Tampilkan postingan dengan label Artikel Religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Religi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Februari 2014

Kemana Roh Orang Muslim dan Orang Kafir di Alam Kubur ?

Sebuah pertanyaan yang cukup penting untuk kita ketahui sebagai seorang muslim, yang di ambil dari Eramuslim - Rubrik Tanya Jawab, semoga bermanfaat, ^_^
Pertanyaan ;
Assalamu’alaikum Ust, Pertanyaan saya: ketika seseorang meninggal dunia berarti rohnya sudah dicabut oleh Allah sedangkan alam kubur atau alam barzah adalam alam ke empat di mana seseorang akan berada di sana untuk menunggu alam akhirat tiba. Bagaimana keadaan seseorang yang dalam kuburan itu? apakah rohnya yang sudah dicabut akan dikembalikan ke jasad yang sudah di dalam kuburan itu sehingga ia kembali utuh seperti waktu ia hidup dan menunggu hari kiamat? Bagaimana juga keadaan seseorang yang sudah dalam kuburan itu ketika menjawab pertanyaan dari malaikat? apakah malaikat bertanya kepada jasad yg sudah dikubur itu saja atau rohnya sudah dipasang lagi ketika malaikat mau bertanya padahal saat kita meninggal kan roh kita sudah dicabut. minta penjelasannya.Trimakasih sebelumnya. Waalaikumussalam Wr Wb
Jawaban Ustadz Sigit Pranowo Lc ;
Saudara Marhamah yang dirahmati Allah swt
Didalam hadits yang diriwayatkan dari al Barro bin ‘Azib bahwasanya Rasulullah saw bersabda,”Berlindunglah kalian kepada Allah dari adzab kubur—beliau menyebutkan 2 atau 3 kali—kemudian berkata,’Sesungguhnya seorang hamba yang beriman apabila akan berakhir (hidupnya) di dunia dan akan mengawali akheratnya maka turunlah para malaikat dari langit dengan berwajah putih seperti matahari dengan membawa kain kafan dan wewangian dari surga dan mereka duduk disisinya sejauh mata memandang.
Kemudian datanglah malaikat maut dan duduk disebelah kepalanya dengan mengatakan,”Wahai jiwa yang tenang keluarlah menuju ampunan dari Allah dan keredhoan-Nya.’ Beliau saw bersabda,’Maka keluarlah ruhnya seperti tetesan air dari bibir orang yang sedang minum maka dia (malaikat maut) pun mengambilnya. Dan tatkala dia mengambilnya maka para malaikat (yang lain) tidaklah membiarkannya berada ditangannya walau hanya sesaat sehingga mereka mengambilnya dan menaruhnya diatas kafan yang terdapat wewangian hingga keluar darinya bau semerbak kesturi yang membuat wangi permukaan bumi.’
Beliau saw bersabda,’Mereka kemudian naik (ke langit) dengan membawa (ruh) orang itu dan tidaklah mereka melewati para malaikat kecuali mereka bertanya,’Ruh yang baik siapa ini?’ Mereka menjawab,’Fulan bin Fulan, dengan menyebutkan nama terbaik yang dimilikinya di dunia’ sehingga mereka berhenti di langit dunia. Mereka pun meminta agar dibukakan (pintu) baginya maka dibukalah (pintu itu) bagi mereka dan mereka berpindahlah ke langit berikutnya sehingga sampai ke langit ketujuh dan Allah mengatakan,’Tulislah kitab hamba-Ku ini di ‘illiyyin dan kembalikanlah ke bumi, sesungguhnya darinyalah Aku ciptakan mereka dan kepadanyalah Aku mengembalikan mereka dan darinya pula Aku mengeluarkan mereka sekali lagi.’
Beliau saw bersabda,’Dan ruh itu pun dikembalikan ke jasadnya. Kemudian datanglah dua malaikat yang mendudukannya dan bertanya kepadanya,’Siapa Tuhanmu?’ dia pun menjawab,’Tuhanku Allah.’ Keduanya bertanya lagi,’Apa agamamu?’ dia menjawab,’Agamaku Islam.’ Keduanya bertanya,’Siapa lelaki yang diutus kepada kalian ini?’ dia menjawab,’Dia adalah Rasulullah saw.’ Keduanya bertanya lagi,’Apa ilmumu?’ dia menjawab,’Aku membaca Al Qur’an, Kitab Allah, aku mengimaninya dan membenarkannya.’
Terdengarlah suara yang memanggil dari langit,’Karena kebenaran hamba-Ku maka hamparkanlah (suatu hamparan) dari surga, pakaikanlah dengan pakaian dari surga, bukakanlah baginya sebuah pintu menuju surga.’ Beliau saw bersabda,’maka terciumlah wanginya serta dilapangkan kuburnya sejauh mata memandang.’
Beliau bersabda,’Datanglah seorang laki-laki berwajah tampan, berbaju indah dengan baunya yang wangi mengatakan,’Bahagialah engkau di hari yang engkau telah dijanjikan.’ Orang (yang beriman) itu mengatakan,’Siapa angkau? Wajahmu penuh dengan kebaikan’ dia menjawab,’Aku adalah amal shalehmu.’ Orang itu mengatakan,’Wahai Allah, segerakanlah kiamat sehingga aku kembali kepada keluarga dan hartaku.’
Beliau saw bersabda,’Sesungguhnya seorang hamba yang kafir apabila akan berakhir (hidupnya) di dunia akan akan mengawali akheratnya maka turunlah para malaikat dari langit yang berwajah hitam dengan membawa kain dan merekapun duduk disisinya sejauh mata memandang kemudian datang malaikat maut dan duduk disebelah kepalanya dengan mengatakan,’Wahai jiwa yang buruk, keluarlah menuju amarah dan murka Allah.’
Beliau saw bersabda,’maka dipisahkanlah ruh dari jasadnya seperti duri yang dicabut dari kain yang basah kemudian malaikat (maut) pun mengambilnya dan tatkala malaikat maut mengambilnya maka mereka (malaikat lain) tidaklah membiarkannya berada di tangannya walau sesaat sehingga meletakkannya dikain itu dan dibawanya dengan bau bangkai busuk yang meyebar di permukaan bumi. Mereka pun membawanya dan tidaklah mereka melintasi malaikat kecuali mereka bertanya,’Ruh buruk milik siapa ini?’ mereka menjawa,’Fulan bin Fulan dengan menyebutkan nama yang paling buruknya di dunia.’
Kemudian mereka sampai di langit dunia dan meminta untuk dibukakan (pintu) baginya maka tidaklah dibukakan baginya kemudian Rasulullah saw membaca firman-Nya,”Sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga hingga unta masuk ke lobang jarum.” Kemudian Allah berkata,’Tulislah kitabnya di sijjin di bumi yang paling rendah maka ruhnya dilemparkan dengan satu lemparan. Kemudian beliau saw membaca,”Dan barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka dia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar burung, atau diterbangkan ke tempat yang jauh.’
Ruhnya pun dikembalikan ke jasadnya dan datanglah dua malaikat mendudukannya seraya bertanya,”Siapa Tuhanmu?’ maka dia menjawab,’a..a… aku tidak tahu.’ Keduanya bertanya.’Apa agamamu?’ dia menjawab,’a…a…aku tidak tahu.’ Keduanya bertanya,’Siapa laki-laki yang diutus kepadamu ini?’ dia menjawab,’a…a…aku tidak tahu.’ Maka terdengar seruan dari langit.’ Karena pendustaan (nya) maka hamparkanlah (suatu hamparan) dari neraka dan bukakan baginya suatu pintu munuju neraka dan terasalah panas serta angin panasnya bagi orang itu dan dia pun dihimpit oleh kuburnya sehingga hancur tulang-tulangnya.
Datanglah seorang laki-laki yang berwajah buruk dengan pakaian yang bau busuk dan mengatakan,”Bergembiralah kamu dihari yang buruk bagimu yang telah dijanjikan ini.’ Orang itu berkata,’Siapa kamu dengan wajahmu yang penuh dengan kajahatan.’ Dia menjawab,’Aku adalah amal burukmu.’ Orang itu pun berkata,’Wahai Allah janganlah engkau adakan kiamat.” (HR. Ahmad)
Hadits diatas menjelaskan tentang keadaan ruh seseorang saat berpisah dari jasadnya pada saat sakaratul maut. Kemudahan saat itu dialami oleh seorang yang beriman sementara kesulitan yang luar biasa dialami oleh seorang yang kafir.
Hadits itu pun menjelaskan bahwa ruh yang dibawa menuju langit setelah terlepas dari jasadnya kemudian dikembalikan lagi ke jasadnya di bumi untuk merasakan fitnah kubur, yaitu pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh dua malaikat tentang siapa tuhannya, nabi-Nya dan agamanya.
Seorang yang beriman diberikan kemudahan didalam menjawab pertanyaan itu, sebagaimana janji Allah swt kepadanya, firman-Nya :
يُثَبِّتُ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللّهُ مَا يَشَاء
Artinya : “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang dia kehendaki.” (QS. Ibrahim : 27
)
Sebaliknya dengan keadaan seorang yang kafir, ia tidak sanggup menjawab semua pertanyaan tersebut dikarenakan kekufurannya.
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa hadits itu memberikan pengetahuan bahwa ruh tetap ada setelah berpisah dari badannya berbeda dengan orang-orang sesat dari kalangan ahli kalam. Ruh itu juga naik (ke langit) dan turun (darinya) berbeda dengan orang-orang sesat dari kalangan ahli ilsafat. Serta ruh dikembalikan ke badan lalu orang yang meninggal itu akan ditanya maka ia akan mendapatkan nikmat atau adzab sebagaimana pertanyaan yang diajukan oleh malaikat penanya. Didalam kubur itu amal shaleh atau buruknya akan mendatanginya dengan suatu bentuk yang baik atau buruk.
Wallahu A’lam
Bila ingin memiliki karya beliau dari kumpulan jawaban jawaban dari Ustadz Sigit Pranowo LC di Rubrik Tanya-Jawab Eramuslim

Selasa, 03 September 2013

Nasehat Imam Syafe'i

Imam Al-Muzany bercerita: “Aku menemui Imam Asy-Syafi’iy menjelang beliau wafat, lalu kubertanya, “Bagaimana keadaanmu pada pagi ini, wahai Ustadzku?” Beliau menjawab, “Pagi ini aku akan melakukan perjalanan meninggalkan dunia, akan berpisah dengan kawan-kawanku, akan meneguk gelas kematian, akan menghadap kepada Allah dan akan menjumpai kejelekan amalanku. Aku tidak tahu: apakah diriku berjalan ke surga sehingga aku memberinya ucapan kegembiraan, atau berjalan ke neraka sehingga aku menghibur kesedihannya.”
Aku berkata, “Nasihatilah aku.” Asy-Syafi’iy berpesan kepadaku, “Bertakwalah kepada Allah, permisalkanlah akhirat dalam hatimu, jadikanlah kematian antara kedua matamu, dan janganlah lupa bahwa engkau akan berdiri di hadapan Allah. Takutlah terhadap Allah ‘Azza wa Jalla, jauhilah segalah hal yang Dia haramkan, laksanakanlah segala perkara yang Dia wajibkan, dan hendaknya engkau bersama Allah di manapun engkau berada.
Janganlah sekali-kali engkau menganggap kecil nikmat Allah kepadamu -walaupun nikmat itu sedikit- dan balaslah dengan bersyukur. Jadikanlah diammu sebagai tafakkur, pembicaraanmu sebagai dzikir, dan pandanganmu sebagai pelajaran. Maafkanlahorang yang menzhalimimu, sambunglah (silaturrahmi dari)orang yang memutus silaturahmi terhadapmu, berbuat baiklah kepada siapapun yang berbuat jelek kepadamu, bersabarlah terhadap segala musibah, dan berlindunglah kepada Allah dari api neraka dengan ketakwaan.” Aku berkata, “Tambahlah (nasihatmu) kepadaku.”
Beliau melanjutkan, “Hendaknya kejujuran adalah lisanmu, menepati janji adalah tiang tonggakmu, rahmat adalah buahmu, kesyukuran sebagai thaharahmu, kebenaran sebagai perniagaanmu, kasih sayang adalah perhiasanmu, kecerdikan adalah daya tangkapmu, ketaatan sebagai mata percaharianmu, ridha sebagai amanahmu, pemahaman adalah penglihatanmu, rasa harapan adalah kesabaranmu, rasa takut sebagai pakaianmu, shadaqah sebagai pelindungmu, dan zakat sebagai bentengmu. Jadikanlah rasa malu sebagai pemimpinmu, sifat tenang sebagai menterimu, tawakkal sebagai baju tamengmu, dunia sebagai penjaramu, dan kefakiran sebagai pembaringanmu. Jadikanlah kebenaran sebagai pemandumu, haji dan jihad sebagai tujuanmu, Al-Qur`an sebagai juru bicaramu dengan kejelasan, serta jadikanlah Allah sebagai Penyejukmu. Barangsiapa yang bersifat seperti ini, surga adalah tempat tinggalnya.”
Kemudian, Asy-Syafi’iy mengangkat pandangannya ke arah langit seraya menghadirkan susunan ta’bir. Lalu beliau bersya’ir, Kepada-Mu -wahai Ilah segenap makhluk, wahai Pemilik anugerah dan kebaikan- kuangkat harapanku, walaupun aku ini seorang yang bergelimang dosa Tatkala hati telah membatu dan sempit segala jalanku
kujadikan harapan pengampunan-Mu sebagai tangga bagiku Kurasa dosaku teramatlah besar, tetapi tatkala dosa-dosa itu kubandingkan dengan maaf-Mu -wahai Rabb-ku-, ternyata maaf-Mu lebihlah besar Terus menerus Engkau Maha Pemaaf dosa, dan terus menerus Engkau memberi derma dan maaf sebagai nikmat dan pemuliaan Andaikata bukan karena-Mu, tidak seorang pun ahli ibadah yang tersesat oleh Iblis bagaimana tidak, sedang dia pernah menyesatkan kesayangan-Mu, Adam
Kalaulah Engkau memaafkan aku, Engkau telah memaafkan seorang yang congkak, zhalim lagi sewenang-wenang yang masih terus berbuat dosa Andaikata Engkau menyiksaku, tidaklah aku berputus asa, walaupun diriku telah engkau masukkan ke dalam Jahannam lantaran dosaku Dosaku sangatlah besar, dahulu dan sekarang, namun maaf-Mu -wahai Maha Pemaaf- lebih tinggi dan lebih besar [Tarikh Ibnu Asakir Juz 51 hal. 430-431]
Sumber: http://dzulqarnain.net

