Kamis, 13 Maret 2014

Kesabaran Berbuah Syurga

Setiap bani adam yang hidup di dunia ini tentunya mengharapkan sebuah kebahagian. Benar bukan? Lalu, bagaimana cara mendapatkannya?
Imam Ibnul Qoyyim dalam “Waabilush Shoyyib” juga Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab dalam risalah “Qowa’idul Arba’” menyebutkan bahwa pokok kebahagiaan ada tiga: ketika diberi bersyukur, ketika diuji bersabar dan jika salah ber-istighfar
Semoga kisah Abu Qilabah ini bisa memberi inspirasi buat kita tentang makna syukur dan sabar, bidznillah.
Beliau adalah ‘Abdulloh bin Zaid, ulama kesohor yang disegani oleh ulama’ lain semasa beliau. Keilmuan dan akhlak beliau begitu agung hingga beliau diminta untuk menjadi Qodhi.
Apakah beliau menerimanya? Tidak. Ilmunya yang tinggi membuat beliau takut akan sebuah jabatan. Atau beliau takut akan ditanya pertanggung jawabannya di hari kiamat. Apapun itu beliau lari dan terus berlari dari jabatan yang menghantuinya, menjauh menghindari keramaian manusia.
Hingga pada suatu hari . . . Biarkan ‘Abdulloh bin Muhammad yang mengkisahkannya. Al Imam Ibnu Hibban dalam kitab “Ats Tsiqat” membawakan sebuah sanad sampai kepada ‘Abdulloh bin Muhammad, beliau berkata;
Ketika itu aku ditugaskan murobathoh (menjaga daerah perbatasan kaum muslimin) di tepi sebuah pantai, bernama Aresy Mishr. Sesampainya di sana tiba-tiba aku berada di sebuah pesisir pantai yang luas. Aku berusaha menelusurinya. Berjalan dan terus menelusuri hingga aku menemukan sebuah kemah.
Sebentar kuperhatikan, kedua mataku mendapati sebuah tubuh yang amat memprihatinkan. Kedua tangannya putus.. kedua kakinya juga. Pendengaran dan penglihatannya juga tak berfungsi dengan normal. Hampir-hampir ia tak mempunyai anggota badan yang normal kecuali lisannya.
Kulipat gandakan fokus mataku dan memang hanya lisannya yang berfungsi normal. Dia berdoa, “ya Allah, berilah aku kekuatan untuk dapat memuji-Mu. Puji-pujian yang dapat menunaikan rasa syukurku atas segala kenikmatan yang telah Engkau anugrahkan padaku. Sungguh Engkau telah melebihkanku atas kebanyakan makhluk yang Kau ciptakan.”
Demi Allah, aku harus mendatanginya, bisikku dalam hati. Apa gerangan sebab doanya itu? Apakah ia memahami dan mengetahui yang diucapkannya, atau hanya ilham semata? Dengan langkah pasti kudekati sosok tubuh itu.
“Assalamualaikum,” kucoba memulai. “Aku tadi mendengar doamu. Gerangan apa yang membuatmu berdoa seperti itu? Nikmat apa yang telah engkau dapatkan hingga engkau sangat memuji-Nya? Keutamaan apa yang telah engkau peroleh hingga engkau mensyukuri-Nya?” lanjutku memberinya pertanyaan bertubi-tubi. Siapa yang tidak terheran-heran dengan doanya. Padahal tubuhnya begitu memprihatinkan
“Apa kau tidak melihat perlakuan Rabb-ku kepadaku. Demi Allah, seandainya saja Ia mengirim halilintar yang membakar tubuhku, atau memerintahkan gunung-gunung untuk menindihku sehingga hancur tubuhku, atau menitahkan laut untuk menenggelamkanku, atau menyuruh bumi menelanku, semua itu hanya akan menambah tekadku bersyukur kepada-Nya semakin kuat, karena nikmat lisan yang Ia anugrahkan padaku,” terangnya.
“Wahai, hamba Allah!” serunya padaku. Seperti ia ingin sesuatu hal. “Karena engkau telah mendatangiku, bolehkah aku meminta bantuanmu. Engkau telah melihat keadaanku ini. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak bisa melindungi diri dari mara bahaya. Aku pun tak bisa memberi manfaat untuk diriku sendiri. Aku memiliki seorang anak yang selalu melayaniku. Jika waktu sholat tiba, dia mewudhukan aku. Jika aku lapar, dia menyuapiku. Dan jika aku haus, dia memberiku minum.
Namun entah kemana dia sekarang. Aku telah kehilangannya selama tiga hari. Tolonglah aku, carikanlah kabarnya untukku, semoga Allah merahmatimu,” pintanya memelas. “Demi Allah, tidaklah seseorang berjalan menunaikan keperluan saudaranya melainkan akan mendapatkan ganjaran yang besar di sisi-Nya. Apalagi jika orangnya seperti engkau,” aku memenuhi permintaannya. Aku berusaha menguatkan tekad untuk membantunya, melangkahkan kaki mencari tahu tentang anaknya. Sambil berjalan, aku menyelami pikiranku. Tentang orang tua tadi, juga anaknya.
Tiba-tiba, sontak lamunanku berhenti mengikuti langkah kakiku. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Itu anaknya! Itu anaknya! Tewas diterkam dan dimakan binatang buas. Bagaimana aku mengatakan kepada orang tadi? Berat nian deritanya. Dengan berat hati aku berusaha mengayunkan langkah. Ku ayunkan kembali ke kemah, tempat orang tadi. Walau pahit tuk dikatakan, namun ini harus. Tapi juga harus dengan cara yang tepat. Ku berusaha memutar otak bagaimana cara mengatakannya.
