Sabtu, 14 Januari 2012

Gigi Sehat dan Bersih, Tubuh Kuat

Gigi Sehat Anak Kuat
Siapa sangka penulis buku-buku islami Asma Nadia saat kecil sangat akrab dengan beberapa penyakit. Sang bunda menceritakan di suatu stasiun televisi, Asma Nadia kecil sering bolak-balik ke rumah sakit. Penyakit ini kemungkinan besar muncul karena kerusakan gigi Asma. Tapi Asma Nadia kecil yang cerdas mendapatkan hikmah dari sakitnya. Dia menjadi pencinta buku, yang akhirnya mengantarnya menjadi penulis buku ternama. Penyakit gigi rupanya menjadi penyakit yang paling umum untuk sebagian masyarakat Indonesia. Bahkan hampir 70 persen penduduk Indonesia bergigi bolong alias terkena karies.
"Bukan hanya orang tua, tapi juga anak-anak," ujar Ketua Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Profesor Dr drg Eky S. Soeria Soemantri, SpOrth (K), di sela-sela konferensi pers Bulan Kesehatan Gigi Nasional di Hotel Mulia, 16 Agustus lalu. Menurut Eky, hasil riset kesehatan dasar empat tahun lalu menyebutkan penyakit gigi serta penyangga gusi dan sarafnya merupakan urutan ke-8 di Indonesia. Selain itu, 89 persen anak-anak di bawah usia 12 tahun mengalami gigi berlubang.
Ketua Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi drg Zaura Rini Anggraeni, MDS, mengatakan pemeriksaan gigi secara rutin sangat penting dilakukan. Kesehatan gigi memainkan peran vital bagi kesehatan organ tubuh. Kesehatan gigi, kata dia, juga memperlihatkan kualitas hidup dan memberi dampak pada kesehatan tubuh. Rini juga mengatakan gigi yang berlubang mempunyai dampak lebih jauh terhadap potensi sumber infeksi dan penyakit yang berbahaya. Organ-organ penting, seperti jantung, persendian, dan ginjal, bisa terancam akibat kerusakan gigi. "Kuman bisa ikut masuk ke organ-organ vital melalui pembuluh darah dari gigi yang bolong," ujarnya.
Selain itu, pada balita atau anak-anak, kerusakan gigi mempunyai dampak yang signifikan. Pencernaan dan pertumbuhan si anak bisa terganggu. Anak pun bisa sering sakit-sakitan karena kuman yang masuk dari gigi yang rusak. Rini juga menjelaskan, saat gigi anak rusak, dia tak akan dapat mencerna makanan dengan baik. Usus dan lambung bekerja lebih keras untuk mengeluarkan enzim. Makanan yang dicerna ini, kata Rini, merupakan sumber untuk tumbuh kembang dan menghasilkan tenaga untuk melawan infeksi. Jika tak banyak asupan makanan dan prosesnya terganggu, proses tumbuh kembang anak juga terganggu.
Gigi susu pada balita pun mempunyai fungsi penting dalam pembentukan gigi tetapnya. Maka Rini menekankan pentingnya melakukan perawatan gigi susu hingga tanggal dan diganti gigi tetap. Jika gigi mengalami kerusakan atau berlubang, hendaknya lekas ditambal. Jika gigi masih memungkinkan dipertahankan, dia menyarankan agar tetap dirawat. Semaksimal mungkin gigi susu dipertahankan hingga munculnya gigi tetap. "Gigi susu ini menjadi petunjuk tumbuhnya gigi tetap. Kalau bisa jangan dicabut jika masih bisa dirawat," ujar Rini. Tapi, jika gigi sudah rusak parah dan terjadi infeksi, dia menyarankan agar dicabut, sehingga tidak terjadi keadaan yang lebih parah dan menimbulkan gangguan pergerakan gigi.
Rusaknya gigi anak-anak ini, kata Rini, terjadi karena konsumsi makanan atau minuman manis yang kurang baik untuk gigi. Hal ini diperparah oleh rendahnya pengetahuan tentang kesehatan gigi dan perawatan gigi yang benar. Nah, sayangnya pula, orang tua sering kurang telaten mengajari anak-anak melakukan perawatan gigi. "Anak-anak sering dipaksa menyikat gigi saat sudah ngantuk. Anak jadi malas dan asal-asalan sikat giginya," ujar Rini. Padahal perawatan dengan menyikat gigi yang benar minimal dua kali sehari dan pemeriksaan rutin setiap enam bulan sekali bisa mencegah kerusakan gigi.
Adapun Eky menjelaskan, kesadaran atau keinginan menambal untuk mempertahankan gigi tetap masih sangat rendah, angkanya hanya 1,6 persen. "Masyarakat enggan karena takut sakit dan biaya mahal, sehingga baru datang kalau sudah sakit," ujarnya.
From : Tempo ; Interaktif

Tidak ada komentar:

Posting Komentar