Tampilkan postingan dengan label Artikel Menarik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Menarik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Juni 2015

Bacaan Al Qur'an dgn Langgam Jawa dlm Dialog Ringan

Di tengah panasnya diskusi tentang penggunaan Langgam Jawa saat tilawah Qur’an pada perayaan Isra’ Mi’raj beberapa waktu lalu, muncul kreatifitas masyarakat dalam menyikapinya. Seperti yang Arrahmah kutip dari broadcast media pesan instan pada Selasa (19/5/2015) berikut ini. Isinya ringan, namun insyaa Allah sarat akan makna. Semoga mengurai benang kusut kekeliruan masyarakat tentang syari’at membaca al Qur’an yang suci. Bismillah.
Boleh, tapi jangan dikerjakan!
Pak Kamsud pagi itu belum sempat sarapan di rumah, maka sebelum kerja, ia mampir dulu di Warteg Pak Karman langganannya. Belum juga sempat duduk, Pak Kamsud langsung ditembak pertanyaan sama pak Karman; “Nah, ini dia Pak Kamsud kebetulan sekali nih” kata pak Karman. “Ada apa emang koq pakai kebetulan segala?” tanya pak Kamsud keheranan. “Gini pak Kamsud, dari kemaren di Warteg ini banyak orang ngobrolin tentang baca Quran dengan langgam Jawa, menurut pak Kamsud sendiri gimana itu?” “Ya, kalo menurut saya pribadi sih itu namanya kurang kerjaan.” “Lha koq gitu pak?” tanya pak Karman.
“Sekarang fungsi daripada baca Quran itu sendiri apa coba, saya tanya pak Karman?” “Ya untuk didengar, dipahami, dihayati dan kemudian diamalkan.” “Nah betul itu. Sekarang kalo baca Quran tapi malah bikin konflik apa itu gak kurang kerjaan namanya?” “Gak gitu juga lah pak Kamsud, selama baca Quran itu telah memenuhi kaidah Tajwid dan tidak merubah maknanya, mau dibaca dengan nada Jawa atau nada Arab juga terserah aja kan? Lagian banyak juga lho, para Kyai yang mengatakan itu boleh.”
“Tanpa sedikit pun mengurangi rasa hormat saya kepada para Ulama, tapi penjelasan mereka itu harus kita pahami secara proporsional pak Karman; karena mereka mungkin mengungkapkan hukum dasarnya saja, bukan siasat fatwanya. Maka bisa jadi sesuatu itu diperbolehkan, tapi tetap jangan dikerjakan karena dapat mendatangkan mafsadat lain yang lebih besar dan belum tentu sepadan dengan prediksi maslahat yang akan didapat.”
“Maksud pak Kamsud gimana sih, saya koq makin gak paham?” “Maksud saya gini, pak Karman biasa shalat Jumat pakai baju koko, sarung dan peci. Sekarang coba nanti pak Karman shalat Jumat pakai kaos singlet, celananya setengah betis yang penting nutup aurat, kemudian pakai helm sebagai ganti peci. Itu sah gak menurut pak Karman? Dengan alasan; bahwa kaos singlet itu lebih adem kalo dipake, dan helm itu jauh lebih menjamin keselamatan kepala kita?”
“Ya nggak sah tho pak Kamsud, masa’ shalat pakai helm, kurang kerjaan saja.” “Shalatnya tetep sah pak Karman, karena shalat itu yang penting pakaiannya suci dan menutup aurat, ini kaedah dasarnya, hukum awalnya. Tapi memang, shalat dengan memakai helm itu sesuatu yang kurang kerjaan, demikian juga shalat dengan kaos singlet, meskipun ada yang membolehkan, tetap saja itu aneh dan kurang kerjaan. Jadi, meskipun boleh, tapi jangan dilakukan!”
“Koq bisa pak, sesuatu yang boleh tapi jangan dikerjakan?” “Jadi begini, pak Karman tahu karung goni kan? Itu lho, yang biasa dibuat balap karung anak-anak pas 17-an? Sekarang kalo umpamanya ada wanita yang memakai karung goni untuk menutup auratnya, mulai dari atas sampai bawah dia pakai karung goni, lalu dia jalan ke pasar, ikut majlis taklim dan nganter anak ke sekolah dengan kostum kaya gitu, boleh gak itu? Secara hukum dasar itu boleh-boleh saja, karena Islam hanya memerintahkan wanita menutup auratnya dengan batasan yang jelas, adapun mengenai jenis kain yang digunakan, itu kan gak ada keterangan detailnya. Jadi hal semacam ini, meskipun boleh, tapi aneh di sebuah masyarakat, makanya jangan dilakukan karena bisa menimbulkan fitnah.”
“Tapi kan, nada Jawa itu bukan sesuatu yang aneh bagi masyarakat kita Pak?” “Tidak aneh kalo untuk wayangan, tapi aneh kalo untuk baca Quran. Seperti memakai sarung itu tidak aneh kalo buat shalat di masjid, tapi coba pakai sarung saat ngantor atau ngajar di sekolahan, anak SD juga tahu kalo itu aneh dan mereka bakal ngetawain kita.” “Jadi intinya boleh tapi jangan dikerjakan? Kalo saya tetap melakukannya gimana pak?”
“Ya sudah gini saja pak, sekarang bapak punya Warteg yang banyak pelanggannya, biasanya saat pak Karman melayani pelanggan maka pak Karman akan membersihkan piring dengan sebuah kain lap. Sekarang coba bapak pergi ke toko dan beli celana dalam yang baru, paling bagus, paling mahal, merk-nya terkenal, steril dan belum pernah dipakai, kemudian pak Karman kalau ada pelanggan datang, nanti pak Karman nge- lap piringnya pakai celana dalam yg baru itu, gimana?”
“Ah, aneh-aneh saja pak Kamsud ini, koq idenya nggilani kaya gitu?!” “Lho, ini bukan nggilani pak, pada faktanya, mohon maaf ini, celana dalam yang baru dari toko itu jauh lebih bersih dari kain lap punya pak Karman yang sudah dipakai berkali-kali, keduanya sama-sama kain, yang membedakan hanya bentuk jahitannya saja. Jadi secara hukum dasar, sah-sah saja kalau pak Karman menggunakan CD buat nge-lap piring.”
“Kalo kaya gitu pelanggan saya nanti bakal kabur semuanya lah pak Kamsud.” “Nah, itulah yang ingin saya sampaikan pak Karman. Kita ini hidup di tengah masyarakat Indonesia, kita harus paham mana yang telah menjadi perspektif paten dalam sebuah masyarakat, sehingga hal tersebut perlu kita jaga dan tak perlu kita mengada-ada sebuah inovasi dengan alasan yang kita buat-buat namun ide tersebut justru membuat masyarakat ribut dan berpecah-belah. Sudah cukuplah kita ini diuji dengan banyak hal, apa tidak cukup kita diuji dengan harga-harga meroket namun mata uang justru menghujam dan menyelam?
Islam Nasionalis itu adalah Islam yang sadar dia tengah hidup di mana dan berhadapan dengan siapa, jangan terlalu anti banget lah dengan yang berbau-bau Arab, masa’ nanti kalo kita mati minta dikafanin dengan batik? Dan gak mau dikafanin dengan kain putih? Mungkin itu boleh, tapi sekali lagi, jangan dikerjakan!” “Pertanyaan terakhir pak, tadi pak Kamsud nyinggung tentang Siasat Fatwa, maksudnya apa itu pak?”
“Dalam konteks ini maksud saya adalah; menghindari kontroversi horisontal antara masyarakat yang dapat menjerumuskan ke dalam perpecahan. Sebisa mungkin kita hindari hal tersebut dengan mengambil pendapat yang dapat menyatukan umat. Dalam Al-Quran, hal ini dicontohkan oleh Nabi Harun, yaitu saat Samiri, seorang gembong munafik bani Israel membuat lembu sesembahan, Nabi Harun tidak lantas seketika menghukumnya, akan tetapi mengakhirkannya hingga adik beliau, yaitu Nabi Musa datang. Pada dasarnya menyekutukan Allah itu dosa besar, tapi dengan kecerdasan Siasat Fatwa agar bani Israel tidak terpecah-belah, Nabi Harun kala itu lebih mengedepankan persatuan umat daripada permasalahan akidah. Walaupun memang, akhirnya mereka mendapat hukuman juga. Jadi, tugas pemimpin itu adalah menjaga persatuan rakyatnya, bukan malah bikin mereka ribut dan saling hujat.”
“Okelah pak Kamsud, makasih buat sharingnya!” “Saya juga terimakasih buat pak Karman, yang bakalan kasih saya makan gratis pagi ini.. hehe.” “Haha.. cerdik juga pak Kamsud ini, boleh, boleh.. silahkan makan sepuasnya. Khusus buat hari ini pak Kamsud saya gratisin..” “Naaah.. gitu dong, itu baru bener-bener Muslim Nasionalis, membantu dan merangkul saudaranya yang tengah kelaparan.. haha..”
Sumber : arrahmah.com