Rabu, 14 Agustus 2013

Kerapatan Shaf Sholat Berjamaah Mendekatkan Rahmat Allah

Dari pengalaman pribadi sholat di mesjid kantorku ( Mesjid Nurul Muhajirin) di Ringroad, aku merasa nyaman dgn kerapihan dan kerapatan shaf nya (pada shaf perempuan) karena ada pemberitahuan di pampang di depan jamaah baik itu jamaah laki-laki maupun perempuan, sehingga kami jadi tahu bahwa shalat shafnya harus rapat dan rapi.
Namun saat aku sholat di salah satu mesjid terbesar di kotaku - Balikpapan, aku merasa jengah karena tidak adanya aturan shaf harus lurus dan rapat, sehingga jamaah yang datang dari berbagai kalangan tidak mengetahui bahwa shaf sholat harus rapat dan lurus, ( rapat disini adalah kaki antar jamaah saling bersentuhan dan kita berdiri dgn kaki agak terbuka sejajar dgn bahu kita ( krn untuk tempat saat kita duduk tasyahud) karenanya pada saat sholat tersebut karena tidak bersentuhan walaupun jamaahnya banyak aku merasa seperti sholat sendirian ( kurang nyaman dan membuatku tidak khusyu).
Terlebih lebih pada shaf wanita, kadang ada yang membawa sajadah sendiri yang ukurannya sekarang lumayan lebar, sehingga saat digelar dan berdiri ditengah sajadah tentunya masih banyak kelebihan tempat di sebelah kanan dan kiri, yang otomatis tidak bisa rapat kiri dan kanan. kalau boleh usul sebaiknya lebar sajadah diperkecil saja ( +/- menjadi 40 cm saja / sejadah.
Melihat itu aku langsung browsing artikel dan gambar yang mewajibkan kita merapatkan dan meluruskan shaf sholat. Dan aku berencana akan menempelkan di Mesjid tersebut agar semua jamaah tahu dan mengerti bagaimana seebaiknya cara sholat jamaah yang benar.. semoga Allah memudahkan niatku ini. Dan akupun ingin mensyiarkannya di Blog-ku ini. Agar sholat kita mendapat Rahmat Allah Swt.
Syaamilquran.com – Salah satu bagian penting dalam melaksanakan shalat berjamaah adalah kerapian shaf atau barisan makmum. Karena itu, sebelum shalat berjamaah, imam selalu mengingatkan makmum agar merapikan shaf-nya. Merapikan shaf merupakan cerminan dari Islam sebagai agama yang sangat memperhatikan kedisiplinan dan keteraturan hidup. Pengaturan shaf shalat bermakna kerapian yang cermat melebihi kerapian dan kedisiplinan militer.
Layaknya upacara kemiliteran, seorang imam bertanggung jawab memeriksa barisan atau shaf makmumnya. la harus menata dan merapikan shaf jamaahnya sebelum takbiratul ikram. Rasulullah Muhammad saw. bersabda, “Ratakan (rapat & lurus) shaf kalian, sebab meratakan shaf adalah termasuk kesempurnaan shalat” (HR. Bukhari­ & Muslim). Jadi tidak sempurna shalat jamaah kita jika tidak rapi shafnya.
Selain itu, imam tidak cukup berkata luruskan dan rapatkan shaf, lantas memulai shalat sedangkan shaf makmumnya masih belum rapi. Imam juga harus memberi pengarahan dan perhatian khusus kepada makmum yang belum sempurna posisinya. Berikut ini beberapa panduan mengatur kerapian shaf bagi imam dan makmum berdasar tuntunan Rasulullah saw.:
1. Sebelum memulai shalat, hendaknya imam memeriksa dan mengatur shaf makmum hingga benar-benar rapi. Nu’man bin Basyir ra berkata, “Rasulullah saw. meratakan shaf kami sebagaimana meratakan anak-anak panah sehingga beliau merasa bahwa kami telah memenuhi perintahnya itu dan benar-benar mengerti. Tiba-tiba suatu hari beliau menghadapkan wajahnya kepada kami dan melihat ada seseorang.yang menonjolkan dadanya ke depan, maka Nabi saw. bersabda, “Hendaklah kamu meratakan shafmu atau kalau tidak, maka Allah akan memperlainkan wajahmu (akan selalu dalam perselisihan dan sengketa) (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Nasai, Ibnu Majah, & Turmudzi).
2. Makmum dianjurkan mengisi shaf terdepan Nabi saw. bersabda, “Andaikata manusia tahu pahala yang tersedia untuk memenuhi panggilan azan serta shaf pertama, kemudian orang-orang itu tidak dapat memperolehnya kecuali dengan jalan undian, niscaya mereka akan merebutnya walau dengan cara undian itu” (HR. Bukhari)
3. Makmum memulai shaf dari tengah (persis di belakang imam) lalu berurutan ke kanan, baru kemudian mengisi barisan di sisi kiri. Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya memberi rahmat serta mendoakan supaya diberi rahmat bagi orang-orang yang shalat di yang sebelah kanan” (HR. Abu Daud & Ibnu Majah dari Aisyah ra).
Meski sebelah kanan harus dipenuhi dahulu, hendaknya posisi sang imam tetap di tengah. Nabi saw. bersabda, “Tempatkanlah imam itu di tengah dan penuhilah sela-sela shaf” (HR. Abu Daud dari Abu Hurairah ra). Meskipun secara sanad hadits ini dinyatakan lemah, namun secara makna dan isi-benar, karena sesuai dengan kesimpulan yang didapat dari sekumpulan hadits shahih terkait.
4. Hendaknya makmum tidak membuat shaf baru sebelum shaf di depannya terpenuhi. Di suatu hari ketika hendak memulai shalat berjamaah, Nabi saw. bersabda, “Tidakkah kalian ingin berbaris sebagaimana halnya malaikat di hadapan Allah?” Para sahabat bertanya, “Bagaimana cara malaikat berbaris di hadapan Allah?” Nabi saw. menjawab, “Mereka menyempurnakan dulu shaf pertama serta merapatkannya benar­benar” (HR. Jamaah dari Jabir bin Samurah ra).
5. Makmum mengisi atau menyambung shaf di depannya yang masih kosong/ putus. Nabi saw. bersabda, “Barang siapa menyambung shaf, maka hubungannya akan disambung pula oleh Allah. Dan barang siapa yang memutuskan shaf, maka hubungannya akan diputuskan pula oleh Allah” (HR. Nasai, Hakim, Ibnu Kuzaimah dari Ibnu Umar ra).
6. Meluruskan dan merapatkan shaf hingga dada atau bagian tubuh seseorang tidak lebih maju/mundur atau tala ada celah di antara orang yang ada di sisinya. Hendaknya makmum mendekat satu sama lain hingga bahu dan kaki saling menempel. Janganlah terpaku pada alas shalat atau sajadah hingga ada celah. Nabi saw. bersabda, “Ratakan shafmu, rapatkan bahu-bahumu, lunakkan tangan berdampingan dengan saudara­-saudaramu dan tutupilah sela-sela shaf itu. Karena sesungguhnya setan itu memasuki sela-sela itu tak ubahnya bagai anak kambing” (HR. Ahmad & Thabrani dari Abu Umamah). Semua ini menunjukkan bahwa merapikan shaf memiliki kedudukan penting dalam mendirikan, membaguskan, dan menyempurnakan shalat. Kerapian shaf mengandung keutamaan, pahala, menghimpun dan menyatukan hati kaum muslimin, dan pertolongan Allah Swt. pun niscaya semakin dekat.
(Sumber: Majalah Al Falah, September 2008)
Semoga dengan mengetahui hikmah dari shaf yang rapat dan lurus, diantara kita sebagai sesama muslim sholatnya menjadi lebih khusyu dan memiliki rasa kebersamaan dan kekeluargaan yang tinggi. aamiin.. yang mau copaz, dipersilahkan agar lebih banyak sahabat muslim kita yang tahu..:D

Selasa, 30 Juli 2013

Bertanyalah Selalu Terlebih Dahulu

Dalam sebuah peperangan, Ali bin Abi Thalib berhasil menjungkalkan lawan tandingnya. Ketika akan menebaskan pedangnya, orang itu segera meludahi wajah Ali. Dengan refleks, Ali menarik tangannya. Ia pun tidak jadi membunuh lawannya. Ali, kenapa engkau tidak jadi membunuhku? tanya orang itu heran. “Aku khawatir membunuhmu bukan karena Allah, tetapi karena engkau meludahiku!.” Sungguh luar biasa.
Ali masih mampu mengandalikan diri walau dalam kondisi kritis. Kisah ini memberikan pelajaran berharga, kita harus mampu mengendalikan diri dalam berbagai situasi, tempat dan waktu berbeda. Tak heran bila mengendalikan diri tergolong jihad an-nafs. Sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW bahwa perang melawan diri (nafsu) lebih berat dari Perang Badar.
Kata kunci mengendalikan diri adalah mampu mengendalikan nafsu
.
Kita dapat mengumpamakan nafsu sebagai kuda dan setan sebagai pelatihnya. Ketika kuda itu tunduk kepada kita -bukan kepada setan-, maka kita mampu menghemat energi dan mampu mencapai tujuan dengan lebih cepat. Namun sebaliknya, kalau kuda (nafsu) itu tidak terkendali, maka kita akan seperti rodeo, terombang-ambing, terpelanting lalu binasa.
Salah satu tabiat nafsu adalah tidak seimbangnya antara kesenangan yang didapat dengan akibat yang harus dipikul. Memakan makanan haram misalnya. Rasanya memang enak, tapi hanya sebentar saat di mulut saja. Mudaratnya pun sungguh luar biasa, doa kita tidak diterima, hati menjadi gelisah, bisa menghancurkan rumahtangga, harta jadi tidak berkah, merusak mental anak, dsb. Belum lagi api neraka yang siap menyambut.
Begitu pula dengan pandangan tak terjaga. Melihatnya hanya beberapa saat, tapi bayangannya sulit dilupakan. Shalat pun jadi tidak khusyuk. Maka, kita jangan sekali-kali meremehkan nafsu. Karena bila tak terkendali dapat menghancurkan hidup kita.
Ada banyak segi yang harus selalu kita kendalikan, khususnya saat Ramadhan seperti sekarang. Seperti panca indra, perut, syahwat, ataupun perasaan.
Andai kita memandang, tahanlah sekuat mungkin dari sesuatu yang diharamkan. Segera berpaling karena Allah SWT melihat yang kita lakukan. Ketika mau menonton TV bertanyalah, Haruskah saya nonton acara ini? Apa ini berpahala? Kalau tidak, matikanlah segera TV tersebut. Untuk lebih menjaga pandangan ada baiknya di samping tempat tidur kita sediakan Alquran agar mudah dibaca, atau siapkan buku bacaan di sekitar tempat kita beraktivitas agar kita selalu terkondisi untuk melakukan hal-hal yang positif.
Mengendalikan nafsu perut juga tidak kalah penting. Bertanyalah selalu sebelum menyantap makanan. Apakah saya harus membeli makanan semahal ini? Apakah saya harus makan sebanyak ini? Apakah yang saya makan ini terjamin kehalalannya? Mana yang lebih baik, saya makan makanan sederhana dengan kalori yang sama dan sisa uangnya disedekahkan?. Kalau kita terus bertanya maka nikmat makan akan pindah; bukan dari nikmat rasa lagi tapi nikmat syukur.
Begitu pula ketika hendak berbelanja, proses bertanya harus selalu dilakukan sebagai alat mengendalikan keinginan dan nafsu. Luruskan niat terlebih dahulu. Jangan sekadar ingin, sehingga mengabaikan perhitungan. Lebaran tidak harus mengenakan baju atau aksesoris baru. Lebih baik kita memanfaatkan pakaian yang ada. Andai pun mau, sedekahkan uang tersebut kepada anak-anak yatim dan fakir miskin. Insya Allah akan lebih berkah.
Dengan terus bertanya kepada hati, insya Allah kita akan memiliki pengendalian diri yang baik. Apalagi yang kita miliki kalau kita tidak bisa mengendalikan diri dan terus ditipu serta diperbudak hawa nafsu. Apalagi yang berharga pada diri kita? Sungguh, tidak ada kemuliaan bagi orang-orang yang memperturutkan hawa nafsu yang tidak di jalan Allah SWT. Kemuliaan hanya bagi orang yang bersungguh-sungguh mengendalikan dan memelihara kesucian dirinya. Wallahu a’lam .
*** republika.co.id