Seiring langkah kaki yang terus bertambah, pikiranku juga terus memacu. Berpikir dan terus mencari. Dan akhirnya.. Nabi Ayyub ‘alaihis salam! Aku teringat Nabi Ayyub ‘alaihis salam. Mungkin ini cara yang tepat. Aku pun bergegas. Sesampainya di sana, “Assalamualaikum,” salamku. “Wa’alaikum salam,” jawabnya. “Bukankah engkau yang tadi menemuiku,” dia melanjutkan. “Iya,” jawabku.
“Bagaimana dengan permintaanku. Apakah engkau telah mendapatkan kabarnya?” tanyanya. Aku pun berusaha menjelaskan, “di sisi Allah, engaku kah yang lebih mulia atau Nabi Ayyub?” “Tentu Nabi Ayyub ‘alaihis salam,” jawabnya. “Tahukah engkau cobaan yang Allah timpakan kepada Nabi Ayyub? Bukankah Allah menguji beliau pada harta, keluarga dan putranya?” “Benar.” “Bagaimana sikap beliau menghadapi ujian tersebut?” “Beliau bersabar, bersyukur dan memuji Allah subhanahu wa ta’ala.” “Tidak sampai di situ. Beliau juga ditinggal karib kerabat dan sahabatnya bukan?” “Benar.”
“Bagaimana sikap beliau menghadapinya?” “Beliau tetap bersabar, bersyukur dan tak jemu memuji Allah subhanahu wa ta’ala.” “Tidak cukup sampai di situ. Beliau juga jadi bahan pembicaraan setiap orang yang lewat di jalan. Benar bukan?” “Iya. Aku tahu.” “Bagaimana sikap beliau?” “Beliau selalu bersabar, bersyukur dan bertahmid memuji Allah subhanahu wa ta’ala.” Sepertinya ia mulai paham arah pembicaraanku. “Semoga Allah merahmatimu. Langsung saja jelaskan maksudmu,” pintanya.
Dengan sangat berat aku mengatakannya, “aku telah menemukan putramu. Aku menemukannya di antara gundukan pasir.. tewas diterkam binatang buas. Semoga Allah melipatgandakan pahalamu.. semoga Allah menyabarkanmu.” (Subhanalloh! Tak ada keluhan yang keluar dari lisannya. Tak ada kekecewaan yang tersirat dari kalbunya. Justru yang terucap hanyalah tahmid kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sebagai simbol relief yang telah terpahat dalam kalbunya. Apa sebenarnya yang beliau ucapkan? Bagaimana pula akhir kisah ini? Insya Allah dalam kesempatan berikutnya) Selepas menguburkannya, empat orang tadi kembali pulang. Aku juga menuju pos penjagaanku di perbatasan.
Ketika kegelapan menutup tirainya ke atas alam dan mataku tertidur lelap, tiba-tiba aku terseret ke dalam dimensi lain. Ini.. ini sebuah taman. Namun ini bukan taman biasa. Ini taman surga. Saat mata masih sibuk meyakinkan aku berada dimana, justru mata menangkap sosok yang sepertinya tak asing, memakai dua kain yang begitu indah, kain surga. Ia menghiasi bibirnya dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat Ar Ra’d:24 سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّار “Salaamun ‘alaikum” (kesejahteraan bagi kalian) karena kesabaran kalian. Sungguh kampung terakhir yang paling indah adalah jannah.
Aku pun menghampirinya. “Engkaukah itu?” tanyaku meyakinkan kalbu. “Benar,” nampak cahaya terpancar dari wajahnya. “Ini semua.. bagaimana kau mendapatkannya?” tanyaku lagi. “Sungguh Allah mempunyai derajat-derajat yang tak akan bisa diraih kecuali dengan SABAR SAAT UJIAN MENYAPA DAN SYUKUR SAAT LAPANG DATANG, DENGAN TETAP MENGGELORAKAN RASA TAKUT KEPADA ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA SAAT SENDIRI ATAU BERSAMA.”
Begitulah Abu Qilabah menutup lembaran hidupnya di dunia. Dan begitulah cara Abu Qilabah membuka lembaran hidupnya di akherat. Semoga kisah ini tak hanya menjadi sebuah objek bidikan mata semata. Namun lebih dari itu, semoga dari tatapan mata akan terus mengalir dan mengisi setiap celah di ruang kalbu dan himmah kita, kemudian dapat diterjemahkan dengan baik oleh seluruh anggota tubuh kita. Amin
Dan tentunya, yang paling berhak mengamalkannya adalah penulis, hamba yang penuh dosa dan cacat ini. Terakhir, Rabbana.. anugrahkanlah ampunan kepada kami juga saudara-saudara kami yang terlebih dahulu beriman dari kami, dan janganlah Engkau biarkan kedengkian kepada orang-orang beriman merasuk dalam kalbu kami. Duhai Rabb, Kau-lah Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.
_
daarul_hadith_bil_fuyush_ _akhukum fillah_yahya_el_windany_ Sumber : Dikirim oleh Al-Yahya Al-Windany (salah satu thulab di Darul Hadist Fuyus,Yaman)
_WA Thullab Al Fiyusy_
From: Permata Muslimah.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar