Dari Abu Hurairah RA, bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW, telah bersabda : “Bila seorang hamba telah meninggal, segala amalnya terputus, kecuali tiga hal : amal jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang mendo’akannya” (HR. Bukhari, dalam Adabul Mufrad).
Berikut contoh konkrit, sadaqah (amal) jariah, yang pahalanya terus mengalir walaupun si pemberi sadaqah telah wafat :
SADAQAH JARIAH – KEBAIKAN YANG TAK BERAKHIR AL SADAQAT AL JARIYAH – THE ACTIONS WHICH OUTLIVES YOU !
1. Berikan Al-Quran pada seseorang, setiap saat Al-Quran tersebut dibaca, anda mendapatkan kebaikan. Give Quran to someone and each time they read from it, you will gain hasanaat.
2. Ajarkan seseorang sebuah do’a. Pada setiap bacaan do’a itu, anda mendapatkan kebaikan. Teach someone to recite a dua. With each recitation, you will gain hasanaat.
3. Sumbangkan kursi roda ke RS dan setiap orang sakit menggunakannya, anda mendapatkan kebaikan. Donate a wheel chair to a hospital and each time a sick person uses it, you will gain hasanaat.
4. Tanam sebuah pohon. Setiap seseorang atau hewan berlindung dibawahnya atau makan buahnya, anda dapat kebaikan. Plant a tree. Each time any person or an animal sits under its shade or eats from the tree, you will gain hasanaat.
5. Tempatkan pendingin air di tempat umum. Place a water cooler in a public place.
6. Berbagi bacaan yang membangun dengan seseorang. Share constructive reading material with someone.
7. Libatkan diri dalam pembangunan mesjid. Participate in the building of a mosque.
8. Berbagi CD Quran atau Do’a. Share a dua or Quran CD.
9. Bantulah pendidikan seorang anak. Help in educating a child.
10. Bagikan pengetahuan ini dengan orang lain. Jika seseorang menjalankan salah satu dari hal diatas, Anda dapat kebaikan sampai hari Qiamat. Share this with someone. If one person applies any of the above you will receive your hasanaat until the Day of Judgment.
Jadilah dai “sejuta artikel” dengan meneruskan artikel ini kepada saudara-saudara kita sesama muslim yang barangkali belum mengetahuinya, sehingga kita tidak dilaknat Allah dan seluruh mahluk karena tidak menyampaikan (menyembunyikan) apa yang telah kita ketahui, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran surah Al-Baqarah Ayat 159 : “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan dari keterangan-keterangan dan petunjuk hidayat, sesudah Kami terangkannya kepada manusia di dalam Kitab Suci, mereka itu dilaknat oleh Allah dan dilaknat oleh sekalian makhluk”.
Dari Abdullah bin ‘Amru ra, RasulAllah S.A.W bersabda: “Sampaikanlah pesanku walaupun hanya satu ayat”.
Semoga Allah Ta’ala membalas ‘amal Ibadah kita.
***
Dari Sahabat
Jumat, 08 April 2011
Rabu, 06 April 2011
Sebab Mundurnya Minat Belajar Anak
Apa yang menjadi biang keladi dari kehancuran sistem pendidikan di dunia pada umumnya..?
1. Sistem yang tidak menghargai proses
Belajar adalah proses dari tidak bisa menjadi bisa. Hasil akhir adalah buah dari kerja setiap proses yang dilalui. Sayangnya proses ini sama sekali tidak dihargai; siswa tidak pernah dinilai seberapa keras dia berusaha melalui proses. Melainkan hanya semata-mata ditentukan oleh ujian akhir. Oleh karenanya ada seorang teman yang kuliah di perguruan tinggi di Bandung, hanya masuk seminggu menjelang ujian saja. Apa katanya... percuma masuk tiap hari yang penting ujian bisa sudah nilai kita bagus dan pasti lulus.
2. Parrot Learning System yakni Sistem yang hanya mengajari anak untuk menghafal bukan belajar dalam arti sesunguhnya
Apa buktinya? coba ingat-ingat seberapa lama kita ingat materi ujian yang kita pelajari setelah di ujikan..? seminggu..? atau malah besoknya sudah lupa..? Apa beda belajar dengan menghafal; Produk dari sebuah pembelajaran kemampuan atau keahlian yang dikuasai terus menerus. Contoh yang paling sederhana adalah pada saat anak belajar sepeda. Mulai dari tidak bisa menjadi bisa, dan setelah bisa ia akan bisa terus sepanjang masa. Sementara produk dari menghafal adalah ingatan jangka pendek yang dalam waktu singkat akan cepat dilupakan. Perbedaan lain bahwa belajar membutuhkan waktu lebih panjang sementara menghafal bisa dilakukan hanya dalam 1 malam saja. Menghafal bukanlah sesuatu yang harus dipelajari, hafal adalah produk dari kebiasaan yang berulang-ulang dan tidak perlu menggunakan effort yang melelahkan otak. Sebut saja jalan kekantor dan pulang kerumah, karena setiap hari kita lakukan maka kita hafal betul lika-likunya hingga jam-jam macetnya tanpa perlu memeras otak seperti kebanyakan anak-anak yang harus menghafal untuk menghadapi ulangan mereka.
Padahal pada hakekatnya Manusia dianugrahi susunan otak yang paling tinggi derajadnya dibanding mahluk manapun didunia. Fungsi tertinggi dari otak manusia tersebut disebut sebagai cara berpikir tingkat tinggi atau HOT; yang direpresentasikan melalui kemampuan kreatif atau bebas mencipta serta berpikir analisis-logis; sementara fungsi menghafal hanyalah fungsi pelengkap. Keberhasilan seorang anak kelak bukan ditentukan oleh kemampuan hafalannya melainkan oleh kemampuan kreatif dan berpikir kritis analisis.
3. Sistem sekolah yang berfokus pada nilai
Nilai yang biasanya diwakili oleh angka-angka biasanya dianggap sebagai penentu hidup dan matinya seorang siswa. Begitu sakral dan gentingnya arti sebuah nilai pelajaran sehingga semua pihak mulai guru, orang tua dan anak akan merasa rasah dan stress jika melihat siswanya mendapat nilai rendah atau pada umumnya dibawah angka 6 (enam).
Setiap orang dikondisikan untuk berlomba-lomba mencapai nilai yang tinggi dengan cara apapun tak perduli apakah si siswa terlihat setangah sekarat untuk mencapainya. Nyatanya toh dalam kehidupan nyata, nilai pelajaran yang begitu dianggung-anggungkan oleh sekolah tersebut tidak berperan banyak dalam menentukan sukses hidup seseorang. Dan lucunya sebagian besar kita dapati anak yang dulu saat masih bersekolah memiliki nilai pas-pasan atau bahkan hancur, justru lebih banyak meraih sukses dikehidupan nyata.
Mari kita ingat-ingat kembali saat kita masih bersekolah dulu; betapa bangganya seseorang yang mendapat nilai tinggi dan betapa hinanya anak yang medapat nilai rendah; dan bahkan untuk mempertegas kehinaan ini, biasanya guru menggunakan tinta dengan warna yang lebih menyala dan mencolok mata.
Sementara jika kita kaji lagi; apakah sesungguhnya representasi dari sebuah nilai yang diagung-agungkan disekolah itu...?
Nilai sesungguhnya hanyalah representasi dari kemampuan siswa dalam “menghapal” pelajaran dan “subjektifitas” guru yang memberi nilai tersebut terhadap siswanya.
Meskipun kerapkali guru menyangkalnya, cobalah anda ingat-ingat; berapa lama anda belajar untuk mendapatkan nilai tersebut; apakah 3 bulan...? 1 bulan..? atau cukup hanya semalam saja..?
Kemudian coba ingat-ingat kembali, jika dulu saat bersekolah, ada diantara anda yang pernah bermasalah dengan salah seorang guru; apakah ini akan mempengaruhi nilai yang akan anda peroleh..?
Jadi wajar saja; meskipun kita banyak memiliki orang “pintar” dengan nilai yang sangat tinggi; negeri ini masih tetap saja tertinggal jauh dari negara-negara maju. Karena pintarnya hanya pintar menghafal dan menjawab soal-soal ujian.
4. Sistem pendidikan yang Seragam-sama
Siapapun sadar bahwa bila kita memiliki lebih dari 1 atau 2 orang anak; maka bisa dipastikan setiap anak akan berbeda-beda dalam berbagai hal. Andalah yang paling tahu perbedaan-perbedaanya.
Namun sayangnya anak yang berbeda tersebut bila masuk kedalam sekolah akan diperlakukan secara sama, diproses secara sama dan diuji secara sama.
Menurut hasil penelitian Ilmu Otak/Neoro Science jelas-jelas ditemukan bahwa satiap anak memiliki kelebihan dan sekaligus kelemahan dalam bidang yang berbeda-beda. Mulai dari Instingtif otak kiri dan kanan, Gaya Belajar dan Kecerdasan Beragam.
Sementara sistem pendidikan seolah-oleh menutup mata terhadap perbedaan yang jelas dan nyata tersebut yakni dengan mengyelenggaraan sistem pendidikan yang sama dan seragam. Oleh karena dalam setiap akhir pembelajaran akan selalu ada anak-anak yang tidak bisa/berhasil menyesuaikan dengan sistem pendidikan yang seragam tersebut.