Bacaan Al Qur'an Langgam Jawa Menurut Buya Yahya

@SAVE BACA AL QUR'AN DENGAN TARTIL,
Dengan ramainya masyarakat yang memperdebatkan Al Qur'an yg dibaca dgn langgam jawa pada saat acara Isra Miraj yg diadakan di istana negara, maka sebagai muslim yg baik kita pun harus ikut serta menjaga kemurnian Al Qur'an, karena Al Quran jika di baca tartil sangat nikmat sekali untuk di dengarkan bahkan terkadang membuat kita menangis jika meresapi benar dan sekaligus baca artinya, karena selain itu Al Qur'an adalah obat dari segala penyakit, penyakit hati, penyakit dzahir dan batin, sedih, dll.
Jika Al Qur'an dibaca dgn lagu tertentu bukan karena kesulitan pengucapan lisan sesuai daerahnya maka yang terjadi adalah kekacauan. Saya heran juga melihatnya disatu pihak teman saya dikantor rame-rame pada belajar tahsin (baca Al Qur'an dgn sanad Rasulullah) disatu pihak ada yg baca Al Qur'an dgn langgam jawa bisa dibilang 'nyeleneh' (malah rancu), karena saya senang jika mendengarkan Al Qur'an dibaca dgn tartil, sehingga saya rasa penting untuk memasukan bahasan ttg Bacaan Al Qur'an ini yg benar seperti apa, mohon maaf walaupun saya sendiri belum fasih sekali membaca Al Qur'an dgn makhrojul huruf yg benar, Di bawah ini saya sharekan ttg hal tersebut, "membaca Al Qur'an menurut Buya Yahya" semoga bermanfaat.
Persoalan pembacaan al-Qur'an langgam Jawa di Istana menjadi perdebatan dikalangan umat Islam; ada yang melarangnya tetapi ada yang membolehkannya. Berbagai tanggapan muncul, termasuk pula dari Buya Yahya, pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah Al-Bahjah Cirebon.
Dalam rekaman video berdurasi lebih dari 11 menit, Buya Yahya menganggap bacaan al-Qur'an langgam Jawa di Istana negara tidak memenuhi hak-hak huruf, meskipun sementara kalangan menganggap bacaan al-Qur'an yang dilantunkan oleh Muhammad Yasser Arafat itu telah memenuhi hak-hak huruf.
Buya Yahya juga menganggap bacaan al-Qur'an langgam Jawa di Istana tersebut telah mengikutkan Al-Qur'an kepada lagu atau langgam. "Lah kemaren yag dipermasalahkan oleh ulama-ulama shalih itu apa? KARENA AL-QUR'AN ITU DIIKUTKAN DENGAN LAGU yang sudah ada.", tuturnya.
Menurutnya, kalau ikutkan lagu maka panjang pendeknya akan hilang. Buya Yahya mencontohkan saat Qari' membaca huruf Lam. "coba kalau diperhatikan BANYAK YANG DOUBLE "ELLLLLLLL" Lam-nya panjang", tuturnya. Pandangan Buya Yahya terhadap bacaan Qari Muhammad Yasser Arafat itu berbeda dengan pihak yang lain, dimana justru menganggap bacaan al-Qur'an Qari' tersebut telah memenuhi hak-hak hurufnya.
Simak lengkapnya dalam TRANSKIP video rekaman Penjelasan Buya Yahya berikut ini :
****
Al-Qur'an itu Kalamullah, diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad yan dengan lisan Arabi. Lisannya adalah lisan Arabi, tidak boleh di-jerman-jermankan, jawa-jawakan, spanyol-spanyolkan, karena lisan adalah lisan Arabi.
Bagaimana makna lisan Arabi? sesuai dengan aturan didalam BAHASA ARAB yang selama ini dikenal dengan ILMU TAJWID dan ilmu QIRA'AH. Jadi tentang memberikan HAK-HAK HUFURNYA, makharijul hurufnya, tentang mudud madnya, tasydid dan semuanya itu ada aturan, itu semua lisan Arabi. Maka semua bacaan yang bertentangan dengan TAJWID dan lainnya adalah tidak diperkenankan.
MISALNYA, Al-Qur'an "Qul Huwallahu Ahad". Kalau kita baca (baca biasa) "Qul Huwallahu Ahad (pakai Mad), Allahush Shamad, Lam Yalid wa Lam Yulad, wa Lam Yakun Lahu Kufuwa Ahad". Lagu mana ini tadi ? lagu siapa? diarab juga tidak begini, dijerman juga tidak begitu, tetapi TERPENUHI HAK-HAKNYA itulah lisan Arabi.
Kalau Al-Qur'an DIIKUTKAN lagu, dan lagu itu ada panjangnya sendiri. Apakah dandang kulo, ini kan sudah punya lagu, lah kok al-Qur'a disesuaikan (dengan lagu), inilah yang rusak, mesti salah. Anggap saja ibu punya lagu Garuda Pancasila, sekarang Qul Huwallahu Ahad dengan nada Garuda Pancasila, ya rusak, haram hukumnya. Ini yang jadi masalah. Lah kok al-Qur'an disenandungkan dengan tatanan lagu yang sudah ada, makanya (jadinya) al-Qur'an ngikut lagu.
Kalau orang baca al-Qur'an dengan cara Jepang, karena memang lidahnya memang begitu, (atau) cara jawa, misalnya "Bismillahir Rahmanir Rahiim"(menirukan bacaan al-Qur'an orang tua), ASALKAN benar hurufnya terpenuhi, TIDAK APA-APA. Cuma itu (langgam Jawa di Istana) di ikutka lagu, itu yang jadi masalah, yang kemaren itu (di Istana).
Apalagi dengan NIAT, dengan niat-niat, (tetapi) niat urusan Allah, kita tidak boleh berprasangka buruk kepada siapapun. (Adapun) kalau niatnya untuk merendahkan, untuk bahan guyonan, itu dosa, haram. Adzan di Solo dan Blitar itu beda dengan adzan di Makkah ternyata ya, sebab orangnya setegah ngantuk, misalnya "Allahu Akbar Allahu Akbar" (buya menirukan adzannya orang ngantuk), SAH, nggak apa-apa adzannya. Cuma kalau sudah dimain-mainkan dalam bentuk lagu itu sudah jadi masalah. Lah kemaren yag dipermasalahkan oleh ulama-ulama shalih itu apa?
KARENA AL-QUR'AN ITU DIIKUTKAN DENGAN LAGU yang sudah ada. Jadi dalam jawa itu ada nada-nada tertentu, kayak dandang kulo, mocopat dan segalanya, jadi ikut langgam-langgam tertentu. Lah langgam kan sudah ada, bagaimana AL-QUR'AN diikutkan langgam?!
Sudahlah!! misalnya membaca surah Al-Fatihah dengan lagu Indonesia Raya, ya nggak bisa. nggak berani saya contohkan Al-Qur'an (dengan lagu Indonesia Raya), ya nggak bisa, haram. Mesti PANJANG PENDEKNYA (hak huruf) akan hilang. Kalau begitu salah. Cuma kalau baca dengan mendatangkan Tajwid-Tajwidnya karena lisan China ya mesti ada dengung-dengungnya gaya China, orang Jawa ya ada dengung-dengungnya Jawa, orang India juga begitu, tapi mendatangkan TAJWID, jadi yang di utamakan TAJWID, pembacaan al-Qur'an yang benar.
Jadi seandainya orang Jawa membaca al-Qur'an kok ada nada Jawanya karena memang lisannya lisan Jawa, asalaka DIPENUHI TAJWID nya ya tidak ada masalah itu. Cuma KALAU IKUT LAGU yang sudah ada, itu jadi masalah. Nanti yang dari sana, lagunya manuk Dadali, kan kacau. Nggak bisa itu, haram.
Jadi cara menyalahkan itu harus dibedakan. Dengan nada yang sudah ada atau lisan model Jawa, maksudnya, orang Jawa. Kalau difasih-fashihkan ikut Abdul Basith Abdush Shamad (Qari) ya nggak ketemu, bisa sampai cekukan nanti, nggak bisa, karena lisannya lisan begitu. Jadi kayak tadi "Bismillahir Rahmanir Rahiim, Qul Huwallahu Ahad, Allahush Shamad.." (buya baca biasa tapi dengan mad dan contohkan bacaan pelan tapi juga dengan mad), lah ini ada lengkuk-lengkuk Jawanya, asal HURUF-HURUFnya terpenuhi, satu, huruf-hurufnya terpenuhi.
Yang kedua, tidak mengikuti modelnya orang fasik. Lah kalau mengikuti gayanya orang fasik, itu jadi nggak boleh, karena itu mengangkat syi'arnya orang fasik, tetapi kalau memang kebiasaan dikampung tersebut, sebab sebetulnya kalau di Jawa itu banyak orang baca al-Qur'an, baca Asmaul Husna sendiri, terkadang "Allahur Rahmanur Rahiim, Al Malikul Quddus ..." (buya contohkan bacaan seperti kakek-kakek), lah orang Jawa, mbah saya juga begitu, cuma memang lidahnya Jawa, bukan main-main.
Lah ini orang qira'atnya bagus, dipanggung aneh-aneh, ini jadi masalah. Kalau ini lisan Jawa, asli begitu, di uplek-uplek, kadang-kadang huruf Arab itu nggak bisa, orang Jawa itu ngomong HA susah, Al-Kam jadinya (aslinya Al-Hamd), orang Sunda hilang Fa'-nya. Biar pun perlu berlatih tapi kalau bisanya begitu ya nggak masalah. Cuma kalau sudah bisa, kenapa balik ?! ke lidah Sunda yang nggak ada Fa'-nya, atau lidah Jawa yag nggak ada HA-nya. Apalagi di Indonesia ini antara Sin, Syin, Shad, itu nggak ada beda. Kalau Arab kan ada bedanya, nggk bisa, makanya MAKHARIJUL HURUF.
Jadi qaidah baca al-Qur'an itu adalah:
Pertama, dipenuhi HAK-HAK huruf.
Kedua, dipenuhi hak-hak HUKUM bacaan TAJWID. Tentunya yang kedua sesuai dengan qira'ah-qira'ah mu'tabarah.
Ketiga, Adapun masalah lagu itu, ASALKAN tidak mengikuti orang fasik.
Jadi tiga ini terpenuhi, asalkan tidak mengikut lagunya orang fasik maka sesuai dengan model tenggerokannya apa, tenggorokan Jawa, China, Jepang. Sehingga ada satu Imam dengan Lahn-Lahn (langgam) India, ada, di India itu ada Lahn (langgam) khusus dan ternyata tidak ada masalah. Itu memang ada model gaya India. Sebab, semua akan terpengaruh dengan budaya lingkungannya. Tapi bukan lagu yang sudah ada kemudian AL-QUR'AN DIIKUTKAN lagu, itu hukumnya adalah Haram. Kenapa? mesti nanti mau dipanjangin, karena lagunya belum beres (selesai), Pancasilaaaa (misalnya), Qur'annya jadi panjang lagi nanti. Jadi tidak boleh, AL-QUR'AN jangan DIIKUTKAN dengan lagu.
Tetapi bacalah Al-Qur'an dengan Lisan Arabi, itu maknanya PENUHI HAK-HAK HURUFNYA. Asalkan TAJWIDnya benar. Ingat ! Hak huruf, hak bacaan Tajwid, tidak bertentangan dengan qira'ah yang mu'tabarah, qira'ah Sab'ah, kemudia setelah itu apa? kalau ada lagunya pun, bukan merupaka Syi'ar-nya orang Fasik, bukan syiarnya orang Fasik. Lagu kebiasan di kampung, Jawa dan sebagainya itu tidak masalah, tapi kalau sudah DIIKUTKAN dengan lagu, kemudian... coba kalau diperhatikan (bacaan al-Qur'an langgam Jawa di Istana) BANYAK YANG DOUBLE "ELLLLLLLL" Lam-nya panjang, harus ikut gong-nya nanti ini. Ini nggak ketemu, ini betul-betul beda. Dan kita temukan orang-orang kampung, orang Jawa yang membaca Al-Qur'an tapi tidak main-main, karena memang lidahnya lidah Jawa, tapi tidak ada Makharijul Huruf-nya yang berselisih, Tajwdinya dipenuhi, itu saja. Itu saja Qaidahnya.
Sebab, tidak tugas kita menghukumi si A atau si B. Tapi bagaimana kita membuat qaidah. Ingat !! Makharijul Hurufnya sesuai, bagi yang mampu tentunya. Bagi yang tidak mampu ya semampunya saja. Bagi yang mampu, mengeluarkan Makharij-nya sesuai dengan semestinya kok tidak maka jadi salah, Yang ngerti tajwid tpi nggak pake tajwid, juga jadi salah.
Kemudian, membaca selain Qira'ah Sab'ah. Ada sebagian mengatakan Sepuluh, masih ada mungkin, tapi yang Sab'ah ini sudah jelas-jelas. Tidak boleh keluar dari Qira'ah Sab'ah. Qira'ah Sab'ah itu adalah selama ini di, yang mu'tabar dalam dunia qira'ah. Kemudian, setelah itu apa, lagunya pun bukan lagunya orang-orang Fasik. Maka ini menjadi BOLEH seseorang menyenandungkan atau membaca al-Qur'an, termasuk lidahnya masing-masing. Dan sangat bedaa! dan coba kita mendengar, coba buka China, bagaimana orang CHina baca al-Qur'an?!! kecuali saat mereka belajar tentang gurunya dari Arab sehingga bisa baca seperti Abdul Basith Abdush Shamad (Qari' Mesir), dulu di Indonesia ada Muammar ZA misalnya. Itu kan mengikuti lidah Arab, ya semestinya seperti itu.
Cuma kalau ini tidak dijelaskan begitu, nanti ada orang kota ngamuk kepada bapak-bapak karena baca al-Qur'an "Bismillahir ... " (buya contohkan baca al-Qur'an seperti suara kakek-kakek), wah salah itu nggak boleh, lidah jawa itu, nanti tambah berantem kita, umat ini. Sebab dikampung memang orang tidak pernah belajar tahsin Qira'ah, nggak pernah belajar lagu-lagu, orang kampung ya seperti itu. Jangan sampai nanti kita ingin membela tetapi telah menghancurkan umat. Cuman yang kemaren jelas KARENA DIIKUTKAN LAGU, harus jelas, yakin itu. Tapi Qaidahya begitu: asalkan Tajwidnya dipenuhi, Makharijnya juga, ikut Qira'ah Sab'ah, kemudian setelah itu apa? lagunya bukan yang biasa disenandungkan oleh orang Fasik, maka itu boleh saja. Selesai.
Sumber: muslimmedianews.com

Senin, 18 Mei 2015

Tanda Orang Berakal Versi Buya Hamka

SATU bukti Islam sebagai agama yang menghargai akal dapat dibuktikan dari banyaknya ayat-ayat Al-Qur’an, baik yang tersurat maupun tersirat memerintahkan umatnya untuk berpikir dengan memperhatikan apa saja yang ada di dunia ini, bahkan di dalam diri manusia itu sendiri.
Sebagaimana firman-Nya:
وَفِي أَنفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ “Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?.” (QS Adz-Dzariyat [51]: 21).
Dengan demikian, sungguh beruntung umat Islam, karena kitab sucinya justru mendorongnya untuk mempergunakan akalnya secara maksimal guna mengetahui hingga haqqul yaqin kebenaran ajaran Islam. Oleh karena itu seorang Muslim itu idealnya adalah orang yang benar-benar memanfaatkan akalnya.
Menurut Buya Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) dalam bukunya Falsafah Hidup orang berakal itu memiliki tanda-tanda nyata dalam sikap dan perilakunya sehari-hari.
Pertama, orang berakal itu luas pandangannya kepada sesuatu yang menyakiti atau yang menyenangkan. Pandai memilih perkara yang memberi manfaat dan menjauhi yang akan menyakiti. Dia memilih mana yang lebih kekal walaupun sulit jalannya daripada yang mudah didapat padahal rapuh. Jadi, akhirat lebih utama bagi mereka dibanding dunia.
Kedua, orang berakal selalu menaksir harga dirinya, yakni dengan cara menilik hari-hari yang telah dilalui, adakah dipergunakan kepada perbuatan-perbuatan yang berguna, dan hari yang masih tinggal ke manakah akan dimanfaatkan. Jadi, tidak ada waktu yang digunakan untuk hal-hal yang tidak berfaedah, apalagi sampai menguliti kesalahan atau aib orang lain.
Ketiga, orang berakal senantiasa berbantah dengan dirinya. Sebelum melakukan suatu tindakan, ada timbangan yang digunakan, apakah yang dilakukannya baik atau jahat dan berbahaya. Kalau baik, maka diteruskan, jika berbahaya segera dihentikan.
Keempat, orang berakal selalu mengingat kekurangannya. Bahkan, kata Buya Hamka, “Kalau perlu dituliskannya di dalam suatu buku peringatan sehari-hari. Baik kekurangan pada agama, atau pada akhlak dan kesopanan. Peringatan diulang-ulangnya dan buku itu kerapkali dilihatnya untuk direnungi dan diikhtiarkan mengasur-angsur mengubah segala kekurangan itu.”
Kelima, orang berakal tidak berdukacita lantaran ada cita-citanya di dunia yang tidak sampai atau nikmat yang meninggalkannya. Buya Hamka menulis, “Diterimanya apa yang terjadi atas dirinya dengan tidak merasa kecewa dan tidak putus-putusnya berusaha. Jika rugi tidaklah cemas, dan jika berlaba tidaklah bangga. Karena cemas merendahkan hikmah dan bangga mengihilangkan timbangan.”
Keenam, orang berakal enggan menjauhi orang yang berakal pula. Artinya, temannya adalah orang yang berhati-hati dalam hidupnya, sehingga terjaga komitmennya dalam memegang risalah kebenaran.
Ketujuh, orang yang berakal tidak memandang remeh suatu kesalahan. “Walaupun bagaimana kecilnya di mata orang lain. Dia tidak mau memandang kecil suatu kesalahan. Karena bila kita memandang kecil suatu kesalahan, yang kedua, ketiga, dan seterusnya, kita tidak merasa bahwa kesalahan itu besar, atau tak dapat membedakan lagi mana yang kecil dan mana yang besar.”
Kedelapan, orang yang berakal tidak bersedih hati. Buya Hamka menulis, “Orang yang berakal tidak berduka hati. Karena kedukaan itu tiada ada faedahnya. Banyak duka mengaburkan akal. Tidak dia bersedih, karena kesedihan tidaklah memperbaiki perkara yang telah terlanjur. Dan, banyak sedih mengurangi akal.”
Kesembilan, orang berakal hidup bukan untuk dirinya semata, tetapi untuk manusia dan seluruh kehidupan. Buya Hamka menulis, “Orang berakal hidup untuk masyarakatnya, bukat buat dirinya sendiri.”
Demikianlah sembilan tanda orang berakal menurut Buya Hamka. Dan, lebih lanjut, beliau menambahkan bahwa orang berakal itu hanya memiliki kerinduan kuat pada tiga perkara. Pertama, menyediakan bekal untuk hari kemudian. Kedua, mencari kelezatan buat jiwa. Dan, ketiga, menyelidiki arti hidup.
Masya Allah, uraian Buya Hamka ini sangat berfaedah buat kita semua untuk mengukur diri, apakah selama ini telah memanfaatkan akal sebaik-baiknya, atau justru sebaliknya. Tetapi, apapun yang telah berlalu, sekarang adalah saatnya kita meningkatkan iman dan taqwa dengan memaksimalkan fungsi dan peran akal sesuai dengan tuntunan ajaran Islam. Wallahu a’lam.* (Imam Nawawi /Cholis Akbar) Sumber : Hidayatullah.com