Rabu, 16 Mei 2012

Malaikat yang Mendatangi Orang Sakit

Tak perlu Anda bersedih dalam sakit karena itu adalah ujian dalam ibadah Anda. Salah satu bukti kasih sayang-NYA adalah, Tuhan mengutus 4 malaikat untuk selalu menjaga kita dalam sakit. Berikut adalah penjelasannya;
“Apabila seorang hamba yang beriman menderita sakit, maka Allah memerintahkan kepada para malaikat agar menulis perbuatan yang terbaik yang dikerjakan hamba mukmin itu pada saat sehat dan pada saat waktu senangnya.”
Ujaran Rasulullah SAW tsb diriwayatkan oleh Abu Imamah al Bahili. Dalam hadist yang lain Rasulullah bersabda : “Apabila seorang hamba mukmin sakit, maka Allah mengutus 4 malaikat untuk datang padanya.” Allah memerintahkan :
1. Malaikat pertama untuk mengambil kekuatannya sehingga menjadi lemah. 2. MAlaikat kedua untuk mengambil rasa lezatnya makanan dari mulutnya 3. Malaikat ketiga untuk mengambil cahaya terang di wajahnya sehingga berubahlah wajah si sakit menjadi pucat pasi. 4. Malaikat keempat untuk mengambil semua dosanya , maka berubahlah si sakit menjadi suci dari dosa.
Tatkala Allah akan menyembuhkan hamba mukmin itu, Allah memerintahkan kepada malaikat 1, 2 dan 3 untuk mengembalikan kekuatannya, rasa lezat, dan cahaya di wajah sang hamba. Namun untuk malaikat ke 4 , Allah tidak memerintahkan untuk mengembalikan dosa2nya kepada hamba mukmin.
Maka bersujudlah para malaikat itu kepada Allah seraya berkata : “Ya Allah mengapa dosa2 ini tidak Engkau kembalikan?” Allah menjawab: “Tidak baik bagi kemuliaan-Ku jika Aku mengembalikan dosa2nya setelah Aku menyulitkan keadaan dirinya ketika sakit. Pergilah dan buanglah dosa2 tersebut ke dalam laut.”
Dengan ini, maka kelak si sakit itu berangkat ke alam akhirat dan keluar dari dunia dalam keadaan suci dari dosa sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Sakit panas dalam sehari semalam, dapat menghilangkan dosa selama setahun.” (situs lakalaka.com)
From: Mofd’s Blog 28/01/12

Jumat, 30 Desember 2011

Beradaptasi Dengan Maksiat

By. Toni Tegar Sahidi
Ini kisah yang cukup populer. Saya pertama kali mendengarnya sekitar tahun 2003 di sebuah kampus di Surabaya. Ijinkan saya untuk menyampaikannya kembali bagi Anda Alkisah, ada seorang ilmuwan ingin mengadakan eksperimen. Untuk itu ia harus merebus seekor katak hidup-hidup. Ia pun menyiapkannya. Diambilnya sebuah panci, diisinya dengan air secukupnya lalu diletakkan di atas tungku. Dengan sabar ia menunggu hingga air mendidih. Air pun mendidih lalu diambillah si katak malang, lalu dimasukkanlah katak tersebut ke air yang tengah mendidih tersebut.
Namun apa yang terjadi? Si katak yang merasakan suhu yang berubah drastis kontan sigap. Ia kaget, ia tanggap, katak pun kontan melompat keluar dari panci. Si Katak kali ini selamat. Namun si ilmuwan yang gagal dengan percobaan pertamanya tak kehilangan akal. Kali ini ia menyiapkannya dengan cara yang berbeda.
Diambilnya lagi sebuah panci yang lain, dan sama seperti sebelumnya, ia isi dengan air lalu ia letakkan ke atas tungku. Namun sebelum ia nyalakan tungkunya, dengan air dalam kondisi masih dingin, ia masukkan si katak ke dalam panci. Si katak yang memang biasa dengan air, pun merasa nyaman-nyaman saja dengan kondisi ini, toh hitung-hitung mandi berendam. Si ilmuwan pun menyalakan tungkunya, namun kali ini apinya kecil saja agar air tak cepat mendidih. Perlahan namun pasti air dalam panci pun menjadi kian hangat. Namun si Katak masih nyaman-nyaman saja, “sekalian mandi air hangat” begitu pikirnya. Namun air pun kian menghangat, dan menghangat, si katak masih merasa nyaman dan aman. Hingga satu titik, ketika air sudah mulai sangat panas, kali ini si katak sudah tak tahan, ia mencoba melompat. Namun sayang, kali ini ia tak bisa. Air sudah terlalu panas dan si katak sudah terlalu lemah. Akhirnya si Katak pun mati, terebus bersama air panas tersebut.
Sadar atau tidak, adakalanya kita menemukan orang-orang yang menjadi katak ini. Atau jika mau jujur bercermin, boleh jadi kita-lah katak tersebut. Ketika seorang shalih diajak untuk bermaksiat terang-terangan sudah pasti ia akan menolak. Namun syaithan sungguh cerdas, alih-alih langsung terang-terangan, setan akan mendekatinya dengan perlahan-lahan, membuainya hingga terasa aman, nyaman, menjadi kebiasaan, hingga akhirnya yang ada hanyalah penyesalan. Sadar atau tidak, si shalih terlah beradaptasi terhadap kemaksiatan.
Jika api besar dan air mendidih adalah dosa besar, maka api kecil adalah dosa-dosa kecil yang kita biarkan, yang kita anggap biasa, lumrah, wajar, atau bahkan kita merasa nyaman-nyaman saja dengannya. Sebagaimana air hangat yang melenakan, pelan namun pasti dosa kecil kian memanaskan kita hingga suhu yang membinasakan.
Terlebih manusia sering meremehkan ha-hal yang ada embel-embelnya “kecil”, batu kecil, uang kecil, anak kecil, dan termasuk pula dosa kecil. Sehingga tak jarang kita pun tak ambil pusing dengan dosa-dosa kecil yang kita perbuat. Jangankan taubat, istighfar pun seolah tak sempat. Kita merasa aman, kita nyaman, padahal ini strategi jitu syaithan yang menyesatkan,
Maka benarlah Rasulullah yang mengajak kita untuk mewaspadai dosa-dosa kecil. Dalam sebuah hadits riwayat Ahmad Rasulullah bersabda, “Hati-hatilah terhadap dosa-dosa kecil. Hal itu tidak ubahnya seperti sekelompok orang yang turun ke sebuah lereng gunung. Mereka masing-masing membawa sebatang ranting kayu sehingga dengan ranting-ranting kayu itu bisa mereka masak roti. Dosa-dosa kecil kapan saja di lakukan oleh seseorang ia akan menjadi celaka”. Karena memang dosa kecil yang dibirkan ibarat titik kecil yang ditoreh dia atas kertas. Satu titik memang tak ada apa-apanya dibandingkan luasnya putih kertas. Namun jika ditorehkan berkali-kali , dan berkali-kali, tanpa henti, tanpa pernah kita menghapusnya, pada akhirnya kita pun merasa asing dengan warna putih kertas semula. Maka lihat, apa yang kita anggap sepele, satu titik hitam di kertas putih, namun jika diteruskan maka putihnya kertas kan berubah menjadi hitam.
Inilah cerdasnya syaithan, tak diajaknya seorang ustadz untuk langsung berzina, diajaknya ia untuk sekedar memandang sambil berkata “toh ini cuman memandang”, berlanjut saling SMS-an dengan perkataan yang sama “toh cuma SMS”, berlanjut memberi perhatian, pertemuan, pegang tangan, pacaran dan seterusnya sampai terjadilah zina. Sampai disinipun adakalanya timbul kerasnya hati, “toh nanti bisa bertaubat”. Bahkan ampunanNya pun kini dianggapnya remeh.Tak diajaknya seorang muslim untuk langsung murtad.
Dihembuskannya sedikit demi sedikit apa yang menarik hatinya, bisa lawan jenis, jabatan, kedudukan, harta, atau hal-hal non materi seperti jaminan, kebebasan ataupun kemenangan. Dibuatlah sedikit demi sedikit apa yang bertentangan dengan agama menjadi indah, dan kita pun terpesona dengannya. Disisi lain ditampakkanlah agamanya dengan sesuatu yang buruk-buruk, dianggap kuno, nggak gaul, radikal, teroris. Dibuatlah kita membenci apa yang selama ni kita yakini, di awal kita mendiamkan teman yang menjelek-jelekkan agama, esoknya kita lah yang membelanya, bahkan menggantikannya berbicara hal sama. Dibuatlah ucapan soal Tuhan, Surga dan Neraka adalah dongeng khayalan orang terdahulu, tanpa sadar kita pun mengangguk-angguk. Pelan tanpa pasti, sadar atau tidak, akidah itu pun lepas begitu saja.
Sebagaimana saya, boleh jadi Anda pun menemuinya di sekitar kita. Ada teman yang dahulunya ketua rohis, kini berubah layaknya preman. Ada yang dahulunya begitu aktif ikut pengajian, kini alergi dengan hal-hal keislaman. Ada yang dahulu begitu rapat ia menutup aurat, kini begitu nyaman ia buka-bukaan. Bahkan ada pula yang dahulu ikut sholat dengan khusyuknya, namun kini berpindah agama, menyembah selain Allah yang Esa. Dan begitulah cara syaithan menyesatkan anak adam. Sebagaimana kisah katak yang direbus, begitulah manusia dijerumuskan perlahan-lahan, begitu sadar semuanya sudah terlambat. Luka fisik, rasa, isak tangis, penjara, hamil luar nikah, ataupun cacat seumur hidup sungguh masih tak ada apa-apanya dibanding panasnya nyala neraka akibat tiadanya taubat.
Sesal di dunia masih ada obatnya, sesal di akhirat hendak kemana kita lari dari siksaNya? Maka sebelum terlambat, sudah saatnya kita bangun, tanggap, sadar, dan segera melompat dari panci dosa-dosa kecil, sebelum panasnya membuat kita kian terlena, lalu binasa. Mengutip nasehat sahabat saya, pada akhirnya kita harus sadar bahwa ini bukan soal besar kecilnya sebuah maksiat, namun yang terpenting ialah, kepada siapa kita bermaksiat?
tonitegarsahidi@gmail.com Malang 3 Agustus 2011 “Menanti si katak Melompat Keluar” FROM: ERAMUSLIM-Oase Iman 15/09/11

Curhat Lelaki Sholeh

Pengen tahu bagaimana sih isi hati seorang lelaki yang sholeh mengenai wanita..?? bacalah catatan ini ;
Kamu tau kenapa saya suka wanita itu pakai jilbab? jawabannya sederhana karena mata saya susah diajak kompromi. Bisa dibayangkan bagaimana saya harus mengontrol mata saya ini mulai dari keluar pintu rumah sampai kembali masuk ke rumah lagi. Dan kamu tau? di kampus, tempat saya seharian di sana, kemana arah mata memandang selalu saja membuat mata saya terbelalak. Hanya dua arah yang bisa membuat saya tenang, mendongak ke atas langit atau menunduk ke tanah.
Melihat ke depan ada perempuan berlenggok dengan seutas "TANK TOP", noleh ke kiri pemandangan "Pinggul Terbuka", menghindar ke kanan ada sajian "Celana Ketat plus You Can See", balik ke belakang dihadang oleh "Dada Menantang!" Astaghfirullah... kemana lagi mata ini harus memandang.
Kalau saya berbicara nafsu, ow jelas sekali saya suka. Kurang merangsang itu mah! tapi sayang, saya tidak mau hidup ini dibaluti dengan nafsu. Saya juga butuh hidup dengan pemandangan yang membuat saya tenang. Saya ingin melihat wanita bukan sebagai objek pemuas mata. Tetapi mereka adalah sosok yang anggun, mempesona, kalau dipandang bikin sejuk di mata. Bukan paras yang membikin mata panas, membuat iman lekas ditarik oleh pikiran "ngeres" dan hati pun menjadi keras.
Andai wanita itu mengerti apa yang sedang dipikirkan laki-laki ketika melihat mereka berpakaian seksi, saya yakin mereka tidak mau tampil seperti itu lagi. Kecuali bagi mereka yang mempunyai niat untuk menarik laki-laki untuk memakai aset berharga yang mereka punya.
Istilah seksi kalau saya defenisikan berdasar katanya adalah penuh daya tarik seks. Kalau ada wanita yang dibilang seksi oleh para lelaki, janganlah berbangga hati dulu. Sebagai seorang manusia yang mempunyai fitrah dihormati dan dihargai semestinya anda malu, karena penampilan seksi itu sudah membuat mata lelaki menelanjangi anda, membayangkan anda adalah objek syahwat dalam alam pikirannya. Berharap anda melakukan lebih seksi, lebih... dan lebih lagi. Dan anda tau apa kesimpulan yang ada dalam benak sang lelaki? yaitu: anda bisa diajak untuk begini dan begitu alias gampangan.
Mau tidak mau, sengaja ataupun tidak anda sudah membuat diri anda tidak dihargai dan dihormati oleh penampilan anda sendiri yang anda sajikan pada mata lelaki. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada diri anda, apa itu dengan kata-kata yang menyeleneh, pelecehan seksual atau mungkin sampai pada perkosaan. Siapa yang semestinya disalahkan? Saya yakin anda menjawabnya "Lelaki" bukan? Oh betapa tersiksanya menjadi seorang lelaki di jaman sekarang ini.
Kalu boleh saya ibaratkan, tak ada pembeli kalau tidak ada yang jual. Simpel saja, orang pasti akan beli kalau ada yang nawarin. Apalagi barang bagus itu gratis, wah pasti semua orang akan berebut untuk menerima. Nah apa bedanya dengan anda menawarkan penampilan seksi anda pada khalayak ramai, saya yakin siapa yang melihat ingin mencicipinya. Begitulah seharian tadi saya harus menahan siksaan pada mata ini. Bukan pada hari ini saja, rata-rata setiap harinya. Saya ingin protes, tapi mau protes ke mana? Apakah saya harus menikmatinya...? tapi saya sungguh takut dengan Zat yang memberi mata ini. Bagaimana saya nanti mempertanggungjawabkannya? sungguh dilema yang berkepanjangan dalam hidup saya.
Allah Ta'ala berfirman: "Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan menahan kemaluannya", yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita beriman Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya." (QS. An-Nuur: 30-31)
Jadi tak salah bukan kalau saya sering berdiam di ruangan kecil ini, duduk di depan komputer menyerap sekian juta elektron yang terpancar dari monitor, saya hanya ingin menahan pandangan mata ini. Biarlah mata saya ini rusak oleh radiasi monitor, daripada saya tak bisa pertanggungjawabkan nantinya. Jadi tak salah juga bukan? kalau saya paling malas diajak ke mall, jjs, kafe, dan semacam tempat yang selalu menyajikan keseksian.
Saya yakin, banyak lelaki yang mempunyai dilema seperti saya ini, mungkin ada yang menikmati, tetapi sebagian besar ada yang takut dan bingung harus berbuat apa. Bagi anda para wanita apakah akan selalu bahkan semakin menyiksa kami sampai kami tidak mampu lagi memikirkan mana yang baik dan mana yang buruk. Kemudian terpaksa mengambil kesimpulan menikmati pemandangan yang anda tayangkan?
So, berjilbablah..... karena itu sungguh nyaman, tentram, anggun, cantik, mempesona, dan tentunya sejuk di mata. ♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥ From : Blog .Renungan & Kisah Inspiratif

