Semoga bermanfaat..
oleh Geng GJ *Generasi Juara
Lihatlah, bagaimana buah berfikir positif terhadap Alloh. Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan,
“Aku mengikuti sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. Jika prasangkanya baik, Ku berikan ia kebaikan, jika prasangkanya buruk Ku timpakan ia keburukan” (HR. Ath Thabrani no.8135 dalam Al Ausath, Ibnul Mubarak dalam Al Hilyah, 306/9. Dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah, 407/2)
Dan ternyata berpikir positif juga membuat peran besar dalam hidup. Banyak bonus yang didapat bila Anda selalu berpikir positif. Apa saja?
Sikap positif membantu untuk mengatasi urusan kehidupan sehari-hari dengan lebih mudah. Pandangan positif dapat membantu Anda mengatasi situasi stres dengan lebih baik dan dapat mengubah hidup menjadi lebih baik.
Berikut beberapa manfaat yang diperoleh bila Anda selalu berpikiran positif, seperti dilansir Lifemojo, Senin (9/5/2011):
1. Manajemen stres yang lebih baik
Berpikir positif membantu mengatasi stres saat mendekati situasi stres dengan cara yang positif. Mengabaikan pikiran negatif dan menggantinya dengan optimisme akan mengurangi kecemasan, sehingga mengurangi stres.
2. Kesehatan yang lebih baik
Pemikiran dapat langsung mempengaruhi tubuh dan bagaimana fungsinya. Bila orang mengganti pikiran negatif dengan ketenangan, keyakinan dan kedamaian bukan kebencian, kecemasan dan khawatir, Anda akan merasakan kesejahteraan.
Ini berarti berpikir positif dapat bermanfaat untuk mengatasi gangguan tidur, ketegangan otot, kecemasan, dan kelelahan. Orang yang berpikir negatif lebih menderita depresi lebih dan kecemasan.
3. Percaya diri
Berpikir positif mempromosikan kepercayaan diri. Hal ini akan membuat orang dapat mengeluarkan potensi optimal dalam dirinya.
4. Pengambilan keputusan yang lebih baik
Orang yang optimis adalah pembuat keputusan yang lebih baik. Berpikir positif mencegah orang dari membuat penilaian yang meragukan, keputusan bodoh atau melakukan hal-hal yang akan disesali di kemudian hari. Ketika orang mulai menggunakan hak pikirannya, ia dapat membuat keputusan dengan cepat.
5. Meningkatkan fokus
Berpikir positif akan membantu berfokus pada solusi daripada membuang-buang waktu dan energi pada emosi negatif.
6. Mengurangi rasa takut
Rasa takut berasal dari berpikir tentang hal yang negatif, sehingga menjadi seorang pemikir positif akan dapat menghilangkan rasa takut. Keberanian ini berasal dari kenyataan bahwa ketika seseorang tetap positif ia akan tahu bahwa apa pun yang terjadi dalam hidupnya dapat dihadapi.
7. Hidup lebih bahagia
Jika orang memiliki pikiran yang berpikir positif, ia akan selalu mengantisipasi kehidupan dengan bahagia, damai, tawa, kesehatan dan kesuksesan finansial.
Tapi ingat dan dicamkan, berfikir positif kepada Allah saja belum cukup, melainkan harus diikuti dengan amal yang shalih . Syaikh Ali Hasan Al Halabi hafizhahullah berkata:
“Husnu zhan kepada Allah, namun diikuti dengan amal-amal keburukan, hal ini bagai menyatukan dua hal yang bertentangan”
Dalam arti lain, berfikir positif harus diikuti dengan kegiatan-kegiatan yang positif pula.
Kemudian bagaimana caranya berpikir positif?
Berikut adalah beberapa tips untuk membantu Anda menanamkan kebiasaan berpikir positif:
• Jadilah optimis dan mengharapkan hasil yang menguntungkan dalam setiap situasi
• Temukan alasan untuk tersenyum lebih sering
• Bayangkan saja apa yang Anda inginkan bisa terjadi
• Melibatkan diri dalam kegiatan rekreasi menyenangkan
• Bacalah hal-hal yang dapat menginspirasi
• Ikuti gaya hidup sehat
• Berolahraga sedikitnya tiga kali seminggu
• Bergabunglah dengan orang-orang bahagia.
Sumber: detikhealth dengan beberapa perubahan.
Senin, 06 Juni 2011
Bersyukurlah Dengan Keadaan Sekarang
Pertama :
Kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki.
Katakanlah anda telah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang terbaik. Tapi anda masih merasa kurang. Pikiran anda dipenuhi target dan keinginan.
Anda begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yg mendatangkan lebih banyak uang.
Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan.
Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi. Jadi, betapa pun banyak yang kita miliki, kita tak pernah menjadi “KAYA” dalam arti yang sesungguhnya.
Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang ”kaya”.
Orang yang ”kaya” bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki, dan tidak merasa kekurangan dengan harta yang ada malah dapat memberi kepada yang membutuhkan.
Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan, tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak tenteram.
Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yg sudah kita miliki.
Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang Anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup.
Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat-sifat baik atasan, pasangan, dan orang-orang di sekitar Anda. Mereka akan menjadi lebih menyenangkan.
Seorang pengarang pernah mengatakan, ”Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi.” Ini perwujudan rasa syukur.
Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah :
Kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung.
Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita.
Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi.
Ada sebuah kisah mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia.
Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab,
”Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup di tanah seberang.”
“Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga.”
Bersyukurlah!
Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu …
Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar …
Bersyukurlah untuk masa-masa sulit …
Di masa itulah kamu tumbuh …
Bersyukurlah untuk keterbatasanmu …
Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang …
Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru …
Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu …
Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat …
Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga …
Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih …
Karena itu kamu telah membuat suatu perbedaan …
Mungkin mudah untuk kita bersyukur akan hal-hal yang baik …
Hidup yang berkelimpahan datang pada mereka yang juga bersyukur akan masa surut …
Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif …
Temukan cara bersyukur akan masalah-masalahmu dan semua itu akan menjadi berkah bagimu …
Sumber :
ilhamseptian.blogspot.com
Kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki.
Katakanlah anda telah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang terbaik. Tapi anda masih merasa kurang. Pikiran anda dipenuhi target dan keinginan.
Anda begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yg mendatangkan lebih banyak uang.
Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan.
Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi. Jadi, betapa pun banyak yang kita miliki, kita tak pernah menjadi “KAYA” dalam arti yang sesungguhnya.
Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang ”kaya”.
Orang yang ”kaya” bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki, dan tidak merasa kekurangan dengan harta yang ada malah dapat memberi kepada yang membutuhkan.
Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan, tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak tenteram.
Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yg sudah kita miliki.
Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang Anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup.
Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat-sifat baik atasan, pasangan, dan orang-orang di sekitar Anda. Mereka akan menjadi lebih menyenangkan.
Seorang pengarang pernah mengatakan, ”Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi.” Ini perwujudan rasa syukur.
Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah :
Kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung.
Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita.
Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi.
Ada sebuah kisah mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia.
Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab,
”Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup di tanah seberang.”
“Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga.”
Bersyukurlah!
Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu …
Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar …
Bersyukurlah untuk masa-masa sulit …
Di masa itulah kamu tumbuh …
Bersyukurlah untuk keterbatasanmu …
Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang …
Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru …
Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu …
Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat …
Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga …
Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih …
Karena itu kamu telah membuat suatu perbedaan …
Mungkin mudah untuk kita bersyukur akan hal-hal yang baik …
Hidup yang berkelimpahan datang pada mereka yang juga bersyukur akan masa surut …
Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif …
Temukan cara bersyukur akan masalah-masalahmu dan semua itu akan menjadi berkah bagimu …
Sumber :
ilhamseptian.blogspot.com
Rabu, 01 Juni 2011
Dialog Rasulullah Saw. dan Iblis
Allah SWT telah memerintahkan seorang Malaikat menemui Iblis supaya dia menghadap Rasulullah saw untuk memberitahu segala rahasianya, baik yang disukai maupun yang dibencinya. Hikmatnya ialah untuk meninggikan derajat Nabi Muhammad SAW dan juga sebagai peringatan dan perisai kepada umat manusia.
Maka Malaikat itu pun berjumpa Iblis dan berkata, “Hai Iblis! Bahwa Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar memberi perintah untuk menghadap Rasullullah saw. Hendaklah engkau buka segala rahasiamu dan apapun yang ditanya Rasulullah hendaklah engkau jawab dengan sebenar-benarnya. Jikalau engkau berdusta walau satu perkataan pun, niscaya akan terputus semua anggota badanmu, uratmu, serta disiksa dengan azab yang amat keras.”
Mendengar ucapan Malaikat yang dahsyat itu, Iblis sangat ketakutan. Maka segeralah dia menghadap Rasulullah SAW dengan menyamar sebagai seorang tua yang buta sebelah matanya dan berjanggut putih 10 helai, panjangnya seperti ekor lembu.
Iblis pun memberi salam, sehingga 3 kali tidak juga dijawab oleh Rasulullah saw. Maka sambut Iblis (alaihi laknat),
“Ya Rasulullah! Mengapa engkau tidak mejawab salamku? Bukankah salam itu sangat mulia di sisi Allah?” Maka jawab Nabi dengan marah, “Hai Aduwullah seteru Allah! Kepadaku engkau menunjukkan kebaikanmu? Janganlah mencoba menipuku sebagaimana kau tipu Nabi Adam a.s sehingga keluar dari syurga, Habil mati teraniaya dibunuh Qabil dengan sebab hasutanmu, Nabi Ayub engkau tiup dengan asap beracun ketika dia sedang sujud sembahyang hingga dia sengsara beberapa lama, kisah Nabi Daud dengan perempuan Urya, Nabi Sulaiman meninggalkan kerajaannya karena engkau menyamar sebagai isterinya dan begitu juga beberapa Anbiya dan pendeta yang telah menanggung sengsara akibat hasutanmu.
Hai Iblis! Sebenarnya salam itu sangat mulia di sisi Allah azza wajalla, cuma salammu saja aku tidak hendak menjawabnya karena diharamkan Allah. Maka aku kenal baik-baik engkaulah Iblis, raja segala iblis, syaitan dan jin yang menyamar diri. Apa kehendakmu datang menemuiku?”
Taklimat Iblis, “Ya Nabi Allah! Janganlah engkau marah. Karena engkau adalah Khatamul Anbiya maka dapat mengenaliku. Kedatanganku adalah diperintah Allah untuk memberitahu segala tipu dayaku terhadap umatmu dari zaman Nabi Adam hingga akhir zaman. Ya Nabi Allah! Setiap apa yang engkau tanya, aku bersedia menerangkan satu persatu dengan sebenarnya, tiadalah aku berani menyembunyikannya.”
Maka Iblis pun bersumpah menyebut nama Allah dan berkata, “Ya Rasulullah! Sekiranya aku berdusta barang sepatah pun niscaya hancur leburlah badanku menjadi abu.”
Apabila mendengar sumpah Iblis itu, Nabi pun tersenyum dan berkata dalam hatinya, inilah satu peluangku untuk menyiasati segala perbuatannya agar didengar oleh sekalian sahabat yang ada di majlis ini dan menjadi perisai kepada seluruh umatku.
Pertanyaan Nabi (1):
“Hai Iblis! Siapakah sebesar-besar musuhmu dan bagaimana aku terhadapmu?”
