu alla iaha illallah wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah” lalu ia menghadap Tuhan-nya.
*****
Sekarang perkenankanlah saya menceritakan kepada Anda tentang riwayat hidup orang ini. Sungguh saya belum pernah melihatnya menggunjing orang lain, berbohong, menipu, berbicara kotor atau mungkar, sejak saya mengenalnya di komplek itu.
Ada sebuah pertanyaan yang perlu untuk dijawab, berapa banyakkah orang yang shalatnya mampu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar? Allah Ta’ala berfirman, وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ “dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar” (Al Ankabut:45)
Sayangnya, kadang kita masih temui orang-orang yang menggunjing orang lain padahal ia belum keluar dari masjid. Atau kadang ia menggunjing maupun berbohong padahal ia masih berada di pintu masjid setelah menunaikan shalat. Atau pedagang yang menipu pembelinya padahal baru saja ia menunaikan shalatnya di masjid. Atau orang yang menzhalimi orang lain atau bermuamalah dengan riba padahal ia termasuk orang-orang yang biasa membaca takbiratul ihram-menunaikan shalat-.
Saudara-daudaraku! Sesungguhnya orang yang shalatnya tidak mampu mencegah dari perbuatan keji, mungkar, dan keburukan-keburukan lainnya berupa kemaksiatan dan dosa, maka hendaklah ia mengintrospeksi dirinya. Karena di situlah kekurangannya. Mungkin ia belum bisa melaksanakan shalat sebagaimana mestinya, atau ia tidak menunaikannya dengan khusyuk. Seandainya ia mampu merasakan keagungan shalat lalu mendirikannya sebagaimana mestinya, tentulah dengan izin Allah shalat itu akan mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar.
Saudaraku yang mulia, sebelum coba-coba menggunjing, berbohong, menipu, dan mengambil riba, ingatlah bahwa baru saja Anda menunaikan shalat di masjid, ingatlah bahwa baru saja Anda menunaikan shalat di masjid. Semoga saja cara itu akan membantu Anda untuk menahan diri, agar di hari kiamat nanti Anda tidak termasuk orang-orang yang pailit.
Sungguh, semua ini terjadi atas kehendak Allah, Dialah yang menunjukkan jalan kebenaran. (pm/kesehatanmuslim).
*Dinukil dari buku Kesaksian Seorang Dokter, penerbit Darus Sunnah karya dr. Khalid bin Abdul Aziz Al Jubair, Sp.JP

Kamis, 03 April 2014

Saat Penjaga Arsy Lupa dgn Bacaan Tasbihnya

Sebuah kisah seorang arab Badui yang sangat mencintai Rasulullah Muhammad meskipun belum pernah bertemu dengannya,
Suatu hari Rasulullah Muhammad SAW sedang tawaf di Kabah, baginda mendengar seseorang di hadapannya bertawaf sambil berzikir: “Ya Karim! Ya Karim!”
Rasulullah SAW meniru zikirnya “Ya Karim! Ya Karim!”
Orang itu berhenti di satu sudut Kakbah dan menyebutnya lagi “Ya Karim! Ya Karim!” Rasulullah yang berada di belakangnya menyebutnya lagi “Ya Karim! Ya Karim!”
Orang itu berasa dirinya di perolok-olokkan, lalu menoleh ke belakang dan dilihatnya seorang lelaki yang sangat tampan dan gagah yang belum pernah di lihatnya. Orang itu berkata, “Wahai orang tampan, apakah engkau sengaja mengejek-ngejekku, karena aku ini orang badui? Kalaulah bukan karena ketampanan dan kegagahanmu akan kulaporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.”
Mendengar kata-kata orang badwi itu, Rasulullah SAW tersenyum lalu berkata: “Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?” “Belum,” jawab orang itu. “Jadi bagaimana kamu beriman kepadanya?” tanya Rasulullah SAW. “Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan perutusannya walaupun saya belum pernah bertemu dengannya,” jawab orang Arab badui itu.
Rasulullah SAW pun berkata kepadanya: “Wahai orang Arab, ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat.” Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya lalu berkata, “Tuan ini Nabi Muhammad?” “Ya,” jawab Nabi SAW. Dengan segera orang itu tunduk dan mencium kedua kaki Rasulullah SAW.
Melihat hal itu Rasulullah SAW menarik tubuh orang Arab badui itu seraya berkata, “Wahai orang Arab, janganlah berbuat seperti itu. Perbuatan seperti itu biasanya dilakukan oleh seorang hamba sahaya kepada tuannya. Ketahuilah, Allah mengutus aku bukan untuk menjadi seorang yang takabur, yang minta dihormati atau diagungkan, tetapi demi membawa berita gembira bagi orang yang beriman dan membawa berita menakutkan bagi yang mengingkarinya.”
Ketika itulah turun Malaikat Jibril untuk membawa berita dari langit, lalu berkata, “Ya Muhammad, Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: “Katakan kepada orang Arab itu, agar tidak terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahwa Allah akan menghisabnya di Hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil maupun yang besar.”
Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi. Orang Arab itu pula berkata, “Demi keagungan serta kemuliaan Allah, jika Allah akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan denganNya.”
Orang Arab badui berkata lagi, “Jika Allah akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa kebesaran magfirahNya. Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa luasnya pengampunanNya. Jika Dia memperhitungkan kebakhilan hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa dermawanNya.”
Mendengar ucapan orang Arab badui itu, maka Rasulullah SAW pun menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badui itu sehingga air mata meleleh membasahi janggutnya.
Lantaran itu Malaikat Jibril turun lagi seraya berkata, “Ya Muhammad, Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: “Berhentilah engkau daripada menangis, sesungguhnya karena tangisanmu, penjaga Arasy lupa bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga ia bergoncang. Sekarang katakan kepada temanmu itu, bahwa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan menghitung kemaksiatannya. Allah sudah mengampunkan semua kesalahannya dan akan menjadi temanmu di syurga nanti.”
Betapa sukanya orang Arab badui itu, apabila mendengar berita itu dan menangis karena tidak berdaya menahan rasa terharu.