Hati-hati dgn Foto Pribadi di FB

Aku tengah menasehati kalian, bukan berarti aku orang yang terbaik diantara kalian, bukan pula orang yang paling shalih diantara kalian.
Sungguh.....
Andaikata seorang muslim,tidak memberi nasehat kepada saudaranya, kecuali setelah dirinya menjadi orang yang sempurna,niscaya tidak akan ada yang mengajak pada kebaikan, dan tidak ada pula yang mencegah pada kemungkaran.
Duh..Ukhty sayang, lekuk tubuhmu sangatlah indah, bibirmu sangat mempesona Relakah engkau jika ada orang lain yang menyimpan gambarmu, membawamu serta ke dalam tidurnya bahkan mencumbui gambarmu?
Coba renungkan sayang, tidakkah engkau jijik membayangkan semua itu? Ada orang asing yang akan berbuat seenaknya terhadap gambarmu ??Di tengah naik turun iman ku,,, mungkin bisa merubah ku menjadi jahat.
Beruntung selama ini aku memiliki teman-teman yang soleh dan solehah. Hingga nafsu ku teredam oleh senyuman keimanan sahabat..
Insya Allah akan menghantar kita bersama, untuk menuju pada kebahagiaan abadi,dalam surga-Nya..
Semoga kita semua mendapatkan teman hidup yang soleh dan solehah…….Aamiin. ^__^
Note: Karena itu pict profile di Facebook, saya ganti dengan gambar bunga atau kupu2 yang saya suka, menurut saya itu lebih aman.. dan maunya sih sedikit mungkin foto2 pribadi kita yang terlihat jelas ada di FB.
Teringat bahwa Bidadari Syurga adalah wanita yang bentuk tubuh/rupanya tidak pernah terlihat oleh mata, baik dari golongan manusia dan jin, maka jika foto diri kita atau kehadiran kita lebih sedikit yang melihatnya, saya mengambil kesimpulan berarti kita mendekati / seperti "Bidadari Dunia", semoga..:D
Mari kita bersama2 menghindari diri dari maksiat-maksiat kecil..:P

Rabu, 01 Juni 2011

Dialog Rasulullah Saw. dan Iblis

Allah SWT telah memerintahkan seorang Malaikat menemui Iblis supaya dia menghadap Rasulullah saw untuk memberitahu segala rahasianya, baik yang disukai maupun yang dibencinya. Hikmatnya ialah untuk meninggikan derajat Nabi Muhammad SAW dan juga sebagai peringatan dan perisai kepada umat manusia.

Maka Malaikat itu pun berjumpa Iblis dan berkata, “Hai Iblis! Bahwa Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar memberi perintah untuk menghadap Rasullullah saw. Hendaklah engkau buka segala rahasiamu dan apapun yang ditanya Rasulullah hendaklah engkau jawab dengan sebenar-benarnya. Jikalau engkau berdusta walau satu perkataan pun, niscaya akan terputus semua anggota badanmu, uratmu, serta disiksa dengan azab yang amat keras.”

Mendengar ucapan Malaikat yang dahsyat itu, Iblis sangat ketakutan. Maka segeralah dia menghadap Rasulullah SAW dengan menyamar sebagai seorang tua yang buta sebelah matanya dan berjanggut putih 10 helai, panjangnya seperti ekor lembu.
Iblis pun memberi salam, sehingga 3 kali tidak juga dijawab oleh Rasulullah saw. Maka sambut Iblis (alaihi laknat),

“Ya Rasulullah! Mengapa engkau tidak mejawab salamku? Bukankah salam itu sangat mulia di sisi Allah?” Maka jawab Nabi dengan marah, “Hai Aduwullah seteru Allah! Kepadaku engkau menunjukkan kebaikanmu? Janganlah mencoba menipuku sebagaimana kau tipu Nabi Adam a.s sehingga keluar dari syurga, Habil mati teraniaya dibunuh Qabil dengan sebab hasutanmu, Nabi Ayub engkau tiup dengan asap beracun ketika dia sedang sujud sembahyang hingga dia sengsara beberapa lama, kisah Nabi Daud dengan perempuan Urya, Nabi Sulaiman meninggalkan kerajaannya karena engkau menyamar sebagai isterinya dan begitu juga beberapa Anbiya dan pendeta yang telah menanggung sengsara akibat hasutanmu.

Hai Iblis! Sebenarnya salam itu sangat mulia di sisi Allah azza wajalla, cuma salammu saja aku tidak hendak menjawabnya karena diharamkan Allah. Maka aku kenal baik-baik engkaulah Iblis, raja segala iblis, syaitan dan jin yang menyamar diri. Apa kehendakmu datang menemuiku?”

Taklimat Iblis, “Ya Nabi Allah! Janganlah engkau marah. Karena engkau adalah Khatamul Anbiya maka dapat mengenaliku. Kedatanganku adalah diperintah Allah untuk memberitahu segala tipu dayaku terhadap umatmu dari zaman Nabi Adam hingga akhir zaman. Ya Nabi Allah! Setiap apa yang engkau tanya, aku bersedia menerangkan satu persatu dengan sebenarnya, tiadalah aku berani menyembunyikannya.”

Maka Iblis pun bersumpah menyebut nama Allah dan berkata, “Ya Rasulullah! Sekiranya aku berdusta barang sepatah pun niscaya hancur leburlah badanku menjadi abu.”
Apabila mendengar sumpah Iblis itu, Nabi pun tersenyum dan berkata dalam hatinya, inilah satu peluangku untuk menyiasati segala perbuatannya agar didengar oleh sekalian sahabat yang ada di majlis ini dan menjadi perisai kepada seluruh umatku.

Pertanyaan Nabi (1):
“Hai Iblis! Siapakah sebesar-besar musuhmu dan bagaimana aku terhadapmu?”
Jawab Iblis:
“Ya Nabi Allah! Engkaulah musuhku yang paling besar di antara segala musuhku di muka bumi ini.”

Maka Nabi pun memandang muka Iblis, dan Iblis pun menggeletar karena ketakutan. Sambung Iblis, “Ya Khatamul Anbiya! Ada pun aku dapat merubah diriku seperti sekalian manusia, binatang dan lain-lain hingga rupa dan suara pun tidak berbeda, kecuali dirimu saja yang tidak dapat aku tiru karena dicegah oleh Allah.
Kiranya aku menyerupai dirimu, maka terbakarlah diriku menjadi abu. Aku cabut iktikad / niat anak Adam supaya menjadi kafir karena engkau berusaha memberi nasihat dan pengajaran supaya mereka kuat untuk memeluk agama Islam, begitu jugalah aku berusaha menarik mereka kepada kafir, murtad atau munafik. Aku akan menarik seluruh umat Islam dari jalan benar menuju jalan yang sesat supaya masuk ke dalam neraka dan kekal di dalamnya bersamaku.”

Pertanyaan Nabi (2):
“Hai Iblis! Bagaimana perbuatanmu kepada makhluk Allah?”
Jawab Iblis:
“Adalah satu kemajuan bagi perempuan yang merenggangkan kedua pahanya kepada lelaki yang bukan suaminya, setengahnya hingga mengeluarkan benih yang salah sifatnya. Aku goda semua manusia supaya meninggalkan sholat, terbuai dengan makan minum, berbuat durhaka, aku lalaikan dengan harta benda daripada emas, perak dan permata, rumahnya, tanahnya, ladangnya supaya hasilnya dibelanjakan ke jalan haram.
Demikian juga ketika pesta yang bercampur antara lelaki dan perempuan. Disana aku lepaskan sebesar-besar godaan supaya hilang peraturan dan minum arak. Apabila terminum arak itu maka hilanglah akal, fikiran dan malunya. Lalu aku ulurkan tali cinta dan terbukalah beberapa pintu maksiat yang besar, datang perasaan hasad dengki hingga kepada pekerjaan zina. Apabila terjadi kasih antara mereka, terpaksalah mereka mencari uang hingga menjadi penipu, peminjam dan pencuri.

Apabila mereka teringat akan salah mereka lalu hendak bertaubat atau berbuat amal ibadat, aku akan rayu mereka supaya mereka menangguhkannya. Bertambah keras aku goda supaya menambahkan maksiat dan mengambil isteri orang. Bila kena goda hatinya, datanglah rasa ria, takabur, megah, sombong dan melengahkan amalnya. Bila pada lidahnya, mereka akan gemar berdusta, mencela dan mengumpat. Demikianlah aku goda mereka setiap saat.”

Pertanyaan Nabi (3):

“Hai Iblis! Mengapa engkau bersusah payah melakukan pekerjaan yang tidak mendatangkan faedah bahkan menambahkan laknat yang besar serta siksa yang besar di neraka yang paling bawah? Hai yang dikutuk Allah! Siapa yang menjadikanmu? Siapa yang melanjutkan usiamu? Siapa yang menerangkan matamu? Siapa yang memberi pendengaranmu? Siapa yang memberi kekuatan anggota badanmu?”

Jawab Iblis:
“Semuanya itu adalah anugerah daripada Allah Yang Maha Besar juga. Tetapi hawa nafsu dan takabur membuatku menjadi jahat sebesar-besarnya. Engkau lebih tahu bahwa Diriku telah beribu-ribu tahun menjadi ketua seluruh Malaikat dan pangkatku telah dinaikkan dari satu langit ke satu langit yang tinggi. Kemudian Aku tinggal di dunia ini beribadat bersama sekalian Malaikat beberapa waktu lamanya.

Tiba-tiba datang firman Allah SWT hendak menjadikan seorang Khalifah di dunia ini, maka akupun membantah. Lalu Allah menciptakan lelaki (Nabi Adam) lalu dititahkan seluruh Malaikat memberi hormat kepada lelaki itu, kecuali aku yang ingkar. Oleh karena itu Allah murka kepadaku dan wajahku yang tampan rupawan dan bercahaya itu bertukar menjadi keji dan kelam. Aku merasa sakit hati. Kemudian Allah menjadikan Adam raja di syurga dan dikurniakan seorang permaisuri (Siti Hawa) yang memerintah seluruh bidadari. Aku bertambah dengki dan dendam kepada mereka.

Akhirnya aku berhasil menipu mereka melalui Siti Hawa yang menyuruh Adam memakan buah Khuldi, lalu keduanya diusir dari syurga ke dunia. Keduanya berpisah beberapa tahun dan kemudian dipertemukan Allah (di Padang Arafah), hingga mereka mendapat beberapa orang anak. Kemudian kami hasut anak lelakinya Qabil supaya membunuh saudaranya Habil. Itu pun aku masih tidak puas hati dan berbagai tipu daya aku lakukan hingga Hari Kiamat.

Sebelum Engkau lahir ke dunia, aku beserta bala tentaraku dengan mudah dapat naik ke langit untuk mencuri segala rahasia serta tulisan yang menyuruh manusia berbuat ibadat serta balasan pahala dan syurga mereka. Kemudian aku turun ke dunia, dan memberitahu manusia yang lain daripada apa yang sebenarnya aku dapatkan, dengan berbagai tipu daya hingga tersesat dengan berbagai kitab bid’ah dan carut-marut.
Tetapi ketika engkau lahir ke dunia ini, maka aku tidak dibenarkan oleh Allah untuk naik ke langit serta mencuri rahasia, kerana banyak Malaikat yang menjaga di setiap lapisan pintu langit. Jika aku berkeras juga hendak naik, maka Malaikat akan melontarkan anak panah dari api yang menyala. Sudah banyak bala tenteraku yang terkena lontaran Malaikat itu dan semuanya terbakar menjadi abu. Maka besarlah kesusahanku dan bala tentaraku untuk menjalankan tugas menghasut.”

Pertanyaan Nabi (4):
“Hai Iblis! Apakah yang pertama engkau tipu dari manusia?”
Jawab Iblis:
“Pertama sekali aku palingkan iktikad / niatnya, imannya kepada kafir juga ada dari segi perbuatan, perkataan, kelakuan atau hatinya. Jika tidak berhasil juga, aku akan tarik dengan cara mengurangi pahala. Lama-kelamaan mereka akan terjerumus mengikut kemauan jalanku”

Pertanyaan Nabi (5):
“Hai Iblis! Jika umatku sholat karena Allah, bagaimana keadaanmu?”
Jawab Iblis:
“Sebesar-besarnya kesusahanku. Gementarlah badanku dan lemah tulang sendiku. Maka aku kerahkan berpuluh-puluh iblis datang menggoda seorang manusia, pada setiap anggota badannya.
Setengah-setengahnya datang pada setiap anggota badannya supaya malas sholat, was-was, terlupa bilangan rakaatnya, bimbang pada pekerjaan dunia yang ditinggalkannya, sentiasa hendak cepat habis sholatnya, hilang khusyuknya – matanya sentiasa menjeling ke kiri kanan, telinganya senantiasa mendengar orang bercakap serta bunyi-bunyi yang lain. Setengah Iblis duduk di belakang badan orang yang sembahyang itu supaya dia tidak kuasa sujud berlama-lama, penat atau duduk tahiyat dan dalam hatinya senantiasa hendak cepat habis sholatnya, itu semua membawa kepada kurangnya pahala. Jika para Iblis itu tidak dapat menggoda manusia itu, maka aku sendiri akan menghukum mereka dengan seberat-berat hukuman.”

Pertanyaan Nabi (6):
“Jika umatku membaca Al-Quran karena Allah, bagaimana perasaanmu?”
Jawab Iblis:
“Jika mereka membaca Al-Quran karena Allah, maka rasa terbakarlah tubuhku, putus-putus segala uratku lalu aku lari daripadanya.”