Jawab Iblis:
“Ya Nabi Allah! Engkaulah musuhku yang paling besar di antara segala musuhku di muka bumi ini.”
Maka Nabi pun memandang muka Iblis, dan Iblis pun menggeletar karena ketakutan. Sambung Iblis, “Ya Khatamul Anbiya! Ada pun aku dapat merubah diriku seperti sekalian manusia, binatang dan lain-lain hingga rupa dan suara pun tidak berbeda, kecuali dirimu saja yang tidak dapat aku tiru karena dicegah oleh Allah.
Kiranya aku menyerupai dirimu, maka terbakarlah diriku menjadi abu. Aku cabut iktikad / niat anak Adam supaya menjadi kafir karena engkau berusaha memberi nasihat dan pengajaran supaya mereka kuat untuk memeluk agama Islam, begitu jugalah aku berusaha menarik mereka kepada kafir, murtad atau munafik. Aku akan menarik seluruh umat Islam dari jalan benar menuju jalan yang sesat supaya masuk ke dalam neraka dan kekal di dalamnya bersamaku.”
Pertanyaan Nabi (2):
“Hai Iblis! Bagaimana perbuatanmu kepada makhluk Allah?”
Jawab Iblis:
“Adalah satu kemajuan bagi perempuan yang merenggangkan kedua pahanya kepada lelaki yang bukan suaminya, setengahnya hingga mengeluarkan benih yang salah sifatnya. Aku goda semua manusia supaya meninggalkan sholat, terbuai dengan makan minum, berbuat durhaka, aku lalaikan dengan harta benda daripada emas, perak dan permata, rumahnya, tanahnya, ladangnya supaya hasilnya dibelanjakan ke jalan haram.
Demikian juga ketika pesta yang bercampur antara lelaki dan perempuan. Disana aku lepaskan sebesar-besar godaan supaya hilang peraturan dan minum arak. Apabila terminum arak itu maka hilanglah akal, fikiran dan malunya. Lalu aku ulurkan tali cinta dan terbukalah beberapa pintu maksiat yang besar, datang perasaan hasad dengki hingga kepada pekerjaan zina. Apabila terjadi kasih antara mereka, terpaksalah mereka mencari uang hingga menjadi penipu, peminjam dan pencuri.
Apabila mereka teringat akan salah mereka lalu hendak bertaubat atau berbuat amal ibadat, aku akan rayu mereka supaya mereka menangguhkannya. Bertambah keras aku goda supaya menambahkan maksiat dan mengambil isteri orang. Bila kena goda hatinya, datanglah rasa ria, takabur, megah, sombong dan melengahkan amalnya. Bila pada lidahnya, mereka akan gemar berdusta, mencela dan mengumpat. Demikianlah aku goda mereka setiap saat.”
Pertanyaan Nabi (3):
“Hai Iblis! Mengapa engkau bersusah payah melakukan pekerjaan yang tidak mendatangkan faedah bahkan menambahkan laknat yang besar serta siksa yang besar di neraka yang paling bawah? Hai yang dikutuk Allah! Siapa yang menjadikanmu? Siapa yang melanjutkan usiamu? Siapa yang menerangkan matamu? Siapa yang memberi pendengaranmu? Siapa yang memberi kekuatan anggota badanmu?”
Jawab Iblis:
“Semuanya itu adalah anugerah daripada Allah Yang Maha Besar juga. Tetapi hawa nafsu dan takabur membuatku menjadi jahat sebesar-besarnya. Engkau lebih tahu bahwa Diriku telah beribu-ribu tahun menjadi ketua seluruh Malaikat dan pangkatku telah dinaikkan dari satu langit ke satu langit yang tinggi. Kemudian Aku tinggal di dunia ini beribadat bersama sekalian Malaikat beberapa waktu lamanya.
Tiba-tiba datang firman Allah SWT hendak menjadikan seorang Khalifah di dunia ini, maka akupun membantah. Lalu Allah menciptakan lelaki (Nabi Adam) lalu dititahkan seluruh Malaikat memberi hormat kepada lelaki itu, kecuali aku yang ingkar. Oleh karena itu Allah murka kepadaku dan wajahku yang tampan rupawan dan bercahaya itu bertukar menjadi keji dan kelam. Aku merasa sakit hati. Kemudian Allah menjadikan Adam raja di syurga dan dikurniakan seorang permaisuri (Siti Hawa) yang memerintah seluruh bidadari. Aku bertambah dengki dan dendam kepada mereka.
Akhirnya aku berhasil menipu mereka melalui Siti Hawa yang menyuruh Adam memakan buah Khuldi, lalu keduanya diusir dari syurga ke dunia. Keduanya berpisah beberapa tahun dan kemudian dipertemukan Allah (di Padang Arafah), hingga mereka mendapat beberapa orang anak. Kemudian kami hasut anak lelakinya Qabil supaya membunuh saudaranya Habil. Itu pun aku masih tidak puas hati dan berbagai tipu daya aku lakukan hingga Hari Kiamat.
Sebelum Engkau lahir ke dunia, aku beserta bala tentaraku dengan mudah dapat naik ke langit untuk mencuri segala rahasia serta tulisan yang menyuruh manusia berbuat ibadat serta balasan pahala dan syurga mereka. Kemudian aku turun ke dunia, dan memberitahu manusia yang lain daripada apa yang sebenarnya aku dapatkan, dengan berbagai tipu daya hingga tersesat dengan berbagai kitab bid’ah dan carut-marut.
Tetapi ketika engkau lahir ke dunia ini, maka aku tidak dibenarkan oleh Allah untuk naik ke langit serta mencuri rahasia, kerana banyak Malaikat yang menjaga di setiap lapisan pintu langit. Jika aku berkeras juga hendak naik, maka Malaikat akan melontarkan anak panah dari api yang menyala. Sudah banyak bala tenteraku yang terkena lontaran Malaikat itu dan semuanya terbakar menjadi abu. Maka besarlah kesusahanku dan bala tentaraku untuk menjalankan tugas menghasut.”
Pertanyaan Nabi (4):
“Hai Iblis! Apakah yang pertama engkau tipu dari manusia?”
Jawab Iblis:
“Pertama sekali aku palingkan iktikad / niatnya, imannya kepada kafir juga ada dari segi perbuatan, perkataan, kelakuan atau hatinya. Jika tidak berhasil juga, aku akan tarik dengan cara mengurangi pahala. Lama-kelamaan mereka akan terjerumus mengikut kemauan jalanku”
Pertanyaan Nabi (5):
“Hai Iblis! Jika umatku sholat karena Allah, bagaimana keadaanmu?”
Jawab Iblis:
“Sebesar-besarnya kesusahanku. Gementarlah badanku dan lemah tulang sendiku. Maka aku kerahkan berpuluh-puluh iblis datang menggoda seorang manusia, pada setiap anggota badannya.
Setengah-setengahnya datang pada setiap anggota badannya supaya malas sholat, was-was, terlupa bilangan rakaatnya, bimbang pada pekerjaan dunia yang ditinggalkannya, sentiasa hendak cepat habis sholatnya, hilang khusyuknya – matanya sentiasa menjeling ke kiri kanan, telinganya senantiasa mendengar orang bercakap serta bunyi-bunyi yang lain. Setengah Iblis duduk di belakang badan orang yang sembahyang itu supaya dia tidak kuasa sujud berlama-lama, penat atau duduk tahiyat dan dalam hatinya senantiasa hendak cepat habis sholatnya, itu semua membawa kepada kurangnya pahala. Jika para Iblis itu tidak dapat menggoda manusia itu, maka aku sendiri akan menghukum mereka dengan seberat-berat hukuman.”
Pertanyaan Nabi (6):
“Jika umatku membaca Al-Quran karena Allah, bagaimana perasaanmu?”
Jawab Iblis:
“Jika mereka membaca Al-Quran karena Allah, maka rasa terbakarlah tubuhku, putus-putus segala uratku lalu aku lari daripadanya.”
Pertanyaan Nabi (7):
“Jika umatku mengerjakan haji karena Allah, bagaimana perasaanmu?”
Jawab Iblis:
“Binasalah diriku, gugurlah daging dan tulangku karena mereka telah mencukupkan rukun Islamnya.”
Pertanyaan Nabi (8):
“Jika umatku berpuasa karena Allah, bagaimana keadaanmu?”
Jawab Iblis:
“Ya Rasulullah! Inilah bencana yang paling besar bahayanya kepadaku. Apabila masuk awal bulan Ramadhan, maka memancarlah cahaya Arasy dan Kursi, bahkan seluruh Malaikat menyambut dengan suka cita. Bagi orang yang berpuasa, Allah akan mengampunkan segala dosa yang lalu dan digantikan dengan pahala yang amat besar serta tidak dicatatkan dosanya selama dia berpuasa. Yang menghancurkan hatiku ialah segala isi langit dan bumi, yakni Malaikat, bulan, bintang, burung dan ikan-ikan semuanya siang malam mendoakan ampunan bagi orang yang berpuasa. Satu lagi kemuliaan orang berpuasa ialah dimerdekakan pada setiap masa dari azab neraka. Bahkan semua pintu neraka ditutup manakala semua pintu syurga dibuka seluas-luasnya, serta dihembuskan angin dari bawah Arasy yang bernama Angin Syirah yang amat lembut ke dalam syurga.
Pada hari umatmu mulai berpuasa, dengan perintah Allah datanglah sekalian Malaikat dengan garangnya menangkapku dan tentaraku, jin, syaitan dan ifrit lalu dipasung kaki dan tangan dengan besi panas dan dirantai serta dimasukkan ke bawah bumi yang amat dalam. Di sana pula beberapa azab yang lain telah menunggu kami. Setelah habis umatmu berpuasa barulah aku dilepaskan dengan perintah agar tidak mengganggu umatmu. Umatmu sendiri telah merasa ketenangan berpuasa sebagaimana mereka bekerja dan bersahur seorang diri di tengah malam tanpa rasa takut dibandingkan bulan biasa.”
Pertanyaan Nabi (9):
“Hai Iblis! Bagaimana seluruh sahabatku menurutmu?”
Jawab Iblis:
“Seluruh sahabatmu juga adalah sebesar – besar seteruku. Tiada upayaku melawannya dan tiada satu tipu daya yang dapat masuk kepada mereka. Karena engkau sendiri telah berkata: “Seluruh sahabatku adalah seperti bintang di langit, jika kamu mengikuti mereka, maka kamu akan mendapat petunjuk.”
Saidina Abu Bakar al-Siddiq sebelum bersamamu, aku tidak dapat mendekatinya, apalagi setelah berdampingan denganmu. Dia begitu percaya atas kebenaranmu hingga dia menjadi wazirul a’zam. Bahkan engkau sendiri telah mengatakan jika ditimbang seluruh isi dunia ini dengan amal kebajikan Abu Bakar, maka akan lebih berat amal kebajikan Abu Bakar.
Tambahan pula dia telah menjadi mertuamu karena engkau menikah dengan anaknya, Saiyidatina Aisyah yang juga banyak menghafadz Hadits-haditsmu.
Saidina Umar Al-Khattab pula tidaklah berani aku pandang wajahnya karena dia sangat keras menjalankan hukum syariat Islam dengan seksama. Jika aku pandang wajahnya, maka gemetarlah segala tulang sendiku karena sangat takut. Hal ini karena imannya sangat kuat apalagi engkau telah mengatakan, “Jikalau adanya Nabi sesudah aku maka Umar boleh menggantikan aku”, karena dia adalah orang harapanmu serta pandai membedakan antara kafir dan Islam hingga digelar ‘Al-Faruq’.