5. Sekolah adalah Institusi Pendidikan yang tidak pernah mendidik (Knowing vs Being)
Sekilas judul ini tampaknya membingungkan; tapi sesungguhnya inilah yang terjadi pada lembaga pendidikan kita.
Apa beda mendidik dengan mengajar...?
Ya.. tepat!, mendidik adalah proses membangun moral/prilaku atau karakter anak sementara mengajar adalah mengajari anak dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak bisa menjadi bisa.
Produk dari pengajaran adalah terbangunnya cara berpikir kritis dan kreatif yang berhubungan dengan intelektual sementara produk dari pendidikan adalah terbangunnya prilaku/akhlak yang baik.
Ya..! memang betul dalam kurikulum ada mata pelajaran Agama, Moral Panca Sila, Civic dan sebagainya namun dalam aplikasinya disekolah guru hanya memberikan sebatas hafalan saja; bukan aplikasi dilapangan. Demikian juga ujiannya dibuat berbasiskan hafalan; seperti hafalan butir-butir Panca Sila dsb. Tidak berdasarkan aplikasi siswa dilapangan seperti praktek di panti-panti jompo; terjun menjadi tenaga sosial, dengan sistem penilaian yang berbasiskan aplikasi dan penilaian masyarakat (user base evaluation).
Jadi wajar saja jika anak-anak kita tidak pernah memiliki nilai moral yang tertanam kuat di dalam dirinya; melainkan hanya nilai moral yang melintas semalam saja dikepalanya dalam rangka untuk dapat menjawab soal-soal ujian besok paginya.
6. Sistem Pendidikan berbasiskan kelas dan teori
Bayangkan betapa menakutkannya sistem sekolah yang ada saat ini; setiap siswanya yang kelak akan hidup di dunia yang beragam diluar sana, namun selama bertahun-tahun hanya mengenal suatu ruangan dengan meja dan bangku yang berderet-deret. Ruang yang sakral ini diberi nama dengan “Kelas”. Mereka tidak pernah diajak untuk menjelajahi berbagai kehidupan nyata diruang kelas, sementara kehidupan mereka kelak menuntut mereka bisa berkiprah diluar ruang kelas. Sungguh kasihan nasib anak-anak kita.
Siswa yang kelak akan berhadapan dengan realitas hidup dan tantangan yang multi dimensi ini pun sayangnya hanya diajarkan untuk mengetahui sebatas buku dan teori. Bahkan sebagian besar teori yang diajarkan adalah teori masa lalu yang sebagian besar telah usang karena begitu cepatnya perubahan zaman. Sehingga sering kali mereka mempelajari sesuatu yang sudah kadaluarsa dan ditinggalkan oleh dunia.
Jadi wajar saja jika anda mendapati para lulusan terbaik dari perguruan tinggi terbaik sekalipun masih membutuhkan waktu untuk belajar lagi untuk bekerja atau bahkan perlu pelatihan berbulan-bulan agar bisa menggunakan alat-alat yang belum pernah dikenalnya.
Sungguh pendidikan dengan realitas hidup ibarat sebuah pepatah “jauh panggang dari api”.
Perhatikan Fakta berikut dari riset yang dilakukan oleh Dale Carnigie Insitute ....
SISTEM -------------------------REALITAS
PEMBELAJARAN--------------KEHIDUPAN
> 90% di ruang kelas-----30% - 50% diruangan mirip kelas
> 90% teori--------------------Berapa persen teori..?
7. Sekolah yang menghakimi anak dengan sistem rangking
Aneh sekali sistem pendidikan di negeri ini; setiap orang tua mengirim anaknya kesekolah pasti dengan satu tujuan dan harapan, yakni agar anaknya berhasil. Tapi sayangnya harapan orang tua banyak yang justru kandas disekolah. Mengapa...? karena ternyata fungsi sekolah yang ada hanyalah untuk menghasilkan dua kelompok anak yakni yang Berhasil dan yang Gagal. Bukan menjadikan setiap anak berhasil.
Ternyata faktanya dari tahun-ketahun rata-rata jumlah yang gagal jauh lebih banyak dari jumlah yang berhasil...? Tapi anehnya orang tua masih saja berbondong-bondong mengirim anaknya kesekolah meskipun hanya untuk sekedar mendapatkan pembenaran bahwa anaknya masuk kelompok yang berhasil atau yang gagal. Berapa banyak juara dalam setiap kelas...?
Tak bisakah sekolah itu menjadikan semua anak menjadi sukses..? Tak mampukah sekolah menjadikan setiap muridnya menjadi anak yang berhasil..? Masih maukah para orang tua mengirim anaknya ke sekolah semacam ini..?
8. Sistem Pendidikan yang tidak memiliki tujuan jelas
Saya sering mengajukan pertanyaan yang sederhana pada para siswa sekolah, untuk apa kalian bersekolah..? jawaban mereka biasanya hampir sama seperti biar jadi anak pintar, biar jadi orang berhasil dan sejenisnya. Tapi maksud saya adalah apa persisnya tujuan akhir bersekolah bagi kehidupanmu kelak. Apakah hanya untuk lulus saja kemudian kebingungan mencari kerja dan akhirnya menjadi pengangguran baru atau persisnya bagaimana?
Mulailah para siswa kebingungan dengan pertanyaan semacam ini. Yah wajar mereka kebingungan karena memang mereka tidak pernah diajak untuk memikirkan hal ini, atau mungkin para guru dan pembuat kebijakan pendidikan juga tidak terpikir tentang hal ini.
Bayangkan sejak kita bersekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi begitu banyak mata pelajaran yang harus kita perlajari dan kuasai namun ternyata hanya sedikit sekali yang kita gunakan dalam kehidupan nyata. Padahal kita perlu usaha keras dan biaya yang tidak sedikit untuk mempelajarinya. Lalu untuk apa semua yang ada dikurikulum itu kita pelajari kalo ternyata kelak kita tidak menggunakannya. Ambil saja contoh sejak SMP kita diajarkan matematika Sinus, Cosinus dan Tangen, tapi nyatanya dalam hidup kita hanya gunakan Tambah, Kali, Kurang dan Bagi saja. Mengapa ini tidak diajarkan saja pada jenjang perguruan tinggi jurusan matematika, yang jelas-jelas mereka akan gunakan bagi profesinya kelak. Itupun kalau digunakan..?
Tapi sayangnya jika kita ajukan pertanyaan ini pada para guru, merekapun kebingungan untuk menjawabnya dan bahkan jikapun ini kita tanyakan pada perwakilan Diknas setempat mereka juga sama tidak tahunya.
Sementara begitu banyak pelajaran yang diperlukan oleh siswa untuk meraih sukses dalam kehidupannya kelak justru tidak diajarkan disekolah. Sebut saja mata pelajaran kewirausahaan, etos kerja, cara berpikir kritis dan kreatif, pengendalian emosi, mengenal potensi diri, berpikir positif dsb.
Jadi wajar saja jika para lulusan SMA dari masa-kemasa terus merasa kebingungan untuk menentukan tujuan atau jurusan sekolahlanjutan bagi dirinya.
9. Sistem ujian berbasiskan tulisan
Bayangkan dalam kehidupan nyata, sebagian besar anak-anak kita kelak harus berkarya dengan berbagai cara dan alat untuk bisa sukses dalam kehidupan.
Sementara selama lebih dari 18 tahun mereka bersekolah, mereka hanya dididik untuk tulis menulis, seluruh pelajaran hingga ujian disusun berdasarkan tulisan. Ini jelas sebuah sistem yang tidak masuk akal.
Sistem inilah yang telah membuat anak-anak lulusan sekolah canggung menghadapi kehidupan nyata yang ternyata tidak hanya sebatas tulis menulis saja, melainkan kombinasi dari banyak hal mulai dari berpikir, bergerak, tampil didepan umum, memotivasi menyusun strategi dan sebagainya. Sementara tulis menulis hanyalah salah satu bidang/profesi dari berjuta-juta profesi yang ada didunia ini. Namun sayangnya anak-anak kita hanya mengetahui tulis-menulislah dari kegiatan bersekolahnya selama bertahun-tahun, dan tidak pernah diajari untuk mengetahui lebih banyak kegiatan baik dari mencoba langsung ataupun kunjungan, kecuali 1 kali dalam sekian tahun yakni Jalan-jalan Belajar atau yang lebih dikenal dengan “Study Tour” yang nyatanya lebih banyak rekreasinya dari pada belajarnya.
SISTEM SEKOLAH------versus -------REALITAS KEHIDUPAN
> 90%UJIAN TULISAN sementara realitas kehidupan 80% PRAKTEK DENGAN BERBAGAI METODE DAN ALAT
KEMAMPUAN AKHIR MAMPU MENJAWAB SOAL TERTULIS SAJA sementara realitas kehidupan menuntut KEMAMPUAN DAN KEAHLIAN KHUSUS DENGAN BERBAGAI METODE DAN ALAT bukan dengan tulisan saja.
10. Pandangan yang rendah terhadap mata pelajaran NON EKSAKTA
Selama sekian puluh tahun telah pengkotak-kotakan ilmu pengetahuan dan seni, seolah-olah satu ilmu lebih penting dari lainnya serta sains lebih penting dari pada seni. Hal ini sangat bertentangan dengan pernyataan Leonardo Da Vinci sang jenius sepanjang zaman yang mengatakan bahwa Seni dan Sains adalah keahlian dan kemampuan manusia yang setara dan bahkan beliau menyatakan bahwa untuk bisa memahami Sains manusia perlu lebih dahulu memahami Seni.