Senin, 27 April 2015

Astronot Rusia Takjub dgn Mekah d Waktu Malam

Kosmonot Rusia, Anton Shkaplerov mengaku takjub melihat penampakan kota suci umat Islam, Makkah dan Madinah di mana lokasi Masjidil Haram berada. Foto itu diambilnya dari luar angkasa. Hasil jepretan kamera Anton Shkaplerov menghasilkan foto dengan pemandangan yang menakjubkan. Anton adalah kosmonot Rusia yang tengah berada di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).
Tak ayal, foto jepretan Shkaplerov pada 29 Januari lalu itu ramai diperbincangkan di jejaring sosial twitter. "Amazing night view of #Mecca and #Medina from the #ISS," tulis Anton Shkaplerov di akun miliknya, @AntonAstrey. Sejak diunggah pada Januari lalu hingga hari ini, foto Shkaplerov difavoritkan sekitar 4600 pengguna Twitter dan diretweet sebanyak 9100 kali.
Sumber: http://www.atjehcyber.net/2015/04/data:blog.url#ixzz3YUUiFjV1 Follow: @atjehcyber | fb.com/atjehcyberID
Shkaplerov diketahui bekerja untuk Stasiun Ruang Angkasa Internasional (ISS) di Rusia. Tak hanya kota Makkah dan Madinah, dia juga memotret setiap sisi bagian bumi melalui satelit.
Pada 26 Januari lalu, ia mengunggah foto hasil jepretannya di Twitter. Ketika itu, ISS tengah berada di atas Arab Saudi. Hasil fotonya sungguh mengagumkan. Di kala malam yang gelap, justru kota Mekah dan Madinah memancarkan cahaya putih.
Sebagaimana diketahui, bagi kaum muslimin, Mekah dan Madinah merupakan dua kota yang diberkahi Allah SWT. Di Mekah terdapat Baitullah, yaitu Ka'bah, yang menjadi kiblat salat kaum muslimin.
Sumber: http://www.atjehcyber.net/2015/04/data:blog.url#ixzz3YUUtU8Nd Follow: @atjehcyber | fb.com/atjehcyberID Begitulah Allah memperlihatkan kebesaran-Nya pada semua manusia di jaman sekarang ini, bersyukurlah orang-orang yang mendapatkan Hidayah-Nya setelah tahu akan hal ini.. ya Allah berikanlah mereka hidayah dan petunjuk-Mu, berilah kemudahan mereka semua dari kegelapan menuju Cahaya,, aammiiiinn.. Itu adalah pemandangan dari langit dimalam hari,, namuna pernah pula saya membaca dari sebuah buku bahwa siapa yang membaca Al qur'an maka "penduduk langit" melihatnya bagai sebuah bintang disaat yang lain adalah kegelapan,, artinya dimana ada kalam Illahi dibacakan ditempat itu akan bersinar, sesuai dari hadist nabi bahwa siapa yang ingin ke taman syurga,, datanglah ke maka datanglah ketempat-tempat dzikir karena disana di penuhi oleh malaikat,, Demikian semoga ini semua akan menambah keimanan kita, amiin ya rabbul alamiinn. Wallahu 'alam bi showab,,

Kamis, 24 April 2014

Menjadi Pribadi Yang pandai Bersyukur

Ada sebuah cerita tentang seorang anak dari keluarga pas-pasan yang ingin mempunyai HP. Merasa tak puas dengan jenis handphone yang dibelikan orangtuanya, ABG (anak baru gede) itu membanting HPnya dihadapan orangtuanya. Tak ayal lagi, perbuatannya itu melukai hati kedua orangtuanya. Sang ABG itu sebetulnya ingin sekali memiliki smarthphone jenis Blackberry yang kini tengah menjadi trend. Sebagai pekerja serabutan, tak mudah bagi ayahnya mengumpulkan uang untuk membeli HP blackberry. Namun karena sayangnya kepada anak, sang ayahpun rela peras keringat demi membahagiakan sang buah hati. Singkat cerita, karena memang tak memiliki banyak uang untuk membeli HP Blackberry, maka sang ayah berinisiatif membelikan HP seharga uang disakunya. Air susu yang hendak disuguhkan kepada sang anak, justru dibalas dengan air tuba. Anak tersebut marah kepada orangtuanya karena apa yang dibelikan tidak sesuai yang diinginkannya. Sang anak justru mngungkapkan bahwa ia akan merasa malu bila membawa HP tersebut ke sekolahnya, karena kalah level dengan apa yang dimiliki teman-temannya. Peristiwa tesebut diatas di sampaikan seorang dai kondang dalam pengajian di salah satu TV swasta. Dan lagi bila kita cermati cerita sinetron yang ditayangkan di TV kita, maka akan didapati gaya hidup model ABG yang tidak puas dgn apa yang dimiliki, dan terus berusaha untuk mendapatkan apa yang berada di luar jangkauannya. Tidak Pernah Puas Apa penyebabnya ?? salah satunya karena ia selalu memandang orang-orang yang berada diatasnya dalam hal finansial. Akibatnya lahir kecemburuan disana. Gaya hidup semacam ini tentu tidak dibenarkan. Ini akan berakibat fatal yang akan menghantarkan seseorang pada kufur nikmat, karena merasa selalu dalam kekurangan, meski realitanya ia telah hidup berkecukupan. Islam adalah agama yang menjaga keseimbangan. termasuk masalah keduaniaan. tidak termasuk kategori haram, apabila kita mencari kekayaan dunia. Bahkan salahs atu hadist Rasul Saw ; bahwa kefakiran bisa menjadi penyebab kekufuran seseorang. Namun permasalahannya bila dalam kesibukan mencari nafkah tersebut menjadikan kita lupa daratan, maka akan jadi celaka. Sebab sifat dasar manusia dlm mencari harta itu bagai meminum air laut, tidk pernah merasa puas, selalu merasa kekurangan. Sebagaimana sabda rasul Saw ; "Seandainya manusia memiliki lembah berisi harta, tentu ia masih menginginkan harta yang banyak semisal itu pula. Mata manusia barulah penuh jika diisai dengan tanah. Allah tentu akan menerima taubat bagi siapa saja yang ingin bertaubat" ( HR. Bukhari ) Disinilah kita perlu kontrol diri, sehingga tidak lupa diri. tidak menjadi budak harta, tapi menjadi tuannya. tidak pula menjadi orang yang dikendalikan, tetapi malah mengndalikan. "Jika salah seorang diantara kalian memiliki

Kamis, 17 April 2014

Orang Penting Di Mata Allah

Menjadi orang penting bagi orang lain pasti menyenangkan karena merasa diperlukan, tapi ada yang lebih penting lagi dari itu semua yaitu "menjadi orang penting di mata Allah Swt." Siapakah orang-orang itu..? yup mereka adalah agen-agen muslim, yang memikirkan, membantu, memperbaiki agama Allah.. lebih lengkapnya, yuuk kita baca ulasan berikut ini :
Orang Penting dimata Allah
Oleh: Ustadz Bachtiar Natsir
Essensi sebuah nikmat sejatinya bukan pada banyaknya jumlah. Seseorang itu penting atau tidak penting bukan diukur dari banyaknya gaji dan tingginya jabatan. Rosululllah Saw bersabda “Urusan paling penting adalah mengurusi Islam”.
Beberapa santri mengabdikan diri di lereng gunung merapi, berbekal tungku, satu penggorengan, satu panci dan satu ceret sebagai aset untuk hidup dan berjuang di jalan Allah untuk mengurusi Islam. Di sana, mengajari mereka ngaji, shalat, mengajak kepada ketaatan kepada Allah, padahal gaji tak seberapa hanya sekadarnya saja.
Apa yang dijadikan bahasan dari mereka bagi orang-orang penting di Jakarta? Orang-orang yang merasa menjadi orang penting itu pasti heran, cara pandang yang bermasalah.
Rosulullah Saw bersabda orang penting adalah orang yang mengurusi Islam, kemudian menegakkan shalat dan yang paling tinggi adalah Jihad fie sabilillah. Berapa pun gaji kita, setinggi apapun jabatan kita, jika kita tidak memikirkan Islam, tidak mengurusi Islam, kita bukan orang penting, kita bukan siapa-siapa.
Ingatlah, di kubur nanti bukan mulut kita yang menjawab tapi amal kita yang menjawab, tiga pertanyaan yang akan diajukan, siapa Rabbmu, siapa Nabimu, dan apa kitabmu. Kenapa tiga pertanyaan itu yang diajukan? Inilah esensi dari hadist Rosulullah Saw, ketika amal tidak untuk meneggakkan Agama Allah, maka amal itu menjadi tidak penting.
Amal kita akan ditanya apakah sudah sejalan dengan Rubuyahnya Allah dan Uluhiyahnya Allah maksudnya, apakah sudah sesuai dengan apa yang di contohnya Rosulullah Saw. Bagi para santri yang hebat, mereka yang sudi memberikan ilmu terbaiknya untuk mengenalkan kepada umat menuju jalan Tuhannya agar taat kepada Allah, mereka itulah yang di maksud dengan Orang Besar, Orang yang Penting di mata Allah.
Sumber : islampos.blog

Selasa, 15 April 2014

Pengalaman Menarik Ber-Hijab Seorang Non Muslim

Seorang wanita Non Muslim, Anisa Rawhani membuktikan ternyata banyak orang meresponnya lebih bagus ketika ia mengenakan jilbab dibanding ia tidak mengenakan jilbab.
” ‘ Orang-orang menjadi lebih sopan , banyak orang tua menjabat tangan saya ‘ , ujar mahasiswi perguruan tinggi Kanada yang mengenakan jilbab selama 18 hari untuk mengungkapkan bagaimana tingkat rasis komunitasnya, ” lapor Daily Mail , 12 April. Seorang mahasiswi Kanada tersebut baru-baru ini melakukan eksperimen sosial untuk melihat apakah orang-orang memperlakukannya berbeda jika ia mengenakan jilbab .
Anisa Rawhani , seorang mahasiswi tahun ketiga di Queens University di Ontario , mengenakan pakaian Muslimah selama 18 hari pada bulan Januari saat ia bekerja di perpustakaan universitas , mengunjungi toko-toko dan restoran di dekat kampus dan saat ia melakukan pekerjaan sukarela dengan anak-anak setempat .
Menurut Rawhani – yang melakukan percobaan untuk melihat apakah orang-orang di komunitasnya bersikap rasis terhadap kelompok minoritas -ternyata ia melihat bahwa banyak orang memperlakukan dia lebih ramah dan dengan lebih hormat daripada ketika dia tidak memakai jilbab . Rawhani , walaupun ia bukan Muslim , menulis tentang pengalamannya memakai busana muslimah dalam edisi Maret Journal queen , di mana ia bekerja sebagai editor . ” Pada awalnya saya pikir saya hanya membayangkan hal-hal menakutkan akan terjadi , “ujar Rawhani .
Dalam beberapa kasus , katanya , dia pergi keluar dengan teman-teman yang tidak memakai jilbab dan dia ternyata diperlakukan jauh lebih baik daripada teman temannya yang tidak mengenakan jilbab. “Ada kelebihan ini ( sambil menunjuk jilbabnya ) , saya mengalami sesuatu yang saya tidak bisa menjelaskan , ” katanya . ” Seperti benar-benar menjadi begitu sangat sopan , saya tidak pernah mengalami sebelumnya. Itu sesuatu yang kontras yang sedang terjadi. ‘ Rawhani mendiskusikan temuannya dengan seorang profesor psikologi di universitasnya- dia sebut sebagai fenomena menarik.
Rawhani , Non Muslim keturunan Iran , terinspirasi oleh percobaan serupa yang pernah dilakukan di Amerika Serikat , di mana seorang wanita diminta untuk mengenakan jilbab selama satu hari dan melihat bagaimana orang-orang memperlakukan mereka . ‘ Keinginan percobaan datang dari keinginan untuk memahami lebih baik karena ada begitu banyak ketegangan di sekitar pengenaan jilbab itu , “katanya . ” Ada begitu banyak kesalahpahaman dimana banyak orang-orang berpikir bahwa muslimah tertindas dan ada juga isu-isu rasisme yang terjadi, ” lanjutnya . (Jwel/KH)
Subhanallah.. Allah telah memperlihatkan kepadanya, bagaimana indahnya konsep Hijab bagi para muslimah, yang sebenarnya adalah untuk melindunginya dari gangguan orang-orang jahil dan agar sebagai tanda bahwa dia seorang muslimah, semoga dgn begini semakin terbuka dunia bahwa Hijab tak bisa dilepaskan bagi wanita muslimah yang mengingikan keridhoan Allah Swt., aamiinn..