Pertanyaan Nabi (7):
“Jika umatku mengerjakan haji karena Allah, bagaimana perasaanmu?”
Jawab Iblis:
“Binasalah diriku, gugurlah daging dan tulangku karena mereka telah mencukupkan rukun Islamnya.”

Pertanyaan Nabi (8):
“Jika umatku berpuasa karena Allah, bagaimana keadaanmu?”
Jawab Iblis:
“Ya Rasulullah! Inilah bencana yang paling besar bahayanya kepadaku. Apabila masuk awal bulan Ramadhan, maka memancarlah cahaya Arasy dan Kursi, bahkan seluruh Malaikat menyambut dengan suka cita. Bagi orang yang berpuasa, Allah akan mengampunkan segala dosa yang lalu dan digantikan dengan pahala yang amat besar serta tidak dicatatkan dosanya selama dia berpuasa. Yang menghancurkan hatiku ialah segala isi langit dan bumi, yakni Malaikat, bulan, bintang, burung dan ikan-ikan semuanya siang malam mendoakan ampunan bagi orang yang berpuasa. Satu lagi kemuliaan orang berpuasa ialah dimerdekakan pada setiap masa dari azab neraka. Bahkan semua pintu neraka ditutup manakala semua pintu syurga dibuka seluas-luasnya, serta dihembuskan angin dari bawah Arasy yang bernama Angin Syirah yang amat lembut ke dalam syurga.

Pada hari umatmu mulai berpuasa, dengan perintah Allah datanglah sekalian Malaikat dengan garangnya menangkapku dan tentaraku, jin, syaitan dan ifrit lalu dipasung kaki dan tangan dengan besi panas dan dirantai serta dimasukkan ke bawah bumi yang amat dalam. Di sana pula beberapa azab yang lain telah menunggu kami. Setelah habis umatmu berpuasa barulah aku dilepaskan dengan perintah agar tidak mengganggu umatmu. Umatmu sendiri telah merasa ketenangan berpuasa sebagaimana mereka bekerja dan bersahur seorang diri di tengah malam tanpa rasa takut dibandingkan bulan biasa.”

Pertanyaan Nabi (9):

“Hai Iblis! Bagaimana seluruh sahabatku menurutmu?”
Jawab Iblis:
“Seluruh sahabatmu juga adalah sebesar – besar seteruku. Tiada upayaku melawannya dan tiada satu tipu daya yang dapat masuk kepada mereka. Karena engkau sendiri telah berkata: “Seluruh sahabatku adalah seperti bintang di langit, jika kamu mengikuti mereka, maka kamu akan mendapat petunjuk.”
Saidina Abu Bakar al-Siddiq sebelum bersamamu, aku tidak dapat mendekatinya, apalagi setelah berdampingan denganmu. Dia begitu percaya atas kebenaranmu hingga dia menjadi wazirul a’zam. Bahkan engkau sendiri telah mengatakan jika ditimbang seluruh isi dunia ini dengan amal kebajikan Abu Bakar, maka akan lebih berat amal kebajikan Abu Bakar.

Tambahan pula dia telah menjadi mertuamu karena engkau menikah dengan anaknya, Saiyidatina Aisyah yang juga banyak menghafadz Hadits-haditsmu.
Saidina Umar Al-Khattab pula tidaklah berani aku pandang wajahnya karena dia sangat keras menjalankan hukum syariat Islam dengan seksama. Jika aku pandang wajahnya, maka gemetarlah segala tulang sendiku karena sangat takut. Hal ini karena imannya sangat kuat apalagi engkau telah mengatakan, “Jikalau adanya Nabi sesudah aku maka Umar boleh menggantikan aku”, karena dia adalah orang harapanmu serta pandai membedakan antara kafir dan Islam hingga digelar ‘Al-Faruq’.

Saidina Usman Al-Affan lagi, aku tidak bisa bertemu, karena lidahnya senantiasa bergerak membaca Al-Quran. Dia penghulu orang sabar, penghulu orang mati syahid dan menjadi menantumu sebanyak dua kali. Karena taatnya, banyak Malaikat datang melawat dan memberi hormat kepadanya karena Malaikat itu sangat malu kepadanya hingga engkau mengatakan, “Barang siapa menulis Bismillahir rahmanir rahim pada kitab atau kertas-kertas dengan dakwat merah, nescaya mendapat pahala seperti pahala Usman mati syahid.”

Saidina Ali Abi Talib pun itu aku sangat takut karena hebatnya dan gagahnya dia di medan perang, tetapi sangat sopan santun, alim orangnya. Jika iblis, syaitan dan jin memandang beliau, maka terbakarlah kedua mata mereka karena dia sangat kuat beribadat serta beliau adalah golongan orang pertama memeluk agama Islam dan tidak pernah menundukkan kepalanya kepada sebarang berhala. Bergelar ‘Ali Karamullahu Wajhahu’ – dimuliakan Allah akan wajahnya dan juga ‘Harimau Allah’ dan engkau sendiri berkata, “Akulah negeri segala ilmu dan Ali itu pintunya.” Tambahan pula dia menjadi menantumu, semakin aku ngeri kepadanya.”

Pertanyaan Nabi (10):
“Bagaimana tipu daya engkau kepada umatku?”
Jawab Iblis:
“Umatmu itu ada tiga macam. Yang pertama seperti hujan dari langit yang menghidupkan segala tumbuhan yaitu ulama yang memberi nasihat kepada manusia supaya mengerjakan perintah Allah serta meninggalkan laranganNya seperti kata Jibril a.s,

“Ulama itu adalah pelita dunia dan pelita akhirat.” Yang kedua umat tuan seperti tanah yaitu orang yang sabar, syukur dan ridha dengan karunia Allah. Berbuat amal soleh, tawakal dan kebajikan. Yang ketiga umatmu seperti Firaun; terlampau tamak dengan harta dunia serta dihilangkan amal akhirat. Maka akupun bersukacita lalu masuk ke dalam badannya, aku putarkan hatinya ke lautan durhaka dan aku hela ke mana saja mengikuti kehendakku. Jadi dia senantiasa bimbang kepada dunia dan tidak hendak menuntut ilmu, tiada masa beramal ibadat, tidak hendak mengeluarkan zakat, miskin hendak beribadat.

Lalu aku goda agar minta kaya dulu, dan apabila diizinkan Allah dia menjadi kaya, maka dilupakan beramal, tidak berzakat seperti Qarun yang tenggelam dengan istana mahligainya. Bila umatmu terkena penyakit tidak sabar dan tamak, dia senantiasa bimbang akan hartanya dan setengahnya asyik hendak merebut dunia harta, bercakap besar sesama Islam, benci dan menghina kepada yang miskin, membelanjakan hartanya untuk jalan maksiat, tempat judi dan perempuan lacur.”

Pertanyaan Nabi (11):
“Siapa yang serupa dengan engkau?”
Jawab Iblis:
“Orang yang meringankan syariatmu dan membenci orang belajar agama Islam.”

Pertanyaan Nabi (12):
“Siapa yang mencahayakan muka engkau?”
Jawab Iblis:
“Orang yang berdosa, bersumpah bohong, saksi palsu, pemungkir janji.”

Pertanyaan Nabi (13):
“Apakah rahasia engkau kepada umatku?”
Jawab Iblis:
“Jika seorang Islam pergi buang air besar serta tidak membaca doa pelindung syaitan, maka aku gosok-gosokkan najisnya sendiri ke badannya tanpa dia sadari.”

Pertanyaan Nabi (14):
“Jika umatku bersatu dengan isterinya, bagaimana hal engkau?”
Jawab Iblis:
“Jika umatmu hendak bersetubuh dengan isterinya serta membaca doa pelindung syaitan, maka larilah aku dari mereka. Jika tidak, aku akan bersetubuh dahulu dengan isterinya, dan bercampurlah benihku dengan benih isterinya. Jika menjadi anak maka anak itu akan gemar kepada pekerjaan maksiat, malas pada kebaikan, durhaka. Ini semua karena kealpaan ibu bapaknya sendiri. Begitu juga jika mereka makan tanpa membaca Bismillah, aku yang dahulu makan daripadanya. Walaupun mereka makan, tiadalah merasa kenyang.”

Pertanyaan Nabi (15):
“Dengan jalan apa dapat menolak tipu daya engkau?”
Jawab Iblis:
“Jika dia berbuat dosa, maka dia kembali bertaubat kepada Allah, menangis menyesal akan perbuatannya. Apabila marah segeralah mengambil air wudhu’, maka padamlah marahnya.”

Pertanyaan Nabi (16):
“Siapakah orang yang paling engkau lebih sukai?”
Jawab Iblis:
Lelaki dan perempuan yang tidak mencukur atau mencabut bulu ketiak atau bulu ari-ari (bulu kemaluan) selama 40 hari. Di situlah aku mengecilkan diri, bersarang, bergantung, berbuai seperti pijat pada bulu itu.”

Pertanyaan Nabi (17):

“Hai Iblis! Siapakah saudara engkau?”
Jawab Iblis:
“Orang yang tidur meniarap / telungkup, orang yang matanya terbuka (mendusin) di waktu subuh tetapi menyambung tidur lagi. Lalu aku lenakan dia hingga terbit fajar. Demikian jua pada waktu zuhur, asar, maghrib dan isya’, aku beratkan hatinya untuk sholat.”

Pertanyaan Nabi (18):
“Apakah jalan yang membinasakan diri engkau?”
Jawab Iblis:
“Orang yang banyak menyebut nama Allah, bersedekah dengan tidak diketahui orang, banyak bertaubat, banyak tadarus Al-Quran dan sholat tengah malam.”

Pertanyaan Nabi (19):

“Hai Iblis! Apakah yang memecahkan mata engkau?”
Jawab Iblis:
“Orang yang duduk di dalam masjid serta beriktikaf di dalamnya”

Pertanyaan Nabi (20):
“Apa lagi yang memecahkan mata engkau?”
Jawab Iblis:
“Orang yang taat kepada kedua ibu bapanya, mendengar kata mereka, membantu makan pakaian mereka selama mereka hidup, karena engkau telah bersabda,’Syurga itu di bawah tapak kaki ibu’”

***

Dari Sahabat

Mengapa Sulit Mengucap Syukur Pada-Nya

Aku bermimpi suatu hari aku pergi ke surga dan seorang malaikat menemaniku dan menunjukkan keadaan di surga. Kami berjalan memasuki suatu ruang kerja penuh dengan para malaikat.

Malaikat yang mengantarku berhenti di depan ruang kerja pertama dan berkata,“ Ini adalah Seksi Penerimaan. Di sini, semua permintaan yang ditujukan pada Allah diterima.”

Aku melihat-lihat sekeliling tempat ini dan aku dapati tempat ini begitu sibuk dengan begitu banyak malaikat yang memilah-milah seluruh permohonan yang tertulis pada kertas dari manusia di seluruh dunia.

Kemudian aku dan malaikatku berjalan lagi melalui koridor yang panjang lalu sampailah kami pada ruang kerja kedua.

Malaikatku berkata, “Ini adalah Seksi Pengepakan dan Pengiriman. Di sini kemuliaan dan berkat yang diminta manusia diproses dan dikirim ke manusia-manusia yang masih hidup yang memintanya.”

Aku perhatikan lagi betapa sibuknya ruang kerja itu. Ada banyak malaikat yang bekerja begitu keras karena ada begitu banyaknya permohonan yang dimintakan dan sedang dipaketkan untuk dikirim ke bumi.

Kami melanjutkan perjalanan lagi hingga sampai pada ujung terjauh koridor panjang tersebut dan berhenti pada sebuah pintu ruang kerja yang sangat kecil.

Yang sangat mengejutkan aku, hanya ada satu malaikat yang duduk di sana, hampir tidak melakukan apa pun.

“Ini adalah Seksi Pernyataan Terima Kasih”, kata Malaikatku pelan.

Dia tampak malu.

“Bagaimana ini? Mengapa hampir tidak ada pekerjaan di sini?” tanyaku.

“Menyedihkan”

Malaikatku menghela napas.

“Setelah manusia menerima berkat yang mereka minta, sangat sedikit manusia yang mengirimkan pernyataan terima kasih.”

“Bagaimana manusia menyatakan terima kasih atas berkat Tuhan?” tanyaku.

“Sederhana sekali,” jawab Malaikat.

“Cukup berkata, TERIMA KASIH TUHAN.”

“Lalu, berkat apa saja yang perlu kita syukuri”, tanyaku.

Malaikatku menjawab, “Jika engkau mempunyai makanan di lemari es, pakaian yang menutup tubuhmu, atap di atas kepalamu dan tempat untuk tidur, maka engkau lebih kaya dari 75% penduduk dunia ini.”

“Jika engkau memiliki uang di bank, di dompetmu, dan uang-uang receh, maka engkau berada di antara 8% kesejahteraan dunia.”

“Dan jika engkau mendapatkan pesan ini di komputermu, engkau adalah bagian dari 1% di dunia yang memiliki kesempatan itu.”

“Jika engkau bangun pagi ini dengan lebih banyak kesehatan daripada kesakitan … engkau lebih diberkati daripada begitu banyak orang di dunia ini yang tidak dapat bertahan hidup hingga hari ini.”

“Jika engkau tidak pernah mengalami ketakutan dalam perang, kesepian dalam penjara, kesengsaraan penyiksaan atau kelaparan yang amat sangat, maka engkau lebih beruntung dari 700 juta orang di dunia.”

“Jika orangtuamu masih hidup dan masih berada dalam ikatan pernikahan….. maka engkau termasuk orang yang sangat jarang.”

“Jika engkau masih bisa mencintai … maka engkau termasuk orang yang besar, karena cinta adalah berkat Tuhan yang tidak didapat dari mana pun.”

“Jika engkau dapat menegakkan kepala dan tersenyum, maka engkau bukanlah seperti orang kebanyakan, engkau unik dibandingkan semua mereka yang berada dalam keraguan dan keputusasaan.”

“Jika engkau dapat membaca pesan ini, maka engkau menerima berkat ganda, yaitu bahwa seseorang yang mengatakan ini padamu berpikir bahwa engkau orang yang sangat istimewa baginya, dan bahwa engkau lebih diberkati dari pada lebih dari 2 juta orang di dunia yang bahkan tidak dapat membaca sama sekali.”