Saidina Usman Al-Affan lagi, aku tidak bisa bertemu, karena lidahnya senantiasa bergerak membaca Al-Quran. Dia penghulu orang sabar, penghulu orang mati syahid dan menjadi menantumu sebanyak dua kali. Karena taatnya, banyak Malaikat datang melawat dan memberi hormat kepadanya karena Malaikat itu sangat malu kepadanya hingga engkau mengatakan, “Barang siapa menulis Bismillahir rahmanir rahim pada kitab atau kertas-kertas dengan dakwat merah, nescaya mendapat pahala seperti pahala Usman mati syahid.”
Saidina Ali Abi Talib pun itu aku sangat takut karena hebatnya dan gagahnya dia di medan perang, tetapi sangat sopan santun, alim orangnya. Jika iblis, syaitan dan jin memandang beliau, maka terbakarlah kedua mata mereka karena dia sangat kuat beribadat serta beliau adalah golongan orang pertama memeluk agama Islam dan tidak pernah menundukkan kepalanya kepada sebarang berhala. Bergelar ‘Ali Karamullahu Wajhahu’ – dimuliakan Allah akan wajahnya dan juga ‘Harimau Allah’ dan engkau sendiri berkata, “Akulah negeri segala ilmu dan Ali itu pintunya.” Tambahan pula dia menjadi menantumu, semakin aku ngeri kepadanya.”
Pertanyaan Nabi (10):
“Bagaimana tipu daya engkau kepada umatku?”
Jawab Iblis:
“Umatmu itu ada tiga macam. Yang pertama seperti hujan dari langit yang menghidupkan segala tumbuhan yaitu ulama yang memberi nasihat kepada manusia supaya mengerjakan perintah Allah serta meninggalkan laranganNya seperti kata Jibril a.s,
“Ulama itu adalah pelita dunia dan pelita akhirat.” Yang kedua umat tuan seperti tanah yaitu orang yang sabar, syukur dan ridha dengan karunia Allah. Berbuat amal soleh, tawakal dan kebajikan. Yang ketiga umatmu seperti Firaun; terlampau tamak dengan harta dunia serta dihilangkan amal akhirat. Maka akupun bersukacita lalu masuk ke dalam badannya, aku putarkan hatinya ke lautan durhaka dan aku hela ke mana saja mengikuti kehendakku. Jadi dia senantiasa bimbang kepada dunia dan tidak hendak menuntut ilmu, tiada masa beramal ibadat, tidak hendak mengeluarkan zakat, miskin hendak beribadat.
Lalu aku goda agar minta kaya dulu, dan apabila diizinkan Allah dia menjadi kaya, maka dilupakan beramal, tidak berzakat seperti Qarun yang tenggelam dengan istana mahligainya. Bila umatmu terkena penyakit tidak sabar dan tamak, dia senantiasa bimbang akan hartanya dan setengahnya asyik hendak merebut dunia harta, bercakap besar sesama Islam, benci dan menghina kepada yang miskin, membelanjakan hartanya untuk jalan maksiat, tempat judi dan perempuan lacur.”
Pertanyaan Nabi (11):
“Siapa yang serupa dengan engkau?”
Jawab Iblis:
“Orang yang meringankan syariatmu dan membenci orang belajar agama Islam.”
Pertanyaan Nabi (12):
“Siapa yang mencahayakan muka engkau?”
Jawab Iblis:
“Orang yang berdosa, bersumpah bohong, saksi palsu, pemungkir janji.”
Pertanyaan Nabi (13):
“Apakah rahasia engkau kepada umatku?”
Jawab Iblis:
“Jika seorang Islam pergi buang air besar serta tidak membaca doa pelindung syaitan, maka aku gosok-gosokkan najisnya sendiri ke badannya tanpa dia sadari.”
Pertanyaan Nabi (14):
“Jika umatku bersatu dengan isterinya, bagaimana hal engkau?”
Jawab Iblis:
“Jika umatmu hendak bersetubuh dengan isterinya serta membaca doa pelindung syaitan, maka larilah aku dari mereka. Jika tidak, aku akan bersetubuh dahulu dengan isterinya, dan bercampurlah benihku dengan benih isterinya. Jika menjadi anak maka anak itu akan gemar kepada pekerjaan maksiat, malas pada kebaikan, durhaka. Ini semua karena kealpaan ibu bapaknya sendiri. Begitu juga jika mereka makan tanpa membaca Bismillah, aku yang dahulu makan daripadanya. Walaupun mereka makan, tiadalah merasa kenyang.”
Pertanyaan Nabi (15):
“Dengan jalan apa dapat menolak tipu daya engkau?”
Jawab Iblis:
“Jika dia berbuat dosa, maka dia kembali bertaubat kepada Allah, menangis menyesal akan perbuatannya. Apabila marah segeralah mengambil air wudhu’, maka padamlah marahnya.”
Pertanyaan Nabi (16):
“Siapakah orang yang paling engkau lebih sukai?”
Jawab Iblis:
Lelaki dan perempuan yang tidak mencukur atau mencabut bulu ketiak atau bulu ari-ari (bulu kemaluan) selama 40 hari. Di situlah aku mengecilkan diri, bersarang, bergantung, berbuai seperti pijat pada bulu itu.”
Pertanyaan Nabi (17):
“Hai Iblis! Siapakah saudara engkau?”
Jawab Iblis:
“Orang yang tidur meniarap / telungkup, orang yang matanya terbuka (mendusin) di waktu subuh tetapi menyambung tidur lagi. Lalu aku lenakan dia hingga terbit fajar. Demikian jua pada waktu zuhur, asar, maghrib dan isya’, aku beratkan hatinya untuk sholat.”
Pertanyaan Nabi (18):
“Apakah jalan yang membinasakan diri engkau?”
Jawab Iblis:
“Orang yang banyak menyebut nama Allah, bersedekah dengan tidak diketahui orang, banyak bertaubat, banyak tadarus Al-Quran dan sholat tengah malam.”
Pertanyaan Nabi (19):
“Hai Iblis! Apakah yang memecahkan mata engkau?”
Jawab Iblis:
“Orang yang duduk di dalam masjid serta beriktikaf di dalamnya”
Pertanyaan Nabi (20):
“Apa lagi yang memecahkan mata engkau?”
Jawab Iblis:
“Orang yang taat kepada kedua ibu bapanya, mendengar kata mereka, membantu makan pakaian mereka selama mereka hidup, karena engkau telah bersabda,’Syurga itu di bawah tapak kaki ibu’”
***
Dari Sahabat
Maka Malaikat itu pun berjumpa Iblis dan berkata, “Hai Iblis! Bahwa Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar memberi perintah untuk menghadap Rasullullah saw. Hendaklah engkau buka segala rahasiamu dan apapun yang ditanya Rasulullah hendaklah engkau jawab dengan sebenar-benarnya. Jikalau engkau berdusta walau satu perkataan pun, niscaya akan terputus semua anggota badanmu, uratmu, serta disiksa dengan azab yang amat keras.”
Mendengar ucapan Malaikat yang dahsyat itu, Iblis sangat ketakutan. Maka segeralah dia menghadap Rasulullah SAW dengan menyamar sebagai seorang tua yang buta sebelah matanya dan berjanggut putih 10 helai, panjangnya seperti ekor lembu.
Iblis pun memberi salam, sehingga 3 kali tidak juga dijawab oleh Rasulullah saw. Maka sambut Iblis (alaihi laknat),
“Ya Rasulullah! Mengapa engkau tidak mejawab salamku? Bukankah salam itu sangat mulia di sisi Allah?” Maka jawab Nabi dengan marah, “Hai Aduwullah seteru Allah! Kepadaku engkau menunjukkan kebaikanmu? Janganlah mencoba menipuku sebagaimana kau tipu Nabi Adam a.s sehingga keluar dari syurga, Habil mati teraniaya dibunuh Qabil dengan sebab hasutanmu, Nabi Ayub engkau tiup dengan asap beracun ketika dia sedang sujud sembahyang hingga dia sengsara beberapa lama, kisah Nabi Daud dengan perempuan Urya, Nabi Sulaiman meninggalkan kerajaannya karena engkau menyamar sebagai isterinya dan begitu juga beberapa Anbiya dan pendeta yang telah menanggung sengsara akibat hasutanmu.
Hai Iblis! Sebenarnya salam itu sangat mulia di sisi Allah azza wajalla, cuma salammu saja aku tidak hendak menjawabnya karena diharamkan Allah. Maka aku kenal baik-baik engkaulah Iblis, raja segala iblis, syaitan dan jin yang menyamar diri. Apa kehendakmu datang menemuiku?”
Taklimat Iblis, “Ya Nabi Allah! Janganlah engkau marah. Karena engkau adalah Khatamul Anbiya maka dapat mengenaliku. Kedatanganku adalah diperintah Allah untuk memberitahu segala tipu dayaku terhadap umatmu dari zaman Nabi Adam hingga akhir zaman. Ya Nabi Allah! Setiap apa yang engkau tanya, aku bersedia menerangkan satu persatu dengan sebenarnya, tiadalah aku berani menyembunyikannya.”
Maka Iblis pun bersumpah menyebut nama Allah dan berkata, “Ya Rasulullah! Sekiranya aku berdusta barang sepatah pun niscaya hancur leburlah badanku menjadi abu.”
Apabila mendengar sumpah Iblis itu, Nabi pun tersenyum dan berkata dalam hatinya, inilah satu peluangku untuk menyiasati segala perbuatannya agar didengar oleh sekalian sahabat yang ada di majlis ini dan menjadi perisai kepada seluruh umatku.
Pertanyaan Nabi (1):
“Hai Iblis! Siapakah sebesar-besar musuhmu dan bagaimana aku terhadapmu?”
Jawab Iblis:
“Ya Nabi Allah! Engkaulah musuhku yang paling besar di antara segala musuhku di muka bumi ini.”
Maka Nabi pun memandang muka Iblis, dan Iblis pun menggeletar karena ketakutan. Sambung Iblis, “Ya Khatamul Anbiya! Ada pun aku dapat merubah diriku seperti sekalian manusia, binatang dan lain-lain hingga rupa dan suara pun tidak berbeda, kecuali dirimu saja yang tidak dapat aku tiru karena dicegah oleh Allah.
Kiranya aku menyerupai dirimu, maka terbakarlah diriku menjadi abu. Aku cabut iktikad / niat anak Adam supaya menjadi kafir karena engkau berusaha memberi nasihat dan pengajaran supaya mereka kuat untuk memeluk agama Islam, begitu jugalah aku berusaha menarik mereka kepada kafir, murtad atau munafik. Aku akan menarik seluruh umat Islam dari jalan benar menuju jalan yang sesat supaya masuk ke dalam neraka dan kekal di dalamnya bersamaku.”
Pertanyaan Nabi (2):
“Hai Iblis! Bagaimana perbuatanmu kepada makhluk Allah?”
Jawab Iblis:
“Adalah satu kemajuan bagi perempuan yang merenggangkan kedua pahanya kepada lelaki yang bukan suaminya, setengahnya hingga mengeluarkan benih yang salah sifatnya. Aku goda semua manusia supaya meninggalkan sholat, terbuai dengan makan minum, berbuat durhaka, aku lalaikan dengan harta benda daripada emas, perak dan permata, rumahnya, tanahnya, ladangnya supaya hasilnya dibelanjakan ke jalan haram.