Senin, 07 April 2014

Seorang Mukmin Dalam Ujian Kepayahan Hidup

Sabarlah atas kepayahan hidup , karena Allah SWT sengaja menjadikan demikian (kepayahan itu) sehingga manusia rindu akan surga yang tidak ada kesedihan dan rasa sakit serta tidak ada penderitaan. Meskipun hidup ini penuh dengan cobaan dan bala (penderitaan), tapi kita lihat banyak manusia yang tergila gila dengan dunia ini seolah olah mereka akan kekal selama lamanya. Jika Allah menghendaki hidup ini enak dan mudah, tentunya sudah pasti Allah akan memberikannya kepada para Nabi dan para Rasul serta kaum mukminin. Akan tetapi, kaum mukminin justru yang paling banyak cobaannya daripada kaum lainnya, sehingga ada suatu hadits yang menyatakan :
“Dari Muadz bin Said dari bapaknya, ia berkata, Aku bertanya,” Wahai rasulullah, siapa yang paling berat cobaannya?” Rasulullah SAW menjawab ,” Para Nabi, kemudian orang orang yang lebih rendah derajatnya darinya, dan seterusnya. Seseorang dicoba tergantung kadar keimanannya. Jika agamanya kuat, maka cobaannya pun semakin berat. Jika ia masih punya agama walau sedikit, maka masih akan dicoba sesuai kadar agamanya itu. Cobaan itu akan terus menerus menimpa hamba Allah sehingga ia berjalan di muka bumi ini tanpa kesalahan sedikitpun.” (HR Attirmidzi, disahihkan oleh Syeikh Al Albani)
Dari Abu Hurairah Ra, ia berkata,” Rasulullah SAW bersabda : “Perumpamaan seorang mukmin seperti tanaman, dimana angin terus menerus menerpanya, dan seorang mukmin akan terus menerus ditimpa musibah, dan perumpamaan orang munafik seperti tanaman padi, ia tidak pernah runtuh sampai ia dipanen.” (HR Muslim)
Diantara karunia Allah yang sangat besar bagi setiap hambaNya yang mukmin adalah Dia menjadikan semua musibah yang menimpanya sebagai kaffarat (pengampunan) bagi dosa dosanya dan sebagai pencuci dari setiap kesalahan dan dosa.
Dari Abi Said dan Abu Hurairah Ra, bahwa mereka mendengar rasulullah SAW bersabda,” Tidaklah seorang mukmin ditimpa oleh kepayahan dan sakit, penderitaan dan kesedihan atau kegalauan yang mendera kecuali Allah menghapus kesalahannya dengan semua itu. (HR bukhari)
So…Mari kita TEGAR dalam menhghadapi kepayahan hidup dan yakinlah Allah akan berikan balasan surga atas kesabaran kita menjalani cobaan kehidupan ini…
Sumber: KH/eramuslim
Karena itu sobat.. bersabarlah karena setiap muslim pasti duji sesuai kemampuannya

Pahlawan Dalam Diam..

Sebuah cerita dalam perjuangan dakwah:
Waktu tengah beranjak di sepertiga malam. Hujan rintik jatuh ke bumi diiringi suara katak bersahutan. Dingin. Angin berembus menjelajah sela dedaunan. Saat itu, ketika kebanyakan manusia terlelap dibalik kehangatan selimut, dua orang manusia terlihat sibuk menyusuri sepanjang jalan, menapaki gang demi gang. Menerobos hujan. Hanya bermodalkan sepeda motor butut.
Senyap keduanya bergerak penuh kehati-hatian. Gerakan-gerakan cepatnya menandakan keberadaan mereka tak ingin diketahui orang lain. Namun sangat disayangkan, sepasang mata Ustadz Narlis ternyata berhasil mengawasi gerak-gerik mereka. Sang Ustadz pun perlahan mendekat.
“Siapa itu?” tanya Ustadz Narlis. Kedua orang itu terperanjat kaget.
“Afwan (maaf-red), ini ana, Ustadz. Satu lagi putra ana,” sosok yang lebih besar menjawab tergagap.
Ustadz Narlis tak kalah terkejut. Temaram lampu dan rintik hujan ternyata mengaburkan pandangan beliau dari sosok yang sejatinya telah ia kenali.
“Subhanallah…antum sedang apa hujan-hujanan seperti ini?,” tanya Ustadz.
“Ana…afwan, Ustadz. Ana sedang memasang stiker milik caleg-caleg PKS. Ana ingin turut membantu kemenangan dakwah ini, Ustadz,” tuturnya.
“Lho bukannya antum caleg juga?”
“Betul sekali, Ustadz. Ana caleg. Tapi demi Allah, ana tak memiliki dana untuk membuat stiker, baliho dan atribut lainnya. Untuk biaya hidup saja kesulitan…,” sesaat lelaki ini menghela nafas dalam. “Ana mohon izin, Ustadz. Biarlah ana menjadi tim sukses bagi saudara-saudara ana yang lainnya. Ana ikhlas demi dakwah ini, Ustadz,” tulus lelaki ini berujar.
Hujan, dingin, angin. Ketiganya belum jua berhenti. Kalimat demi kalimat sang lelaki menghunjam kesadaran Ustadz Narlis. Membawa beliau menelusuri kiprah dalam pengabdiannya kepada dakwah ini. Namun Ustadz Narlis sadar, nun jauh di lubuk hati beliau mengakui, lelaki di hadapannya adalah orang yang penuh ikhlas dan berjuang karena Allah Swt semata.
“Demi Allah, mulai malam ini, antum adalah murabbi(guru-red) ana,” Ustadz Narlis tak kuasa menahan tangis. Beliau memeluk erat lelaki di hadapannnya. “Antum telah mengajarkan ana tentang keikhlasan yang luar biasa,” sang Ustadz melanjutkan. Keduanya berpelukan dalam jalin persaudaraan. Erat. Hangat. Saling menumpahkan air mata.
Ustadz Narlis begitu terenyuh. Yang ia kenal, lelaki di hadapannya begitu bersahaja. Tak pernah mengeluhkan kesulitan hidup kepada ikhwah lainnya. Hingga saat ia diamanahkan untuk menjadi calon anggota dewan pun, tak tampak raut gusar di wajahnya. Namun apa yang dilakukannya malam itu begitu luar biasa. Ia membantu memasang stiker dan atribut milik caleg-caleg dari PKS lainnya. Ia mampu menepis segala keserakahan akan jabatan dan lebih menguatamakan kemenangan perjuangan dakwah yang diretas Partai Keadilan Sejahtera.
“Ana mohon, jangan sebutkan nama ana kepada siapapun, ustadz. Biarlah hanya Ustadz dan Allah Swt yang tahu apa yang kami lakukan untuk dakwah ini,” sang lelaki berpesan.
“Ana berjanji tidak menyebut nama antum. Namun ana akan mengisahkan pertemuan kita ini sebagai pembelajaran bagi ana dan seluruh ikhwah kita,” demikian Ustadz Narlis menjawab.
Sejenak kemudian sang lelaki dan anaknya pergi. Meneruskan apa yang mereka kerjakan. Perlahan, sosok keduanya menghilang dalam gelap malam. Suara sepeda motornya lapat. Menghilang. Jauh. Dalam. Membawa segenap cita-cita kemenangan dakwah.
Dan Sang Ustadz tak henti meneteskan air mata. Untuk sebuah pelajaran berharga. Tentang keikhlasan, perjuangan, dan pengejawantahan nilai-nilai tarbiyah yang tak terkirakan di hadapannya. Tentang seorang caleg yang ikhlas membantu caleg lainnya dalam kesenyapan. Tentang sosok pejuang. Tentang sosok pahlawan yang bekerja dalam diam.
Pun tentang sebuah janji, untuk sebuah nama. Yang harus dijaga dalam hati. Hingga nanti di penghujung waktu. Hingga nanti, saat bersua di Jannah-Nya. Semoga.
Oleh: Eko Cecep Wahyudi
On Twitter @ewahyudie

Selasa, 01 April 2014

10 Jalan Pengampun Dosa

Setiap manusia pasti melakukan kesalahan. Karena itu, yang perlu dibangun dalam diri setiap muslim, bukan hanya sikap hati-hati menjauhi dosa saja, tapi juga menumbuhkan sikap yang benar tentang apa dan bagaimana yang harus dilakukan ketika dosa itu terlanjur diperbuat. Setidaknya ada 10 jalan dalam Islam, yang bisa mengurangi azab atas dosa yang dilakukan:
1. Taubat
Al-Quran banyak menyebutkan bahwa taubat berfungsi sebagai pengecualian dari ancaman azab yang akan diberikan kepada pelakunya. Seperti disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 160, “Kecuali mereka yang telah bertobat…” juga dalam surat Maryam : 160, Thoha : 82. Taubat yang dimaksud di sini tentu taubat nasuha, yakni taubat yang dilakukan dengan ikhlash dan benar. Taubat yang menjadi penyesalan sekaligus menjadi titik akhir seseorang untuk tidak mengulangi dosa di masa selanjutnya.
2. Istighfar
Allah berjanji akan mengampuni kesalahan-kealahan hambanya selama ia melakukan istighfar dengan sungguh-sungguh. “Dan tidaklah Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun (istighfar).” (QS. Al-Anfal : 33). Rasulullah saw. besabda, “Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sekiranya kalian belum pernah berbuat dosa, maka niscaya Allah akan membinasakankamu kemudian menggantikan kamu dengan kaum yang lain, yang mereka itu berbuat dosa lantas mereka memohon ampun kepada-Nya dan Allah mengampuni mereka.” (HR. Muslim)
3. Amal-amal kebaikan
Amal-amal kebaikan yang dilakukan soerang muslim bisa dilipatgandakan pahalanya oleh Allah menjadi sepuluh kali lipat atau lebih. Karena itu, amal baik juga bisa menjadi salah atu jalan pengampunan bagi kita, khususnya dosa-dosa kecil. Allah swt, berfirman : “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan perbuatan buruk.” (QS. Hud : 114)
Rasulullah saw bersabda, “Bertaqwalah kepada Allah di mana saja kamu berada, dan iringilah perbuatan buruk itu dengan perbuatan yang baik karena ia bisa menghapusnya (HR. Turmudzi)
4. Musibah-musibah di dunia
Musibah yang menimpa seorang m uslim, apapun bentuknya, akan menjadi penebus dosanya. Itu akan terjadi bila orang yang tertimba musibah sabar atas musibah. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya setiap musibah yang menimpa seorang muslim menjadi penebus (kafarat) atas dosanya. Bahkan sampai terpeleset kakinya, luka di jemarinya, aapun duri yang menusuknya.” (HR. Muslim) Artinya, musibah datang dari Allah swt adalah bentuk tebusan atas dosa hamba-Nya, hingga dosa itu dihapus oleh Allah swt.
5. Siksa kubur
Azab kubur adalah perkara yang harus diyakini kebenarannya. Ia juga merupakan salah satu jalan pengampunan yang bisa mengurangi azab yang akan ditipakan Allah kepada hamba-hamba-Nya atas dosa yang dilakukannya. Ada dua macam adzab kubur. Pertama, yang dirasakan seseorang selamanya sampai hari kiamat datang. Ini akan diberikan kepada orang-orang kafir (lihat QS. Al-Mu’min : 45-46). Kedua, azab kubur yang waktunya terbatas dan sealah itu berhenti. Yang kedua ini diberikan atas orang yang melakukan dosa-dosa ringan, sesuai dengan tingkat kesalahannya sehingga ia menjadi pengurangatau penebus akan azab yang akan menimpa di akhirat nanti.
6. Do’a dan permohonan ampun dari orang mukmin ang diminta kepada Allah, untuk diberikan kepada pelaku dosa dan kealahan, baik ang masih hidup maupun yang sudah meninggal
Do’a adalah saripati ibadah. Do’a adalah senjatanya orang beriman. Do’a adalah salah satu jalan pengampunan dari dosa-dosa dan kesalahan. Allah swt. berfirman : “Danorang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar) mereka berdo’a : “Ya Tuhan kami beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami…” (QS. Al-Hasyr : 10)
7. Apa yang dihadiahkan seorang muslim yang masih hidup kepada saudaranya yang sudah meninggal, berupa pahala shadaqah dan haji
Para ulama sepakat bahwa seseorang yang telah meninggal masih dapat memperoleh manfaat dari orang yang masih hidup karena dua hal. Pertama, karena sesuatu yang sumbernya dari si mayit sendiri ketika hidup, seperti amal jariyah. Kedua, pahala kebaikan yang diperuntukkan orang yang masih hidup kepada si mayit seperti shadaqah dan haji. Pahala dari amal-amal ibadah fisik seperti puasa sunnah, shalat sunnah, membaca Qur`an, dzikir dan sebagainya, menurut Imam Ahmad dan Abu Hanifah bisa sampai kepada si mayit bila memang diniatkan oleh yang masih hidup untuk si mayit. Sementara mnenurut Imam Syafi’i dan Imam Malik, hal itu tidak bisa dihadiahkan kepada si mayit dan pahalanya tidak akan sampai.
8. Penyelesaian hak sesama manusia di akhirat, setelah mereka menyeberangi shirot (jembatan di atas neraka)
Jalan pengampunan yang lain adalah penyeleaian segala hak dan kezaliman yang terkait antara satu orang muslim dengan saudaranya. Masing-masing saling mengambil hak satu sama lain. Rasulullah saw bersabda, “Apabila orang-orang mukmin itu telah selamat melewati neraka, maka mereka akan ditahan di suatu jembatan antara mereka dan surga. Maka disitulah mereka saling melakukan penuntutan dan pemenuhan atas segala tanggungan sesama mereka selama di dunia. Maka kalau semuanya sudah bebas dari hak-hak saudaranya serta bersih dari dosa-dosa dan kezaliman sesama mereka. Barulah mereka diperkenankan untuk masuk ke dalam surga …” (HR. Bukhori)
9. Syafaat dari mereka yang berhak memberi syafaat
Di antara jalan pengampunan yang lain adalah syafaat yang diberikan oleh orang lain yang mendapat izin dari Allah. Syafaat ini akan dapat meringankan dan membebaskanorang-orang yang seharusnya mendapat siksaan di akhirat. Orang yang diperkenankan memberi syafaat, pertama adalah Rasulullah saw. Selain itu adalah kaum muslimin yang telah mendapat izin dari Allah untuk memberi syafaat. Bahkan dalam hadits yang cukup panjang disebutkan bahwa Allah swt akan memberi syafaat kepada hamba-hamba-Nya. “… Maka para malaikat telah memberi syafaat, para nabi sudah memberi syafaat, dan orang-orang beriman pun memberi syafaat. Tidak ada lagi kecuali Dzat yang Maha Pengasih dan Penyayang. Kemudian setelah itu Allah mengambil sekali genggaman-Nya itu dari neraka orang-orang yang belum pernah membuat kebaikan sekalipun….” (HR. Muslim)
10. Ampunan dan pemaafan Allah SWT diluar syafaat-Nya
Ini adalah jalan pengampunan terakhir, yang bisa mengurangi maupun menghilangkan sama sekali azab yang seharusnya diterima seseorang yang telah melakukan dosa. Allah swt berfirman, “…. dan Dia (Allah) mengampuni segala dosa, selain syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya…” (QS.An-Nisa : 48 dan 116)
Jalan pengampunan ini disediakan oleh Allah swt. Tinggal kini bagaimana kita yang membutuhkan pengampunan itu. Dan sebelum pertanyaan itu kita jawab, renungkanlah firman Allah swt berikut ini: “Dan bersegeralah kamu pada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang bertaqwa….” (QS. Ali Imran : 133) (na/wq)
Sumber: eramuslim
Karena itu sahabat, mari kita perbanyak istigfar, yang sesuai sunah rasul adalah 100x per hari, kalau bisa lebih alhamdulillah..
Semoga bermanfaat, wallahu alam bi showab..