Akibat proses pengkotak-kotakan yang dilakukan oleh sistem pendidikan dalam bingkai kurikuler dan ekstra kulikuler akibatnya kita ikut-ikutan melakukan pengkotak-kotakan yang sama. Padahal nyatanya dalam kehidupan orang yang ahli sains kehidupannya tidak jauh lebih baik dengan para maestro dibidang seni seperti Deni Malik, Guruh Sukarno Putera, Basuki Abdullah, Krisdayanti dsb.
FAKTA..!
BERAPA BANYAK TOKOH SUKSES YANG ANDA KENAL
PADA BIDANG NON EKSAKTA…?
PENYANYI…?
KOREOGRAFER..?
FOTO GRAFER..?
SUTRADARA..?
NOVELIS..?
PRESENTER..?
OLAHRAGAWAN..?
PELUKIS..?
PERANCANG BUSANA..?
AGAMAWAN..?
BUDAYAWAN...?
JURU MASAK...?
11. Fenomena sekolah Unggulan
Saya bingung mengapa ada yang disebut sebagai sekolah unggulan/favorit, bukankah setiap sekolah harusnya menjadi tempat favorit bagi siswanya untuk belajar..? dan mampu mencetak setiap anak menjadi anak unggulan..?
Saya juga menjadi bertambah bingung, sesungguhnya apa hebatnya satu sekolah bisa menjadi favorit/unggulan..? Lah wong sekolahnya sendiri saja sudah menseleksi calon siswanya dan hanya mau menerima siswa-siswa dengan kategori unggul.
Tentu saja memang sudah sepantasnya, jika satu mesin yang bahannya memang sudah unggul hasilnya juga harus unggul. Jadi kalau begitu sesungguhnya sekolah favorit/unggulan itu ya biasa-biasa saja tidak ada yang hebat. Mungkin sebuah sekolah favorit/unggulan baru dapat dibilang hebat jika dia berhasil mencetak anak-anak dari yang biasa-biasa saja menjadi anak-anak yang berprestasi dan unggul.
Seperti kata pepatah mesin cetak yang hebat adalah bila ia bisa mengubah loyang menjadi emas. tapi hanya mampu mengubah emas menjadi emas juga ya semua tukan emas di pasar juga mampu melakukannya.
ARTIKEL INI DIMUAT BUKAN UNTUK DI PERDEBATKAN, MELAINKAN UNTUK BAHAN RENUNGAN, BIARKAN HATI NURANI DAN PENGALAMAN KITA YANG BERBICARA. SEMOGA KITA BISA SEGERA MENGIKUTI JEJAK NEGARA-NEGARA MAJU UNTUK MEMBUAT PERUBAHAN YANG FUNDAMENTAL BAGI PENDIDIKAN ANAK-ANAK KITA KEDEPAN DAN TIDAK HANYA SEKEDAR MENGUBAH SMA MENJADI SMU DAN KINI KEMBALI DI UBAH MENJADI SMA KEMBALI, ATAU TES PERINTIS, YANG DIUBAH MENJADI SIPENMARU, KEMUDIAN UMPTN, KEMUDIAN MENJADI SPMB DAN ENTAH APA LAGI..?
Catatan: Artikel ini telah di bahas oleh Ayah Edy LIVE di SMART FM pada Selasa Malam 4 Mei 2010 sebagai bagian dari peringatan Hari Pendidikan Nasional. Bagi para guru dan orang tua yang belum sempat mendengarkannya pastikan untuk mendengarkan Rekamannya yang akan di tayang ulang pada Sabtu Pagi pukul 10.00-12.00 WIB.
1. Sistem yang tidak menghargai proses
Belajar adalah proses dari tidak bisa menjadi bisa. Hasil akhir adalah buah dari kerja setiap proses yang dilalui. Sayangnya proses ini sama sekali tidak dihargai; siswa tidak pernah dinilai seberapa keras dia berusaha melalui proses. Melainkan hanya semata-mata ditentukan oleh ujian akhir. Oleh karenanya ada seorang teman yang kuliah di perguruan tinggi di Bandung, hanya masuk seminggu menjelang ujian saja. Apa katanya... percuma masuk tiap hari yang penting ujian bisa sudah nilai kita bagus dan pasti lulus.
2. Parrot Learning System yakni Sistem yang hanya mengajari anak untuk menghafal bukan belajar dalam arti sesunguhnya
Apa buktinya? coba ingat-ingat seberapa lama kita ingat materi ujian yang kita pelajari setelah di ujikan..? seminggu..? atau malah besoknya sudah lupa..? Apa beda belajar dengan menghafal; Produk dari sebuah pembelajaran kemampuan atau keahlian yang dikuasai terus menerus. Contoh yang paling sederhana adalah pada saat anak belajar sepeda. Mulai dari tidak bisa menjadi bisa, dan setelah bisa ia akan bisa terus sepanjang masa. Sementara produk dari menghafal adalah ingatan jangka pendek yang dalam waktu singkat akan cepat dilupakan. Perbedaan lain bahwa belajar membutuhkan waktu lebih panjang sementara menghafal bisa dilakukan hanya dalam 1 malam saja. Menghafal bukanlah sesuatu yang harus dipelajari, hafal adalah produk dari kebiasaan yang berulang-ulang dan tidak perlu menggunakan effort yang melelahkan otak. Sebut saja jalan kekantor dan pulang kerumah, karena setiap hari kita lakukan maka kita hafal betul lika-likunya hingga jam-jam macetnya tanpa perlu memeras otak seperti kebanyakan anak-anak yang harus menghafal untuk menghadapi ulangan mereka.
Padahal pada hakekatnya Manusia dianugrahi susunan otak yang paling tinggi derajadnya dibanding mahluk manapun didunia. Fungsi tertinggi dari otak manusia tersebut disebut sebagai cara berpikir tingkat tinggi atau HOT; yang direpresentasikan melalui kemampuan kreatif atau bebas mencipta serta berpikir analisis-logis; sementara fungsi menghafal hanyalah fungsi pelengkap. Keberhasilan seorang anak kelak bukan ditentukan oleh kemampuan hafalannya melainkan oleh kemampuan kreatif dan berpikir kritis analisis.
3. Sistem sekolah yang berfokus pada nilai
Nilai yang biasanya diwakili oleh angka-angka biasanya dianggap sebagai penentu hidup dan matinya seorang siswa. Begitu sakral dan gentingnya arti sebuah nilai pelajaran sehingga semua pihak mulai guru, orang tua dan anak akan merasa rasah dan stress jika melihat siswanya mendapat nilai rendah atau pada umumnya dibawah angka 6 (enam).
Setiap orang dikondisikan untuk berlomba-lomba mencapai nilai yang tinggi dengan cara apapun tak perduli apakah si siswa terlihat setangah sekarat untuk mencapainya. Nyatanya toh dalam kehidupan nyata, nilai pelajaran yang begitu dianggung-anggungkan oleh sekolah tersebut tidak berperan banyak dalam menentukan sukses hidup seseorang. Dan lucunya sebagian besar kita dapati anak yang dulu saat masih bersekolah memiliki nilai pas-pasan atau bahkan hancur, justru lebih banyak meraih sukses dikehidupan nyata.
Mari kita ingat-ingat kembali saat kita masih bersekolah dulu; betapa bangganya seseorang yang mendapat nilai tinggi dan betapa hinanya anak yang medapat nilai rendah; dan bahkan untuk mempertegas kehinaan ini, biasanya guru menggunakan tinta dengan warna yang lebih menyala dan mencolok mata.
Sementara jika kita kaji lagi; apakah sesungguhnya representasi dari sebuah nilai yang diagung-agungkan disekolah itu...?
Nilai sesungguhnya hanyalah representasi dari kemampuan siswa dalam “menghapal” pelajaran dan “subjektifitas” guru yang memberi nilai tersebut terhadap siswanya.
Meskipun kerapkali guru menyangkalnya, cobalah anda ingat-ingat; berapa lama anda belajar untuk mendapatkan nilai tersebut; apakah 3 bulan...? 1 bulan..? atau cukup hanya semalam saja..?
Kemudian coba ingat-ingat kembali, jika dulu saat bersekolah, ada diantara anda yang pernah bermasalah dengan salah seorang guru; apakah ini akan mempengaruhi nilai yang akan anda peroleh..?
Jadi wajar saja; meskipun kita banyak memiliki orang “pintar” dengan nilai yang sangat tinggi; negeri ini masih tetap saja tertinggal jauh dari negara-negara maju. Karena pintarnya hanya pintar menghafal dan menjawab soal-soal ujian.
4. Sistem pendidikan yang Seragam-sama
Siapapun sadar bahwa bila kita memiliki lebih dari 1 atau 2 orang anak; maka bisa dipastikan setiap anak akan berbeda-beda dalam berbagai hal. Andalah yang paling tahu perbedaan-perbedaanya.
Namun sayangnya anak yang berbeda tersebut bila masuk kedalam sekolah akan diperlakukan secara sama, diproses secara sama dan diuji secara sama.
Menurut hasil penelitian Ilmu Otak/Neoro Science jelas-jelas ditemukan bahwa satiap anak memiliki kelebihan dan sekaligus kelemahan dalam bidang yang berbeda-beda. Mulai dari Instingtif otak kiri dan kanan, Gaya Belajar dan Kecerdasan Beragam.