Demikian juga ketika pesta yang bercampur antara lelaki dan perempuan. Disana aku lepaskan sebesar-besar godaan supaya hilang peraturan dan minum arak. Apabila terminum arak itu maka hilanglah akal, fikiran dan malunya. Lalu aku ulurkan tali cinta dan terbukalah beberapa pintu maksiat yang besar, datang perasaan hasad dengki hingga kepada pekerjaan zina. Apabila terjadi kasih antara mereka, terpaksalah mereka mencari uang hingga menjadi penipu, peminjam dan pencuri.
Apabila mereka teringat akan salah mereka lalu hendak bertaubat atau berbuat amal ibadat, aku akan rayu mereka supaya mereka menangguhkannya. Bertambah keras aku goda supaya menambahkan maksiat dan mengambil isteri orang. Bila kena goda hatinya, datanglah rasa ria, takabur, megah, sombong dan melengahkan amalnya. Bila pada lidahnya, mereka akan gemar berdusta, mencela dan mengumpat. Demikianlah aku goda mereka setiap saat.”
Pertanyaan Nabi (3):
“Hai Iblis! Mengapa engkau bersusah payah melakukan pekerjaan yang tidak mendatangkan faedah bahkan menambahkan laknat yang besar serta siksa yang besar di neraka yang paling bawah? Hai yang dikutuk Allah! Siapa yang menjadikanmu? Siapa yang melanjutkan usiamu? Siapa yang menerangkan matamu? Siapa yang memberi pendengaranmu? Siapa yang memberi kekuatan anggota badanmu?”
Jawab Iblis:
“Semuanya itu adalah anugerah daripada Allah Yang Maha Besar juga. Tetapi hawa nafsu dan takabur membuatku menjadi jahat sebesar-besarnya. Engkau lebih tahu bahwa Diriku telah beribu-ribu tahun menjadi ketua seluruh Malaikat dan pangkatku telah dinaikkan dari satu langit ke satu langit yang tinggi. Kemudian Aku tinggal di dunia ini beribadat bersama sekalian Malaikat beberapa waktu lamanya.
Tiba-tiba datang firman Allah SWT hendak menjadikan seorang Khalifah di dunia ini, maka akupun membantah. Lalu Allah menciptakan lelaki (Nabi Adam) lalu dititahkan seluruh Malaikat memberi hormat kepada lelaki itu, kecuali aku yang ingkar. Oleh karena itu Allah murka kepadaku dan wajahku yang tampan rupawan dan bercahaya itu bertukar menjadi keji dan kelam. Aku merasa sakit hati. Kemudian Allah menjadikan Adam raja di syurga dan dikurniakan seorang permaisuri (Siti Hawa) yang memerintah seluruh bidadari. Aku bertambah dengki dan dendam kepada mereka.
Akhirnya aku berhasil menipu mereka melalui Siti Hawa yang menyuruh Adam memakan buah Khuldi, lalu keduanya diusir dari syurga ke dunia. Keduanya berpisah beberapa tahun dan kemudian dipertemukan Allah (di Padang Arafah), hingga mereka mendapat beberapa orang anak. Kemudian kami hasut anak lelakinya Qabil supaya membunuh saudaranya Habil. Itu pun aku masih tidak puas hati dan berbagai tipu daya aku lakukan hingga Hari Kiamat.
Sebelum Engkau lahir ke dunia, aku beserta bala tentaraku dengan mudah dapat naik ke langit untuk mencuri segala rahasia serta tulisan yang menyuruh manusia berbuat ibadat serta balasan pahala dan syurga mereka. Kemudian aku turun ke dunia, dan memberitahu manusia yang lain daripada apa yang sebenarnya aku dapatkan, dengan berbagai tipu daya hingga tersesat dengan berbagai kitab bid’ah dan carut-marut.
Tetapi ketika engkau lahir ke dunia ini, maka aku tidak dibenarkan oleh Allah untuk naik ke langit serta mencuri rahasia, kerana banyak Malaikat yang menjaga di setiap lapisan pintu langit. Jika aku berkeras juga hendak naik, maka Malaikat akan melontarkan anak panah dari api yang menyala. Sudah banyak bala tenteraku yang terkena lontaran Malaikat itu dan semuanya terbakar menjadi abu. Maka besarlah kesusahanku dan bala tentaraku untuk menjalankan tugas menghasut.”
Pertanyaan Nabi (4):
“Hai Iblis! Apakah yang pertama engkau tipu dari manusia?”
Jawab Iblis:
“Pertama sekali aku palingkan iktikad / niatnya, imannya kepada kafir juga ada dari segi perbuatan, perkataan, kelakuan atau hatinya. Jika tidak berhasil juga, aku akan tarik dengan cara mengurangi pahala. Lama-kelamaan mereka akan terjerumus mengikut kemauan jalanku”
Pertanyaan Nabi (5):
“Hai Iblis! Jika umatku sholat karena Allah, bagaimana keadaanmu?”
Jawab Iblis:
“Sebesar-besarnya kesusahanku. Gementarlah badanku dan lemah tulang sendiku. Maka aku kerahkan berpuluh-puluh iblis datang menggoda seorang manusia, pada setiap anggota badannya.
Setengah-setengahnya datang pada setiap anggota badannya supaya malas sholat, was-was, terlupa bilangan rakaatnya, bimbang pada pekerjaan dunia yang ditinggalkannya, sentiasa hendak cepat habis sholatnya, hilang khusyuknya – matanya sentiasa menjeling ke kiri kanan, telinganya senantiasa mendengar orang bercakap serta bunyi-bunyi yang lain. Setengah Iblis duduk di belakang badan orang yang sembahyang itu supaya dia tidak kuasa sujud berlama-lama, penat atau duduk tahiyat dan dalam hatinya senantiasa hendak cepat habis sholatnya, itu semua membawa kepada kurangnya pahala. Jika para Iblis itu tidak dapat menggoda manusia itu, maka aku sendiri akan menghukum mereka dengan seberat-berat hukuman.”
Pertanyaan Nabi (6):
“Jika umatku membaca Al-Quran karena Allah, bagaimana perasaanmu?”
Jawab Iblis:
“Jika mereka membaca Al-Quran karena Allah, maka rasa terbakarlah tubuhku, putus-putus segala uratku lalu aku lari daripadanya.”
Pertanyaan Nabi (7):
“Jika umatku mengerjakan haji karena Allah, bagaimana perasaanmu?”
Jawab Iblis:
“Binasalah diriku, gugurlah daging dan tulangku karena mereka telah mencukupkan rukun Islamnya.”
Pertanyaan Nabi (8):
“Jika umatku berpuasa karena Allah, bagaimana keadaanmu?”
Jawab Iblis:
“Ya Rasulullah! Inilah bencana yang paling besar bahayanya kepadaku. Apabila masuk awal bulan Ramadhan, maka memancarlah cahaya Arasy dan Kursi, bahkan seluruh Malaikat menyambut dengan suka cita. Bagi orang yang berpuasa, Allah akan mengampunkan segala dosa yang lalu dan digantikan dengan pahala yang amat besar serta tidak dicatatkan dosanya selama dia berpuasa. Yang menghancurkan hatiku ialah segala isi langit dan bumi, yakni Malaikat, bulan, bintang, burung dan ikan-ikan semuanya siang malam mendoakan ampunan bagi orang yang berpuasa. Satu lagi kemuliaan orang berpuasa ialah dimerdekakan pada setiap masa dari azab neraka. Bahkan semua pintu neraka ditutup manakala semua pintu syurga dibuka seluas-luasnya, serta dihembuskan angin dari bawah Arasy yang bernama Angin Syirah yang amat lembut ke dalam syurga.
Pada hari umatmu mulai berpuasa, dengan perintah Allah datanglah sekalian Malaikat dengan garangnya menangkapku dan tentaraku, jin, syaitan dan ifrit lalu dipasung kaki dan tangan dengan besi panas dan dirantai serta dimasukkan ke bawah bumi yang amat dalam. Di sana pula beberapa azab yang lain telah menunggu kami. Setelah habis umatmu berpuasa barulah aku dilepaskan dengan perintah agar tidak mengganggu umatmu. Umatmu sendiri telah merasa ketenangan berpuasa sebagaimana mereka bekerja dan bersahur seorang diri di tengah malam tanpa rasa takut dibandingkan bulan biasa.”
Pertanyaan Nabi (9):
“Hai Iblis! Bagaimana seluruh sahabatku menurutmu?”
Jawab Iblis:
“Seluruh sahabatmu juga adalah sebesar – besar seteruku. Tiada upayaku melawannya dan tiada satu tipu daya yang dapat masuk kepada mereka. Karena engkau sendiri telah berkata: “Seluruh sahabatku adalah seperti bintang di langit, jika kamu mengikuti mereka, maka kamu akan mendapat petunjuk.”
Saidina Abu Bakar al-Siddiq sebelum bersamamu, aku tidak dapat mendekatinya, apalagi setelah berdampingan denganmu. Dia begitu percaya atas kebenaranmu hingga dia menjadi wazirul a’zam. Bahkan engkau sendiri telah mengatakan jika ditimbang seluruh isi dunia ini dengan amal kebajikan Abu Bakar, maka akan lebih berat amal kebajikan Abu Bakar.
Tambahan pula dia telah menjadi mertuamu karena engkau menikah dengan anaknya, Saiyidatina Aisyah yang juga banyak menghafadz Hadits-haditsmu.
Saidina Umar Al-Khattab pula tidaklah berani aku pandang wajahnya karena dia sangat keras menjalankan hukum syariat Islam dengan seksama. Jika aku pandang wajahnya, maka gemetarlah segala tulang sendiku karena sangat takut. Hal ini karena imannya sangat kuat apalagi engkau telah mengatakan, “Jikalau adanya Nabi sesudah aku maka Umar boleh menggantikan aku”, karena dia adalah orang harapanmu serta pandai membedakan antara kafir dan Islam hingga digelar ‘Al-Faruq’.
Saidina Usman Al-Affan lagi, aku tidak bisa bertemu, karena lidahnya senantiasa bergerak membaca Al-Quran. Dia penghulu orang sabar, penghulu orang mati syahid dan menjadi menantumu sebanyak dua kali. Karena taatnya, banyak Malaikat datang melawat dan memberi hormat kepadanya karena Malaikat itu sangat malu kepadanya hingga engkau mengatakan, “Barang siapa menulis Bismillahir rahmanir rahim pada kitab atau kertas-kertas dengan dakwat merah, nescaya mendapat pahala seperti pahala Usman mati syahid.”
Saidina Ali Abi Talib pun itu aku sangat takut karena hebatnya dan gagahnya dia di medan perang, tetapi sangat sopan santun, alim orangnya. Jika iblis, syaitan dan jin memandang beliau, maka terbakarlah kedua mata mereka karena dia sangat kuat beribadat serta beliau adalah golongan orang pertama memeluk agama Islam dan tidak pernah menundukkan kepalanya kepada sebarang berhala. Bergelar ‘Ali Karamullahu Wajhahu’ – dimuliakan Allah akan wajahnya dan juga ‘Harimau Allah’ dan engkau sendiri berkata, “Akulah negeri segala ilmu dan Ali itu pintunya.” Tambahan pula dia menjadi menantumu, semakin aku ngeri kepadanya.”
Pertanyaan Nabi (10):
“Bagaimana tipu daya engkau kepada umatku?”