Selasa, 25 Maret 2014

Hijab Bunda Maria bertuliskan "La IllaahaIllallah"

Sahabat sudah nonton film '99 Cahaya Di Langit Eropa' ?
Dalam film tersebut menceritakan bagaimana Hanum Salsabila Rais, puteri dari Amien Rais sekaligus penulis buku 99 Cahaya Dilangit Eropa sempat dibuat tercengang ketika mengetahui bahwa inskripsi arab yang mengukir di tepian kain hijab yang dikenakan Bunda Maria itu adalah lafaz tahlil لَا إِلٰهَ إِلَّا الله ‘Laa ilaaha Illallah”
Dalam bukunya, Hanum memaparkan kisah perjalanannya menjelajahi jejak peradaban Islam yang ada di Eropa. Ia bersama suaminya, Rangga Almahendra membelah peradaban Islam dari Eropa Barat hingga Eropa Timur. Sesampainya di Paris, Hanum pun dibuat tercengang oleh beberapa peninggalan dari peradaban Islam di kota ini dulunya.
Museum Louvre, adalah tempat penyimpanan berbagai benda berharga milik Perancis. Di Museum inilah, lukisan Monalisa yang terpopuler itu berada. Dan disini pula lukisan menakjubkan yang dimaksud Hanum itu berada.
Adalah lukisan karya Ugolino berjudul “The Virgin and The Child” dimana dalam lukisan itu nampak sosok Bunda Maria sedang menggendong “Yesus” bayi . Yang mencengangkan, di hijab Bunda Maria dalam lukisan itu terdapat tulisan Arab Pseudo Kufic. Yang setelah diteliti oleh peneliti Arab World Institute, ternyata tulisannya adalah لَا إِلٰهَ إِلَّا الله “Laa Ilaaha Illallah”. Hanum juga mendapati banyak tulisan Arab Kufic di lukisan artefak umat Khatolik. Termasuk tulisan Arab Kufic di jubah seorang raja Katolik taat yaitu Raja Roger II of Sicily dari Austria.
Marion, sahabat Hanum yang juga seorang peneliti peradaban Islam Abad Pertengahan yang ahli membaca tulisan Arab Kufic menjelaskan bahwa dulu Timur Tengah dikenal dengan ilmu pengetahuan, seni dan budayanya. Sehingga banyak orang Eropa bepergian ke Timur Tengah dan membeli kain, permadani, lukisan dan lain sebagainya. Dalam barang-barang yang diperdagangkan itu seringkali terdapat tulisan tauhid seperti di atas dan akhirnya ditiru oleh orang-orang Eropa.
Tulisan لَا إِلٰهَ إِلَّا الله juga membuktikan bahwa Marya dan Yesus (Isa bin Maryam) mengajarkan لَا إِلٰهَ إِلَّا الله “Bahwa tidak tuhan kecuali Allah” sebagaimana disebutkan dalam al Quran:
“Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata : ”Sesungguhnya Allah itu dialah Almasih putra Maryam. Padahal Almasih (sendiri) berkata,:”Wahai Bani Israil Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Alloh, maka sungguh Allah mengharamkan surga baginya dan tempatnya ialah di neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zalim itu” (QS Al maidah : 72)
Kemudian dalam ayat 73-76, Allah berfirman : ”Sungguh telah kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan yang Maha Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, pasti orang -orang kafir diantara mereka akan ditimpa azab yang pedih. Mengapa mereka tidak bertobat kepada Allah dan memohon ampunan kepada-Nya? Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Almasih putra Maryam hanyalah seorang Rasul. Sebelum pun sudah berlalu beberapa rasul. Dan ibunya seorang yang berpegang teguh pada kebenaran. Keduanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana kami menjelaskan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan ) kepada mereka (ahli kitab), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka dipalingkan (oleh keinginan mereka) Katakanlah (Muhammad) :”Mengapa mereka menyembah yangselain Allah, sesuatu yang tidak dapat menimbulkan bencana kepadamu dan tidak (pula) memberi manfaat?” Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui”
Melalui ayat tersebut, jelas sekali bahwa yang diajarkan oleh Nabi Isa adalah لَا إِلٰهَ إِلَّا الله( Laa Ilaaha Illallah) yang artinya Tidak ada Tuhan (yang wajib disembah dan diikuti) kecuali Allah”. Sebagai seorang Rasul, nabi Isa bertugas menyampaikan risalah kebenaran yaitu agar tidak ada yang disembah di belahan muka bumi ini kecuali hanya ALLAH yang ESA dan MAHA PENYAYANG kepada makhluknya.
Cari ‘Cahaya’ lain dari ‘99 Cahaya Di Langit Eropa’ dengan membaca bukunya atau menonton film yang penuh HIKMAH INI.
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/christology/2013/12/19/28228/hijab-bunda-maria-bertuliskan-laa-ilaaha-illallah/#sthash.B2NQPU2w.dpuf

Kamis, 20 Maret 2014

Kisah Paket Mangga Seharga 750 Ribu Rupiah

Semakin bertambah usia kita, terkadang kita sibuk dengan diri kita sendiri. Hingga kadang kita lupa, di saat yang bersamaan orang tua kita semakin menua. Meski kadang semakin bertambah usia kita, kita sering merasa tak selaras dengan pemikiran orang tua, tetapi mereka punya cara sendiri untuk mengungkapkan rasa cintanya kepada anak-anaknya. Betapa kadang cinta orang tua melampaui segalanya, bahkan harta pun jadi tak ternilai harganya. Diceritakan ulang oleh Vemale.com, pengalaman Riri yang kini bekerja menjadi TKW di Hong Kong sungguh menginspirasi kita.
***
Betapa terkejutnya aku saat tiba di tempat jasa pengiriman barang hari itu. Setelah aku gagal mengambil paketan pada hari Sabtu, jasa pengiriman khawatir paket yang berisi makanan itu akan busuk bila terlalu lama di gudang pengambilan. Tak kalah terkejutnya saat biaya yang harus ditanggung sang pengirim mencapai angka 455 dolar
.
"Astagfirullah, akeh men. Gek paket pelem wae kok sampe 750 ewu lho!" gerutuku. Bayangkan, 23 buah mangga, 2 kg sambel pecel dan seplastik enjet terdapat di kardus bekas mie instan itu. Kardusnya sudah lembek. Tiga di antara mangga-mangga itu sudah busuk.
Aku membayangkan biaya pengiriman sebesar 455 dolar atau setara Rp. 750 ribu itu. Setidaknya butuh 2x5 hari mengepel lantai, 5x5 hari membersihkan kamar mandi plus belanja, mencuci pakaian, masak dan diomeli majikan agar bisa mendapat uang sebanyak itu.
"Nyenengke wong tuwa, Mbak. Jenenge wong tuwa pengen ngirimi anake lho," ujar Awiek, sahabatku.
Aku makin kesal. Uang segitu banyak daripada dibuat membayar paketan, lebih baik disimpan saja untuk kebutuhan Emak sehari-hari. "Di sini mau makan mangga tinggal beli ke pasar. 30 dolar sudah dapat yang besar. Lagian siapa mau makan mangga sebanyak ini?" gerutuku.
Ingin rasanya kulampiaskan kekesalanku ke Emak dan Bapak, tapi beliau berdua tak juga menjawab panggilan teleponku. Baru tiga hari berikutnya teleponku diangkat oleh Bapak. Kukatakan bahwa paket telah sampai dan mangganya telah kunikmati.
Alih-alih kesal karena kejadian 455 dolar kemarin, aku justru terbius karena cerita Bapak yang sangat mengalir. Beliau menceritakan bagaimana Emak membeli kacang langsung dari petaninya kemudian menungguinya saat kacang-kacang itu dijemur. Menggorengnya lalu membawa ke pasar untuk diselep. Tak hanya itu, Bapak juga bercerita tentang bagaimana beliau memilih mangga yang bagus-bagus, besar-besar dan paling tua. Beliau juga menceritakan kehebohan saat mangga-mangga dan sambal pecel itu dikemas dalam kardus.
Seketika itu juga kuras 455 dolar tidak ada apa-apanya dibanding cinta orang tuaku. Apalagi saat Bapak bilang ia sengaja mengirimi mangga sebegitu banyaknya agar jika 10 mangga busuk, aku masih bisa menikmati 13 buah lainnya bersama teman-temanku.
Jadi itu alasan Bapak dan Emak mengirim sedemikian banyak mangga dan sambal pecel untukkku.
Sewaktu telepon itu kuakhiri, tak sedikitpun aku menyinggung besarnya biaya pemaketan yang harus kubayar. Bukankah semua sudah lunas terbayar dengan cerita-cerita itu? Sudah tak membebaniku lagi.
***
Cinta orang tua memang tak ternilai. Kadang kita merasa orang tua berbuat hal yang tak semestinya dilakukan dan tampak tak masuk akal oleh anak-anaknya, tapi ingatkah kita ketika kita kecil orang tua tak pernah protes bahkan jika kita melakukan hal yang konyol. Kisah Riri yang kini merantau sebagai TKW di Hongkong ini tertuang dalam blognya, Babungeblog. Betapa ketika semakin dewasa atau jauh dari orang tua, kita akan semakin merasa bahwa cinta orang tua tak hanya mahal, tapi juga tak ternilai harganya.
By. Winda Carmelita From : Female.com

Kamis, 13 Maret 2014

Pengorbanan Seorang Ayah Menggendong Anaknya sejauh 28 KM / Hari

Sebuah kisah nyata yang mengharukan tentang pengorbanan seorang ayah demi anaknya yang cacat..:'(( ( mending siapin tisyu dulu deh..)
Yu Xukang, seorang ayah penuh pengabdian asal China ini selalu menggendong anaknya Xiao Qiang, seorang penyandang cacat, saban harinya agar anaknya itu dapat bersekolah meski harus menempuh jarak sejauh 28 Kilometer. Yu selalu menggendong Xiao dengan menempatkannya di sebuah keranjang dirancang khusus diikatkan ke punggungnya, seperti dilansir surat kabar the Daily Mail, Selasa (11/3).
Pria 40 tahun asal Kota Fengyi, Wilayah Yibin, Provinsi Sichuan, sebelah barat daya China, sekitar 3.218 kilometer sebelah barat Shanghai, itu menolak untuk menyerah terhadap pendidikan anak laki-lakinya, yang sekarang berusia 12 tahun itu, meskipun faktanya kedua tangan dan kakinya bengkok, dan punggungnya sudah bungkuk.
"Saya tahu anak saya cacat fisik, tapi tidak ada masalah dengan pikirannya. Namun, saya tidak bisa menemukan sekolah di sini dengan fasilitas yang dapat menerima dia dan selalu ditolak. Bahkan satu-satunya tempat di mana saya bisa mendapatkan tempat baginya adalah di Sekolah Dasar Fengxi, di Kota Fengyi, yang berjarak delapan kilometer jauhnya," kata Xukang.
Dia telah berpisah dengan istrinya sembilan tahun lalu ketika Xiao berusia tiga tahun, dan memutuskan untuk membesarkan anaknya sendirian. Xukang mengatakan dirinya bertekad agar anaknya itu tidak menderita meski dibesarkan oleh satu orangtua dan dia ingin memberinya kesempatan terbaik. Karena tidak ada bus sekolah dan transportasi umum yang cocok, Xukang kemudian memutuskan satu-satunya cara untuk memastikan anaknya tetap bersekolah adalah dengan menggendongnya setiap hari baik saat mengantarkan dan menjemput Xiao dari sekolah.
"Saya telah menggendong dia baik saat pulang maupun pergi ke sekolah sejak September tahun lalu, setiap pagi saya bangun jam lima untuk mempersiapkan makan siangnya dan kemudian saya berjalan sejauh 7,2 kilometer ke sekolah, dan kemudian kembali ke rumah sehingga saya bisa bekerja untuk mendapatkan uang. Saya kemudian jalan kembali ke sekolah untuk menjemput anak saya dan membawa dia pulang," ujar dia.
Xukang mengatakan dia memperkirakan dirinya telah berjalan sekitar 2.574 kilometer dengan naik turun perbukitan. "Anak saya tunadaksa, ini berarti dia dalam posisi tidak bisa berjalan dan tidak bisa naik sepeda sendiri. Meskipun sudah 12 tahun, tingginya hanya 90 sentimeter. Tapi saya bangga dengan fakta dia menjadi murid pandai di kelasnya dan saya tahu dia akan mencapai hal-hal besar. Impian saya adalah dia akan masuk ke universitas," ucap dia. Setelah pengabdian Xukang dengan menggendong anaknya setiap hari ke sekolah terungkap di media lokal, pemerintah setempat mengumumkan pihaknya akan menyewakan sebuah kamar untuk dia dalam waktu dekat.
From : Blog Tetangga