“Bila kita masih mampu mengingat keindahan masa lalu kita sungguh anugerah yang luar biasa yang layak untuk kita syukuri.”

Nikmatilah hari-harimu, hitunglah berkat yang telah Tuhan anugerahkan kepadamu.

Dan jika engkau berkenan, copy pesan ini dan kirimkan pesan ini ke semua teman-temanmu untuk mengingatkan mereka betapa diberkatinya kita semua.

“Dan ingatlah tatkala Tuhanmu menyatakan bahwa,


“SESUNGGUHNYA JIKA KAMU BERSYUKUR, PASTI AKU AKAN MENAMBAHKAN LEBIH BANYAK NIKMAT KEPADAMU.

From: Hystory Education.blog

Profesionalitas dalam Ber-Islam

Sebuah cerita menarik yang membuat kita merenung dan berpikir.. so wahat ??

Profesionalitas yang Sesungguhnya

Aku adalah seorang dosen dan sekaligus dokter di sebuah universitas dan rumah sakit ternama negri ini. Aku aktif di penelitian dan aktifitas keilmuan lainnya tapi juga tidak lupa bagianku untuk melayani pasien-pasienku.

Aku adalah spesialis kandungan yang sangat hati-hati. Sedikit kesalahanku bisa berakibat fatal pada orang lain. Benar-benar fatal. Sebagai contoh saat melakukan operasi Cesar. Bagian yang aku insisi (belah) adalah bagian suprapubic (supra=di atas ; pubic=daerah kemaluan).

Aku memotong secara melintang disepanjang batas bawah perut dengan kemaluan. Jika aku lalai, pisau bedahku bisa mengenai kepala bayi yang berada tepat di bawah lapisan perut sang ibu yang tengah aku insisi. Bahkan, jika posisi bayi adalah menghadap ke depan, dengan muka menghadap ke arahku, kalalaianku bisa lebih fatal lagi yaitu pisau bedahku dapat mengenai mata si bayi dan merobeknya. Oleh karena itu, aku harus benar-benar professional.

Kenyataan ini telah aku dapat semenjak aku masih di bangku kuliah sehingga aku benar-benar memanfaatkan masa pembelajaranku dengan sebaik-baiknya agar saat terjun ke masyarakat aku tidak membuat kesalahan-kesalahan yang bisa berakibat fatal ke orang lain. Semenjak saat itu professionalitas menjadi nama depanku.

Sebagai pengajar, aku menekankan pentingnya professionalitas kepada mahasiswa-mahasiswaku. Intinya, aku berusaha seprofessional mungkin di pekerjaanku, termasuk sebagai dosen. Jurnal internasionalku lima buah dan gelar doktor sudah aku gondol dari Inggris. Itu semua sebagai pengakuan akan sikap professionalitasku.

Hingga pada suatu hari seorang mahasiswa memintaku untuk menjadi dosen pembimbingnya. Ia berencana mengikuti lomba karya ilmiah remaja dan mengirimkan proposal penelitiannya. Proposalnya berjudul ‘Dampak abortus provokatus pada keselamatan ibu hamil ditinjau dari aspek psikis dan medis’. Ia memaparkan bahwa aborsi dengan sengaja yang hukumnya masih tidak jelas di Indonesia ini tidak hanya dapat menggugurkan janin, namun efeknya pada sang ibu tidak kalah bahayanya. Ia hanya tidak ingin aborsi sampai diperbolehkan di Indonesia. Hmmm… menarik… dan akupun menyanggupi menjadi dosen pembimbingnya.

Waktu berlalu hingga pengumpulan proposal tinggal dua minggu lagi. Pertemuanku dengan mahasiswi berjilbab lebar itupun semakin kerap. Kami berdiskusi tentang banyak hal dan pada suatu hari ada percakapan kami yang akhirnya menjadi sejarah penting bagi hidupku.

“Bu, ibu kan seseorang yang menjunjung tinggi professionalitas. Menurut ibu professionalitas itu apa?” Mahasiswi berjilbab lebar itu bertanya padaku.
“Professionalitas adalah saat kamu benar-benar total pada apa yang kamu kerjakan. Dedikasi.” Begitulah aku paparkan.

“Tapi, apakah ibu tahu arti professionalitas yang sesungguhnya?” Tanya mahasiswi jilbab lebar itu kembali.
“Maksudmu?”
“Menurut saya, professional yang sesungguhnya adalah saat kita benar-benar total dengan semua status yang melekat pada diri kita.” Ujarnya dengan memberi penekanan pada kata ‘semua’ yang Ia ucapkan.
“Kalau kita hanya professional dengan pekerjaan kita, namun status lain yang kita sandang kurang kita perhatikan atau malah kita abaikan sentuhan professionalitasnya maka sesungguhnya itu belum bisa disebut professional.

Professional itu adalah saat kita benar-benar menyeluruh dalam berdedikasi. Di semua status yang kita miliki. Tidak hanya professional dalam peran kita sebagai tenaga kesehatan ataupun pengajar, tapi professional juga dalam menjadi ibu dan juga istri. Dan ada satu aspek dalam diri kita, sebuah status lebih tepatnya yang terkadang terabaikan sentuhan professionalitasnya.

Padahal, jika kita professional pada status yang satu ini, Ia akan melahirkan professionalitas yang luar biasa dahsyatnya pada status-status kita yang lain.”
“Status apa itu maksudmu?” tanyaku penasaran.

“Status keislaman kita…” jawabnya singkat. Dan jelas. Aku terdiam. Butuh beberapa saat untuk mencerna apa yang mahasiswi berjilbab lebar itu katakan. Kemudian aku sadar bahwa apa yang ia katakan adalah benar. Sangat benar. Aku merasa batinku ditampar.

“Ya… tak sedikit dari kita yang sangat berdedikasi pada profesi dokter kita dengan dasar ‘demi pasien’ namun melupakan bahwa status keislaman kita pun perlu professionalitas. Menjadi islam secara total. Muslim yang professional. Begitu.”
Kurasakan dadaku sesak. Tertohok oleh kenyataan pahit bahwa selama ini aku sungguh bodoh. Ya Allah… selama ini aku kemana? Professionalitas aku gembar-gemborkan kemana-mana, padahal aku belum professional seutuhnya. Aku belum professional dalam berislam.

“Bukan begitu bu? Padahal Islamlah yang mengajari kita untuk bekerja keras di setiap urusan kita. Jadi seandainya kita total dalam berislam, mengamalkan apa yang Islam anjurkan untuk kita, tentu professionalitas kita akan lebih bermakna.” Kata mahasiswi jilbab lebar itu menambahkan.

“Ini bu, silahkan baca…” Mahasiswi itu merogoh sesuatu dalam tasnya kemudian menyodorkannya padaku. Sebuah Al Qur’an kecil dengan terjemahan.
“Al Insyirah ayat 7” katanya singkat.
“Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)”.

Begitulah bacanya. Dan aku semakin terpana. Entah pada apa. Mungkin pada agama indahku yang selama ini tidak aku sadari keindahannya. Atau merasa bodoh karena tidak sadar dengan ketololanku selama ini yang mengaku sudah professional, sudah pintar, padahal hakikatnya aku jauh dari pintar dan professional. Kemudian mataku menangkap tulisan yang tertera pada pembatas Al Qur’an tersebut,
“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS Al Israa’ 37)

Ya Allah… semakin yakinlah aku. Tembok egoku runtuh dan yang tersisa hanya penyesalan. Sungguh, tidak ada alasan bagiku untuk kembali kepada kepahamanku yang dulu. Kuingat putriku yang rapi berjilbab. Tidak hentinya ia menyuruhku untuk menutup aurat seperti dirinya. Ikut pengajian, atau bahkan hanya sekedar shalat berjamaah. Tapi semua itu aku tolak karena aku tidak peduli dengan semua itu. Sungguh hina. Maafkan ibumu yang bodoh ini anakku. Ibu akan menebus semua itu. Ibu janji. Dan Allah menjadi saksi atas janji Ibumu ini.

Agar Malaikat Masuk ke Rumah Kita

Kita semua pasti menginginkan agar rumah kita senantiasa dihadiri oleh para malaikat Allah dan dijauhkan dari syetan. Sebab kehadiran para malaikat di rumah akan melahirkan aura
ketenteraman dan kesejukan dan kedamaian ruhani
yang mengalir di rumah kita.
Kehadiran mereka akan membuat rumah kita laksana syurga.

Diantara para malaikat itu ada yang sengaja keliling untuk menebarkan rahmat dan kedamaian di tengah manusia sebagaimana syetan berkeliling untuk menebarkan kejahatan di tengah mereka.

Lalu rumah mana saja yang akan dihadiri para malaikat itu?
Diantaranya adalah :

1. Rumah yang diliputi dzikir kepada Allah yang di dalamnya ada ruku dan sujud
2. Rumah yang senantiasa bersih
3. Rumah yang penghuninya adalah orang-orang yang jujur dan menepati janji
4. Rumah yang dihuni oleh orang-orang yang senantiasa menyambung tali silaturahim
5. Rumah yang dihuni oleh orang yang makanannya halal
6. Rumah yang dihuni oleh orang yang senantiasa berbuat baik kepada kedua orang tuanya.
7. Rumah yang senantiasa ada tilawah Al-Quran
8. Rumah yang dihuni oleh para penuntut ilmu
9. Rumah yang penghuninya ada isteri solehah
10. Rumah yang bersih dari barang-barang haram

11. Rumah yang dihuni oleh orang yang rendah hati, sabar, tawakal, qana’ah, dermawan pemaaf yang senantiasa bersih lahir batin dan para penghuninya makan tidak terlalu banyak.


Ataupun rumah-rumah yang senantiasa digunakan untuk kebaikan, semisal menjadi tempat kita menuntut ilmu/ liqo'an, atau hal-hal lain untuk kemaslahatan bersama.

Demikian ciri-ciri rumah yang akan didatangi malaikat.
Marilah kita buat rumah kita agar malaikat senang berkunjung kerumah kita.
Insya Allah.. semoga Allah memudahkannya..aammiiinn.

From : Blog tetangga

Selasa, 26 April 2011

Duhai Hati...

Sebuah Muhasabah diri untuk kita..^_^

Seorang anak kecil datang menghampiri ibunya. Ia merengek minta dibelikan sepatu baru. Di sekolah ia diejek karena sepatunya sudah usang dan banyak tambalan. Dengan berbagai alasan ia utarakan agar ibunya mau membelikan sepatu baru.
Dengan mata berkaca-kaca, sederet kalimat ini keluar dari mulut ibunya, “Nak, kamu kan sudah besar. Kamu harus mengalah dengan adik-adikmu. Mereka butuh uang untuk sekolah mereka nanti. Uangnya ibu tabung untuk mereka. Kalau ibu pakai uang itu untuk membelikan kamu sepatu baru, lalu adik-adikmu sekolah pakai uang siapa? Apa kamu mau adik-adikmu tidak bersekolah?”
Anak kecil tadi tiba-tiba terdiam. Ia terlihat seperti anak remaja yang sudah bisa berpikir cukup berat dan bijak. Digoyang-goyangkan kepalanya sambil mengusap air mata yang tadi keluar deras dari kelopak matanya. Lalu ia berkata, “Bu, kalau nanti adik-adik sudah bisa sekolah. Terus kalau ada sisa uang, belikan sepatu ya..”Anak itu mengatakan kalimat itu dengan terbata-bata, seperti ia tidak rela dengan hal itu tapi ia dipaksa oleh kondisi untuk mengikhlaskan apa yang menjadi kehidupannya. Mendengar itu sang ibu memeluk anaknya dengan erat. Ia tidak menyangka anaknya dapat memahami apa yang terjadi hari ini dengan keluarga mereka. Ia heran anaknya sudah mampu berkata bijak seperti tadi ia dengar.
***

Duhai hati..
Letih yang engkau rasakan selama ini mungkin tak sebanding dengan letihnya hati mereka dalam menapaki kehidupan ini. Di dalam keletihan itu, mereka memahami bahwa letihnya mereka akan membuat mereka menjadi orang-orang seperti yang dicitakan. Lalu bagaimana denganmu wahai hatiku.. Baru sebentar saja engkau merasa letih tapi kau sudah merintih bagai seribu tahun kau mengalaminya.. Malulah pada mereka yang merasa letih tetapi mereka memaknai letihnya sebagai sesuatu yang dapat mengantarkannya pada sebuah kebahagiaan.. Bukankah orang yang berjuang dan berkorban itu letih? Bukankah akhir dari perjalanan orang yang berjuang dan berkorban itu sebuah kebahagiaan jika dijalani dengan ikhlas dan penuh kesungguhan??

Duhai hati..

Lelah memang terus menerus hal-hal kurang mengenakkan itu menerpa hidupmu. Tetapi jika kau renungi kembali kisah di atas, perjuangan mereka tidak mengenal lelah. Setiap lelah menghinggapi mereka, mereka beristirahat dan kemudian bangkit berjuang kembali. Mereka paham kalau diamnya mereka tak dapat membuahkan hasil apapun bagi kehidupannya. Mereka yakin perjuangan dan pengorbanannya selama ini, berlelah-lelahan, akan berbuah sebuah kebahagiaan yang tak dapat tergantikan nikmatnya. Lalu bagaimana denganmu wahai hatiku.. Baru sebentar saja kau diberi cobaan dan ujian tapi kau sudah merasa lelah dan menyerah.. Malulah kau pada mereka yang tak punya apa-apa tapi mereka tetap istiqamah berjuang dan berkorban hingga cita-cita mereka tercapai.. Bukankah orang yang berjuang dan berkorban itu lelah? Bukankah akhir dari kelelahan orang yang berjuang dan berkorban itu sebuah kebahagiaan jika dijalani dengan ikhlas dan penuh kesungguhan??