Jawab Iblis:
“Umatmu itu ada tiga macam. Yang pertama seperti hujan dari langit yang menghidupkan segala tumbuhan yaitu ulama yang memberi nasihat kepada manusia supaya mengerjakan perintah Allah serta meninggalkan laranganNya seperti kata Jibril a.s,
“Ulama itu adalah pelita dunia dan pelita akhirat.” Yang kedua umat tuan seperti tanah yaitu orang yang sabar, syukur dan ridha dengan karunia Allah. Berbuat amal soleh, tawakal dan kebajikan. Yang ketiga umatmu seperti Firaun; terlampau tamak dengan harta dunia serta dihilangkan amal akhirat. Maka akupun bersukacita lalu masuk ke dalam badannya, aku putarkan hatinya ke lautan durhaka dan aku hela ke mana saja mengikuti kehendakku. Jadi dia senantiasa bimbang kepada dunia dan tidak hendak menuntut ilmu, tiada masa beramal ibadat, tidak hendak mengeluarkan zakat, miskin hendak beribadat.
Lalu aku goda agar minta kaya dulu, dan apabila diizinkan Allah dia menjadi kaya, maka dilupakan beramal, tidak berzakat seperti Qarun yang tenggelam dengan istana mahligainya. Bila umatmu terkena penyakit tidak sabar dan tamak, dia senantiasa bimbang akan hartanya dan setengahnya asyik hendak merebut dunia harta, bercakap besar sesama Islam, benci dan menghina kepada yang miskin, membelanjakan hartanya untuk jalan maksiat, tempat judi dan perempuan lacur.”
Pertanyaan Nabi (11):
“Siapa yang serupa dengan engkau?”
Jawab Iblis:
“Orang yang meringankan syariatmu dan membenci orang belajar agama Islam.”
Pertanyaan Nabi (12):
“Siapa yang mencahayakan muka engkau?”
Jawab Iblis:
“Orang yang berdosa, bersumpah bohong, saksi palsu, pemungkir janji.”
Pertanyaan Nabi (13):
“Apakah rahasia engkau kepada umatku?”
Jawab Iblis:
“Jika seorang Islam pergi buang air besar serta tidak membaca doa pelindung syaitan, maka aku gosok-gosokkan najisnya sendiri ke badannya tanpa dia sadari.”
Pertanyaan Nabi (14):
“Jika umatku bersatu dengan isterinya, bagaimana hal engkau?”
Jawab Iblis:
“Jika umatmu hendak bersetubuh dengan isterinya serta membaca doa pelindung syaitan, maka larilah aku dari mereka. Jika tidak, aku akan bersetubuh dahulu dengan isterinya, dan bercampurlah benihku dengan benih isterinya. Jika menjadi anak maka anak itu akan gemar kepada pekerjaan maksiat, malas pada kebaikan, durhaka. Ini semua karena kealpaan ibu bapaknya sendiri. Begitu juga jika mereka makan tanpa membaca Bismillah, aku yang dahulu makan daripadanya. Walaupun mereka makan, tiadalah merasa kenyang.”
Pertanyaan Nabi (15):
“Dengan jalan apa dapat menolak tipu daya engkau?”
Jawab Iblis:
“Jika dia berbuat dosa, maka dia kembali bertaubat kepada Allah, menangis menyesal akan perbuatannya. Apabila marah segeralah mengambil air wudhu’, maka padamlah marahnya.”
Pertanyaan Nabi (16):
“Siapakah orang yang paling engkau lebih sukai?”
Jawab Iblis:
Lelaki dan perempuan yang tidak mencukur atau mencabut bulu ketiak atau bulu ari-ari (bulu kemaluan) selama 40 hari. Di situlah aku mengecilkan diri, bersarang, bergantung, berbuai seperti pijat pada bulu itu.”
Pertanyaan Nabi (17):
“Hai Iblis! Siapakah saudara engkau?”
Jawab Iblis:
“Orang yang tidur meniarap / telungkup, orang yang matanya terbuka (mendusin) di waktu subuh tetapi menyambung tidur lagi. Lalu aku lenakan dia hingga terbit fajar. Demikian jua pada waktu zuhur, asar, maghrib dan isya’, aku beratkan hatinya untuk sholat.”
Pertanyaan Nabi (18):
“Apakah jalan yang membinasakan diri engkau?”
Jawab Iblis:
“Orang yang banyak menyebut nama Allah, bersedekah dengan tidak diketahui orang, banyak bertaubat, banyak tadarus Al-Quran dan sholat tengah malam.”
Pertanyaan Nabi (19):
“Hai Iblis! Apakah yang memecahkan mata engkau?”
Jawab Iblis:
“Orang yang duduk di dalam masjid serta beriktikaf di dalamnya”
Pertanyaan Nabi (20):
“Apa lagi yang memecahkan mata engkau?”
Jawab Iblis:
“Orang yang taat kepada kedua ibu bapanya, mendengar kata mereka, membantu makan pakaian mereka selama mereka hidup, karena engkau telah bersabda,’Syurga itu di bawah tapak kaki ibu’”
***
Dari Sahabat
Pengalaman Seru Ke BNS - Malang
Telah lama tante dari suami mengabarkan akan mengadakan acara pernikahan salah seorang putrinya, maka kami sekeluarga sepakat untuk dapat hadir walaupun itu berada di kota Malang / pulau Jawa sedangkan kami berada di pulau Kalimantan, ngga' papa deh itung-itung sekalian liburan keluarga.
Akhirnya hari yang ditunggu datang juga, kami berangkat bersama dengan paman dan istrinya dan alhamdulillah perjalanan yang ditempuh lumayan menyenangkan, bisa jadi ajang silaturahmi ma tante dan pamanku yg juga tinggal di Bpp, walaupun anak sempat rewel ditengah perjalanan Surabaya-Malang, koq nga' nyampe2 katanya, bayangkan dari Balikpapan-Surabaya di pesawat dah 2 jam-an, lalu dgn kendaraan dari Surabaya-Malang tembus 4 jam, jadi jam 6 sore baru nyampe di penginapan. Subhanallah.. perjalanan yang cukup melelahkan..Huufft..
alhamdulillah kelelahan itu hilang karena penginapannya bersih dan nyaman..
Setelah kangen2an ketemu mertua dan keluarga yang lain kemudian istirahat sebentar, malamnya kami sempat jalan-jalan ke Mall yang terdekat, mencari sepatu anak saya Ariq yang berusia 9 th. ternyata ga' dapat karena kehabisan stock untuk ukuran yang sesuai.
Pagi harinya kami datang ke acara manten jam 10an sebagai kloter 2, karena rombongan pertama dah berangkat jam 7 pagi mengikuti prosesi akad nikahnya.
Ketika sampai ditempat, acara baru dimulai, dan pengantin belum duduk dipelaminan
kami langsung menikmati hidangan yang ada, dan setelah memasuki jam makan siang mulai banyak tamu yang berdatangan, namu saya heran karena tamu pada di bagian hidangan yg disuguhkan koq ga' ada yang balik..
oow.. ternyata kursi yang disediakan memang sedikit, mungkin hanya 25 buah kursi, sedangkan tamu yang dateng lumayan banyak, tentu saja para tamu yang datang dengan pakaian yang cantik2 terpaksa makan dengan berdiri / standing party.
Selidik punya selidik ternyata budaya disana memang begitu, hanya saya cukup prihatin karena dari tamu-tamu yang datang tentu bukan dari golongan muda saja, yang tua/ sepuh juga ada kasihan mereka makan sambil berdiri. dan ditinjau dari kacamata islam kan dilarang makan/minum sambil berdiri, begitu pula ditinjau dari segi kesehatan tidak baik untuk jantung begitu dari artikel yang saya baca.
selain itu kaki pegel..
Namun selain itu ada juga hal yang cukup mengagumkan bagi saya, yaitu ada beberapa tamu yang hadir dengan keterbatasan kemampuan (lumpuh) tetap berusaha hadir, seperti terlihat seorang tua datang dengan tertatih-tatih dibantu tongkatnya, mungkin umur kakek tersebut sekitar 70an dan kemudian terlihat juga sepasang suami istri (chinese)datang, sang suami mendorong kereta dorong sang istri yang sepertinya sakit stroke.
Begitulah dgn keterbatasan yang ada mereka datang, bersalaman dengan sang pengantin yang notabene berada diatas panggung yang cukup sulit bagi mereka untuk naik, tetapi mereka tetap lakukan itu.. sehingga membuat tamu yang lain kagum dan tersentuh akan ketulusan mereka.
Pelajaran bagi diri saya, yang kadang tidak datang jika ada undangan yang tempatnya cukup jauh.. astaghfirullah aladzhiimm..
Satu lagi point yang saya ambil di sana (Malang)sedikit sekali wanita yang menggunakan jilbab/ kerudung. mungkinkah cahaya Islam belum menyinari daerah yang sejuk dan cantik ini..??
Bagaimana dgn para mahasiswa/i yang notabene banyak disini dan lebih mengetahui tentang daerahnya ataukan memang karena disana banyak juga yang non muslim yaa.. wallahu 'alam. PR bagi kita untuk merubahnya sedikit demi sedikit, terutama kaum tua-nya..yang sedikit sekali menggunakan hijab/kerudung.
Setelah ke acara manten kami mulai deh jalan2 ke tempat wisata keluarga, dan pilihan jatuh ke BNS (Batu Night Spectakuler) di malam harinya, bagus banget karena banyak sekali lampu2 hiasnya dan banyak permainan yg seru baget (luar biasa untuk jagoanku Ariq, berani banget ikut permainan yg menantang) saya sendiri ga' berani, Kami juga mencoba sepeda udara.. hiiyy serem naek sepeda di atas ketinggian 10 meteran, satu sepeda untuk 2 orang, jadi pemandangannya lampu-lampu cantik di BNS.. ngeri sekaligus menantang, karena setirannya kesana-kemari (muter-muter) pokoknya permaninannya bernyali..pengalaman yang seru.. Kami pun tak lupa berfoto dgn kedua mertua dan sepupuku Ka' Yanet dari Banjarmasin.
Lalu keesokan harinya kami sekeluarga ke Jatim Park I dan 2, tempatnya permainan dan kebun binatang, yang tidak ada di Kalimantan.. kami berangkat dari jam 11 siang sampai jam 6 sore..(lumayan mepet siih..) karena untuk Jatim Park I saja memakan waktu bisa 3-4 jam-an jadi, lain kali berangkatnya harus dari jam 8an jadi lebih leluasa dan semua tempat dan semua binatang bisa dilihat.. so pengalaman yang asyiik dan menyenangkan..^_^, terima kasih Allah atas karunia-Mu.
Dan satu lagi alhamdulillah.. kami sekeluarga sempat bertemu dgn teman sekolah dulu (Evawati) duh senangnya karena dia baik dan ramah sekali.. dan kamipun sempat mampir ke rumahnya.. Subhanallah...
Keesokan harinya kami pun kembali ke Surabaya berangkat jam 2an sampai jam 6 sore, cukup melelahkan tapi kemudian malam harinya kami menyempatkan diri jalan -jalan ke mall di Surabaya dan keesokan harinya menyempatkan diri belanja ke pasar Turi.
Woow.. ramai sekali lalu lintas di Surabaya, padat sama seperti Jakarta, maklumlah kota besar.