Sementara sistem pendidikan seolah-oleh menutup mata terhadap perbedaan yang jelas dan nyata tersebut yakni dengan mengyelenggaraan sistem pendidikan yang sama dan seragam. Oleh karena dalam setiap akhir pembelajaran akan selalu ada anak-anak yang tidak bisa/berhasil menyesuaikan dengan sistem pendidikan yang seragam tersebut.
5. Sekolah adalah Institusi Pendidikan yang tidak pernah mendidik (Knowing vs Being)
Sekilas judul ini tampaknya membingungkan; tapi sesungguhnya inilah yang terjadi pada lembaga pendidikan kita.
Apa beda mendidik dengan mengajar...?
Ya.. tepat!, mendidik adalah proses membangun moral/prilaku atau karakter anak sementara mengajar adalah mengajari anak dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak bisa menjadi bisa.
Produk dari pengajaran adalah terbangunnya cara berpikir kritis dan kreatif yang berhubungan dengan intelektual sementara produk dari pendidikan adalah terbangunnya prilaku/akhlak yang baik.
Ya..! memang betul dalam kurikulum ada mata pelajaran Agama, Moral Panca Sila, Civic dan sebagainya namun dalam aplikasinya disekolah guru hanya memberikan sebatas hafalan saja; bukan aplikasi dilapangan. Demikian juga ujiannya dibuat berbasiskan hafalan; seperti hafalan butir-butir Panca Sila dsb. Tidak berdasarkan aplikasi siswa dilapangan seperti praktek di panti-panti jompo; terjun menjadi tenaga sosial, dengan sistem penilaian yang berbasiskan aplikasi dan penilaian masyarakat (user base evaluation).
Jadi wajar saja jika anak-anak kita tidak pernah memiliki nilai moral yang tertanam kuat di dalam dirinya; melainkan hanya nilai moral yang melintas semalam saja dikepalanya dalam rangka untuk dapat menjawab soal-soal ujian besok paginya.
6. Sistem Pendidikan berbasiskan kelas dan teori
Bayangkan betapa menakutkannya sistem sekolah yang ada saat ini; setiap siswanya yang kelak akan hidup di dunia yang beragam diluar sana, namun selama bertahun-tahun hanya mengenal suatu ruangan dengan meja dan bangku yang berderet-deret. Ruang yang sakral ini diberi nama dengan “Kelas”. Mereka tidak pernah diajak untuk menjelajahi berbagai kehidupan nyata diruang kelas, sementara kehidupan mereka kelak menuntut mereka bisa berkiprah diluar ruang kelas. Sungguh kasihan nasib anak-anak kita.
Siswa yang kelak akan berhadapan dengan realitas hidup dan tantangan yang multi dimensi ini pun sayangnya hanya diajarkan untuk mengetahui sebatas buku dan teori. Bahkan sebagian besar teori yang diajarkan adalah teori masa lalu yang sebagian besar telah usang karena begitu cepatnya perubahan zaman. Sehingga sering kali mereka mempelajari sesuatu yang sudah kadaluarsa dan ditinggalkan oleh dunia.
Jadi wajar saja jika anda mendapati para lulusan terbaik dari perguruan tinggi terbaik sekalipun masih membutuhkan waktu untuk belajar lagi untuk bekerja atau bahkan perlu pelatihan berbulan-bulan agar bisa menggunakan alat-alat yang belum pernah dikenalnya.
Sungguh pendidikan dengan realitas hidup ibarat sebuah pepatah “jauh panggang dari api”.
Perhatikan Fakta berikut dari riset yang dilakukan oleh Dale Carnigie Insitute ....
SISTEM -------------------------REALITAS
PEMBELAJARAN--------------KEHIDUPAN
> 90% di ruang kelas-----30% - 50% diruangan mirip kelas
> 90% teori--------------------Berapa persen teori..?
7. Sekolah yang menghakimi anak dengan sistem rangking
Aneh sekali sistem pendidikan di negeri ini; setiap orang tua mengirim anaknya kesekolah pasti dengan satu tujuan dan harapan, yakni agar anaknya berhasil. Tapi sayangnya harapan orang tua banyak yang justru kandas disekolah. Mengapa...? karena ternyata fungsi sekolah yang ada hanyalah untuk menghasilkan dua kelompok anak yakni yang Berhasil dan yang Gagal. Bukan menjadikan setiap anak berhasil.
Ternyata faktanya dari tahun-ketahun rata-rata jumlah yang gagal jauh lebih banyak dari jumlah yang berhasil...? Tapi anehnya orang tua masih saja berbondong-bondong mengirim anaknya kesekolah meskipun hanya untuk sekedar mendapatkan pembenaran bahwa anaknya masuk kelompok yang berhasil atau yang gagal. Berapa banyak juara dalam setiap kelas...?
Tak bisakah sekolah itu menjadikan semua anak menjadi sukses..? Tak mampukah sekolah menjadikan setiap muridnya menjadi anak yang berhasil..? Masih maukah para orang tua mengirim anaknya ke sekolah semacam ini..?
8. Sistem Pendidikan yang tidak memiliki tujuan jelas
Saya sering mengajukan pertanyaan yang sederhana pada para siswa sekolah, untuk apa kalian bersekolah..? jawaban mereka biasanya hampir sama seperti biar jadi anak pintar, biar jadi orang berhasil dan sejenisnya. Tapi maksud saya adalah apa persisnya tujuan akhir bersekolah bagi kehidupanmu kelak. Apakah hanya untuk lulus saja kemudian kebingungan mencari kerja dan akhirnya menjadi pengangguran baru atau persisnya bagaimana?
Mulailah para siswa kebingungan dengan pertanyaan semacam ini. Yah wajar mereka kebingungan karena memang mereka tidak pernah diajak untuk memikirkan hal ini, atau mungkin para guru dan pembuat kebijakan pendidikan juga tidak terpikir tentang hal ini.
Bayangkan sejak kita bersekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi begitu banyak mata pelajaran yang harus kita perlajari dan kuasai namun ternyata hanya sedikit sekali yang kita gunakan dalam kehidupan nyata. Padahal kita perlu usaha keras dan biaya yang tidak sedikit untuk mempelajarinya. Lalu untuk apa semua yang ada dikurikulum itu kita pelajari kalo ternyata kelak kita tidak menggunakannya. Ambil saja contoh sejak SMP kita diajarkan matematika Sinus, Cosinus dan Tangen, tapi nyatanya dalam hidup kita hanya gunakan Tambah, Kali, Kurang dan Bagi saja. Mengapa ini tidak diajarkan saja pada jenjang perguruan tinggi jurusan matematika, yang jelas-jelas mereka akan gunakan bagi profesinya kelak. Itupun kalau digunakan..?
Tapi sayangnya jika kita ajukan pertanyaan ini pada para guru, merekapun kebingungan untuk menjawabnya dan bahkan jikapun ini kita tanyakan pada perwakilan Diknas setempat mereka juga sama tidak tahunya.
Sementara begitu banyak pelajaran yang diperlukan oleh siswa untuk meraih sukses dalam kehidupannya kelak justru tidak diajarkan disekolah. Sebut saja mata pelajaran kewirausahaan, etos kerja, cara berpikir kritis dan kreatif, pengendalian emosi, mengenal potensi diri, berpikir positif dsb.
Jadi wajar saja jika para lulusan SMA dari masa-kemasa terus merasa kebingungan untuk menentukan tujuan atau jurusan sekolahlanjutan bagi dirinya.
9. Sistem ujian berbasiskan tulisan
Bayangkan dalam kehidupan nyata, sebagian besar anak-anak kita kelak harus berkarya dengan berbagai cara dan alat untuk bisa sukses dalam kehidupan.
Sementara selama lebih dari 18 tahun mereka bersekolah, mereka hanya dididik untuk tulis menulis, seluruh pelajaran hingga ujian disusun berdasarkan tulisan. Ini jelas sebuah sistem yang tidak masuk akal.
Sistem inilah yang telah membuat anak-anak lulusan sekolah canggung menghadapi kehidupan nyata yang ternyata tidak hanya sebatas tulis menulis saja, melainkan kombinasi dari banyak hal mulai dari berpikir, bergerak, tampil didepan umum, memotivasi menyusun strategi dan sebagainya. Sementara tulis menulis hanyalah salah satu bidang/profesi dari berjuta-juta profesi yang ada didunia ini. Namun sayangnya anak-anak kita hanya mengetahui tulis-menulislah dari kegiatan bersekolahnya selama bertahun-tahun, dan tidak pernah diajari untuk mengetahui lebih banyak kegiatan baik dari mencoba langsung ataupun kunjungan, kecuali 1 kali dalam sekian tahun yakni Jalan-jalan Belajar atau yang lebih dikenal dengan “Study Tour” yang nyatanya lebih banyak rekreasinya dari pada belajarnya.
SISTEM SEKOLAH------versus -------REALITAS KEHIDUPAN
> 90%UJIAN TULISAN sementara realitas kehidupan 80% PRAKTEK DENGAN BERBAGAI METODE DAN ALAT
KEMAMPUAN AKHIR MAMPU MENJAWAB SOAL TERTULIS SAJA sementara realitas kehidupan menuntut KEMAMPUAN DAN KEAHLIAN KHUSUS DENGAN BERBAGAI METODE DAN ALAT bukan dengan tulisan saja.