Jumat, 28 Maret 2014

Bebasnya Sang Penolong Cucu Rasulullah

Ceritanya ini sangat menyentuh hati dan perasaan hingga bisa jadi membuat pembaca meneteskan air mata tanpa di sadarinya.. siapin tisyu yaa..:P
Meski ahli maksiat, namun pemuda ini memiliki sisi kebaikan kala terjadi sesuatu dalam perjalanan hidupnya. Pemuda itu menjadi pelindung salah seroang ahlul bait keluarga Rasulullah SAW. Siapa saja yang mimpi telah bertemu dengan Rasulullah SAW adalah benar adanya, karena setan tak mampu meniru fisik Nabi Muhammad SAW dengan kehendak-Nya.
Yuk disimak Kisahnya.
Pada tahun 200-an Hijriyah, ada seorang Gubernur Baghdad yang sangat arif dan bijaksana serta memegang tali Allah SWT dalam memimpin lagi dermawan dan ulung dalam hal politik. Dialah Ishaq bin Ibrahim bin Mush'ab Al-Kuza'i.
Pada suatu malam, Ishaq bin Ibrahim ini tengah bermimpi bertemu dengan Rasulullah dan menitipkan suatu pesan. "Lepaskan tawananmu....lepaskan si pembunuh itu....," perintah Rasulullah SAW kepada Ishaq bin Ibrahim dalam mimpinya.
Ishaq bin Ibrahim hanya menatap wajah seseorang yang rupawan dan terpaku. Belum sempat Ishaq Ibrahim ini bertanya, Rasulullah SAW kembali berkata, "Wahai Ishaq bin Ibrahim, lepaskan si pembunuh itu...," perintah Rasulullah SAW dalam mimpi.
"Astaghfirullah...ternyata aku hanya bermimpi," kata Isahq bin Ibrahim setelah sadar dari tidurnya. Semalam ia bermimpi ada orang dengan wajah rupawan yang berani memerintahkan untuk melepaskan seorang pembunuh yang dipenjarakannya. Ia benar-benar penuh keheranan. Betapa tidak, yang menyuruh demikian bukan orang biasa, tapi dialah orang yang sangat dicintai oleh Ishaq bin Ibrahim, selalu dipujinya setiap waktu dan setiap nafasnya.
Pada pagi harinya, semua keluarganya telah mendapati Ishaq bin Ibrahim wajahnya pucat dan gemetar. Sungguh hal yang tidak biasanya mereka lihat sebelumnya.
Gubernur Baghdad yang kurang lebih menjabat 30 tahun ini segera saja bergegas dan bahkan tidak sempat sarapan dan berkata-kata sepatah klatapun kepada keluarganya. Sang Gubernur segera menuju kantor penjara dan langsung memanggil kepala penjara.
"Wahai kepala penjara, siapa saja semalam yang ditangkap dan dipenjara karena kasus pembunuhan," tanya sang Gubernur. "Ini Bapak, silahkan dilihat," kata si kepala penjara sambil menyodorkan buku daftar tawanan. "Tidak ada kasus pembunuhan tadi malam Pak," kata kepala penjara kepada Gubernur.
Sang Gubernur kembali lagi heran dibuatnya. Tadi semalam dia jelas-jelas bermimpi bertemu dengan Rasululah SAW yang menyuruhnya untuk melepaskan si pembunuh, namun dari daftar tahanan menunjukkan bahwa kasus pembunuhan semalam tidak ada, yang ada hanya kasus pencurian saja. "Apa tidak ada lagi daftar tawanan selain in?" tanya Sang Gubernur. "Sebentar Pak, saya tanyakan ke beberapa anak buah saya," jawab kepala penjara.
Sang Gubernur masih tetap saja ngotot dan memerintahkan kepada anak bauahnya untuk mencari si pembunuh yang dilakukan tadi malam. Sang Gubernur sangat yakin sekali bahwa perintah Rasululah SAW selalu benar adanya. Sang Gubernur dan anak buahnya tetap berupaya mencari si pembunuh yang tertangkap tadi malam bersama seluruh anggota pengawal penjara.
Tak berapa lama kemudian kepala penjara berserta seorang anak buahnya datang menhadap Gubernur. "Apakah ada laporan tentang penangkapan seorang pembunuh tadi malam?" tanya Gubernur kepada salah satu anak buah kepala penjara yang berjaga tadi malam. Kepala penjara belum mendata semuanya, maklumlah sang Gubernur datangnya terlalu awal, jadinya si kepala penjara masih berbenah dan mendata ualang daftar tawanan.
"Aaada Pak," jawab keduanya dengan dada berdebar. Ternyata nama si pembunuh itu memang ada, tapi memang terlewatkan tunuk ditulis didaftar buku tahanan. Setelah ditelusuri, ternyata kertas yang bertuliskan nama si pembunuh sempat tercecer di atas meja dan baru saja ditemukan. Apakah ini termasuk salah satu mukjizat dari Rasulullah SAW meski Beliau sudah meninggal. Wallahu A'lam. Tapi Allah SWT memang Maha Mengetahui, dan melalui Rasulullah SAW lah Allah SWT mengabarkan. "Sekarang juga panggil si pembunuh itu," perintah Gubernur kepada anak buahnya.
Si Pembunuh Melindungi Ahlul Bait Rasulullah SAW.
Akhirnya, datanglah orang yang dicari-cari gubernur tadi. "Apakah benar engkau telah membunuh seseorang tadi malam?" tanya Gubernur kepada si pembunuh. "Iiii...yaaa..., saya pembunuhnya," jawabsi pembunuh dengan wajah pucat dan badan gemetar karena takut. "Seberat apakah hukuman buatku...," kata si pembunuh dalam hati. Ketika ditanya mengenai sebab dia membunuh, sesekali dia tak mampu berkata apa-apa. Ketakutan tengah menguasi dirinya.
"Tenangkan dirimu...saya cuma mau engkau berkata dengan jujur," kata Gubernur menenagkan. "Jujurlah wahai pemuda, berkatalah apa adanya, kemungkinan kami bisa mempertimbangkan hukuman untuk dirimu," kata Gubernur dengan bijak.
Tutur kata yang begitu ramah dari Gubernur ini mampu mendinginkan suasana. Terlebih si pembunuh tersebut dankali ini si pembunuh mulai bisa bernafas dengan stabil lagi. Setelah tenang, si pembunuh mulai angkat bicara. "Begini ceritanya Pak Gubernur," kata si pembunuh memulai ceritanya.
"Hari itu saya memang terpaksa, sungguh sangat terpaksa membunuhnya Pak," kata si pembunuh. "Benarkah demikian...hmmm....," guman Gubernur.