Begitulah sedikit oleh2 yang didapat dari perjalanan ke kota Surabaya-Malang selama 5 hari, yang dirasa kurang tetapi yang jelas amat berkesan bagi kami
Semoga Allah memberikan umur panjang hingga bisa lagi jalan-jalan kesana.
aammiiinn.
Akhirnya hari yang ditunggu datang juga, kami berangkat bersama dengan paman dan istrinya dan alhamdulillah perjalanan yang ditempuh lumayan menyenangkan, bisa jadi ajang silaturahmi ma tante dan pamanku yg juga tinggal di Bpp, walaupun anak sempat rewel ditengah perjalanan Surabaya-Malang, koq nga' nyampe2 katanya, bayangkan dari Balikpapan-Surabaya di pesawat dah 2 jam-an, lalu dgn kendaraan dari Surabaya-Malang tembus 4 jam, jadi jam 6 sore baru nyampe di penginapan. Subhanallah.. perjalanan yang cukup melelahkan..Huufft..
alhamdulillah kelelahan itu hilang karena penginapannya bersih dan nyaman..
Setelah kangen2an ketemu mertua dan keluarga yang lain kemudian istirahat sebentar, malamnya kami sempat jalan-jalan ke Mall yang terdekat, mencari sepatu anak saya Ariq yang berusia 9 th. ternyata ga' dapat karena kehabisan stock untuk ukuran yang sesuai.
Pagi harinya kami datang ke acara manten jam 10an sebagai kloter 2, karena rombongan pertama dah berangkat jam 7 pagi mengikuti prosesi akad nikahnya.
Ketika sampai ditempat, acara baru dimulai, dan pengantin belum duduk dipelaminan
kami langsung menikmati hidangan yang ada, dan setelah memasuki jam makan siang mulai banyak tamu yang berdatangan, namu saya heran karena tamu pada di bagian hidangan yg disuguhkan koq ga' ada yang balik..
oow.. ternyata kursi yang disediakan memang sedikit, mungkin hanya 25 buah kursi, sedangkan tamu yang dateng lumayan banyak, tentu saja para tamu yang datang dengan pakaian yang cantik2 terpaksa makan dengan berdiri / standing party.
Selidik punya selidik ternyata budaya disana memang begitu, hanya saya cukup prihatin karena dari tamu-tamu yang datang tentu bukan dari golongan muda saja, yang tua/ sepuh juga ada kasihan mereka makan sambil berdiri. dan ditinjau dari kacamata islam kan dilarang makan/minum sambil berdiri, begitu pula ditinjau dari segi kesehatan tidak baik untuk jantung begitu dari artikel yang saya baca.
selain itu kaki pegel..
Namun selain itu ada juga hal yang cukup mengagumkan bagi saya, yaitu ada beberapa tamu yang hadir dengan keterbatasan kemampuan (lumpuh) tetap berusaha hadir, seperti terlihat seorang tua datang dengan tertatih-tatih dibantu tongkatnya, mungkin umur kakek tersebut sekitar 70an dan kemudian terlihat juga sepasang suami istri (chinese)datang, sang suami mendorong kereta dorong sang istri yang sepertinya sakit stroke.
Begitulah dgn keterbatasan yang ada mereka datang, bersalaman dengan sang pengantin yang notabene berada diatas panggung yang cukup sulit bagi mereka untuk naik, tetapi mereka tetap lakukan itu.. sehingga membuat tamu yang lain kagum dan tersentuh akan ketulusan mereka.
Pelajaran bagi diri saya, yang kadang tidak datang jika ada undangan yang tempatnya cukup jauh.. astaghfirullah aladzhiimm..
Satu lagi point yang saya ambil di sana (Malang)sedikit sekali wanita yang menggunakan jilbab/ kerudung. mungkinkah cahaya Islam belum menyinari daerah yang sejuk dan cantik ini..??
Bagaimana dgn para mahasiswa/i yang notabene banyak disini dan lebih mengetahui tentang daerahnya ataukan memang karena disana banyak juga yang non muslim yaa.. wallahu 'alam. PR bagi kita untuk merubahnya sedikit demi sedikit, terutama kaum tua-nya..yang sedikit sekali menggunakan hijab/kerudung.
Setelah ke acara manten kami mulai deh jalan2 ke tempat wisata keluarga, dan pilihan jatuh ke BNS (Batu Night Spectakuler) di malam harinya, bagus banget karena banyak sekali lampu2 hiasnya dan banyak permainan yg seru baget (luar biasa untuk jagoanku Ariq, berani banget ikut permainan yg menantang) saya sendiri ga' berani, Kami juga mencoba sepeda udara.. hiiyy serem naek sepeda di atas ketinggian 10 meteran, satu sepeda untuk 2 orang, jadi pemandangannya lampu-lampu cantik di BNS.. ngeri sekaligus menantang, karena setirannya kesana-kemari (muter-muter) pokoknya permaninannya bernyali..pengalaman yang seru.. Kami pun tak lupa berfoto dgn kedua mertua dan sepupuku Ka' Yanet dari Banjarmasin.
Lalu keesokan harinya kami sekeluarga ke Jatim Park I dan 2, tempatnya permainan dan kebun binatang, yang tidak ada di Kalimantan.. kami berangkat dari jam 11 siang sampai jam 6 sore..(lumayan mepet siih..) karena untuk Jatim Park I saja memakan waktu bisa 3-4 jam-an jadi, lain kali berangkatnya harus dari jam 8an jadi lebih leluasa dan semua tempat dan semua binatang bisa dilihat.. so pengalaman yang asyiik dan menyenangkan..^_^, terima kasih Allah atas karunia-Mu.
Dan satu lagi alhamdulillah.. kami sekeluarga sempat bertemu dgn teman sekolah dulu (Evawati) duh senangnya karena dia baik dan ramah sekali.. dan kamipun sempat mampir ke rumahnya.. Subhanallah...
Keesokan harinya kami pun kembali ke Surabaya berangkat jam 2an sampai jam 6 sore, cukup melelahkan tapi kemudian malam harinya kami menyempatkan diri jalan -jalan ke mall di Surabaya dan keesokan harinya menyempatkan diri belanja ke pasar Turi.
Woow.. ramai sekali lalu lintas di Surabaya, padat sama seperti Jakarta, maklumlah kota besar.
Begitulah sedikit oleh2 yang didapat dari perjalanan ke kota Surabaya-Malang selama 5 hari, yang dirasa kurang tetapi yang jelas amat berkesan bagi kami
Semoga Allah memberikan umur panjang hingga bisa lagi jalan-jalan kesana.
aammiiinn.
Mengapa Sulit Mengucap Syukur Pada-Nya
Aku bermimpi suatu hari aku pergi ke surga dan seorang malaikat menemaniku dan menunjukkan keadaan di surga. Kami berjalan memasuki suatu ruang kerja penuh dengan para malaikat.
Malaikat yang mengantarku berhenti di depan ruang kerja pertama dan berkata,“ Ini adalah Seksi Penerimaan. Di sini, semua permintaan yang ditujukan pada Allah diterima.”
Aku melihat-lihat sekeliling tempat ini dan aku dapati tempat ini begitu sibuk dengan begitu banyak malaikat yang memilah-milah seluruh permohonan yang tertulis pada kertas dari manusia di seluruh dunia.
Kemudian aku dan malaikatku berjalan lagi melalui koridor yang panjang lalu sampailah kami pada ruang kerja kedua.
Malaikatku berkata, “Ini adalah Seksi Pengepakan dan Pengiriman. Di sini kemuliaan dan berkat yang diminta manusia diproses dan dikirim ke manusia-manusia yang masih hidup yang memintanya.”
Aku perhatikan lagi betapa sibuknya ruang kerja itu. Ada banyak malaikat yang bekerja begitu keras karena ada begitu banyaknya permohonan yang dimintakan dan sedang dipaketkan untuk dikirim ke bumi.
Kami melanjutkan perjalanan lagi hingga sampai pada ujung terjauh koridor panjang tersebut dan berhenti pada sebuah pintu ruang kerja yang sangat kecil.
Yang sangat mengejutkan aku, hanya ada satu malaikat yang duduk di sana, hampir tidak melakukan apa pun.
“Ini adalah Seksi Pernyataan Terima Kasih”, kata Malaikatku pelan.
Dia tampak malu.
“Bagaimana ini? Mengapa hampir tidak ada pekerjaan di sini?” tanyaku.
“Menyedihkan”
Malaikatku menghela napas.
“Setelah manusia menerima berkat yang mereka minta, sangat sedikit manusia yang mengirimkan pernyataan terima kasih.”
“Bagaimana manusia menyatakan terima kasih atas berkat Tuhan?” tanyaku.
“Sederhana sekali,” jawab Malaikat.
“Cukup berkata, TERIMA KASIH TUHAN.”
“Lalu, berkat apa saja yang perlu kita syukuri”, tanyaku.
Malaikatku menjawab, “Jika engkau mempunyai makanan di lemari es, pakaian yang menutup tubuhmu, atap di atas kepalamu dan tempat untuk tidur, maka engkau lebih kaya dari 75% penduduk dunia ini.”
“Jika engkau memiliki uang di bank, di dompetmu, dan uang-uang receh, maka engkau berada di antara 8% kesejahteraan dunia.”
“Dan jika engkau mendapatkan pesan ini di komputermu, engkau adalah bagian dari 1% di dunia yang memiliki kesempatan itu.”
“Jika engkau bangun pagi ini dengan lebih banyak kesehatan daripada kesakitan … engkau lebih diberkati daripada begitu banyak orang di dunia ini yang tidak dapat bertahan hidup hingga hari ini.”
“Jika engkau tidak pernah mengalami ketakutan dalam perang, kesepian dalam penjara, kesengsaraan penyiksaan atau kelaparan yang amat sangat, maka engkau lebih beruntung dari 700 juta orang di dunia.”
“Jika orangtuamu masih hidup dan masih berada dalam ikatan pernikahan….. maka engkau termasuk orang yang sangat jarang.”
“Jika engkau masih bisa mencintai … maka engkau termasuk orang yang besar, karena cinta adalah berkat Tuhan yang tidak didapat dari mana pun.”
“Jika engkau dapat menegakkan kepala dan tersenyum, maka engkau bukanlah seperti orang kebanyakan, engkau unik dibandingkan semua mereka yang berada dalam keraguan dan keputusasaan.”
“Jika engkau dapat membaca pesan ini, maka engkau menerima berkat ganda, yaitu bahwa seseorang yang mengatakan ini padamu berpikir bahwa engkau orang yang sangat istimewa baginya, dan bahwa engkau lebih diberkati dari pada lebih dari 2 juta orang di dunia yang bahkan tidak dapat membaca sama sekali.”
“Bila kita masih mampu mengingat keindahan masa lalu kita sungguh anugerah yang luar biasa yang layak untuk kita syukuri.”
Nikmatilah hari-harimu, hitunglah berkat yang telah Tuhan anugerahkan kepadamu.
Dan jika engkau berkenan, copy pesan ini dan kirimkan pesan ini ke semua teman-temanmu untuk mengingatkan mereka betapa diberkatinya kita semua.
“Dan ingatlah tatkala Tuhanmu menyatakan bahwa,
“SESUNGGUHNYA JIKA KAMU BERSYUKUR, PASTI AKU AKAN MENAMBAHKAN LEBIH BANYAK NIKMAT KEPADAMU.