10. Pandangan yang rendah terhadap mata pelajaran NON EKSAKTA
Selama sekian puluh tahun telah pengkotak-kotakan ilmu pengetahuan dan seni, seolah-olah satu ilmu lebih penting dari lainnya serta sains lebih penting dari pada seni. Hal ini sangat bertentangan dengan pernyataan Leonardo Da Vinci sang jenius sepanjang zaman yang mengatakan bahwa Seni dan Sains adalah keahlian dan kemampuan manusia yang setara dan bahkan beliau menyatakan bahwa untuk bisa memahami Sains manusia perlu lebih dahulu memahami Seni.
Akibat proses pengkotak-kotakan yang dilakukan oleh sistem pendidikan dalam bingkai kurikuler dan ekstra kulikuler akibatnya kita ikut-ikutan melakukan pengkotak-kotakan yang sama. Padahal nyatanya dalam kehidupan orang yang ahli sains kehidupannya tidak jauh lebih baik dengan para maestro dibidang seni seperti Deni Malik, Guruh Sukarno Putera, Basuki Abdullah, Krisdayanti dsb.
FAKTA..!
BERAPA BANYAK TOKOH SUKSES YANG ANDA KENAL
PADA BIDANG NON EKSAKTA…?
PENYANYI…?
KOREOGRAFER..?
FOTO GRAFER..?
SUTRADARA..?
NOVELIS..?
PRESENTER..?
OLAHRAGAWAN..?
PELUKIS..?
PERANCANG BUSANA..?
AGAMAWAN..?
BUDAYAWAN...?
JURU MASAK...?
11. Fenomena sekolah Unggulan
Saya bingung mengapa ada yang disebut sebagai sekolah unggulan/favorit, bukankah setiap sekolah harusnya menjadi tempat favorit bagi siswanya untuk belajar..? dan mampu mencetak setiap anak menjadi anak unggulan..?
Saya juga menjadi bertambah bingung, sesungguhnya apa hebatnya satu sekolah bisa menjadi favorit/unggulan..? Lah wong sekolahnya sendiri saja sudah menseleksi calon siswanya dan hanya mau menerima siswa-siswa dengan kategori unggul.
Tentu saja memang sudah sepantasnya, jika satu mesin yang bahannya memang sudah unggul hasilnya juga harus unggul. Jadi kalau begitu sesungguhnya sekolah favorit/unggulan itu ya biasa-biasa saja tidak ada yang hebat. Mungkin sebuah sekolah favorit/unggulan baru dapat dibilang hebat jika dia berhasil mencetak anak-anak dari yang biasa-biasa saja menjadi anak-anak yang berprestasi dan unggul.
Seperti kata pepatah mesin cetak yang hebat adalah bila ia bisa mengubah loyang menjadi emas. tapi hanya mampu mengubah emas menjadi emas juga ya semua tukan emas di pasar juga mampu melakukannya.
ARTIKEL INI DIMUAT BUKAN UNTUK DI PERDEBATKAN, MELAINKAN UNTUK BAHAN RENUNGAN, BIARKAN HATI NURANI DAN PENGALAMAN KITA YANG BERBICARA. SEMOGA KITA BISA SEGERA MENGIKUTI JEJAK NEGARA-NEGARA MAJU UNTUK MEMBUAT PERUBAHAN YANG FUNDAMENTAL BAGI PENDIDIKAN ANAK-ANAK KITA KEDEPAN DAN TIDAK HANYA SEKEDAR MENGUBAH SMA MENJADI SMU DAN KINI KEMBALI DI UBAH MENJADI SMA KEMBALI, ATAU TES PERINTIS, YANG DIUBAH MENJADI SIPENMARU, KEMUDIAN UMPTN, KEMUDIAN MENJADI SPMB DAN ENTAH APA LAGI..?
Catatan: Artikel ini telah di bahas oleh Ayah Edy LIVE di SMART FM pada Selasa Malam 4 Mei 2010 sebagai bagian dari peringatan Hari Pendidikan Nasional. Bagi para guru dan orang tua yang belum sempat mendengarkannya pastikan untuk mendengarkan Rekamannya yang akan di tayang ulang pada Sabtu Pagi pukul 10.00-12.00 WIB.
Potret Pendidikan Kita Sekarang
Syahdan di tengah-tengah hutan belantara Sumatera berdirilah sebuah sekolah untuk para binatang dengan status “disamakan dengan manusia”, sekolah ini dikepalai oleh seorang manusia.
Karena sekolah tersebut berstatus “disamakan”, maka tentu saja kurikulumnya juga harus mengikuti kurikulum yang sudah standar dan telah ditetapkan untuk manusia.
Kurikulum tersebut mewajibkan bahwa untuk bisa lulus dan mendapatkan ijazah ; setiap siswa harus berhasil pada lima mata pelajaran pokok dengan nilai minimal 8 pada masing-masing mata pelajaran.
Adapun kelima mata pelajaran pokok tersebut adalah; Terbang, Berenang, Memanjat, Berlari dan Menyelam
Mengingat bahwa sekolah ini berstatus “Disamakan dengan manusia”, maka para binatang berharap kelak mereka dapat hidup lebih baik dari binatang lainya, sehingga berbondong-bondonglah berbagai jenis binatang mendaftarkan diri untuk bersekolah disana; mulai dari; Elang, Tupai, Bebek, Rusa dan Katak
Proses belajar mengajarpun akhirnya dimulai, terlihat bahwa beberapa jenis binatang sangat unggul dalam mata pelajaran tertentu;
Elang sangat unggul dalam pelajaran terbang; dia memiliki kemampuan yang berada diatas binatang-binatang lainnya dalam hal melayang di udara, menukik, meliuk-liuk, menyambar hingga bertengger didahan sebuah pohon yang tertinggi.
Tupai sangat unggul dalam pelajaran memanjat; dia sangat pandai, lincah dan cekatan sekali dalam memanjat pohon, berpindah dari satu dahan ke dahan lainnya. Hingga mencapai puncak tertinggi pohon yang ada di hutan itu.
Sementara bebek terlihat sangat unggul dan piawai dalam pelajaran berenang, dengan gayanya yang khas ia berhasil menyebrangi dan mengitari kolam yang ada didalam hutan tersebut.
Rusa adalah murid yang luar biasa dalam pelajaran berlari; kecepatan larinya tak tertandingi oleh binatang lain yang bersekolah di sana. Larinya tidak hanya cepat melainkan sangat indah untuk dilihat.
Lain lagi dengan Katak, ia sangat unggul dalam pelajaran menyelam; dengan gaya berenangnya yang khas, katak dengan cepatnya masuk kedalam air dan kembali muncul diseberang kolam.
Begitulah pada mulanya mereka adalah murid-murid yang sangat unggul dan luar biasa dimata pelajaran tertentu.
Namun ternyata kurikulum telah mewajibkan bahwa mereka harus meraih angka minimal 8 di semua mata pelajaran untuk bisa lulus dan mengantongi ijazah.
Inilah awal dari semua kekacauan.itu; Para binatang satu demi satu mulai mempelajari mata pelajaran lain yang tidak dikuasai dan bahkan tidak disukainya.
Burung elang mulai belajar cara memanjat, berlari, namun sayang sekali untuk pelajaran berenang dan menyelam meskipun telah berkali-kali dicobanya tetap saja ia gagal; dan bahkan suatu hari burung elang pernah pingsan kehabisan nafas saat pelajaran menyelam.
Tupaipun demikian; ia berkali-kali jatuh dari dahan yang tinggi saat ia mencoba terbang. Alhasil bukannya bisa terbang tapi tubuhnya malah penuh dengan luka dan memar disana-sini.
Lain lagi dengan bebek, ia masih bisa mengikuti pelajaran berlari meskipun sering ditertawakan karena lucunya, dan sedikit bisa terbang; tapi ia kelihatan hampir putus asa pada saat mengikuti pelajaran memanjat, berkali-kali dicobanya dan berkali-kali juga dia terjatuh, luka memar disana sini dan bulu-bulunya mulai rontok satu demi satu.
Demikian juga dengan binatang lainya; meskipun semua telah berusaha dengan susah payah untuk mempelajari mata pelajaran yang tidak dikuasainya, dari pagi hingga malam, namun tidak juga menampakkan hasil yang lebih baik.
Yang lebih menyedihkan adalah karena mereka terfokus untuk dapat berhasil di mata pelajaran yang tidak dikuasainya; perlahan-lahan Elang mulai kehilangan kemampuan terbangnya; tupai sudah mulai lupa cara memanjat, bebek sudah tidak dapat lagi berenang dengan baik, sebelah kakinya patah dan sirip kakinya robek-robek karena terlalu banyak berlatih memanjat. Katak juga tidak kuat lagi menyelam karena sering jatuh pada saat mencoba terbang dari satu dahan ke dahan lainnya. Dan yang paling malang adalah Rusa, ia sudah tidak lagi dapat berlari kencang, karena paru-parunya sering kemasukan air saat mengikuti pelajaran menyelam.
Akhirnya tak satupun murid berhasil lulus dari sekolah itu; dan yang sangat menyedihkan adalah merekapun mulai kehilangan kemampuan aslinya setelah keluar dari sekolah. Mereka tidak bisa lagi hidup dilingkungan dimana mereka dulu tinggal, ya.... kemampuan alami mereka telah terpangkas habis oleh kurikulum sekolah tersebut. Sehingga satu demi satu binatang-binatang itu mulai mati kelaparan karena tidak bisa lagi mencari makan dengan kemampuan unggul yang dimilikinya..