Pemuda ini memang awalnya selalu akrab dengan minuman keras dan hali maksiat serta berzina. Pokoknya mo limo selalu jadi kesehariannya. Pesta maksiat paling sering dilakukan di rumah bos mereka. "Begitulah hari-hari saya Pak, sampai pada akhirnya...," kata pemuda yang ingin melanjutkan tapi dipotong oleh ucapan Gubernur.
"Ah...yang benar saja....," kata sang Guberneur penuh heran. Kalau si pemuda ini ahli maksiat, lalu kenapa Rasulullah SAW menyuruhnya untuk melepaskan orang yang seperti ini.
"Sampai pada suatu hari, tiba-tiba saja bos saya datang dan membawa seorang gadis cantik nan rupawan ketika kami sedang pesta maksiat. Tapi, kali ini perempuan yang dibawa bos saya sangat cantik, tidak seperti perempuan biasanya. Tak sanggup lidah ini melukiskan secantik apa dia," lanjut si pemuda. "Tolooong...," teriak si gadis berontak ingin melepaskan diri.
"Segera saja kami pun berlomba untuk untuk memperebutkan si gadis itu. Seperti itulah kebiasaan kami," kisah si pembunuh tentang hari-hari buruknya. "Tapi Pak Gubernur, gadis ini sangatlah jauh berbeda dengan gadis lainnya. Kami sangat kagum dengan fisiknya yang aduhai.., dan akhirnya akulah yang berhasil membawa gadis itu. Aku membawa dia masuk ke kamar dan sesekali si gadis berontak dan ingin melarikan diri," tutur si pembunuh.
"Ketika saya ikat kaki dan tangannya, dan ketika saya akan menjamahnya layaknya suami sitri, si gadis berteriak dengan keras. Teriakannya melemahkan tubuhku ini. Aku pun gemetar oleh teriakan itu karena belum pernah ada gadis yan berteriak sedemikian rupa. Aku bertobat Pak Gubernur, aku benar-benar bertobat," jelas si pembunuh. "Apa yang diteriakkan gadis itu?" tanya Gubernur.
Gadis itu berteriak demikian.
"Takutlah dengan Allah...takutlah dengan Allah...," teriak gadis itu. "Takutlah dengan Allah..takutlah dengan Allah.. Allah..Allah...takutlah...," teriaknya lagi. "Takutlah dengan Allah.. wahai Kakekku Muhammad.. peliharalah dan jagalah kehormatanku.. jagalah kehormatan kakekku Muhammad yang mengalir dalam tubuhku ini," teriak si gadis dengan suara lantang.
Karena teriakan itu, tiba-tiba saja tubuhku lemah tak berdaya seperti tersengat listrik. Pengakuan gadis itu telah membuatku membisu dan badanku kaku. Aku pun membatalkan misiku dan aku bersumpah akan menjaga gadis itu dengan jiwa dan ragaku agar dapat keluar dari lingkungan maksiat itu.
Wanita itu mengatakan bahwa dia telah ditipu oleh bosku yang dijanjikan pekerjaan sebagai penjual kurma dan dijanjikan pula perhiasan sebagai bonusnya hingga si gadis menuruti perkataan bosku.
Lalu kami pun dengan sembunyi-sembunyi untuk keluar dan pergi dari tempat maksiat itu. Namun, tanpa diduga, kawan-kawanku memergoki kami dan ingin merebut gadis itu dari peganganku. Mereka ingin mendapatkannya, aku pun semakin kuat melindungi perempuan terhormat itu. Aku pun mencoba menjelaskan ke kawan-kawanku tentang alasanku melindunginya, tapi mereka tidak percaya dengan perkataanku. Aku katakan kepada mereka bahwa gadis itu masih suci, dan merupakan salah satu keturunan orang yang saleh dan sangat mulia yang pernah hidup di dunia ini.
Lagi -lagi kawan-kawanku tak pecaya dengan perkataanku, malah mereka mencoba merebut kembali. "Enak saja engkau ini, ah itu hanya alasanmu saja, cepat berikan gadis itu," kata mereka berkilah.
Akhirnya, terjadilah hal yang tidak diinginkan, kami saling berkelahi satu sama lain bak perang saudara hingga salah satu mati. Meski demikian salah seorang dari mereka tetap saja mencolak-colek gadis mulia itu, hingga aku mati-matian membelanya. Aku tak tega sedikitpun gadis itu disentuh oleh kawan-kawanku.
Segera saja aku suruh gadis itu untuk pergi dari tempat itu. "Lari...cepat lari...jangan hiraukan aku...," kataku kepada gadis mulia itu.
Sambil berlari gadis itu berteriak. "Semoga Allah menutupi aibmu seperti kamu menutupi aibku. Semoga Allah melindungimu sebagaimana kamu melindungiku...," kata gadis itu sambil berlari. Itulah kata-kata terakhir pertemuanku dengan gadis itu. Sementara karena kawan-kawanku masih saja ingin mengikuti dan merebutnya, terpaksa aku bunuh kawanku itu.
Kawanku bersimbah darah, tewas oleh tanganku ini. Ia telah mati. Aku membunuhnya. Itulah hari pertamaku menjadi pembunuh. "Ada yang mati...ada yang mati...," teriak salah seorang temanku sambil lari berhamburan. "Mendengar teriakan inilah masyarakat berduyun-duyun mendatangi mayat kawanku itu, sementara pisau dan darah masih ada di tanganku. Mereka pun membawaku ke sini dan begitulah ceritanya mengapa aku ditangkap Pak Gubernur," si pembunuh mengakhirni ceritanya dengan perkataan jujur.
Si Pembunuh Divonis Bebas.
"Aku sudah menduga, kalau engkau tidak salah wahai pemuda," jawab sang gubernur dengan santainya. Ada yang heran, juga ada yang bingung dengan penuturan gubernur ini, terlebih lagi bagi si pembunuh itu. "Mulai saat ini, engkau aku bebaskan dan perkaramu akan aku serahkan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya," perkataan penutup dari Gubernur.
Sebelum Gubernur meninggalkan tempat, pemuda itu sempat diberitahu tentang mimpinya bertemu dengan Rasululah SAW dan sempat juga Pak Gubernur memberi hadiah kepada si pemuda. Namun, si pemuda menolaknya dengan alasan bebasnya dia sudah lebih dari segalanya. Pak gubernur Ishaq bin Ibrahim ini meninggal dunia pada tahun 235 H.
Renungkanlah....
Betapa Rasulullah SAW sangat mendengar dan mengetahui siapa pun yang mencintainya, begitu juga dengan nasib orang yang mencintai Ahlul Bait keluarganya.
Allahuma Sholli ala Muhammad.. wa alaalli Muhammad

Selasa, 25 Maret 2014

Sebungkus Kurma Abu Aqil

Sebuah kisah mengenai semangat sedekah karena Allah dan Rasulnya, kisah ini cukup mengharukan karena itu Siapin tisue ya, biar ga bingung saat airmata meleleh.. :D
Kisahnya
Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Abu Aqil sedemikian resah seperti hari itu. Dia tenggelam dalam fikirannya tanpa mempedulikan apa yang terjadi di sekitarnya. Dia seolah-olah tidak mendengar bunyi apapun dan tidak melihat sesuatupun. Dia melangkah ke arah rumahnya dengan cepat. Matanya memandang tanah dan mulutnya kelihatan komat-kamit mengatakan sesuatu. Ø melewati lorong sempit sebelum akhirnya tiba ke rumahnya. Dengan menarik nafas yang dalam, Abu Aqil lalu bersandar di sebatang pohon tua di tengah halaman rumah.
Isterinya menyadari kekhawatiran yang melanda suaminya itu dan bertanya, "Suamiku, apa yang terjadi?" Abu Aqil kemudian berjalan masuk ke rumahnya. Karena kelelahan, dia bersandar ke dinding rumahnya, lalu berkata, "Musuh Allah berniat untuk memerangi kita. Tentara muslim sudah disiagakan untuk melawan musuh. Tetapi, tentara kita tidak punya bekal dan makanan. Kami sedang berada di masjid ketika Nabi membacakan sebuah ayat suci Al-Quran dan meminta kaum muslimin untuk memberikan bantuan sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing kepada tentara Islam."
Isteri Abu Aqil bertanya, "Apakah bunyi ayat itu?" Abu Aqil menutup matanya dan setelah berpikir sejenak, dia membaca ayat ke-11 dari surat Al-Hadiid yang artinya, "Siapa saja yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, akan diberi Allah balasan pinjaman yang berlipat ganda dan dia akan memperoleh pahala yang banyak."
Isterinya dengan pandangan kecewa menatap lantai ruangan kamar dan berkata, "Engkau adalah pemimpin rumah ini dan engkau lebih mengetahui bahwa kita tidak punya harta dan simpanan apapun untuk kita berikan di jalan Allah. Abu Aqil menjawab, "Tetapi, kita harus turut melibatkan diri dalam tugas ini. Tidakkah engkau ketahui bahwa perbuatan ini disenangi oleh Allah dan Rasul-Nya?"
Abu Aqil melanjutkan perkataannya, "Ayat ini sangat menyentuh perasaanku sehingga aku segera pulang ke rumah. Hari ini semua orang Islam membawa apa yang mereka miliki kepada Nabi Muhammad SAW agar permintaan Allah terpenuhi." Isterinya tersenyum dan dia mengambil salah satu bejana dan mengeluarkan segenggam kurma sambil berkata kepada Abu Aqil, "Kita mempunyai sedikit kurma. Ambillah dan berikan kurma ini kepada Nabi."
Abu Aqil tertegun dan mengguman sendirian, "Apa yang bisa diperbuat dengan kurma ini? Tetapi ini lebih baik daripada tidak memberi sesuatupun." Isterinya lantas menaruh kurma itu dalam sebuah kain bersih dan memberikannya kepada Abu Aqil. Dengan gembira, Abu Aqil berkata, "Meskipun kurma ini tidak tampak berguna tetapi ia dapat dimanfaatkan di medan perang."
Halaman kecil masjid ramai dipenuhi umat muslimin. Abu Aqil berada diantara mereka. Dengan langkah yang lemah, dia memperhatikan bahwa ada beberapa ekor biri-biri, kambing, dan unta terikat di luar masjid. Abu Aqil menyadari bahwa hewan-hewan itu merupakan hadiah dari orang ramai. Dia juga melihat orang-orang yang berkumpul di dalam masjid dengan hadiah besar dan kecil di tangan mereka. Abu Aqil merapatkan bungkusan yang berisi kurma ke dadanya dan dia berjalan masuk ke dalam masjid.
Baru beberapa langkah memasuki masjid, Abu Aqil merasa ada seseorang menepuk bahunya. Dia menoleh ke belakang. Dilihatnya Abdur Rahman bin Auf dengan berpakaian mahal berdiri di hadapannya. Abdur Rahman dengan suara mengejek berkata kepada Abu Aqil, "Katakan kepadaku apakah yang ada di dalam bungkusan yang engkau peluk erat-erat itu? Emas atau kawat?" Abdur Rahman lalu tertawa terbahak-bahak dengan penuh penghinaan. Abu Aqil menundukkan kepala karena malu dan hanya berdiam diri.
Beberapa kali Abu Aqil membuat keputusan untuk pulang ke rumahnya dan menjauhkan diri dari pandangan penghinaan Abdur Rahman kepada nya. Tetapi ada kekuatan dalam dirinya yang menghalanginya untuk pulang. Akhirnya dia duduk diam-diam di sudut masjid. Dilihatnya Nabi Muhammad SAW duduk di tepi mihrab dan menerima hadiah-hadiah dari umatnya. Dia berharap dalam hati, alangkah baiknya jika dia mempunyai simpanan yang lebih pantas untuk diberikan kepada Nabi.
Tiba-tiba, masjid yang semula dipenuhi dengan suara ramai dilanda kesepian dan kesunyian. Abu Aqil memandang kepada Rasulullah. Rupanya, Rasul sedang menerima wahyu. Rasulullah SAW menutup mata dan wajahnya seolah-olah sedang tenggelam dalam cahaya yang bersinar. Semua sahabat memahami keadaan Nabi ini dan menanti sampai Rasul selesai menerima wahyu
.
Rasulullah kemudian membuka matanya dan dengan langkah yang perlahan beliau bergerak ke arah Abu Aqil. Jantung Abu Aqil berdebar-debar dan dia berusaha untuk menyembunyikan bungkusan kurmanya. Lalu, terdengar suara Rasulullah yang memecah kesunyian masjid, "Wahai manusia, baru saja Jibril menyampaikan wahyu dari Allah kepadaku. Ketahuilah bahwa para malaikat yang berada di langit, memandang bumi untuk menyaksikan pinjaman siapakah yang terbaik di sisi Allah."
Rasulullah kemudian meletakkan tangannya ke atas pundak Abu Aqil dan berkata, "Ketahuilah, hadiahmu lebih berharga dari emas di sisi Allah. Orang munafik yang mencelamu dan menyebabkan hatimu sakit, kelak akan diberi azab.Wahai Abu Aqil, para malaikat sedang menanti, berikan hadiah itu kepadaku dan ketahuilah bahwa Allah ingin agar aku menggembirakanmu. Engkau hari ini disenangi oleh Allah."
Abu Aqil masih tidak percaya, dia merasa seolah-olah sedang bermimpi, sebuah mimpi yang amat manis. Rasulullah dengan penuh kasih sayang mengambil bungkusan kurma tersebut dari tangannya dan membelai kepala Abu Aqil.
Ketika itu pula Rasul membacakan ayat ke-79 surah Taubah yang artinya, "Orang-orang munafik yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan mencela orang-orang yang tidak memiliki apapun untuk disedekahkan selain dari yang disanggupinya. Allah akan membalas penghinaan mereka itu dan bagi mereka azab yang pedih."