Kamis, 27 Februari 2014

Dakwah, Tugas Kita yang Terlupakan

Sahabat, Dakwah adalah tugas setiap muslim, disini ada sebuah gambaran tentang keharusan setiap muslim untuk berdakwah, sesuai ilmu yang didapat dan diamalkannya walaupun hanya satu ayat.,
Gambaran Keharusan Berdakwah :
Dalam suatu kesempatan, seorang rekan berkisah tentang seorang pembantu rumah tangga. Pada awal kerjanya, dia diberitahu majikannya bahwa tugasnya adalah membersihkan lantai, membersihkan jendela, membersihkan halaman, menyiram tanaman dan membuka-tutup pintu untuk orang yang datang dan pergi. Majikannya menjanjikan bonus tertentu bila dia melakukan tugas-tugasnya dengan baik; Sederhana dan tampaknya mudah; bekerja sebaik-baiknya lalu dia akan dapat gaji ditambah bonus.
Dengan suka hati dia menghapal ‘diluar kepala’ kelima tugasnya. Membersihkan lantai, membersihkan jendela, membersihkan halaman, menyiram tanaman dan membuka-tutup pintu. Diulang-ulangnya hingga dia dapat memastikan bahwa kelima tugas tersebut dapat diselesaikannya dengan sebaik-baiknya. Demi bonus yang akan diperolehnya, diapun berkonsentrasi pada tugas-tugasnya.
Suatu ketika sang majikan harus pergi dengan meninggalkan anak-anaknya di rumah. Sementara anak-anak yang besar sibuk dengan urusannya masing-masing, si bungsu malah asyik bermain di halaman. Dia mendekati kolam lalu berusaha untuk berenang. Adalah suatu hal yang berbahaya bagi anak kecil bermain-main di kolam seorang diri, meski kolam itu ada di dekat rumah. Namun demikian sang pembantu coba menyakinkan diri bahwa tugas dia hanya lima. Menjaga anak bukanlah tugasnya. Dia coba meyakinkan lagi bahwa bila saja dia tunaikan kelima tugas tersebut dengan sebaik-baiknya tentu dia akan mendapatkan bonus sebagaimana yang dijanjikan kepadanya.
Singkat cerita, sang anak bungsu ‘gelagepan’ di kolam lalu tenggelam. Sang pembantu masih coba meyakinkan bahwa menolong anak tersebut bukan tugasnya. Untuk lebih menyakinkan lagi, dia ucapkannya kembali kata-kata majikannya tentang tugasnya, yakni membersihkan lantai, membersihkan jendela, membersihkan halaman, menyiram tanaman dan membuka-tutup pintu. Ternyata tidak dia jumpai tugas menjaga anak. Maka dia tidak bergerak sedikitpun untuk menolong anak tersebut hingga tak ada lagi gerakan di kolam. Anak tesebut mati lemas.
Ketika sang majikan datang dan menanyakan kemana si bungsu, tanpa rasa bersalah sedikitpun sang pembantu memberitahu bahwa anak tersebut ada di kolam, barangkali tenggelam di sana, sembari mengingat-ingat tugasnya yang lima yang selalu ditunaikannya dengan baik. Lalu bagaimana reaksi sang majikan terhadap pembantu ini? Bila kita adalah majikan tersebut, tentu saja kita tahu tindakan apa yang paling pantas terhadapnya.
Keadaan kita hari ini, barangkali tidak bedanya dengan keadaan sang pembantu tersebut. Kita telah berusaha sebaik-baiknya menunaikan tugas apa saja sebatas pada yang ‘diperintahkan’ kepada kita. Kita tahu betul bahwa kewajiban sholat lima waktu harus kita tunaikan sebaik-baiknya setiap hari, namun kita tidak peduli dengan orang-orang lain yang melalaikannya. Kita tahu betul tanggung jawab kita terhadap diri sendiri, istri, anak, orangtua dan saudara-saudara kita, dan apa saja yang dapat kita berikan sebagai tanda sayang kita kepada mereka, namun kita tidak peduli dengan yang selainnya. Kita tahu bagaimana ‘mengamalkan’ agama tapi kita lupa bahwa dakwah adalah bagian dari amal agama.
Hari ini kita mengetahui bahwa membunuh adalah dosa, mencuri atau korupsi adalah dosa, berzina adalah dosa, minum arak adalah dosa, berkata dusta adalah dosa, akan tetapi kita lupa bahwa meninggalkan dakwah juga termasuk dosa, jika kita mampu. Padahal dosa tidak dakwah kadarnya mencakup dosa membunuh, mencuri, zina dan sebagainya. Karena tidak ada dakwahlah maka ada pembunuhan. Karena tidak ada dakwahlah maka ada pencurian. Karena tidak ada dakwahlah maka ada perzinaan dan seterusnya.
Sebagian dari kita mengatakan bahwa untuk dakwah kita perlu punya ilmu dulu. Dan ilmu yang dimaksud adalah penguasaan yang baik atas berbagai pengetahuan (yang justru baru berkembang bersamaan dengan menyebarnya Islam ke seluruh pelosok dunia). Barangkali pernyataan ini benar, bila kita bermaksud menyempurnakan segala sesuatunya. Namun demikian, sebagaimana yang kita sampaikan kepada para mu’alaf, kita tetap harus melakukan sholat meskipun kita baru bisa mengucapkan basmallah. Dan dengan cara yang sama, kita harus buat dakwah meskipun kita baru bisa menjabat tangan saudara kita.
Menjadi da’i sebenarnya tidak sesukar yang kita bayangkan pada hari ini. Siapapun dari ummat ini yang memiliki kalimah laa ilaaha illallah dalam hatinya adalah orang-orang yang punya tanggung jawab untuk ‘menumpahkannya’ kepada orang lain. Keadaan saat ini dimana kita mempersulit diri dengan berbagai syarat agar kita ‘layak’ buat dakwah, hanya menunjukkan betapa jauhnya kita dari kepahaman para sahabat Rasulullah saw.
Lalu pertanyaannya adalah berapa lamakah seseorang dapat menjadi da’i sejak pertama kali dia bersyahadat? Adakah setiap orang berkewajiban menuntut ‘ilmu’ yang menjadikannya layak dipanggil ‘ulama atau ustdaz, baru setelah itu buat dakwah? Mestinya tidak demikian bila referensi kita adalah para sahabat Rasulullah saw.
Saat Abu Bakar ra. menyatakan keislamannya, dia telah mengajak beberapa orang lainnya kepada iman-yakin yang benar pada hari yang sama. Dari usahanya pada hari itu beberapa orang mengimani bahwa Allah adalah tuhan mereka dan tidak ada tuhan selain-Nya dan mereka mengimani bahwa Muhammad (saw) adalah nabi dan rasul-Nya.
Pada hari pertama Abu Dzar Ghiffari ra bersyahadat, dia telah umumkan keislamannya kepada kaum Quraisy di depan ka’bah. Seolah-olah dia ingin mengatakan sekaligus mengajak kaum yang belum beriman tersebut agar segera beriman. Kalau saja Ibnu Abbas (yang saat itu masih dalam kekafiran) tidak mengingatkan kaumnya akan perhubungannya dengan kaum Ghiffar, tentu mereka semua sudah membunuhnya.
Selanjutnya bila kita baca atau dengar lagi dan lagi kisah-kisah mereka (yakni sahabat-sahabat Rasulullah), kita akan jumpai di sana bahwa mereka adalah para da’i sejak awal keislamannya. Demikianlah Rasulullah saw membina mereka sehingga siapa saja yang menyatakan keimanannya, mereka akan meyakini bahwa dakwah adalah tugas mereka. Setiap orang yang buat dakwah adalah da’i. Lalu kita dapati di sana (pada masa Rasulullah saw), setiap da’i akan ‘melahirkan’ da’i baru. Bahkan sebelum perintah ibadah (sholat) diturunkan, mereka menyangka bahwa agama ini identik dengan dakwah manusia kepada Allah.
Kita mestinya bangga dengan titel da’i. Gelar inilah yang pada gilirannya kelak akan menjadikan kita mulia, bahkan ketika kita masih hidup di dunia ini. Bayangkan, betapa pilihan Allah tidak pernah salah. Dia memilih (selalu yang terbaik dari kebanyakan manusia) orang-orang yang akan mengemban kerja para nabi. Dia memuliakan kita dengan kerja ini sebagaimana kita meletakkan sesuatu di puncak ketinggian.
Dan pilihan itu telah jatuh kepada kita ketika Dia berkata, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab (Kristen/Yahudi) beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS 3:110)
Ketika kita sadar dan kita tidak ingin seperti pembantu di atas, maka tidak ada jalan lain buat kita (bahkan bagi keselamatan ummat ini) selain dengan segera buat dakwah. Hendaknya kita tidak menundanya lagi hingga ‘anak yang akan tenggelam’ dapat diselamatkan. Kita bergerak menjumpai manusia dan tidak menunggu sampai mereka datang kepada kita. Kita yakin bahwa pada saatnya kelak, sama saja apakah kita mengharapkannya atau tidak, kita akan mendapat gaji, bonus dan tentu saja hadiah yang luar biasa dari Allah yang maha memiliki lagi maha kaya.
Subhanallah.
By. KH. Didin Hafiudin Sumber: Hikmah Republika

Selasa, 18 Februari 2014

Sudahkan Kita Membaca buku Hari Ini ??