From: Hystory Education.blog
Malaikat yang mengantarku berhenti di depan ruang kerja pertama dan berkata,“ Ini adalah Seksi Penerimaan. Di sini, semua permintaan yang ditujukan pada Allah diterima.”
Aku melihat-lihat sekeliling tempat ini dan aku dapati tempat ini begitu sibuk dengan begitu banyak malaikat yang memilah-milah seluruh permohonan yang tertulis pada kertas dari manusia di seluruh dunia.
Kemudian aku dan malaikatku berjalan lagi melalui koridor yang panjang lalu sampailah kami pada ruang kerja kedua.
Malaikatku berkata, “Ini adalah Seksi Pengepakan dan Pengiriman. Di sini kemuliaan dan berkat yang diminta manusia diproses dan dikirim ke manusia-manusia yang masih hidup yang memintanya.”
Aku perhatikan lagi betapa sibuknya ruang kerja itu. Ada banyak malaikat yang bekerja begitu keras karena ada begitu banyaknya permohonan yang dimintakan dan sedang dipaketkan untuk dikirim ke bumi.
Kami melanjutkan perjalanan lagi hingga sampai pada ujung terjauh koridor panjang tersebut dan berhenti pada sebuah pintu ruang kerja yang sangat kecil.
Yang sangat mengejutkan aku, hanya ada satu malaikat yang duduk di sana, hampir tidak melakukan apa pun.
“Ini adalah Seksi Pernyataan Terima Kasih”, kata Malaikatku pelan.
Dia tampak malu.
“Bagaimana ini? Mengapa hampir tidak ada pekerjaan di sini?” tanyaku.
“Menyedihkan”
Malaikatku menghela napas.
“Setelah manusia menerima berkat yang mereka minta, sangat sedikit manusia yang mengirimkan pernyataan terima kasih.”
“Bagaimana manusia menyatakan terima kasih atas berkat Tuhan?” tanyaku.
“Sederhana sekali,” jawab Malaikat.
“Cukup berkata, TERIMA KASIH TUHAN.”
“Lalu, berkat apa saja yang perlu kita syukuri”, tanyaku.
Malaikatku menjawab, “Jika engkau mempunyai makanan di lemari es, pakaian yang menutup tubuhmu, atap di atas kepalamu dan tempat untuk tidur, maka engkau lebih kaya dari 75% penduduk dunia ini.”
“Jika engkau memiliki uang di bank, di dompetmu, dan uang-uang receh, maka engkau berada di antara 8% kesejahteraan dunia.”
“Dan jika engkau mendapatkan pesan ini di komputermu, engkau adalah bagian dari 1% di dunia yang memiliki kesempatan itu.”
“Jika engkau bangun pagi ini dengan lebih banyak kesehatan daripada kesakitan … engkau lebih diberkati daripada begitu banyak orang di dunia ini yang tidak dapat bertahan hidup hingga hari ini.”
“Jika engkau tidak pernah mengalami ketakutan dalam perang, kesepian dalam penjara, kesengsaraan penyiksaan atau kelaparan yang amat sangat, maka engkau lebih beruntung dari 700 juta orang di dunia.”
“Jika orangtuamu masih hidup dan masih berada dalam ikatan pernikahan….. maka engkau termasuk orang yang sangat jarang.”
“Jika engkau masih bisa mencintai … maka engkau termasuk orang yang besar, karena cinta adalah berkat Tuhan yang tidak didapat dari mana pun.”
“Jika engkau dapat menegakkan kepala dan tersenyum, maka engkau bukanlah seperti orang kebanyakan, engkau unik dibandingkan semua mereka yang berada dalam keraguan dan keputusasaan.”
“Jika engkau dapat membaca pesan ini, maka engkau menerima berkat ganda, yaitu bahwa seseorang yang mengatakan ini padamu berpikir bahwa engkau orang yang sangat istimewa baginya, dan bahwa engkau lebih diberkati dari pada lebih dari 2 juta orang di dunia yang bahkan tidak dapat membaca sama sekali.”
“Bila kita masih mampu mengingat keindahan masa lalu kita sungguh anugerah yang luar biasa yang layak untuk kita syukuri.”
Nikmatilah hari-harimu, hitunglah berkat yang telah Tuhan anugerahkan kepadamu.
Dan jika engkau berkenan, copy pesan ini dan kirimkan pesan ini ke semua teman-temanmu untuk mengingatkan mereka betapa diberkatinya kita semua.
“Dan ingatlah tatkala Tuhanmu menyatakan bahwa,
“SESUNGGUHNYA JIKA KAMU BERSYUKUR, PASTI AKU AKAN MENAMBAHKAN LEBIH BANYAK NIKMAT KEPADAMU.
From: Hystory Education.blog
Profesionalitas dalam Ber-Islam
Sebuah cerita menarik yang membuat kita merenung dan berpikir.. so wahat ??
Profesionalitas yang Sesungguhnya
Aku adalah seorang dosen dan sekaligus dokter di sebuah universitas dan rumah sakit ternama negri ini. Aku aktif di penelitian dan aktifitas keilmuan lainnya tapi juga tidak lupa bagianku untuk melayani pasien-pasienku.
Aku adalah spesialis kandungan yang sangat hati-hati. Sedikit kesalahanku bisa berakibat fatal pada orang lain. Benar-benar fatal. Sebagai contoh saat melakukan operasi Cesar. Bagian yang aku insisi (belah) adalah bagian suprapubic (supra=di atas ; pubic=daerah kemaluan).
Aku memotong secara melintang disepanjang batas bawah perut dengan kemaluan. Jika aku lalai, pisau bedahku bisa mengenai kepala bayi yang berada tepat di bawah lapisan perut sang ibu yang tengah aku insisi. Bahkan, jika posisi bayi adalah menghadap ke depan, dengan muka menghadap ke arahku, kalalaianku bisa lebih fatal lagi yaitu pisau bedahku dapat mengenai mata si bayi dan merobeknya. Oleh karena itu, aku harus benar-benar professional.
Kenyataan ini telah aku dapat semenjak aku masih di bangku kuliah sehingga aku benar-benar memanfaatkan masa pembelajaranku dengan sebaik-baiknya agar saat terjun ke masyarakat aku tidak membuat kesalahan-kesalahan yang bisa berakibat fatal ke orang lain. Semenjak saat itu professionalitas menjadi nama depanku.
Sebagai pengajar, aku menekankan pentingnya professionalitas kepada mahasiswa-mahasiswaku. Intinya, aku berusaha seprofessional mungkin di pekerjaanku, termasuk sebagai dosen. Jurnal internasionalku lima buah dan gelar doktor sudah aku gondol dari Inggris. Itu semua sebagai pengakuan akan sikap professionalitasku.
Hingga pada suatu hari seorang mahasiswa memintaku untuk menjadi dosen pembimbingnya. Ia berencana mengikuti lomba karya ilmiah remaja dan mengirimkan proposal penelitiannya. Proposalnya berjudul ‘Dampak abortus provokatus pada keselamatan ibu hamil ditinjau dari aspek psikis dan medis’. Ia memaparkan bahwa aborsi dengan sengaja yang hukumnya masih tidak jelas di Indonesia ini tidak hanya dapat menggugurkan janin, namun efeknya pada sang ibu tidak kalah bahayanya. Ia hanya tidak ingin aborsi sampai diperbolehkan di Indonesia. Hmmm… menarik… dan akupun menyanggupi menjadi dosen pembimbingnya.
Waktu berlalu hingga pengumpulan proposal tinggal dua minggu lagi. Pertemuanku dengan mahasiswi berjilbab lebar itupun semakin kerap. Kami berdiskusi tentang banyak hal dan pada suatu hari ada percakapan kami yang akhirnya menjadi sejarah penting bagi hidupku.
“Bu, ibu kan seseorang yang menjunjung tinggi professionalitas. Menurut ibu professionalitas itu apa?” Mahasiswi berjilbab lebar itu bertanya padaku.
“Professionalitas adalah saat kamu benar-benar total pada apa yang kamu kerjakan. Dedikasi.” Begitulah aku paparkan.
“Tapi, apakah ibu tahu arti professionalitas yang sesungguhnya?” Tanya mahasiswi jilbab lebar itu kembali.
“Maksudmu?”
“Menurut saya, professional yang sesungguhnya adalah saat kita benar-benar total dengan semua status yang melekat pada diri kita.” Ujarnya dengan memberi penekanan pada kata ‘semua’ yang Ia ucapkan.
“Kalau kita hanya professional dengan pekerjaan kita, namun status lain yang kita sandang kurang kita perhatikan atau malah kita abaikan sentuhan professionalitasnya maka sesungguhnya itu belum bisa disebut professional.
Professional itu adalah saat kita benar-benar menyeluruh dalam berdedikasi. Di semua status yang kita miliki. Tidak hanya professional dalam peran kita sebagai tenaga kesehatan ataupun pengajar, tapi professional juga dalam menjadi ibu dan juga istri. Dan ada satu aspek dalam diri kita, sebuah status lebih tepatnya yang terkadang terabaikan sentuhan professionalitasnya.
Padahal, jika kita professional pada status yang satu ini, Ia akan melahirkan professionalitas yang luar biasa dahsyatnya pada status-status kita yang lain.”
“Status apa itu maksudmu?” tanyaku penasaran.
“Status keislaman kita…” jawabnya singkat. Dan jelas. Aku terdiam. Butuh beberapa saat untuk mencerna apa yang mahasiswi berjilbab lebar itu katakan. Kemudian aku sadar bahwa apa yang ia katakan adalah benar. Sangat benar. Aku merasa batinku ditampar.
“Ya… tak sedikit dari kita yang sangat berdedikasi pada profesi dokter kita dengan dasar ‘demi pasien’ namun melupakan bahwa status keislaman kita pun perlu professionalitas. Menjadi islam secara total. Muslim yang professional. Begitu.”
Kurasakan dadaku sesak. Tertohok oleh kenyataan pahit bahwa selama ini aku sungguh bodoh. Ya Allah… selama ini aku kemana? Professionalitas aku gembar-gemborkan kemana-mana, padahal aku belum professional seutuhnya. Aku belum professional dalam berislam.
“Bukan begitu bu? Padahal Islamlah yang mengajari kita untuk bekerja keras di setiap urusan kita. Jadi seandainya kita total dalam berislam, mengamalkan apa yang Islam anjurkan untuk kita, tentu professionalitas kita akan lebih bermakna.” Kata mahasiswi jilbab lebar itu menambahkan.
“Ini bu, silahkan baca…” Mahasiswi itu merogoh sesuatu dalam tasnya kemudian menyodorkannya padaku. Sebuah Al Qur’an kecil dengan terjemahan.
“Al Insyirah ayat 7” katanya singkat.
“Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)”.
Begitulah bacanya. Dan aku semakin terpana. Entah pada apa. Mungkin pada agama indahku yang selama ini tidak aku sadari keindahannya. Atau merasa bodoh karena tidak sadar dengan ketololanku selama ini yang mengaku sudah professional, sudah pintar, padahal hakikatnya aku jauh dari pintar dan professional. Kemudian mataku menangkap tulisan yang tertera pada pembatas Al Qur’an tersebut,
“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS Al Israa’ 37)
Ya Allah… semakin yakinlah aku. Tembok egoku runtuh dan yang tersisa hanya penyesalan. Sungguh, tidak ada alasan bagiku untuk kembali kepada kepahamanku yang dulu. Kuingat putriku yang rapi berjilbab. Tidak hentinya ia menyuruhku untuk menutup aurat seperti dirinya. Ikut pengajian, atau bahkan hanya sekedar shalat berjamaah. Tapi semua itu aku tolak karena aku tidak peduli dengan semua itu. Sungguh hina. Maafkan ibumu yang bodoh ini anakku. Ibu akan menebus semua itu. Ibu janji. Dan Allah menjadi saksi atas janji Ibumu ini.