Duhai hati..
Sakit yang terus menyapamu selama ini adalah ujian dan cobaan dari Allah seberapa kokohnya engkau menjalani apa-apa yang engkau yakini atas-Nya. Dia ingin tahu seberapa seriuskah engkau dalam menapaki jalan kehidupan yang sudah Dia gariskan. Sakit yang Dia berikan adalah sebuah perhatian khusus-Nya kepadamu. Dia masih sayang kepadamu dengan memberikan ujian dan cobaan. Andai saja kau tak merasa diuji dan diberi cobaan, maka kau akan merasa aman-aman saja, padahal kau sedang berada di tepian jurang yang menganga lebar dan siap menerkammu kapan saja kau lengah..

Duhai hati..
Capeknya dirimu menghadapi segala permasalahan yang engkau temui di sekitarmu, itulah yang terus mengajarkanmu untuk dapat memahami sekelilingmu dengan lebih baik lagi. Di kananmu ada orang-orang yang engkau sayangi dan kasihi. Di depanmu ada orang-orang yang engkau hormati. Di kirimu ada orang-orang yang engkau senantiasa bercengkerama dengannya. Di belakangmu ada orang-orang yang selalu mendukungmu dalam tiap doanya meski kau tak pernah tahu.

Duhai hati..

Seorang ustadz pernah menyampaikan, jika tak senang dengan sepatumu yang lusuh, ingatlah mereka yang tak berkaki namun tak mengeluh. Semoga kita selalu dapat mengingatnya duhai hati.. Seberapa letih, lelah, dan sakitnya engkau.. Masih ada orang-orang yang merasakan itu lebih dari kita tetapi mereka tetap tak mengeluh.. Ada saja cara mereka untuk menyemangati diri.. Ada saja sugesti untuk membuat diri mereka semangat.. Ada saja pemikiran positif yang mereka punya hingga mereka tetap bersemangat.. Ada saja cita-cita yang ingin mereka gapai hingga semangat itu tetap terpatri di dada mereka..

Duhai hati..


Tetaplah istiqamah..
Walau itu berat bagimu..
Percayalah kau mampu menjalaninya..
Asalkan kau selalu menyertai Allah dalam segala hal..
Terpautnya kau duhai hatiku pada Sang Khalik..
Akan membuatmu semakin cantik dan tangguh..
Karena kau adalah mutiara di lautan..
Yang akan terus terjaga sampai masa memisahkan..
Duhai hati.. Tetaplah istiqamah..

From: Dakwatuna.Com

Jumat, 08 April 2011

Sedekah Yang Pahalanya Mengalir

Dari Abu Hurairah RA, bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW, telah bersabda : “Bila seorang hamba telah meninggal, segala amalnya terputus, kecuali tiga hal : amal jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang mendo’akannya” (HR. Bukhari, dalam Adabul Mufrad).

Berikut contoh konkrit, sadaqah (amal) jariah, yang pahalanya terus mengalir walaupun si pemberi sadaqah telah wafat :

SADAQAH JARIAH – KEBAIKAN YANG TAK BERAKHIR AL SADAQAT AL JARIYAH – THE ACTIONS WHICH OUTLIVES YOU !

1. Berikan Al-Quran pada seseorang, setiap saat Al-Quran tersebut dibaca, anda mendapatkan kebaikan. Give Quran to someone and each time they read from it, you will gain hasanaat.
2. Ajarkan seseorang sebuah do’a. Pada setiap bacaan do’a itu, anda mendapatkan kebaikan. Teach someone to recite a dua. With each recitation, you will gain hasanaat.
3. Sumbangkan kursi roda ke RS dan setiap orang sakit menggunakannya, anda mendapatkan kebaikan. Donate a wheel chair to a hospital and each time a sick person uses it, you will gain hasanaat.
4. Tanam sebuah pohon. Setiap seseorang atau hewan berlindung dibawahnya atau makan buahnya, anda dapat kebaikan. Plant a tree. Each time any person or an animal sits under its shade or eats from the tree, you will gain hasanaat.
5. Tempatkan pendingin air di tempat umum. Place a water cooler in a public place.
6. Berbagi bacaan yang membangun dengan seseorang. Share constructive reading material with someone.
7. Libatkan diri dalam pembangunan mesjid. Participate in the building of a mosque.
8. Berbagi CD Quran atau Do’a. Share a dua or Quran CD.
9. Bantulah pendidikan seorang anak. Help in educating a child.
10. Bagikan pengetahuan ini dengan orang lain. Jika seseorang menjalankan salah satu dari hal diatas, Anda dapat kebaikan sampai hari Qiamat. Share this with someone. If one person applies any of the above you will receive your hasanaat until the Day of Judgment.

Jadilah dai “sejuta artikel” dengan meneruskan artikel ini kepada saudara-saudara kita sesama muslim yang barangkali belum mengetahuinya, sehingga kita tidak dilaknat Allah dan seluruh mahluk karena tidak menyampaikan (menyembunyikan) apa yang telah kita ketahui, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran surah Al-Baqarah Ayat 159 : “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan dari keterangan-keterangan dan petunjuk hidayat, sesudah Kami terangkannya kepada manusia di dalam Kitab Suci, mereka itu dilaknat oleh Allah dan dilaknat oleh sekalian makhluk”.

Dari Abdullah bin ‘Amru ra, RasulAllah S.A.W bersabda: “Sampaikanlah pesanku walaupun hanya satu ayat”.

Semoga Allah Ta’ala membalas ‘amal Ibadah kita.

***

Dari Sahabat

Sabtu, 02 April 2011

Perubahan Seorang Ratih Sang

Kisah yang inspiratif bagi kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt.. sesuai masalah yg kita hadapi, dan semoga Allah juga cepat menjawabnya.. Aammiinn..

RATIH SANGGARWATI : Bangun Malam Hanya Untuk Membayar Dosa

Tahukah Ibu sekalian? Sekarang tiap malam saya bangun (bertahajud-red) hanya untuk membayar masa lalu saya yang lalai. Kelalaian agama selama sebelas tahun lampau yang tak sanggup saya bayar, sebut mantan pragawati papan atas, Ratih Sanggarwati, ketika berbicara pada acara Talk Show Cantik Berjilbab dengan Kosmetik Alami, di Balai Tgk Chik Ditiro Banda Aceh, (26/9).

Duta Dhuafa Hr Republika ini pun menjelang tengah hari Minggu itu dengan lancar dan transparan memaparkan kembali pengalaman batinnya ketika memutuskan menutup aurat, layaknya kewajiban berpakaian wanita muslim.
Nun sebelas tahun silam, ketika ia masih “hilir-mudik” di lantai praga, pada mulanya memang terbersit rasa tak tentu di sanubarinya karena alpa terhadap perintah Allah SWT. Sehari dia memang gelisah, dua hari datang sedih, tiga hari bingung, lalu muncul pertanyaan bagaimana ini? Namun lama-lama kegaulauan itu sama sekali tak pernah dirasakannya lagi. Toh peristiwa lalai agama menjadi biasa saja bagi Ratih waktu itu.

Dan rutinitas di dunia yang dicap glamour dan telah membawanya hampir ke seluruh dunia tersebut berjalan sampai sebelas tahun. Uang, teman kondang, pergaulan jet set, ketenaran dan pengaruh telah melelapkan Ratih secara duniawi.
Kapan penulis buku Noor Kerudung Cantik (27 Reka Gaya Berkerudung-2004) ini tersadar dari tingkah laku buruk kefanaannya?
Suatu hari di tahun 1977 setelah hampir dua tahun menunggu kehamilan anak pertamannya, Ratih istirahat dari show. Waktu itulah perempuan ini punya kesempatan untuk datang ke majelis taklim. Hasilnya memang tak serta merta membuat Ratih lantas pakai jilbab, masih diwarnai keraguan, terlebih dengan pertimbangan karirnya sebagai model.
Hanya saja dari satu kunjungan ke kunjungan lainnya membuat Ratih kian merenung sembari membayangkan kesalahan-kesalahan masa lalunya. “Bayangkan, ketika itu saya pakai rok mini lalu diikuti oleh sekian orang, masyaallah, alangkah berdosanya saya. Saya juga merenung lagi, bahwa doa anak yang shaleh lah yang diterima Allah, lalu bagaimana bisa saya mendoakan orangtua saya?.Lantas bagaimana pula saya menjadi teladan bagi anak-anak saya. Bukankah seorang ibu sama dengan madrasah bagi anak-anaknya?” papar Ratih pada acara yang bekerjasama dengan Ahad-neT Banda Aceh tersebut.
Diam-diam ada yang menyelinap di hati Ratih. Makin hari makin menggetik kalbunya. Kenapa dirinya yang sudah mendapatkan segala keinginan, tapi tak patuh pada Ilahi?
Begitulah, keiingin Ratih mengenakan untuk menutup aurat luar biasa menggelora. Ia berkata pada Allah, “Ya Allah saya ingin tunduk pada Engkau. Saya ingin menurut pada-Mu.”

Maka di saat Ratih ingin kembali ke jalan Allah, tak angin tak hujan, datanglah sebuah tawaran dari pemilik perusahaan produk kecantikan islami, Dra Hj Nurhayati Subakat Apt, namanya.
“Mbak Ratih, Mbak punya keinginan tidak mengenakan kerudung?” tanya Nurhayati melalui telepon (pertanyaan itu sebenarnya membuat sebal Ratih, bukankah dia sebenarnya memang sedang penasaran-penasarannya mau mengenakan jilbab?).

Namun Ratih juga bengong atas pertanyaan itu? Pasalnya, pertanyaan tersebut datang pada siang bolong dan Ratih sedang tenang-tenang di rumah. Sebaliknya, Ratih merasa ada sesuatu yang lain. Di saat dia memang sedang gundah gulana tentang bagaimana caranya agar dirinya menurut pada jalan Allah, justru jalannya terbuka sekarang.
“Pake kerundung yang bagaimana? Yang seperti Mbak Tutut?”
Oo bukan Mbak. Yang ketutup betul, tegas Nurhayati sembari mengatakan bahwa produk kecantikan keluaran perusahaannya memerlukan model yang mengenakan kerudung (baca jilbab).

Ratih semakin tak habis pikir, lalu mempertanyakan kenapa dirinya yang ditawari kontrak itu, dengan bayaran puluhan juta pula hanya untuk pakai kerudung lalu difoto. Ia makin tercenung lagi. Bukankah selama tiga bulan terakhir dia telah “ngobrol” dengan Allah? Selama tiga bulan itu Ratih pun pernah mengatakan pada-Nya, “Saya rindu kepada Engkau Ya Allah. Tolong saya dimudahkan. Ya Allah saya takut popularitas menjauh dari saya. Saya tahut kehilangan uang yang telah lama saya kumpul dari jerih payah saya. Saya takut kehilangan teman dan pergaulan jet set saya. Saya takut keluarga tak mendukung saya. Saya takut wartawan menjauhi saya.”
Tapi sekelebat itu Ratih sadar. Justru kedatangan tawaran Nurhayati tak lain merupakan jawaban dari Allah tentang kemudahan yang ia panjatkan selama ini.

“Dua hari lagi deh Bu,” jawab Ratih dan pembicaraan ditutup. Anehnya itu bukan jawaban bagi Ratih. Ia malah beratanya pada diri sendiri, kok harus diputuskan dua hari lagi, padahal dirinya sangat ingin pakai jilbab. Namun ketika itu pikiran Ratih sedang teraduk-aduk, antara godaan setan dan kesadarannya ingin menutup aurat.
Ratih pun kembali sangat gelisah. Setelah menutup telepon, perempuan beranak dua ini justru mondar-mandir sendiri di rumahnya. Begini salah, begitu salah, makin tak tenang.

Tak lama kemudian, tiba-tiba bagai terdorong satu kekuatan, saat itu juga Ratih menelepon kembali Nurhayati untuk menyatakan kesediaannya bekerjasama. Ratih kemudian telah menang dari setan yang menggodanya sejak tadi.
Akhirnya dua minggu kemudian Ratih menandatangani kontrak dengan perusahaan milik Nurhayati dalam sebuah acara seremonial yang mengundang wartawan.
Salah satu pertanyaan yang dilontarkan wartawan, “Mbak Ratih kapan mau menutup auratnya?” Ketika itu Ratih malah menanyakan ke Nurhayati kapan peluncuran produk kecantikan keluaran perusahaannya, yang dijawab dua bulan.
“Dua bulan lagi,” jawab Ratih kepada wartawan.

Apa yang terjadi kemudian? Jawaban tadi malah bukan menentramkan. Ratih kembali menggerogoti Ratih dengan rasa bersalahnya. “Kok dua bulan lagi? Dua bulan lagi saya masih diberi napas tidak sama Allah? Kalau selama dua bula lagi saya harus bertemu dengan Allah bagaimana? Maka saya akan kehilangan wajah saya, saya akan menyesal seumur hidup. Saya akan menyesal ketika saya bangkit di Padang Mahsyar,” bergejolak lagi hati Ratih.

Dan dua hari setelah penandatanganan produk kecantikan islami tersebut (Oktober 2000), Ratih mengenakan jilbab. Dia berpikir mana ada itu kontrak dengan manusia. Kontrak dirinya adalah dengan Allah SWT.

So, apa yang dia alami setelah menutup aurat? Ternyata semua pertanyaan batinnya selama ini telah Dibayar tunai oleh Allah SWT. Keluarganya justru makin sayang padanya. Adik-adik iparnya menyusul mengenakan busana muslim. Wartawan sampai sekarang tidak menjauh darinya. Soal uang? “Masya Allah. Hanya untuk baca puisi saya dibayar tiga kali lipat dari honor waktu saya menjadi top model,” ungkap Ratih.
Ternyata lagi, teman-teman tidak menjauhinya. Kalau satu dua ada yang menjauh, itu pertanda dia ditolong Allah. Sebab Ratih selalu berdoa agar dijauhi dengan teman yang menjauhkannya dengan Allah.
Masih soal rezeki dari Allah, tatkala Ratih menerbitkan Noor Kerudung Cantik (27 Reka Gaya Berkerudung-2004), Ratih memang khawatir bukunya akan tak laris, sebab paramuda sekarang ingin modern bagai pemain senetron, penyanyi idola.