Bertaubatlah - atas Dosamu yang Bertahun-tahun

Kisah di Zaman Nabi Musa As.
Pada suatu ketika di daerah yang dihuni Bani Israil tidak turun hujan cukup lama. Penyebabnya adalah karena ada salah seorang dari kaum itu yang telah melakukan dosa 40 tahun lamanya. Setelah orang itu bertobat, akhirnya di daerah itu turun hujan. Bagaimana Kisahnya?
Berikut Kisahnya.
Pada zaman Nabi Musa, kaum Bani Israil pernah ditimpa musim kemaru yang panjang. Karena tidak kuat menanggung cobaan dari Allah itu, mereka berkumpul untuk menemui Nabi Musa dan berkata, "Wahai Musa, tolonglah doakan kami kepada Tuhanmu supaya Dia berkenan menurunkan hujan untuk kami."
Kemudian berdirilah Nabi Musa a.s bersama kaumnya. Mereka berangkat menuju tanah lapang untuk minta diturunkan hujan. Jumalah mereka kurang lebih 70 ribu orang.
PENGHALANG DOA.
Kepada Nabi Musa, Allah SWT menurunkan wahyu-Nya, "Aku tidak pernah merendahkan kedudukanmu di sisi-Ku, sesungguhnya di sisi-Ku kamu mempunyai kedudukan yang tinggi. Akan tetapi, bersama denganmu ini, ada orang yang secara terang-terangan melakukan perbuatan maksiat selama 40 tahun. Engkau boleh memanggilnya supaya ia keluar dari kumpulan orang-orang yang hadir di tempat ini. Orang itulah sebagai penyebab terhalangnya turun hujan untuk kamu semuanya."
Nabi Musa kembali berkata, "Wahai Tuhanku, aku adalah hamba-Mu, suaraku juga lemah, apakah mungkin suaraku ini dapat di dengarnya, sedangkan jumlah mereka lebih dari 70 ribu orang." Allah SWT berfirman, "Wahai Musa, kamulah yang memanggil dan Aku-lah yang akan menyampaikannya kepada mereka." Menuruti apa yang diperintahkan Allah, Nabi Musa a.s berseru kepada kaumnya, "Wahai seorang hamba yang durhaka yang secara terang-terangan melakukannya sampai 40 tahun, keluarlah kamu dari rombongan ini, karena kamulah hujan tidak diturunkan Allah SWT."
Mendengar seruan dari Nabi Musa a.s itu, maka orang yang durhaka itu berdiri sambil melihat ke kanan dan ke kiri. Akan tetapi, dia tidak melihat seorangpun yang keluar dari rombongan itu. Dengan demikian, tahuah dia bahwa yang dimaksudkan Nabi Musa itu adalah dirinya ssendiri. Karena itu dia ingin bertobat, tetapi ia ragu untuk mengakuinya di tempat itu.
"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah durhaka kepada-Mu selama 40 tahun. Walaupun demikian, Engkau masih memberikan kesempatan kepadaku dan sekarang aku datang kepada-Mu dengan ketaatan, maka terimalah tobatku," begitu doanya. Beberapa saat selepas itu, awan bergumpal di langit, setelah itu hujan pun turun dengan deras. Melihat keadaan demikian, Nabi Musa berkata, "Tuhanku, mengapa Engkau memberikan hujan kepada kami, bukankah diantara kami tidak ada seorangpun yang keluar mengakui dosanya?"
HUJAN LEBAT.
Lalu Allah SWT berfirman, "Wahai Musa, aku menurunkan hujan ini juga disebabkan oleh orang yang dahulunya sebagai sebab tidak menurunkan hujan kepada kamu." Kemudian Nabi Musa berkata, "Tuhanku, sebenarnya siapakah gerangan dia? Perlihatkanlah dia kepadaku siapa sebenarnya hamba-Mu itu?"
Allah berfirman, "Wahai Musa, dulu ketika ia durhaka kepada-Ku, Aku tidak pernah membuka aibnya. Apakah sekarang Aku akan membuka aibnya itu ketika dia telah taat kepada-Ku? Wahai Musa, sesungguhnya Aku sangat benci kepada orang yang suka mengadu. Apakah sekarang Aku harus menjadi pengadu?"
Akhirnya Kaum Nabi Musa mengerti bahwa Allah Maha Pemaaf. Maksiat selama 40 tahun bisa dihapus dengan tobat sehari.