Profesionalitas yang Sesungguhnya
Aku adalah seorang dosen dan sekaligus dokter di sebuah universitas dan rumah sakit ternama negri ini. Aku aktif di penelitian dan aktifitas keilmuan lainnya tapi juga tidak lupa bagianku untuk melayani pasien-pasienku.
Aku adalah spesialis kandungan yang sangat hati-hati. Sedikit kesalahanku bisa berakibat fatal pada orang lain. Benar-benar fatal. Sebagai contoh saat melakukan operasi Cesar. Bagian yang aku insisi (belah) adalah bagian suprapubic (supra=di atas ; pubic=daerah kemaluan).
Aku memotong secara melintang disepanjang batas bawah perut dengan kemaluan. Jika aku lalai, pisau bedahku bisa mengenai kepala bayi yang berada tepat di bawah lapisan perut sang ibu yang tengah aku insisi. Bahkan, jika posisi bayi adalah menghadap ke depan, dengan muka menghadap ke arahku, kalalaianku bisa lebih fatal lagi yaitu pisau bedahku dapat mengenai mata si bayi dan merobeknya. Oleh karena itu, aku harus benar-benar professional.
Kenyataan ini telah aku dapat semenjak aku masih di bangku kuliah sehingga aku benar-benar memanfaatkan masa pembelajaranku dengan sebaik-baiknya agar saat terjun ke masyarakat aku tidak membuat kesalahan-kesalahan yang bisa berakibat fatal ke orang lain. Semenjak saat itu professionalitas menjadi nama depanku.
Sebagai pengajar, aku menekankan pentingnya professionalitas kepada mahasiswa-mahasiswaku. Intinya, aku berusaha seprofessional mungkin di pekerjaanku, termasuk sebagai dosen. Jurnal internasionalku lima buah dan gelar doktor sudah aku gondol dari Inggris. Itu semua sebagai pengakuan akan sikap professionalitasku.
Hingga pada suatu hari seorang mahasiswa memintaku untuk menjadi dosen pembimbingnya. Ia berencana mengikuti lomba karya ilmiah remaja dan mengirimkan proposal penelitiannya. Proposalnya berjudul ‘Dampak abortus provokatus pada keselamatan ibu hamil ditinjau dari aspek psikis dan medis’. Ia memaparkan bahwa aborsi dengan sengaja yang hukumnya masih tidak jelas di Indonesia ini tidak hanya dapat menggugurkan janin, namun efeknya pada sang ibu tidak kalah bahayanya. Ia hanya tidak ingin aborsi sampai diperbolehkan di Indonesia. Hmmm… menarik… dan akupun menyanggupi menjadi dosen pembimbingnya.
Waktu berlalu hingga pengumpulan proposal tinggal dua minggu lagi. Pertemuanku dengan mahasiswi berjilbab lebar itupun semakin kerap. Kami berdiskusi tentang banyak hal dan pada suatu hari ada percakapan kami yang akhirnya menjadi sejarah penting bagi hidupku.
“Bu, ibu kan seseorang yang menjunjung tinggi professionalitas. Menurut ibu professionalitas itu apa?” Mahasiswi berjilbab lebar itu bertanya padaku.
“Professionalitas adalah saat kamu benar-benar total pada apa yang kamu kerjakan. Dedikasi.” Begitulah aku paparkan.
“Tapi, apakah ibu tahu arti professionalitas yang sesungguhnya?” Tanya mahasiswi jilbab lebar itu kembali.
“Maksudmu?”
“Menurut saya, professional yang sesungguhnya adalah saat kita benar-benar total dengan semua status yang melekat pada diri kita.” Ujarnya dengan memberi penekanan pada kata ‘semua’ yang Ia ucapkan.
“Kalau kita hanya professional dengan pekerjaan kita, namun status lain yang kita sandang kurang kita perhatikan atau malah kita abaikan sentuhan professionalitasnya maka sesungguhnya itu belum bisa disebut professional.
Professional itu adalah saat kita benar-benar menyeluruh dalam berdedikasi. Di semua status yang kita miliki. Tidak hanya professional dalam peran kita sebagai tenaga kesehatan ataupun pengajar, tapi professional juga dalam menjadi ibu dan juga istri. Dan ada satu aspek dalam diri kita, sebuah status lebih tepatnya yang terkadang terabaikan sentuhan professionalitasnya.
Padahal, jika kita professional pada status yang satu ini, Ia akan melahirkan professionalitas yang luar biasa dahsyatnya pada status-status kita yang lain.”
“Status apa itu maksudmu?” tanyaku penasaran.
“Status keislaman kita…” jawabnya singkat. Dan jelas. Aku terdiam. Butuh beberapa saat untuk mencerna apa yang mahasiswi berjilbab lebar itu katakan. Kemudian aku sadar bahwa apa yang ia katakan adalah benar. Sangat benar. Aku merasa batinku ditampar.
“Ya… tak sedikit dari kita yang sangat berdedikasi pada profesi dokter kita dengan dasar ‘demi pasien’ namun melupakan bahwa status keislaman kita pun perlu professionalitas. Menjadi islam secara total. Muslim yang professional. Begitu.”
Kurasakan dadaku sesak. Tertohok oleh kenyataan pahit bahwa selama ini aku sungguh bodoh. Ya Allah… selama ini aku kemana? Professionalitas aku gembar-gemborkan kemana-mana, padahal aku belum professional seutuhnya. Aku belum professional dalam berislam.
“Bukan begitu bu? Padahal Islamlah yang mengajari kita untuk bekerja keras di setiap urusan kita. Jadi seandainya kita total dalam berislam, mengamalkan apa yang Islam anjurkan untuk kita, tentu professionalitas kita akan lebih bermakna.” Kata mahasiswi jilbab lebar itu menambahkan.
“Ini bu, silahkan baca…” Mahasiswi itu merogoh sesuatu dalam tasnya kemudian menyodorkannya padaku. Sebuah Al Qur’an kecil dengan terjemahan.
“Al Insyirah ayat 7” katanya singkat.
“Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)”.
Begitulah bacanya. Dan aku semakin terpana. Entah pada apa. Mungkin pada agama indahku yang selama ini tidak aku sadari keindahannya. Atau merasa bodoh karena tidak sadar dengan ketololanku selama ini yang mengaku sudah professional, sudah pintar, padahal hakikatnya aku jauh dari pintar dan professional. Kemudian mataku menangkap tulisan yang tertera pada pembatas Al Qur’an tersebut,
“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS Al Israa’ 37)
Ya Allah… semakin yakinlah aku. Tembok egoku runtuh dan yang tersisa hanya penyesalan. Sungguh, tidak ada alasan bagiku untuk kembali kepada kepahamanku yang dulu. Kuingat putriku yang rapi berjilbab. Tidak hentinya ia menyuruhku untuk menutup aurat seperti dirinya. Ikut pengajian, atau bahkan hanya sekedar shalat berjamaah. Tapi semua itu aku tolak karena aku tidak peduli dengan semua itu. Sungguh hina. Maafkan ibumu yang bodoh ini anakku. Ibu akan menebus semua itu. Ibu janji. Dan Allah menjadi saksi atas janji Ibumu ini.
Agar Malaikat Masuk ke Rumah Kita
Kita semua pasti menginginkan agar rumah kita senantiasa dihadiri oleh para malaikat Allah dan dijauhkan dari syetan. Sebab kehadiran para malaikat di rumah akan melahirkan aura
Kehadiran mereka akan membuat rumah kita laksana syurga.
Diantara para malaikat itu ada yang sengaja keliling untuk menebarkan rahmat dan kedamaian di tengah manusia sebagaimana syetan berkeliling untuk menebarkan kejahatan di tengah mereka.
Lalu rumah mana saja yang akan dihadiri para malaikat itu?
Diantaranya adalah :
1. Rumah yang diliputi dzikir kepada Allah yang di dalamnya ada ruku dan sujud
2. Rumah yang senantiasa bersih
3. Rumah yang penghuninya adalah orang-orang yang jujur dan menepati janji
4. Rumah yang dihuni oleh orang-orang yang senantiasa menyambung tali silaturahim
5. Rumah yang dihuni oleh orang yang makanannya halal
6. Rumah yang dihuni oleh orang yang senantiasa berbuat baik kepada kedua orang tuanya.
7. Rumah yang senantiasa ada tilawah Al-Quran
8. Rumah yang dihuni oleh para penuntut ilmu
9. Rumah yang penghuninya ada isteri solehah
10. Rumah yang bersih dari barang-barang haram
11. Rumah yang dihuni oleh orang yang rendah hati, sabar, tawakal, qana’ah, dermawan pemaaf yang senantiasa bersih lahir batin dan para penghuninya makan tidak terlalu banyak.
Ataupun rumah-rumah yang senantiasa digunakan untuk kebaikan, semisal menjadi tempat kita menuntut ilmu/ liqo'an, atau hal-hal lain untuk kemaslahatan bersama.
Demikian ciri-ciri rumah yang akan didatangi malaikat.
Marilah kita buat rumah kita agar malaikat senang berkunjung kerumah kita.
Insya Allah.. semoga Allah memudahkannya..aammiiinn.
From : Blog tetangga
ketenteraman dan kesejukan dan kedamaian ruhaniyang mengalir di rumah kita.
Kehadiran mereka akan membuat rumah kita laksana syurga.
Diantara para malaikat itu ada yang sengaja keliling untuk menebarkan rahmat dan kedamaian di tengah manusia sebagaimana syetan berkeliling untuk menebarkan kejahatan di tengah mereka.
Lalu rumah mana saja yang akan dihadiri para malaikat itu?
Diantaranya adalah :
1. Rumah yang diliputi dzikir kepada Allah yang di dalamnya ada ruku dan sujud
2. Rumah yang senantiasa bersih
3. Rumah yang penghuninya adalah orang-orang yang jujur dan menepati janji
4. Rumah yang dihuni oleh orang-orang yang senantiasa menyambung tali silaturahim
5. Rumah yang dihuni oleh orang yang makanannya halal
6. Rumah yang dihuni oleh orang yang senantiasa berbuat baik kepada kedua orang tuanya.
7. Rumah yang senantiasa ada tilawah Al-Quran
8. Rumah yang dihuni oleh para penuntut ilmu
9. Rumah yang penghuninya ada isteri solehah
10. Rumah yang bersih dari barang-barang haram
11. Rumah yang dihuni oleh orang yang rendah hati, sabar, tawakal, qana’ah, dermawan pemaaf yang senantiasa bersih lahir batin dan para penghuninya makan tidak terlalu banyak.
Ataupun rumah-rumah yang senantiasa digunakan untuk kebaikan, semisal menjadi tempat kita menuntut ilmu/ liqo'an, atau hal-hal lain untuk kemaslahatan bersama.
Demikian ciri-ciri rumah yang akan didatangi malaikat.
Marilah kita buat rumah kita agar malaikat senang berkunjung kerumah kita.
Insya Allah.. semoga Allah memudahkannya..aammiiinn.
From : Blog tetangga
Langganan:
Postingan (Atom)