Tidakkah kita menyadari bahwa sistem persekolahan manusia yang ada saat inipun tidak jauh berbeda dengan sistem persekolahan binatang dalam kisah ini. Kurikulum sekolah telah memaksa anak-anak kita untuk menguasai semua mata pelajaran dan melupakan kemampuan unggul mereka masing-masing. Kurikulum dan sistem persekolahan telah memangkas kemampuan alami anak-anak kita untuk bisa berhasil dalam kehidupan menjadi anak yang hanya bisa menjawab soal-soal ujian.
Akankah nasib anak-anak kita kelak juga mirip dengan nasib para binatang yang ada disekolah tersebut?
Bila kita kaji lebih jauh produk dari sistem pendidikan kita saat ini bahkan jauh lebih menyeramkan dari apa yang digambarkan oleh fabel tersebut; bayangkan betapa para lulusan dari sekolah saat ini lebih banyak hanya menjadi pencari kerja dari pada pencipta lapangan kerja, betapa banyak para lulusan yang bekerja tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan yang digelutinya selama bertahun-tahun, sebuah pemborosan waktu, tenaga dan biaya. Betapa para lulusan sekolah tidak tahu akan dunia kerja yang akan dimasukinya, jangankan kemapuan keahlian, bahkan pengetahuan saja sangatlah pas-pasan, betapa hampir setiap siswa lanjutan atas dan perguruan tinggi jika ditanya apa kemampuan unggul mereka, hampir sebagian besar tidak mampu menjawab atau menjelaskannya. Atau bahkan untuk sekedar membuat CV yang bagus saja tidak banyak lulusan perguruan tinggi yang mampu melakukannya.
Begitupun setelah mereka berhasil mendapatkan pekerjaan, berapa banyak dari mereka yang tidak memberikan unjuk kerja yang terbaik serta berapa banyak dari mereka yang merasa tidak bahagia dengan pekerjaanya. Belum lagi kita bicara tentang carut marut dunia pendidikan yang kerapkali dihiasi tidak hanya oleh tawuran pelajar melainkan juga tawuran mahasiswa. Luar biasa “Maha Siswa” julukan yang semestinya dapat dibanggakan dan begitu agung karena Mahasiswa adalah bukan siswa biasa melainkan siswa yang “Maha”. Namun nyatanya ya Tawuran juga, malah belakangan ini yang tawuran adalah mahasiswa para calon guru. Mau jadi apa anak-anak muridnya kelak.
Jika kita setuju dengan pendapat ini, maka berhentilah untuk memaksa anak mendapat nilai tinggi dalam beberapa Mata Pelajaran. Sebaiknya kita mencari apa yang menjadi kelebihannya dan kita dukung saja, jago matik ayoo, jago gambar nilai matiknya rendah ga' masalah.., Marilah buka cara berpikir kita menjadi lebih rasional.., soo liat apa yang terjadi..^_*
Karena sekolah tersebut berstatus “disamakan”, maka tentu saja kurikulumnya juga harus mengikuti kurikulum yang sudah standar dan telah ditetapkan untuk manusia.
Kurikulum tersebut mewajibkan bahwa untuk bisa lulus dan mendapatkan ijazah ; setiap siswa harus berhasil pada lima mata pelajaran pokok dengan nilai minimal 8 pada masing-masing mata pelajaran.
Adapun kelima mata pelajaran pokok tersebut adalah; Terbang, Berenang, Memanjat, Berlari dan Menyelam
Mengingat bahwa sekolah ini berstatus “Disamakan dengan manusia”, maka para binatang berharap kelak mereka dapat hidup lebih baik dari binatang lainya, sehingga berbondong-bondonglah berbagai jenis binatang mendaftarkan diri untuk bersekolah disana; mulai dari; Elang, Tupai, Bebek, Rusa dan Katak
Proses belajar mengajarpun akhirnya dimulai, terlihat bahwa beberapa jenis binatang sangat unggul dalam mata pelajaran tertentu;
Elang sangat unggul dalam pelajaran terbang; dia memiliki kemampuan yang berada diatas binatang-binatang lainnya dalam hal melayang di udara, menukik, meliuk-liuk, menyambar hingga bertengger didahan sebuah pohon yang tertinggi.
Tupai sangat unggul dalam pelajaran memanjat; dia sangat pandai, lincah dan cekatan sekali dalam memanjat pohon, berpindah dari satu dahan ke dahan lainnya. Hingga mencapai puncak tertinggi pohon yang ada di hutan itu.
Sementara bebek terlihat sangat unggul dan piawai dalam pelajaran berenang, dengan gayanya yang khas ia berhasil menyebrangi dan mengitari kolam yang ada didalam hutan tersebut.
Rusa adalah murid yang luar biasa dalam pelajaran berlari; kecepatan larinya tak tertandingi oleh binatang lain yang bersekolah di sana. Larinya tidak hanya cepat melainkan sangat indah untuk dilihat.
Lain lagi dengan Katak, ia sangat unggul dalam pelajaran menyelam; dengan gaya berenangnya yang khas, katak dengan cepatnya masuk kedalam air dan kembali muncul diseberang kolam.
Begitulah pada mulanya mereka adalah murid-murid yang sangat unggul dan luar biasa dimata pelajaran tertentu.
Namun ternyata kurikulum telah mewajibkan bahwa mereka harus meraih angka minimal 8 di semua mata pelajaran untuk bisa lulus dan mengantongi ijazah.
Inilah awal dari semua kekacauan.itu; Para binatang satu demi satu mulai mempelajari mata pelajaran lain yang tidak dikuasai dan bahkan tidak disukainya.
Burung elang mulai belajar cara memanjat, berlari, namun sayang sekali untuk pelajaran berenang dan menyelam meskipun telah berkali-kali dicobanya tetap saja ia gagal; dan bahkan suatu hari burung elang pernah pingsan kehabisan nafas saat pelajaran menyelam.
Tupaipun demikian; ia berkali-kali jatuh dari dahan yang tinggi saat ia mencoba terbang. Alhasil bukannya bisa terbang tapi tubuhnya malah penuh dengan luka dan memar disana-sini.
Lain lagi dengan bebek, ia masih bisa mengikuti pelajaran berlari meskipun sering ditertawakan karena lucunya, dan sedikit bisa terbang; tapi ia kelihatan hampir putus asa pada saat mengikuti pelajaran memanjat, berkali-kali dicobanya dan berkali-kali juga dia terjatuh, luka memar disana sini dan bulu-bulunya mulai rontok satu demi satu.
Demikian juga dengan binatang lainya; meskipun semua telah berusaha dengan susah payah untuk mempelajari mata pelajaran yang tidak dikuasainya, dari pagi hingga malam, namun tidak juga menampakkan hasil yang lebih baik.
Yang lebih menyedihkan adalah karena mereka terfokus untuk dapat berhasil di mata pelajaran yang tidak dikuasainya; perlahan-lahan Elang mulai kehilangan kemampuan terbangnya; tupai sudah mulai lupa cara memanjat, bebek sudah tidak dapat lagi berenang dengan baik, sebelah kakinya patah dan sirip kakinya robek-robek karena terlalu banyak berlatih memanjat. Katak juga tidak kuat lagi menyelam karena sering jatuh pada saat mencoba terbang dari satu dahan ke dahan lainnya. Dan yang paling malang adalah Rusa, ia sudah tidak lagi dapat berlari kencang, karena paru-parunya sering kemasukan air saat mengikuti pelajaran menyelam.
Akhirnya tak satupun murid berhasil lulus dari sekolah itu; dan yang sangat menyedihkan adalah merekapun mulai kehilangan kemampuan aslinya setelah keluar dari sekolah. Mereka tidak bisa lagi hidup dilingkungan dimana mereka dulu tinggal, ya.... kemampuan alami mereka telah terpangkas habis oleh kurikulum sekolah tersebut. Sehingga satu demi satu binatang-binatang itu mulai mati kelaparan karena tidak bisa lagi mencari makan dengan kemampuan unggul yang dimilikinya..
Tidakkah kita menyadari bahwa sistem persekolahan manusia yang ada saat inipun tidak jauh berbeda dengan sistem persekolahan binatang dalam kisah ini. Kurikulum sekolah telah memaksa anak-anak kita untuk menguasai semua mata pelajaran dan melupakan kemampuan unggul mereka masing-masing. Kurikulum dan sistem persekolahan telah memangkas kemampuan alami anak-anak kita untuk bisa berhasil dalam kehidupan menjadi anak yang hanya bisa menjawab soal-soal ujian.
Akankah nasib anak-anak kita kelak juga mirip dengan nasib para binatang yang ada disekolah tersebut?
Bila kita kaji lebih jauh produk dari sistem pendidikan kita saat ini bahkan jauh lebih menyeramkan dari apa yang digambarkan oleh fabel tersebut; bayangkan betapa para lulusan dari sekolah saat ini lebih banyak hanya menjadi pencari kerja dari pada pencipta lapangan kerja, betapa banyak para lulusan yang bekerja tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan yang digelutinya selama bertahun-tahun, sebuah pemborosan waktu, tenaga dan biaya. Betapa para lulusan sekolah tidak tahu akan dunia kerja yang akan dimasukinya, jangankan kemapuan keahlian, bahkan pengetahuan saja sangatlah pas-pasan, betapa hampir setiap siswa lanjutan atas dan perguruan tinggi jika ditanya apa kemampuan unggul mereka, hampir sebagian besar tidak mampu menjawab atau menjelaskannya. Atau bahkan untuk sekedar membuat CV yang bagus saja tidak banyak lulusan perguruan tinggi yang mampu melakukannya.