Kisah Tsa'labah - Dijiarahi Banyak Malaikat

Assalamu'alaikum wr.wb. Sahabat yang seiman dan seagama ISLAM...
Kisah berikut pantas dijadikan teladan saat kita hidup di dunia sahabat. Ada seorang pemuda yang meninggal dunia, lalu jenazahnya dimandikan, dikafani hingga dikerumuni banyak sekali malaikat untuk menyaksikan pemakaman pemuda ini. Apa gerangan yang terjadi hingga pemuda ini dikeruti malaikat, hingga Rasulullah SAW pun sangat takjub akan keimanan pemuda ini yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. Subhanallah...
Kisahnya.
Adalah Ts'labah yang merupakan salah satu sahabat Rasulullah SAW ang sangat setia dan beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Suatu ketika karena ketidaksengajaanya melakukan dosa, ia sangat menyesal begitu dalam hingga ketakukannya kepada Allah SWT kan azab yan akan ia terima nantinya.
Karena ketaktannya tersebut, Tsa'labah sakit hingga meninggal dunia. Subhanallah... Di pemakaman sahabat Nabi yang setia ini banyak malaikat yang ikut menziarahi Tsa'labah.
Tsa'labah Sakit.
Setelah sekian lama berjuang bersama nabi, terdengar kabar bahwa Tsa'labah sedang sakit keras. Mendengar hal itu sahabat Nabi yang lain bernama Salman menghadap Rasulullah SAW dan berkata, "Wahai Rasulullah, msihkah engkau ingat dengan Tsa'labah? Dia sedang sakit keras." Rasulullah SAW pun segera datang menemui Tsa'labah.
Rasulullah SAW meletakkan tangan kanannya di kepala Tsa'labah, kemudian meletakkan kepala Tsa'labah dipangkuannya. Akan tetapi apa yang terjadi, Tsa'labah segera saja menyingkirkan kepalanya dari pangkuan beliau. "Mengapa engkau singkirkan kepalamu dari pengkuanku?" tanya Baginda Rasul. "Karena aku penuh dengan dosa, tgak layak dipangkau oleh UtusanNya yang mulia ini," jawab Tsa'labah. "Apa yang engkau rasakan?" tanya Nabi lagi. "Aku seperti dikerubuti semut pada tulang, daging dan kulitku," jawab Tsa'labah. "Lalu apa yang engkau inginkan?" tanya Rasul SAW. "Ampunan Tuhanku," jawab Tsa'labah.
Maka turunlah Malaikat Jibril as dan berkata, "Wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhanmu mengucapkan salam untukmu dan berfirman kepadamu, "Kalau saja hamba-Ku ini menemui Aku dengan membawa sepenuh bumi kesalahan, niscaya Aku akan temui dia dengan ampunan sepenuh itu pula."
Meninggal Dunia.
Maka segera saja Rasulullah SAW memberitahukan hal tu kepada Tsa'labah. Begitu mendengar berita itu, terpekiklah Tsa'labah dan langsung meninggal dunia.
Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan agar Tsa'labah segera dimandikan dan dikafani dan dishalati. Ketika selesai dishalati, Rasulullah SAW berjalan sambil berjingkat-jingkat seakan menghindari sesuatu agar tidak tertabrak. Setelah selesai pemakaman, para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, kami lihat engkau berjalan sambil berjingkat-jingkat, ada apa gerangan?"
Rasulullah SAW bersabda, "Demi Zat yang mengutus aku sebagai seorang nabi yang sebenarnya, karena aku lihat begitu banyaknya malaikat yang turut menziarahi Tsa'labah."
Apakah Dosa yang Dilakukan Tsa'labah.??
Astaghfirullah... Sebenarnya dan ternyata kesalahan yang dilakukannya hanya karena beliau melihat seorang wanita Anshar sedang mandi dalam perjalannya menuju rumahnya. Tsa'labah ini takutnya bukan main, kepada Allah SW dan kepada Rasulullah SAW yang jadi panutannya. Karena kejadian itu, Tsa'labah sangat takut sekali hingga lari.
Subhanallah...
Sumber: kisahislamiah.blogspot.com