“Sesungguhnya, membaca bukan sekadar hobi, tapi sebuah konsep hidup” - DR. Raghib As-Sirjani (Penulis Spiritual Reading)
Membaca buku bukanlah budaya yang populer di Indonesia. Sangat jarang kita temukan, orang Indonesia yang begitu khusyuk membaca buku di tempat umum, taman, kampus, sekolah ataupun transportasi publik seperti kebiasaan penduduk negara maju di Jepang, Eropa maupun Amerika Serikat. Bahkan saya melihat dengan mata kepala sendiri, di sebuah perpustakaan kampus ternama di kota Bandung, yang notabene surganya buku-buku, alih-alih membaca buku, mahasiswa malah banyak yang melakukan browsing, bermain gadget, ngobrol bahkan asyik tiduran di sana. Kita patut miris dengan keadaan seperti ini. Bagaimana negeri kita mau maju dan mengalahkan negara lain, jika budaya baca saja kita ogah melakoninya.
Dosen-dosen saya mempunyai beberapa cara unik agar mahasiswanya mau membaca. Ada yang menugaskan mahasiswa membedah buku kemudian mempresentasikannya secara berkelompok. Ada yang menugaskan untuk mengeksplorasi buku dan bacaan lainnya sesuai dengan tema yang ditentukan, lalu dirangkai dalam bentuk tulisan. Ada yang menugaskan untuk membuat resume dari buku tersebut. Yang paling unik (baca: gila), mahasiswa-mahasiswa di kelas disuruh membaca satu orang satu paragraf, kemudian bergantian sampai jam kuliah habis. Setahu saya metode yang terakhir digunakan oleh guru SD ataupun SMP saya beberapa tahun yang lalu.
Semua hal tersebut dilakukan untuk satu hal, agar para mahasiswa yang lebih suka main gadget termotivasi untuk mau membaca (walaupun niatnya bisa jadi untuk nilai). Murabbi saya juga pernah memberikan tugas bedah buku kepada kami, agar kami mau membaca buku. Hasil penelitian UNICEF menyebutkan bahwasanya minat baca orang Indonesia tergolong rendah. Kalau dipresentasekan ada pada kisaran 0,01 persen, yang mengindikasikan satu buku dibaca oleh seribu orang di Indonesia (Republika.co.id).
Mengapa kita malas untuk membaca? Tak sadarkah kita bahwa wahyu yang pertama kali diturunkan oleh Allah SWT kepada nabi kita yang mulia, Muhammad SAW lewat perantara Jibril as adalah perintah membaca? Ustadz Dwi Budiyanto dalam bukunya, Prophetic Learning mengatakan: “Iqra’ merupakan perintah Allah SWT yang luar biasa. Wahyu pertama itu tidak memerintahkan kita untuk shalat, puasa, zakat atau yang lainnya. ‘BACALAH!’, Ia menjadi dasar bagi tumbuh dan berkembangnya peradaban Islam.
Sebuah peradaban dan pengetahuan sebagai titik awal perkembangan. Sebuah peradaban yang dibangun melalui tradisi literasi yang kuat, yaitu tradisi yang menempatkan baca-tulis sebagai pijakan.” Peradaban Abbasiyah bisa memimpin dunia di abad pertengahan, kemudian Eropa bisa menaklukkan dunia di awal abad ke-15 dan bangsa Amerika menguasai ilmu pengetahuan di segala bidang di zaman modern ini dimulai dari kebiasaan membaca para generasinya.
“Membaca adalah kaidah yang pertama kali Allah ajarkan.” demikian dikatakan oleh Ustadz Muhammad Elvandi, penulis buku Syair Cinta Pejuang Damaskus dan Inilah Politikku. “Kaidah itu bukanlah rumus ajaib umat Islam, tapi ia adalah kaidah yang juga konstan dan universal. Ia adalah syarat kebangkitan umat manapun, untuk agama apapun. Kaidah ini pernah mengantarkan generasi muslim zaman Abbasiyyah memimpin peradaban, sebagaimana mengantarkan generasi berpengetahuan Eropa menaklukan dunia, dan seperti juga mengantarkan generasi pembaca Amerika memimpin pengetahuan.”
Mari kita tengok bagaimana ulama terdahulu sangat mencintai kebiasaan membaca. Imam Jahidz seorang sastrawan dan filosof muslim, meninggal karena rak bukunya jatuh menimpa beliau yang sedang tenggelam dalam membaca. Imam Turmudzi rahimahullaah, pemilik kitab hadis Sunan Turmudzi menghabiskan umurnya untuk mengumpulkan hadits Rasulullah SAW, sampai mata beliau buta karena kebanyakan membaca. Sahib Ibnu Abbad menolak menjadi perdana menteri Samarkand, tersebab merasa kerepotan untuk memindahkan buku-bukunya ke Samarkand, dibutuhkan sekitar 400 ekor unta untuk memboyong habis semua buku-bukunya tersebut.
Ibnul Jauzi rahimahullaah berkata: “selama menuntut ilmu, aku telah membaca buku sebanyak 20.000 jilid buku. Dengan buku aku dapat mengetahui sejarah para ulama salaf, cita-cita mereka yang tinggi, hafalan mereka yang luar biasa, ketekunan ibadah mereka dan ilmu-ilmi mereka yang menakjubkan. Semua itu jelas tak mungkin diketahui oleh orang-orang yang malas membaca.”
Al-Qathbu Al-Yunini bercerita mengenai Imam Nawawi rahimahullaah, pengarang Riyadush Shalihin, “An-Nawawi adalah orang yang tidak mau membuang-buang waktu, baik siang maupun malam. Ia selalu menyibukkan diri dengan urusan ilmu. Bahkan, saat sedang dalam perjalanan pun ia tetap sibuk menghafal dan membaca buku.” Abu Bakar Al-Anbari menjelang kematiannya berkata kepada dokternya, “aku membaca seratus ribu lembar halaman buku setiap minggu.” Ibnu Katsir menuturkan kepada Adz-Dzahabi, “aku selalu membaca dan menulis di malam hari di bawah cahaya lampu yang lemah sinarnya, sehingga mengakibatkan mataku buta.”
Bercermin dari kisah-kisah tersebut, bagaimana dengan kondisi kita. Sudah toko buku sedikit, uang tak banyak, jumlah buku yang berkualitas bisa dihitung jari, minat baca rendah, ke perpustakaan malas, bagaimana mau membaca banyak buku? Bagaimana mau memajukan Indonesia? Bagaimana mau memajukan peradaban Islam?
Layaknya pekerjaan lainnya, membaca buku juga harus kita niatkan hanya untuk Allah SWT, seperti yang dituliskan oleh DR. Muhammad Musa Asy-Syarif dalam bukunya Smart Reading for Muslim, “membaca itu amal perbuatan yang harus selalu berada di jalan Allah.” Dengan membaca kita bisa menambah ilmu, menambah wawasan dan pemahaman, mengetahui berbagai permasalahan yang mengancam dunia Islam, meningkatkan pengetahuan syari’at, memberikan inspirasi dan motivasi, meningkatkan keimanan kepada Allah SWT dan lain-lain.
Mudah-mudahan Allah yang Maha Pemurah, Penyayang lagi Bijaksana berkenan untuk memberikan kemudahan, kekuatan dan keistiqomahan kepada kita dalam membaca buku.
Pertanyaannya, sudahkah anda membaca buku hari ini?
Fais al-Fatih (Mahasiswa Pascasarjana Informatika)
Anggota Kelompok Studi Palestina
Sumber : Eramuslim.com
(Mohon maaf saya sendiri juga belum sampai setiap hari membaca buku, namun dalam seminggu insya Allah pasti ada, maklum kesibukan sebagai ibu rumah tangga dan pekerja sangat menyita waktu - By. Zahra)

Kamis, 13 Februari 2014

Keputusan Kontroversi Walikota Bengkulu

Satu lagi Walikota di Indonesia , yaitu Walikota Bengkulu ( H. Helmi Hasan, SE., cukup berani mengeluarkan Perda / Edaran yang agak kontroversi, yaitu tentang Kewajiban PNS shalat berjamaah, dan akan dapat reward menunaikan ibadah Haji, Umroh atau Mobil. Mungkin saja dengan di undi. Keputusan ini keluar sesuai kesepakatan bersama, dan baru berlaku mulai tanggal 12 Februari 2014. Dengan ketentuan sholat Dzuhur berjamaah setiap hari Rabu, di Mesjid At Taqwa, tetapi berlaku pula di tempat lain yang aturannya akan diatur kemudian.
Seperti cuplikan berita dari: bengkuluonline.com berikut ini ;
BENGKULU – Walikota Bengkulu H.Helmi Hasan, SE mengatakan Shalat berjamaah dengan reward haji, umrah, mobil, dan beberapa reward dari tampungan donator lainnya tidak hanya diwaktu Dzuhur, melainkan bisa Shalat-shalat lainnya sesuai dengan kesepakatan.
“Jadi kita menetapkan Shalat berhadiah itu pada Dzuhur karena berdasarkan musyawarah dengan FKPD, Kemenag, kita tentukan shalat Dzuhur untuk di Masjid At Takwa,” jelas dia, Kamis (13/2) siang.
Helmi mengatakan sesuai kesepakatan Shalat Dzuhur berjamaah berhadiah itu dipusatkan di Masjid At Takwa Anggut, namun bukan berarti Shalat shalat ditempat lain tidak bisa diberikan reward. Sebab menurutnya dari beberapa kecamatan bahkan sampai ketingkat kelurahan sekalipun bisa mengajukan untuk shalat berjamaah dan dirinya siap akan memberikan reward.
”Tidak hanya Dzuhur dan berfokus di Masjid At Takwa pada Hari Rabu saja, missal di Masjid Selebar tingkat kecamatan bisa malam Kamis atau di Masjid Kampung Melayu setiap Kamis tetapi shalat Asar,” kata dia.
Menurut dia dipilihnya Masjid At Takwa bukan berarti hanya focus disana, sebab kata adik kandung Menteri Kehutanan RI ini, diadakan kegiatan shalat berjamaah semarak reward ini untuk mengembalikan nilai-nilai luhur Agama Islam yang mulai luntur untuk melakukan ibadah shalat berjamaah.
Dan tujuan terakhirnya menciptakan kerukunan antar umat khususnya umat beragama Islam.“Jadi nantinya semua masjid itu akan berlomba-lomba, misalkan Masjid Raya Baitul Izzah boleh, datanglah beramai-ramai shalat Subuh disana. Dan kedepan setiap masjid ada kekhususan. Nah..nanti saling kunjung mengunjung, saya misalkan shalat di Selebar kemudian hari selanjutnya di masjid mana lagi,” tutupnya.(sey)
Subhanallah.. patut di acungi jempol keputusan tersebut, walaupun ada yang pro dan kontra, tetapi sebaiknya jangan dilihat dari hadiahnya tetapi lihatlah dari akibat yang timbul dari adanya perda tersebut, adalah secara tidak langsung membuat kebiasaan sholat berjamaah PNS khususnya, dan warga Bengkulu umumnya, dan tentu saja akan mempererat rasa persaudaraan dan ukhuwah islamiyah diantara mereka, semoga hal ini menjadi kebiasaan yang terus menerus, tetapi jangan lupa.. sebisa mungkin niat kita sholat tetap lillahi ta'ala, kalau hadiah misal itu bonus saja dari Allah Swt.
Perda tersebut sama saja dengan aturan dari orang tua yang akan memberi reward / hadiah anaknya jika sang anak dapat sholat lima waktu dalam 3 bulan misalnya, nanti akan diberi hadiah berupa sepatu baru, Sepeda, dll. sehingga anaknya akan terpacu untuk sholat 5 waktu, yang terpenting dari aturan tersebut adalah akan terbentuk kebiasaan yang baik..
Namun jika kita melihat syarat diterimanya ibadah kita adalah dilakukan sesuai syariah dan dilakukan dgn ikhlas, sesuai hadis qudsi (liat di TV Roja kemaren) bahwa Allah akan meninggalkan hamba dan amalannya jika amalan tersebut dilakukan bukan karena Allah, astaghfirullah al adzhiim.., karena itu lebih baik kita luruskan kembali niat kita.. hanya lillahi ta alla.
Wallahu a'lam

Walikotaku Pemimpinku

Bukanhanya Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo yang gemar blusukan dan terjun langsung ke lapangan. Di Surabaya, Wali Kota Tri Rismaharini juga melakukan hal yang sama. Wali Kota wanita pertama Surabaya ini bahkan pernah turun tangan mengatur lalu lintas Surabaya yang macet. Risma menjabat sejak 8 Juni 2010. Sikap keras dan tanpa komprominya membuat dia sering berhadapan dengan DPRD Surabaya dan anak buahnya sendiri. DPRD bahkan berusaha melengserkan Risma tahun 2011 lalu, tetapi gagal.
Pemberitaan soal Risma memang tidak sebanyak Jokowi di Ibu Kota yang menjadi isu nasional. Risma sendiri mengaku dirinya memang spontan dan tak perlu terlalu banyak diberitakan. "Itu sudah tanggung jawab saya, karena nanti saya juga ditanya malaikat soal (kepemimpinan) itu. Membangun fisik Surabaya itu mudah, tapi membangun sumber daya manusia itu tidak mudah tapi lebih penting," ucap Risma. Apa saja aksi alumni Institut Teknologi 10 November Surabaya ini?
1. Hujan-hujanan Pantau Banjir
Awal Desember lalu, hujan deras mengguyur Surabaya dan mengakibatkan genangan air serta banjir di beberapa titik. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini rela tidak tidur dan turun tangan memantau banjir. "Saya langsung turun mengajak sopir hujan-hujan. Setelah menerima informasi banjir, saya langsung menuju pintu-pintu air," kata Risma kala itu. Risma memantau langsung pintu-pintu air di Surabaya. Seperti rumah pompa Jagir, Wonokromo. Kayun, Petemon, Patuah dan Simo serta Bozem Morokrembangan. Dia cerewet meminta pompa yang rusak segera dibenahi agar Surabaya tak kebanjiran. Risama bahkan membuka pintu air sendiri sambil berbasah-basahan.
2. Turun Tangan Cek Pohon Tumbang
Sambil menenteng handy talki, Wali Kota Surabaya Tri Risma Harini berdiri di pinggir sungai. Dia memberikan instruksi langsung pada anak buahnya untuk memberesi sisa-sisa pohon tumbang yang masuk ke sungai. "Ayo-ayo cepet-cepet. Keburu banjir nanti yang di sana," kata Risma pada beberapa petugas kebersihan, (25/12). Wanita berjilbab ini memantau pohon tumbang sepanjang Jl Ahmad Yani dan Gayung Kebonsari. Setelah hujan, air sungai memang meninggi dan hampir luber ke jalan.
3. Terjun Atur Lalu Lintas Macet
Wali Kota Surabaya Tri Risma Harini telat menghadiri naskah perjanjian hibah daerah kepada 51 kelompok masyarakat tahun 2012. Ternyata, Tri telat karena turun tangan mengatur arus lalu lintas di jalanan yang macet. "Mohon maaf bapak ibu sekalian, saya datang telat. Saya tadi harus ngatur lalu lintas karena macet parah," kata Risma (19/12). Risma mengatur lalu lintas di Kedungsari. Di sana kendaraan saling serobot menerobos lampu merah. Dia memerintahkan sopirnya menepi, ibu wali kota ini langsung turun dan mengatur lalu lintas bak polisi. Sebelumnya, Risma juga pernah turun mengatur kepadatan lalu lintas di bawah tol Mayangkara yang macet akibat perbaikan rel kereta api.
4. Marahi Bonek Saat Kerusuhan Sepakbola
Tragedi kerusuhan suporter di Gelora 10 November Tambaksari Surabaya memakan korban seorang bonek tewas. Walikota Surabaya, Risma Maharani mengimbau pada Bonekmania agar Tragedi Tambaksari adalah yang terakhir kalinya. Sebab, ujung-ujungnya selalu ada saja nyawa yang melayang. "Cukup sudah Rek, ini yang terakhir. Sampai kapan lagi harus seperti ini. Lihat keluarganya, kasihan. Ini korban anak tunggal," ujar Risma di depan Bonekmania dari ASP (Asosiasi Suporter Persebaya), awal Juni lalu.
Risma mengaku tak tega satu per satu nyawa warganya melayang karena kerusuhan sepak bola. Apalagi beberapa waktu lalu 5 Bonekmania tewas karena kerusuhan di Lamongan. "Semua itu ada garis pembatasnya masing-masing, jangan ditembus, jangan dilawan. Kemarin sudah lima dan saya pantau terus update dari anggota sampai tak bisa tidur," tegas Risma.
5. Ikut Razia ABG Mesum di Diskotek
Wali Kota Surabaya, Jawa Timur, Tri Rismaharini melontarkan amarahnya terhadap belasan anak baru gede (ABG) yang terjaring razia di tempat hiburan malam. Satpol PP menggelar razia. Tri semakin emosi ketika mencium aroma alkohol dari mulut salah seorang ABG. Bahkan para gadis ingusan itu diketahui menyalahgunakan keadaan, serta kebebasannya akibat perceraian kedua orang tuanya. "Masih banyak orang lain yang menderita, kalian itu jangan menyalahkan keadaan, baju kamu masih bagus, coba lihat di sekitar kalian," kata Risma.
"Kamu jangan gaya-gayaan. Kalian itu masih di bawah umur, pakai acara pergi ke diskotek segala, mau jadi apa kalian?," tegasnya dengan nada tinggi. Menurut Risma, belasan ABG ini terjaring razia di sejumlah rumah hiburan malam/umum (RHU) di Surabaya yang disinyalir mempekerjakan anak di bawah umur dini hari tadi. "Saat itu, mereka (para ABG) diketahui tidak membawa identitas (KTP) dan mulut mereka diketahui berbau minuman keras," katanya.
6. Marahi Tersangka Penjual Gadis ABG
Anggota Polrestabes Surabaya meringkus seorang ibu rumah tangga, Ayu Puji Astuti (27) yang telah menjual 11 anak baru gede (ABG) kepada pria hidung belang sejak 2004 silam. Mendengar penangkapan Ayu ini, Risma mendatangi Mapolrestabes Surabaya, Selain memuji kesuksesan pihak kepolisian, orang nomor satu di Surabaya itu juga kembali melontarkan makiannya kepada pelaku trafficking tersebut. "Yang kamu tawari itu kan cuma anak kecil. Di suruh apa-apa ya mau, wong dia nggak ngerti apa-apa. Coba anak kamu ditawari permen, biar beracun ya mau aja, wong anak kecil," tegas Risma dengan nada keras sambil menunjuk ke arah tersangka. "Kamu itu perempuan, lah kok tega-teganya menjual anak orang. Kamu nggak ngerti dosa apa, apa kamu nggak punya agama, makanya nggak ngerti dosa?" lanjut Risma dengan nada kesal.
7. Pulangkan 45 PSK dari Surabaya
45 Pekerja seks komersial (PSK) dari sejumlah tempat lokalisasi dipulangkan Pemkot Surabaya, Jawa Timur. Acara pemulangan itu dipimpin langsung oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di kantor Keluruhan Putat Jaya, Sawahan. Dalam pidatonya Risma berharap, mantan pekerja seks tidak kembali ke profesi itu dan memulai hidup baru. "Jangan pernah berfikir, saya bukan bagian dari sampeyan (kalian), tapi berifikirlah bahwa sampeyan-sampeyan itu juga bagian dari saya. Sehingga bisa berbuat baik seperti yang orang lain lakukan," kata Risma dalam pidatonya di hadapan para PSK yang sebagian menutup wajahnya dengan cadar.
Meski pernah melakukan pekerjaan sebagai pekerja seks, Risma meminta agar mereka tidak berkecil hati saat berbaur dengan masyarakat. Tidak hanya itu, Risma berharap pada pertemuan berikutnya, mereka bisa bercerita mengenai kisah suksesnya. "Semua orang pasti berbuat salah, jadi jangan berkecil hati. Kalau sekarang sampeyan menutup wajah, ke depan sampeyan akan berani membanggakan diri sebagai bagian dari masyarakat umumnya. Suatu saat nanti, saya ingin sampeyan-sampeyan bertemu dengan saya dan menceritakan keberhasilan sampeyan," kata Risma bijak.
Komentar, kalau ane merasakan pembangunan surabaya menjadi asri, banyak taman dibangun bu risma, surabaya gag panas seperti doloe....
Sumber : Kaskusfan.blogspot.com