Tapi kenyataannya buku karangan Ratih malah laris manis sampai dicetak ulang hingga cetakan ke lima (September 2004). Di Gramedia buku Ratih hanya bersaing dengan buku Harry Potter saja. Bravo-lah Ratih. Kendati cerita ini tidak baru lagi bagi sebagian orang, namun sebagai kaji ulang, tentu ada manfaatnya bagi kita.

By. nani hs
Serambi Ind.

Berkurbanlah dengan Kurban Terbaik

QURBAN TERBAIK

> Oleh: Jojo Wahyudi
>
> Kuhentikan mobil tepat di ujung kandang tempat
> berjualan hewan Qurban. Saat pintu mobil kubuka, bau
> tak sedap memenuhi rongga hidungku, dengan spontan aku
> menutupnya dengan saputangan.
>
> Suasana di tempat itu sangat ramai, dari para penjual
> yang hanya bersarung hingga ibu-ibu berkerudung
> Majelis Taklim, tidak terkecuali anak-anak yang ikut
> menemani orang tuanya melihat hewan yang akan
> di-Qurban-kan pada Idul Adha nanti, sebuah
> pembelajaran yang cukup baik bagi anak-anak sejak dini
> tentang pengorbanan NabiAllah Ibrahim & Nabi Ismail.
>
> Aku masuk dalam kerumunan orang-orang yang sedang
> bertransaksi memilih hewan yang akan di sembelih saat
> Qurban nanti. Mataku tertuju pada seekor kambing
> coklat bertanduk panjang, ukuran badannya besar
> melebihi kambing-kambing di sekitarnya.
>
> "Berapa harga kambing yang itu pak?" ujarku menunjuk
> kambing coklat tersebut.
> "Yang coklat itu yang terbesar pak. Kambing Mega Super
> dua juta rupiah tidak kurang" kata si pedagang
> berpromosi matanya berkeliling sambil tetap melayani
> calon pembeli lainnya.
>
> "Tidak bisa turun pak?" kataku mencoba bernegosiasi.
> "Tidak kurang tidak lebih, sekarang harga-harga serba
> mahal" si pedagang bertahan.
> "Satu juta lima ratus ribu ya?" aku melakukan
> penawaran pertama
> "Maaf pak, masih jauh." ujarnya cuek.
>
> Aku menimbang-nimbang, apakah akan terus melakukan
> penawaran terendah berharap si pedagang berubah
> pendirian dengan menurunkan harganya.
> "Oke pak bagaimana kalau satu juta tujuh ratus lima
> puluh ribu?" kataku
> "Masih belum nutup pak " ujarnya tetap cuek
> "Yang sedang mahal kan harga minyak pak. Kenapa
> kambing ikut naik?" ujarku berdalih mencoba melakukan
> penawaran termurah.
>
> " Yah bapak, meskipun kambing gak minum minyak. Tapi
> dia gak bisa datang ke sini sendiri. Tetap saja harus
> di angkut mobil pak, dan mobil bahan bakarnya bukan
> rumput" kata si pedagang meledek.
>
> Dalam hati aku berkata, alot juga pedagang satu ini.
> Tidak menawarkan harga selain yang sudah di
> kemukakannya di awal tadi. Pandangan aku alihkan ke
> kambing lainnya yang lebih kecil dari si coklat.
>
> Lumayan bila ada perbedaan harga lima ratus ribu.
> Kebetulan dari tempat penjual kambing ini, aku
> berencana ke toko ban mobil. Mengganti ban belakang
> yang sudah mulai terlihat halus tusirannya. Kelebihan
> tersebut bisa untuk menambah budget ban yang harganya
> kini selangit.
>
> "Kalau yang belang hitam putih itu berapa bang?"
> kataku kemudian
> "Nah yang itu Super biasa. Satu juta tujuh ratus lima
> puluh ribu rupiah" katanya
>
> Belum sempat aku menawar, di sebelahku berdiri seorang
> kakek menanyakan harga kambing coklat Mega Super tadi.
> Meskipun pakaian "korpri" yang ia kenakan lusuh,
> tetapi wajahnya masih terlihat segar.
>
> "Gagah banget kambing itu. Berapa harganya mas?"
> katanya kagum
> "Dua juta tidak kurang tidak lebih kek." kata si
> pedagang setengah malas menjawab setelah melihat
> penampilan si kakek.
> "Weleh larang men regane (mahal benar harganya) ?"
> kata si kakek dalam bahasa Purwokertoan
>
> "Bisa di tawar-kan ya mas ?" lanjutnya mencoba
> negosiasi juga.
> "Cari kambing yang lain aja kek. " si pedagang
> terlihat semakin malas meladeni.
>
> "Ora usah (tidak) mas. Aku arep sing apik lan gagah
> Qurban taun iki (Aku mau yang terbaik dan gagah untuk
> Qurban tahun ini) Duit-e (uangnya) cukup kanggo
> (untuk) mbayar koq mas." katanya tetap bersemangat
> seraya mengeluarkan bungkusan dari saku celananya.
>
> Bungkusan dari kain perca yang juga sudah lusuh itu di
> bukanya, enam belas lembar uang seratus ribuan dan
> sembilan lembar uang lima puluh ribuan dikeluarkan
> dari dalamnya.
>
> "Iki (ini) dua juta rupiah mas. Weduse (kambingnya)
> dianter ke rumah ya mas?" lanjutnya mantap tetapi
> tetap bersahaja.
>
> Si pedagang kambing kaget, tidak terkecuali aku yang
> memperhatikannya sejak tadi. Dengan wajah masih ragu
> tidak percaya si pedagang menerima uang yang
> disodorkan si kakek, kemudian di hitungnya perlahan
> lembar demi lembar uang itu.
>
> "Kek, ini ada lebih lima puluh ribu rupiah" si
> pedagang mengeluarkan selembar lima puluh ribuan
> "Ora ono ongkos kirime tho...?" (Enggak ada ongkos
> kirimnya ya?) si kakek seakan tahu uang yang
> diberikannya berlebih
>
> "Dua juta sudah termasuk ongkos kirim" si pedagang yg
> cukup jujur memberikan lima puluh ribu ke kakek
> "Mau di antar ke mana mbah?" (tiba-tiba panggilan
> kakek berubah menjadi mbah)
> "Alhamdulillah, lewih (lebih) lima puluh ribu iso di
> tabung neh (bisa ditabung lagi)" kata si kakek sambil
> menerimanya
> "Tulung anter ke ning deso cedak kono yo (tolong antar
> ke desa dekat itu ya),
> sak sampene ning mburine (sesampainya di belakang)
> Masjid Baiturrohman, takon ae umahe (tanya saja
> rumahnya) mbah Sutrimo pensiunan pegawe Pemda Pasir
> Mukti, InsyaAllah bocah-bocah podo ngerti (InsyaAllah
> anak-anak sudah tahu)."
>
> Setelah selesai bertransaksi dan membayar apa yang
> telah di sepakatinya, si kakek berjalan ke arah sebuah
> sepeda tua yang di sandarkan pada sebatang pohon
> pisang, tidak jauh dari X-Trail milikku. Perlahan di
> angkat dari sandaran, kemudian dengan sigap di
> kayuhnya tetap dengan semangat.
>
> Entah perasaan apa lagi yang dapat kurasakan saat itu,
> semuanya berbalik ke arah berlawanan dalam
> pandanganku.
>
> Kakek tua pensiunan pegawai Pemda yang hanya
> berkendara sepeda engkol, sanggup membeli hewan Qurban
> yang terbaik untuk dirinya.
>
> Aku tidak tahu persis berapa uang pensiunan PNS yang
> diterima setiap bulan oleh si kakek. Yang aku tahu, di
> sekitar masjid Baiturrohman tidak ada rumah yang
> berdiri dengan mewah, rata-rata penduduk sekitar desa
> Pasir Mukti hanya petani dan para pensiunan pegawai
> rendahan.
>
> Yang pasti secara materi, sangatlah jauh di banding
> penghasilanku sebagai Manajer perusahaan swasta asing.
> Yang sanggup membeli rumah di kawasan cukup bergengsi
> Yang sanggup membeli kendaraan roda empat yang harga
> ban-nya saja cukup membeli seekor kambing Mega Super
> Yang sanggup mempunyai hobby berkendara moge (motor
> gede) dan memilikinya
> Yang sanggup mengkoleksi “raket” hanya untuk olah-raga
> seminggu sekali
> Yang sanggup juga membeli hewan Qurban dua ekor sapi
> sekaligus
>
> Tapi apa yang aku pikirkan?
> Aku hanya hendak membeli hewan Qurban yang jauh di
> bawah kemampuanku yang harganya tidak lebih dari
> service rutin mobil X-Trail, kendaraanku di dunia
> fana. Sementara untuk kendaraanku di akhirat kelak,
> aku berpikir seribu kali saat membelinya.
>
> Ya Allah, Engkau yang Maha Membolak-balikan hati
> manusia balikkan hati hambaMu yang tak pernah
> ber-Syukur ini ke arah orang yang pandai men-Syukuri
> nikmatMu

Bantu Aku Saat sedang Berbuat Dzolim

Oleh Syamsul Arifin

Hadis riwayat Jabir bin Abdullah رضي الله عنه, ia berkata: Dua orang pemuda, yang satu dari golongan Muhajirin dan yang lain dari kaum Ansar, saling berbaku-hantam. Seorang dari kaum Muhajirin berteriak: Wahai kaum Muhajirin! Dan seorang dari Ansar juga berteriak: Wahai orang-orang Ansar! Kemudian keluarlah Rasulullah صلی الله عليه وسلم dan berkata: Ada apa ini? Kenapa harus berteriak dengan seruan jahiliah? Mereka menjawab: Tidak ada apa-apa wahai Rasulullah! Kecuali ada dua pemuda yang berkelahi sehingga seorang dari keduanya memukul tengkuk yang lain. Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda: Kalau demikian, tidak apa-apa! Tapi hendaklah seseorang itu menolong saudaranya yang lain baik yang zalim maupun yang dizalimi. Kalau ia berbuat kezaliman hendaklah dicegah karena begitulah cara memberikan pertolongan kepadanya dan apabila dizalimi maka hendaklah ia membelanya. (HR Bukhari-Muslim)

Bantulah saudara kita ketika sedang dizalimi maupun ketika sedang berbuat zalim.
Dalam kacamata umum, melihat/mengetahui ketika saudara kita sedang dizalimi merupakan suatu hal yang mungkin relatif mudah, (terlepas dari apakah nanti bisa membantu/menolongnya dari penindasan/penzaliman).
Namun, hal yang lebih sulit yaitu ketika kita membantu saudara kita ketika ia sedang berbuat zalim. Baik itu menzalimi dirinya sendiri maupun ketika ia sedang menzalimi orang lain.

Terkadang, muncul perasaan tidak enak, merasa sungkan, khawatir tersinggung, takut salah, dll. Padahal, budaya saling mengingatkan itu merupakan bagian dari kaum muslimin semenjak dulu. Bahkan, seharusnya, kita sebagai seorang muslim, meminta dinasihati/diingatkan.
Seorang manusia pasti tidak terlepas dari ke-khilaf-an. Kesempurnaan seorang manusia bukanlah karena ia tidak pernah salah, namun ketika ia menjadi ingat ketika melakukan kesalahan.
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. (QS. Al-A'raaf: 201)

Ada beberapa catatan yang mungkin bisa kita lakukan ketika berusaha mengingatkan saudara kita.
• Awali dengan niat yang suci, lurus karena Allah agar saudara kita tersadar dari perbuatan khilafnya, mengingatkan bukan untuk memalukannya, maupun membuatnya merasa terpojok dengan merasa diri sebagai orang yang paling benar dan membuatnya seakan-akan dia adalah manusia yang paling bersalah di dunia ini

• Gunakan hati, karena hati hanya bisa disentuh oleh hati pula. Bukan sekedar
kata-kata kering yang meluncur dari lisan yang tidak dibalut cinta, dan bukan berasal dari pribadi yang memiliki rasa sayang kepada sesama saudara

• Sebisa mungkin buatlah peringatan tersebut menjadi sebuah peringatan pribadi, atau diingatkan secara personal, untuk menghindari rasa malu dan juga sifat membela diri secara berlebihan. Namun jika memang diperlukan, sebagai pelajaran bagi
saudara-saudaranya yang lain, tidak ada salahnya mengingatkannya secara umum dan terbuka, namun tidak diarahkan langsung ke orang yang bersangkutan.

• Kalau perlu marah, marahlah. Lakukan pada orang yang tepat, diwaktu dan tempat yang tepat, dengan kadar yang tepat, dan karena alasan yang tepat pula.

• Gunakan metode-metode yang mungkin dilakukan, dengan melihat skala dari kezaliman dan kemampuan yang kita miliki. Mencegah kezaliman dengan tangan (kekuasaan, -red), atau mencegahnya dengan lisan atau perkataan (termasuk juga melalui tulisan).

• Bersikap bijaklah dalam memandang suatu permasalahan. Milikilah ilmu dan pandangan yang luas dalam bersikap, karena bisa jadi, peringatan yang kita lakukan malah
membuat masalah menjadi semakin besar, atau bisa juga malah menciptakan suatu permasalahan baru. Beberapa hal yang bersifat parsial, cabang maupun tambahan seharusnya tidak lebih diutamakan dari hal-hal yang bersifat pokok dan prinsipil.

• Terakhir, sadari, bahwa setiap insan memiliki potensi untuk berbuat salah, dan terkadang ia/mereka tidak melihat/mengetahui ketika berbuat salah. Bukankah orang yang berada dalam hutan tidak dapat mengetahui gambaran hutan secara keseluruhan. Karena itu, dibutuhkan semangat saling ingat-mengingatkan, bantu-membantu dalam bingkai iman dan rasa cinta karena Allah.

Janganlah ragu tuk membantuku ketika diriku sedang berbuat zalim…
“… Kalau ia berbuat kedzaliman hendaklah dicegah karena begitulah cara memberikan pertolongan kepadanya…”
---
Jakarta, 22 Januari 2008