Kamis, 13 Maret 2014

Kesabaran Berbuah Syurga

Setiap bani adam yang hidup di dunia ini tentunya mengharapkan sebuah kebahagian. Benar bukan? Lalu, bagaimana cara mendapatkannya?
Imam Ibnul Qoyyim dalam “Waabilush Shoyyib” juga Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab dalam risalah “Qowa’idul Arba’” menyebutkan bahwa pokok kebahagiaan ada tiga: ketika diberi bersyukur, ketika diuji bersabar dan jika salah ber-istighfar
Semoga kisah Abu Qilabah ini bisa memberi inspirasi buat kita tentang makna syukur dan sabar, bidznillah.
Beliau adalah ‘Abdulloh bin Zaid, ulama kesohor yang disegani oleh ulama’ lain semasa beliau. Keilmuan dan akhlak beliau begitu agung hingga beliau diminta untuk menjadi Qodhi.
Apakah beliau menerimanya? Tidak. Ilmunya yang tinggi membuat beliau takut akan sebuah jabatan. Atau beliau takut akan ditanya pertanggung jawabannya di hari kiamat. Apapun itu beliau lari dan terus berlari dari jabatan yang menghantuinya, menjauh menghindari keramaian manusia.
Hingga pada suatu hari . . . Biarkan ‘Abdulloh bin Muhammad yang mengkisahkannya. Al Imam Ibnu Hibban dalam kitab “Ats Tsiqat” membawakan sebuah sanad sampai kepada ‘Abdulloh bin Muhammad, beliau berkata;
Ketika itu aku ditugaskan murobathoh (menjaga daerah perbatasan kaum muslimin) di tepi sebuah pantai, bernama Aresy Mishr. Sesampainya di sana tiba-tiba aku berada di sebuah pesisir pantai yang luas. Aku berusaha menelusurinya. Berjalan dan terus menelusuri hingga aku menemukan sebuah kemah.
Sebentar kuperhatikan, kedua mataku mendapati sebuah tubuh yang amat memprihatinkan. Kedua tangannya putus.. kedua kakinya juga. Pendengaran dan penglihatannya juga tak berfungsi dengan normal. Hampir-hampir ia tak mempunyai anggota badan yang normal kecuali lisannya.
Kulipat gandakan fokus mataku dan memang hanya lisannya yang berfungsi normal. Dia berdoa, “ya Allah, berilah aku kekuatan untuk dapat memuji-Mu. Puji-pujian yang dapat menunaikan rasa syukurku atas segala kenikmatan yang telah Engkau anugrahkan padaku. Sungguh Engkau telah melebihkanku atas kebanyakan makhluk yang Kau ciptakan.”
Demi Allah, aku harus mendatanginya, bisikku dalam hati. Apa gerangan sebab doanya itu? Apakah ia memahami dan mengetahui yang diucapkannya, atau hanya ilham semata? Dengan langkah pasti kudekati sosok tubuh itu.
“Assalamualaikum,” kucoba memulai. “Aku tadi mendengar doamu. Gerangan apa yang membuatmu berdoa seperti itu? Nikmat apa yang telah engkau dapatkan hingga engkau sangat memuji-Nya? Keutamaan apa yang telah engkau peroleh hingga engkau mensyukuri-Nya?” lanjutku memberinya pertanyaan bertubi-tubi. Siapa yang tidak terheran-heran dengan doanya. Padahal tubuhnya begitu memprihatinkan
“Apa kau tidak melihat perlakuan Rabb-ku kepadaku. Demi Allah, seandainya saja Ia mengirim halilintar yang membakar tubuhku, atau memerintahkan gunung-gunung untuk menindihku sehingga hancur tubuhku, atau menitahkan laut untuk menenggelamkanku, atau menyuruh bumi menelanku, semua itu hanya akan menambah tekadku bersyukur kepada-Nya semakin kuat, karena nikmat lisan yang Ia anugrahkan padaku,” terangnya.
“Wahai, hamba Allah!” serunya padaku. Seperti ia ingin sesuatu hal. “Karena engkau telah mendatangiku, bolehkah aku meminta bantuanmu. Engkau telah melihat keadaanku ini. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak bisa melindungi diri dari mara bahaya. Aku pun tak bisa memberi manfaat untuk diriku sendiri. Aku memiliki seorang anak yang selalu melayaniku. Jika waktu sholat tiba, dia mewudhukan aku. Jika aku lapar, dia menyuapiku. Dan jika aku haus, dia memberiku minum.
Namun entah kemana dia sekarang. Aku telah kehilangannya selama tiga hari. Tolonglah aku, carikanlah kabarnya untukku, semoga Allah merahmatimu,” pintanya memelas. “Demi Allah, tidaklah seseorang berjalan menunaikan keperluan saudaranya melainkan akan mendapatkan ganjaran yang besar di sisi-Nya. Apalagi jika orangnya seperti engkau,” aku memenuhi permintaannya. Aku berusaha menguatkan tekad untuk membantunya, melangkahkan kaki mencari tahu tentang anaknya. Sambil berjalan, aku menyelami pikiranku. Tentang orang tua tadi, juga anaknya.
Tiba-tiba, sontak lamunanku berhenti mengikuti langkah kakiku. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Itu anaknya! Itu anaknya! Tewas diterkam dan dimakan binatang buas. Bagaimana aku mengatakan kepada orang tadi? Berat nian deritanya. Dengan berat hati aku berusaha mengayunkan langkah. Ku ayunkan kembali ke kemah, tempat orang tadi. Walau pahit tuk dikatakan, namun ini harus. Tapi juga harus dengan cara yang tepat. Ku berusaha memutar otak bagaimana cara mengatakannya.