Begitupun setelah mereka berhasil mendapatkan pekerjaan, berapa banyak dari mereka yang tidak memberikan unjuk kerja yang terbaik serta berapa banyak dari mereka yang merasa tidak bahagia dengan pekerjaanya. Belum lagi kita bicara tentang carut marut dunia pendidikan yang kerapkali dihiasi tidak hanya oleh tawuran pelajar melainkan juga tawuran mahasiswa. Luar biasa “Maha Siswa” julukan yang semestinya dapat dibanggakan dan begitu agung karena Mahasiswa adalah bukan siswa biasa melainkan siswa yang “Maha”. Namun nyatanya ya Tawuran juga, malah belakangan ini yang tawuran adalah mahasiswa para calon guru. Mau jadi apa anak-anak muridnya kelak.
Jika kita setuju dengan pendapat ini, maka berhentilah untuk memaksa anak mendapat nilai tinggi dalam beberapa Mata Pelajaran. Sebaiknya kita mencari apa yang menjadi kelebihannya dan kita dukung saja, jago matik ayoo, jago gambar nilai matiknya rendah ga' masalah.., Marilah buka cara berpikir kita menjadi lebih rasional.., soo liat apa yang terjadi..^_*
Sabtu, 02 April 2011
Perubahan Seorang Ratih Sang
Kisah yang inspiratif bagi kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt.. sesuai masalah yg kita hadapi, dan semoga Allah juga cepat menjawabnya.. Aammiinn..
RATIH SANGGARWATI : Bangun Malam Hanya Untuk Membayar Dosa
Tahukah Ibu sekalian? Sekarang tiap malam saya bangun (bertahajud-red) hanya untuk membayar masa lalu saya yang lalai. Kelalaian agama selama sebelas tahun lampau yang tak sanggup saya bayar, sebut mantan pragawati papan atas, Ratih Sanggarwati, ketika berbicara pada acara Talk Show Cantik Berjilbab dengan Kosmetik Alami, di Balai Tgk Chik Ditiro Banda Aceh, (26/9).
Duta Dhuafa Hr Republika ini pun menjelang tengah hari Minggu itu dengan lancar dan transparan memaparkan kembali pengalaman batinnya ketika memutuskan menutup aurat, layaknya kewajiban berpakaian wanita muslim.
Nun sebelas tahun silam, ketika ia masih “hilir-mudik” di lantai praga, pada mulanya memang terbersit rasa tak tentu di sanubarinya karena alpa terhadap perintah Allah SWT. Sehari dia memang gelisah, dua hari datang sedih, tiga hari bingung, lalu muncul pertanyaan bagaimana ini? Namun lama-lama kegaulauan itu sama sekali tak pernah dirasakannya lagi. Toh peristiwa lalai agama menjadi biasa saja bagi Ratih waktu itu.
Dan rutinitas di dunia yang dicap glamour dan telah membawanya hampir ke seluruh dunia tersebut berjalan sampai sebelas tahun. Uang, teman kondang, pergaulan jet set, ketenaran dan pengaruh telah melelapkan Ratih secara duniawi.
Kapan penulis buku Noor Kerudung Cantik (27 Reka Gaya Berkerudung-2004) ini tersadar dari tingkah laku buruk kefanaannya?
Suatu hari di tahun 1977 setelah hampir dua tahun menunggu kehamilan anak pertamannya, Ratih istirahat dari show. Waktu itulah perempuan ini punya kesempatan untuk datang ke majelis taklim. Hasilnya memang tak serta merta membuat Ratih lantas pakai jilbab, masih diwarnai keraguan, terlebih dengan pertimbangan karirnya sebagai model.
Hanya saja dari satu kunjungan ke kunjungan lainnya membuat Ratih kian merenung sembari membayangkan kesalahan-kesalahan masa lalunya. “Bayangkan, ketika itu saya pakai rok mini lalu diikuti oleh sekian orang, masyaallah, alangkah berdosanya saya. Saya juga merenung lagi, bahwa doa anak yang shaleh lah yang diterima Allah, lalu bagaimana bisa saya mendoakan orangtua saya?.Lantas bagaimana pula saya menjadi teladan bagi anak-anak saya. Bukankah seorang ibu sama dengan madrasah bagi anak-anaknya?” papar Ratih pada acara yang bekerjasama dengan Ahad-neT Banda Aceh tersebut.
Diam-diam ada yang menyelinap di hati Ratih. Makin hari makin menggetik kalbunya. Kenapa dirinya yang sudah mendapatkan segala keinginan, tapi tak patuh pada Ilahi?
Begitulah, keiingin Ratih mengenakan untuk menutup aurat luar biasa menggelora. Ia berkata pada Allah, “Ya Allah saya ingin tunduk pada Engkau. Saya ingin menurut pada-Mu.”
Maka di saat Ratih ingin kembali ke jalan Allah, tak angin tak hujan, datanglah sebuah tawaran dari pemilik perusahaan produk kecantikan islami, Dra Hj Nurhayati Subakat Apt, namanya.
“Mbak Ratih, Mbak punya keinginan tidak mengenakan kerudung?” tanya Nurhayati melalui telepon (pertanyaan itu sebenarnya membuat sebal Ratih, bukankah dia sebenarnya memang sedang penasaran-penasarannya mau mengenakan jilbab?).
Namun Ratih juga bengong atas pertanyaan itu? Pasalnya, pertanyaan tersebut datang pada siang bolong dan Ratih sedang tenang-tenang di rumah. Sebaliknya, Ratih merasa ada sesuatu yang lain. Di saat dia memang sedang gundah gulana tentang bagaimana caranya agar dirinya menurut pada jalan Allah, justru jalannya terbuka sekarang.
“Pake kerundung yang bagaimana? Yang seperti Mbak Tutut?”
Oo bukan Mbak. Yang ketutup betul, tegas Nurhayati sembari mengatakan bahwa produk kecantikan keluaran perusahaannya memerlukan model yang mengenakan kerudung (baca jilbab).
Ratih semakin tak habis pikir, lalu mempertanyakan kenapa dirinya yang ditawari kontrak itu, dengan bayaran puluhan juta pula hanya untuk pakai kerudung lalu difoto. Ia makin tercenung lagi. Bukankah selama tiga bulan terakhir dia telah “ngobrol” dengan Allah? Selama tiga bulan itu Ratih pun pernah mengatakan pada-Nya, “Saya rindu kepada Engkau Ya Allah. Tolong saya dimudahkan. Ya Allah saya takut popularitas menjauh dari saya. Saya tahut kehilangan uang yang telah lama saya kumpul dari jerih payah saya. Saya takut kehilangan teman dan pergaulan jet set saya. Saya takut keluarga tak mendukung saya. Saya takut wartawan menjauhi saya.”
Tapi sekelebat itu Ratih sadar. Justru kedatangan tawaran Nurhayati tak lain merupakan jawaban dari Allah tentang kemudahan yang ia panjatkan selama ini.
“Dua hari lagi deh Bu,” jawab Ratih dan pembicaraan ditutup. Anehnya itu bukan jawaban bagi Ratih. Ia malah beratanya pada diri sendiri, kok harus diputuskan dua hari lagi, padahal dirinya sangat ingin pakai jilbab. Namun ketika itu pikiran Ratih sedang teraduk-aduk, antara godaan setan dan kesadarannya ingin menutup aurat.
Ratih pun kembali sangat gelisah. Setelah menutup telepon, perempuan beranak dua ini justru mondar-mandir sendiri di rumahnya. Begini salah, begitu salah, makin tak tenang.
Tak lama kemudian, tiba-tiba bagai terdorong satu kekuatan, saat itu juga Ratih menelepon kembali Nurhayati untuk menyatakan kesediaannya bekerjasama. Ratih kemudian telah menang dari setan yang menggodanya sejak tadi.
Akhirnya dua minggu kemudian Ratih menandatangani kontrak dengan perusahaan milik Nurhayati dalam sebuah acara seremonial yang mengundang wartawan.
Salah satu pertanyaan yang dilontarkan wartawan, “Mbak Ratih kapan mau menutup auratnya?” Ketika itu Ratih malah menanyakan ke Nurhayati kapan peluncuran produk kecantikan keluaran perusahaannya, yang dijawab dua bulan.
“Dua bulan lagi,” jawab Ratih kepada wartawan.
Apa yang terjadi kemudian? Jawaban tadi malah bukan menentramkan. Ratih kembali menggerogoti Ratih dengan rasa bersalahnya. “Kok dua bulan lagi? Dua bulan lagi saya masih diberi napas tidak sama Allah? Kalau selama dua bula lagi saya harus bertemu dengan Allah bagaimana? Maka saya akan kehilangan wajah saya, saya akan menyesal seumur hidup. Saya akan menyesal ketika saya bangkit di Padang Mahsyar,” bergejolak lagi hati Ratih.
Dan dua hari setelah penandatanganan produk kecantikan islami tersebut (Oktober 2000), Ratih mengenakan jilbab. Dia berpikir mana ada itu kontrak dengan manusia. Kontrak dirinya adalah dengan Allah SWT.