Walikotaku Pahlawanku

Adalah Tri Risma Harini - Walikota Surabaya yang berhasil membuat kota Surabaya (Kota Ke-2 terbesar di Indonesia) banyak meraih penghargaan, baik itu tingkat nasional maupun tingkat Internasional, seperti People of the Year 2013, Adipura, E-proc Award, Future Government (FutureGov) Awards 2013 tingkat Asia Pasifik untuk kategori Data Center dan Data Inclusion th. 2013 lalu, Asean Townscape Awards (ATA) untuk taman Bungkul, dll. masih banyak lagi, yang kesemuanya ada sekitar 51 buah penghargaan, bahkan beliau pun di calonkan menjadi Calon Walikota Terbaik Dunia, Luar biasa..?? Bangganya Indonesia Memiliki anak negeri yang sederhana seperti Bu Tri Risma Harini ini.
Bagaimana sih sosok Tri Risma Harini yang telah memimpin Kota Surabaya selama 3 tahun dan berhasil mendapat banyak penghargaan tersebut?? Sosoknya ada dalam acara "Mata Najwa" yang tayang tgl. 12 Februari 2014 lalu, (tadi malam), acara yang cukup bergengsi yang sering menampilkan tokoh-tokoh yang ; terkenal, terbaik, kontroversi, dll.
Dalam acara tersebut banyak hal yang dikupas, seperti hal-hal apa saja yang membuat ibu Risma memutuskan untuk menutup Kawasan Priostitusi - Dolly, dikatakan ingin mundur, dan lain sebagainya. Bagaimana jawaban Risma pada acara tersebut??
Disini Risma menceritakan dgn berlinangan airmata mengapa dia sampai berkeinginan kuat untuk menutup tempat prostitusi terbesar di Asia Tenggara (Gang Dolly), karena selama puluhan tahun dibuka kawasan Dolly telah banyak sekali membawa anak sekolah / pelajar / wanita muda yang "terperosok ke dalamnya", dan banyak sekali kisah kelam dibalik kehidupan seputar dolly yang menyedihkan, seperti ada yang masuk kesitu karena terpaksa, terjebak, dan lain sebagainya.
Seperti yang beliau ungkapkan bahwa setiap hari beliau blusukan, termasuk ke sekolah sekitar kawasan Dolly dan pasti beliau mau ngobrol dgn anak-anak tersebut hingga antri, sampai beliau minta disiapkan ruang khusus agar anak-anak / siswa tersebut bisa dgn leluasa curhat padanya, dan tak main-main beliau didampingi 5 orang psikater. Namun saat dikorek Najwa Shihab (pembawa acara mata Najwa) lebih dalam, apa saja yang diceritakan pelajar tersebut padanya, beliau terisak dan menjawab mereka terpaksa dan selain itu juga masalah keluarga, untuk detailnya Ibu Risma tak tega untuk menceritakannya, kasihan kata beliau
Belum lagi pengalaman beliau saat blusukan pada seorang Jompo, yang sudah menjadi PSK sejak umur 19 tahun s/d sekarang berumur 60 tahun, namun kehidupannya tatap pas-pasan (tidak bisa menabung), saat ditanya kemana saja uangnya, dijawab bahwa uangnya dipergunakan untuk makan sehari-hari, membeli pakaian dan make up, dan yang membuat miris adalah saat mendengar pertanyaan ibu Risma pada PSK Jompo tersebut, siapakah pelanggan yang mau pada ibu yang sudah berumur begini ? jawabannya sangat mengejutkan bahwa pelanggannya adalah anak SD dan SMP karena mereka punya uangnya sedikit jadi mampu-nya bayar yang murah jadi dapet yang tua, ( langsung deh saya berlinangan airmata ) kaget??, miris?? marah?? bahwa keberadaan Dolly tersebut mampu merusak sendi-sendi kehidupan sampai ke generasi muda kita?? dimana tanggung jawab orang dewasa?? kemana saja mereka selama ini?? apakah tidak melihat sampai begitu parah pengaruhnya terhadap para remaja sekitarnya??
Beruntung ibu Risma mau dengan sabar mulai mengurai masalah besar ini, yang kemudian Ibu Risma langsung memanggil kepala dinas terkait, memaparkan hal tersebut dan memohon dukungannya untuk menutup tempat prostitusi yang sudah ada berpuluh-puluh tahun tersebut.. karena jika tidak dari sekarang, kapan lagi?? dan seberapa banyak lagi kerusakan generasi muda yang terkena dampaknya??.
Keputusannya untuk menutup Dolly banyak yang menentang, Ibu Risma sempat pasrah dan hampir menyerah karena beratnya masalah ini, dan sudah berpesan pada keluarganya jangan kaget, jika kemudian hari ada apa-apa dgn beliau, dan beliau rela mati demi hal tersebut. Namun alhamdulillah Allah memberinya kekuatan, dan akhirnya tempat prostitusi yang telah menjadi ikon tersebut tersebut sedikit-demi sedikit berkurang jumlah wisma yang buka setelah diberi penjelasan yang positif dan mencari kerja yang lain yang positif, dan kedepannya semoga Surabaya menjadi Kota yang Bersih dari hal-hal seperti itu. amiin
Sosok Ibu Risma adalah sosok Ibu bagi warga-warga kurang mampu, terpinggirkan, karena yang ada dipikirannya adalah warga yang hidupnya masih susah di masa kepemimpinnannya, contohnya adalah :
Saat suatu waktu ibu sedang makan malam bersama suami/ keluarga, kemudian hujan turun dengan derasnya, kemudian Ibu blusukan dan melihat / mencari hal apa yang membuat air sungai tidak lancar mengalir, maka beliau sendirilah yang berusaha menarik / melepas penyebabnya. hingga beliau pulang pukul 10 malam.
Saat Beliau pagi-pagi blusukan menemukan 2 orang anak di semacam pos kamling begitu (kenapa ga' sekolah, ternyata anak tersebut adalah anak satpam yang istrinya sudah meninggal sehingga di titipkan pada tetangganya, lalu beliau minta ke tetangga, ayahnya untuk memlihara anak tersebut di sekolah anak terlantar miliknya.
Kemudian pernah juga ibu Risma mendapatkan seorang kakek jompo 90 tahun, yang sakit dijaga oleh anaknya berumur 60 tahunan yang gila dan mempunya anak berumur 41 tahuan tapi tidak bekerja, kemudian beliau membantunya, dan beliau masukan ke dalam yayasan yang dipimpinnya untuk membantu masyarakat yang kurang mampu. Beliau merasa bersyukur menemukan keluarga tersebut, tapi mungkin masih banyak lagi keluarga yang kurang mampu dan terlantar yang saya tidak tahu" katanya.
Beliau sangat takut saat hari "Pertanggung jawaban nanti" beliau ditanya Allah Swt. kok masih ada orang susah.. begitu katanya..??
Subhanallah.. Ibu Risma bekerja dengan hati nurani dan bertanggung jawab langsung pada Allah Swt. sehingga beliau betul-betul konsen pada warga yang susah. Itulah mengapa warga kota Surabaya begitu mendukung dan mencintainya. Kerena beliau memang layak menjadi pemimpin dan tauladan bagi pemimpin-pemimpin negeri ini.??
Sosoknya dicintai masyarakan kecil namun dalam memimpin tersebut ada juga mereka-mereka yang bersebrangan dengannya, sehingga beliau banya menerima tekanan. Tetapi walaupun begitu banyak pula yang masih berpihak padanya. Memang begitulah hidup adalah pilihan, kita mau mengikuti kecendrungan yang mana, yang baik atau yang buruk, .
Inilah contoh pemimpin masa datang terlepas dari beliau adalah wanita, namun saat ditanya Najwa Shihab saat acara Mata Najwa kemarin tentang terpilihnya Ibu Risma sebagai Capres mendapatkan rangking 1 dan Jokowi di rangking 2, menurut lembaga survei salah satu Univ. Bandung, beliau menolak, karena beliau tahu kapasitasnya, bahwa beliau bukan siapa-siapa dan tak punya apa-apa, serta tak ada pengetahuan untuk itu. Dan beliau pun berkata bahwa semua yang dia miliki sudah dia serahkan untuk kepentingan warga Surabaya, baik itu tenaga, pikiran dan kemampuan, atau apapun, tidak ada yang tersisa.
Karena penasaran Najwa pun menanyakan kembali demi meyakinkan bahwa benar beliau menolak jika dicalonkan menjadi Presiden disaat banyak orang lain ingin menjadi Presiden, Beliau tetap merendah dan menjawab, "biarlah, saya tahu siapa saya, negara Indonesaia itu luas lho mba', ga' main-main, saya takut pertanggung jawabannya kelak di hadapan Allah, kalau masih ada orang yang susah, bagaimana?? saya kan ingin masuk syurga juga.. hehe," begitu jawaban beliau.
Luar biasa..!, gambaran seorang pemimpin jaman sekarang yang begitu takut pada Tuhannya ( Allah Swt.), bagaimana dengan pemimpin lain ?? sering kita melihat perilaku mereka yang beranggapan seolah-olah hidupnya hanya didunia saja, hingga segara cara dilakukan demi mendapatkan apa yang diinginkannya..
Kalau kita lihat gaya kepemimpinanya Ibu Risma adalah merujuk cara kepemimpinan dari sahabat nabi "Umar Bin Khatab" yang selalu turun langsung melihat bagaimana kehidupan warganya, dan berusaha menyelesaikannya sesuai dengan kekuatan dan kemampuannya. Memang Islam adalah agama yang sempurna, semua peran ada contohnya, bagaimana seharusnya menjadi pemimpin, dll, jika semua pemimpin negeri ini memiliki cara pikir, cara pandang dan berberprilaku demikian, bukan tidak mungkin akan tercipta negara yang damai dan sejahtera, dan lebih ideal lagi jika pemimpinnya adalah seorang pria,Insya Allah..
Jadi teringat bahwa ada 7 Golongan yang mendapat naungan dari Allah Swt. di hari Kiamat kelak yang salah satunya adalah Pemimpin yang adil, kita berharap semoga Ibu Risma termasuk dalam golongan tersebut, amiin..
Dan kita do'akan bersama semoga Ibu Risma kuat, tegar dan mampu bertahan memimpin kota Surabaya, serta selalu di beri petunjuk Allah Swt. dalam menghadapi setiap masalah yang ada.
Dan semoga ibu Risma dapat menjadi tauladan pada pemimpin-pemimpin lainnya, di dimana saja dan kapan saja, Sebagai Pemimpin yang Pro Rakyat, dan yang memberikan kerja nyata bukan janji, Amiin.. ya Rabbal alamina.