Seiring langkah kaki yang terus bertambah, pikiranku juga terus memacu. Berpikir dan terus mencari. Dan akhirnya.. Nabi Ayyub ‘alaihis salam! Aku teringat Nabi Ayyub ‘alaihis salam. Mungkin ini cara yang tepat. Aku pun bergegas. Sesampainya di sana, “Assalamualaikum,” salamku. “Wa’alaikum salam,” jawabnya. “Bukankah engkau yang tadi menemuiku,” dia melanjutkan. “Iya,” jawabku.
“Bagaimana dengan permintaanku. Apakah engkau telah mendapatkan kabarnya?” tanyanya. Aku pun berusaha menjelaskan, “di sisi Allah, engaku kah yang lebih mulia atau Nabi Ayyub?” “Tentu Nabi Ayyub ‘alaihis salam,” jawabnya. “Tahukah engkau cobaan yang Allah timpakan kepada Nabi Ayyub? Bukankah Allah menguji beliau pada harta, keluarga dan putranya?” “Benar.” “Bagaimana sikap beliau menghadapi ujian tersebut?” “Beliau bersabar, bersyukur dan memuji Allah subhanahu wa ta’ala.” “Tidak sampai di situ. Beliau juga ditinggal karib kerabat dan sahabatnya bukan?” “Benar.”
“Bagaimana sikap beliau menghadapinya?” “Beliau tetap bersabar, bersyukur dan tak jemu memuji Allah subhanahu wa ta’ala.” “Tidak cukup sampai di situ. Beliau juga jadi bahan pembicaraan setiap orang yang lewat di jalan. Benar bukan?” “Iya. Aku tahu.” “Bagaimana sikap beliau?” “Beliau selalu bersabar, bersyukur dan bertahmid memuji Allah subhanahu wa ta’ala.” Sepertinya ia mulai paham arah pembicaraanku. “Semoga Allah merahmatimu. Langsung saja jelaskan maksudmu,” pintanya.
Dengan sangat berat aku mengatakannya, “aku telah menemukan putramu. Aku menemukannya di antara gundukan pasir.. tewas diterkam binatang buas. Semoga Allah melipatgandakan pahalamu.. semoga Allah menyabarkanmu.” (Subhanalloh! Tak ada keluhan yang keluar dari lisannya. Tak ada kekecewaan yang tersirat dari kalbunya. Justru yang terucap hanyalah tahmid kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sebagai simbol relief yang telah terpahat dalam kalbunya. Apa sebenarnya yang beliau ucapkan? Bagaimana pula akhir kisah ini? Insya Allah dalam kesempatan berikutnya) Selepas menguburkannya, empat orang tadi kembali pulang. Aku juga menuju pos penjagaanku di perbatasan.
Ketika kegelapan menutup tirainya ke atas alam dan mataku tertidur lelap, tiba-tiba aku terseret ke dalam dimensi lain. Ini.. ini sebuah taman. Namun ini bukan taman biasa. Ini taman surga. Saat mata masih sibuk meyakinkan aku berada dimana, justru mata menangkap sosok yang sepertinya tak asing, memakai dua kain yang begitu indah, kain surga. Ia menghiasi bibirnya dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat Ar Ra’d:24 سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّار “Salaamun ‘alaikum” (kesejahteraan bagi kalian) karena kesabaran kalian. Sungguh kampung terakhir yang paling indah adalah jannah.
Aku pun menghampirinya. “Engkaukah itu?” tanyaku meyakinkan kalbu. “Benar,” nampak cahaya terpancar dari wajahnya. “Ini semua.. bagaimana kau mendapatkannya?” tanyaku lagi. “Sungguh Allah mempunyai derajat-derajat yang tak akan bisa diraih kecuali dengan SABAR SAAT UJIAN MENYAPA DAN SYUKUR SAAT LAPANG DATANG, DENGAN TETAP MENGGELORAKAN RASA TAKUT KEPADA ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA SAAT SENDIRI ATAU BERSAMA.”
Begitulah Abu Qilabah menutup lembaran hidupnya di dunia. Dan begitulah cara Abu Qilabah membuka lembaran hidupnya di akherat. Semoga kisah ini tak hanya menjadi sebuah objek bidikan mata semata. Namun lebih dari itu, semoga dari tatapan mata akan terus mengalir dan mengisi setiap celah di ruang kalbu dan himmah kita, kemudian dapat diterjemahkan dengan baik oleh seluruh anggota tubuh kita. Amin
Dan tentunya, yang paling berhak mengamalkannya adalah penulis, hamba yang penuh dosa dan cacat ini. Terakhir, Rabbana.. anugrahkanlah ampunan kepada kami juga saudara-saudara kami yang terlebih dahulu beriman dari kami, dan janganlah Engkau biarkan kedengkian kepada orang-orang beriman merasuk dalam kalbu kami. Duhai Rabb, Kau-lah Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.
_
daarul_hadith_bil_fuyush_ _akhukum fillah_yahya_el_windany_ Sumber : Dikirim oleh Al-Yahya Al-Windany (salah satu thulab di Darul Hadist Fuyus,Yaman)
_WA Thullab Al Fiyusy_
From: Permata Muslimah.com