So, apa yang dia alami setelah menutup aurat? Ternyata semua pertanyaan batinnya selama ini telah Dibayar tunai oleh Allah SWT. Keluarganya justru makin sayang padanya. Adik-adik iparnya menyusul mengenakan busana muslim. Wartawan sampai sekarang tidak menjauh darinya. Soal uang? “Masya Allah. Hanya untuk baca puisi saya dibayar tiga kali lipat dari honor waktu saya menjadi top model,” ungkap Ratih.
Ternyata lagi, teman-teman tidak menjauhinya. Kalau satu dua ada yang menjauh, itu pertanda dia ditolong Allah. Sebab Ratih selalu berdoa agar dijauhi dengan teman yang menjauhkannya dengan Allah.
Masih soal rezeki dari Allah, tatkala Ratih menerbitkan Noor Kerudung Cantik (27 Reka Gaya Berkerudung-2004), Ratih memang khawatir bukunya akan tak laris, sebab paramuda sekarang ingin modern bagai pemain senetron, penyanyi idola.
Tapi kenyataannya buku karangan Ratih malah laris manis sampai dicetak ulang hingga cetakan ke lima (September 2004). Di Gramedia buku Ratih hanya bersaing dengan buku Harry Potter saja. Bravo-lah Ratih. Kendati cerita ini tidak baru lagi bagi sebagian orang, namun sebagai kaji ulang, tentu ada manfaatnya bagi kita.
By. nani hs
Serambi Ind.
RATIH SANGGARWATI : Bangun Malam Hanya Untuk Membayar Dosa
Tahukah Ibu sekalian? Sekarang tiap malam saya bangun (bertahajud-red) hanya untuk membayar masa lalu saya yang lalai. Kelalaian agama selama sebelas tahun lampau yang tak sanggup saya bayar, sebut mantan pragawati papan atas, Ratih Sanggarwati, ketika berbicara pada acara Talk Show Cantik Berjilbab dengan Kosmetik Alami, di Balai Tgk Chik Ditiro Banda Aceh, (26/9).
Duta Dhuafa Hr Republika ini pun menjelang tengah hari Minggu itu dengan lancar dan transparan memaparkan kembali pengalaman batinnya ketika memutuskan menutup aurat, layaknya kewajiban berpakaian wanita muslim.
Nun sebelas tahun silam, ketika ia masih “hilir-mudik” di lantai praga, pada mulanya memang terbersit rasa tak tentu di sanubarinya karena alpa terhadap perintah Allah SWT. Sehari dia memang gelisah, dua hari datang sedih, tiga hari bingung, lalu muncul pertanyaan bagaimana ini? Namun lama-lama kegaulauan itu sama sekali tak pernah dirasakannya lagi. Toh peristiwa lalai agama menjadi biasa saja bagi Ratih waktu itu.
Dan rutinitas di dunia yang dicap glamour dan telah membawanya hampir ke seluruh dunia tersebut berjalan sampai sebelas tahun. Uang, teman kondang, pergaulan jet set, ketenaran dan pengaruh telah melelapkan Ratih secara duniawi.
Kapan penulis buku Noor Kerudung Cantik (27 Reka Gaya Berkerudung-2004) ini tersadar dari tingkah laku buruk kefanaannya?
Suatu hari di tahun 1977 setelah hampir dua tahun menunggu kehamilan anak pertamannya, Ratih istirahat dari show. Waktu itulah perempuan ini punya kesempatan untuk datang ke majelis taklim. Hasilnya memang tak serta merta membuat Ratih lantas pakai jilbab, masih diwarnai keraguan, terlebih dengan pertimbangan karirnya sebagai model.
Hanya saja dari satu kunjungan ke kunjungan lainnya membuat Ratih kian merenung sembari membayangkan kesalahan-kesalahan masa lalunya. “Bayangkan, ketika itu saya pakai rok mini lalu diikuti oleh sekian orang, masyaallah, alangkah berdosanya saya. Saya juga merenung lagi, bahwa doa anak yang shaleh lah yang diterima Allah, lalu bagaimana bisa saya mendoakan orangtua saya?.Lantas bagaimana pula saya menjadi teladan bagi anak-anak saya. Bukankah seorang ibu sama dengan madrasah bagi anak-anaknya?” papar Ratih pada acara yang bekerjasama dengan Ahad-neT Banda Aceh tersebut.
Diam-diam ada yang menyelinap di hati Ratih. Makin hari makin menggetik kalbunya. Kenapa dirinya yang sudah mendapatkan segala keinginan, tapi tak patuh pada Ilahi?
Begitulah, keiingin Ratih mengenakan untuk menutup aurat luar biasa menggelora. Ia berkata pada Allah, “Ya Allah saya ingin tunduk pada Engkau. Saya ingin menurut pada-Mu.”
Maka di saat Ratih ingin kembali ke jalan Allah, tak angin tak hujan, datanglah sebuah tawaran dari pemilik perusahaan produk kecantikan islami, Dra Hj Nurhayati Subakat Apt, namanya.
“Mbak Ratih, Mbak punya keinginan tidak mengenakan kerudung?” tanya Nurhayati melalui telepon (pertanyaan itu sebenarnya membuat sebal Ratih, bukankah dia sebenarnya memang sedang penasaran-penasarannya mau mengenakan jilbab?).
Namun Ratih juga bengong atas pertanyaan itu? Pasalnya, pertanyaan tersebut datang pada siang bolong dan Ratih sedang tenang-tenang di rumah. Sebaliknya, Ratih merasa ada sesuatu yang lain. Di saat dia memang sedang gundah gulana tentang bagaimana caranya agar dirinya menurut pada jalan Allah, justru jalannya terbuka sekarang.
“Pake kerundung yang bagaimana? Yang seperti Mbak Tutut?”
Oo bukan Mbak. Yang ketutup betul, tegas Nurhayati sembari mengatakan bahwa produk kecantikan keluaran perusahaannya memerlukan model yang mengenakan kerudung (baca jilbab).
Ratih semakin tak habis pikir, lalu mempertanyakan kenapa dirinya yang ditawari kontrak itu, dengan bayaran puluhan juta pula hanya untuk pakai kerudung lalu difoto. Ia makin tercenung lagi. Bukankah selama tiga bulan terakhir dia telah “ngobrol” dengan Allah? Selama tiga bulan itu Ratih pun pernah mengatakan pada-Nya, “Saya rindu kepada Engkau Ya Allah. Tolong saya dimudahkan. Ya Allah saya takut popularitas menjauh dari saya. Saya tahut kehilangan uang yang telah lama saya kumpul dari jerih payah saya. Saya takut kehilangan teman dan pergaulan jet set saya. Saya takut keluarga tak mendukung saya. Saya takut wartawan menjauhi saya.”
Tapi sekelebat itu Ratih sadar. Justru kedatangan tawaran Nurhayati tak lain merupakan jawaban dari Allah tentang kemudahan yang ia panjatkan selama ini.
“Dua hari lagi deh Bu,” jawab Ratih dan pembicaraan ditutup. Anehnya itu bukan jawaban bagi Ratih. Ia malah beratanya pada diri sendiri, kok harus diputuskan dua hari lagi, padahal dirinya sangat ingin pakai jilbab. Namun ketika itu pikiran Ratih sedang teraduk-aduk, antara godaan setan dan kesadarannya ingin menutup aurat.
Ratih pun kembali sangat gelisah. Setelah menutup telepon, perempuan beranak dua ini justru mondar-mandir sendiri di rumahnya. Begini salah, begitu salah, makin tak tenang.
Tak lama kemudian, tiba-tiba bagai terdorong satu kekuatan, saat itu juga Ratih menelepon kembali Nurhayati untuk menyatakan kesediaannya bekerjasama. Ratih kemudian telah menang dari setan yang menggodanya sejak tadi.
Akhirnya dua minggu kemudian Ratih menandatangani kontrak dengan perusahaan milik Nurhayati dalam sebuah acara seremonial yang mengundang wartawan.
Salah satu pertanyaan yang dilontarkan wartawan, “Mbak Ratih kapan mau menutup auratnya?” Ketika itu Ratih malah menanyakan ke Nurhayati kapan peluncuran produk kecantikan keluaran perusahaannya, yang dijawab dua bulan.
“Dua bulan lagi,” jawab Ratih kepada wartawan.
Apa yang terjadi kemudian? Jawaban tadi malah bukan menentramkan. Ratih kembali menggerogoti Ratih dengan rasa bersalahnya. “Kok dua bulan lagi? Dua bulan lagi saya masih diberi napas tidak sama Allah? Kalau selama dua bula lagi saya harus bertemu dengan Allah bagaimana? Maka saya akan kehilangan wajah saya, saya akan menyesal seumur hidup. Saya akan menyesal ketika saya bangkit di Padang Mahsyar,” bergejolak lagi hati Ratih.
Dan dua hari setelah penandatanganan produk kecantikan islami tersebut (Oktober 2000), Ratih mengenakan jilbab. Dia berpikir mana ada itu kontrak dengan manusia. Kontrak dirinya adalah dengan Allah SWT.
So, apa yang dia alami setelah menutup aurat? Ternyata semua pertanyaan batinnya selama ini telah Dibayar tunai oleh Allah SWT. Keluarganya justru makin sayang padanya. Adik-adik iparnya menyusul mengenakan busana muslim. Wartawan sampai sekarang tidak menjauh darinya. Soal uang? “Masya Allah. Hanya untuk baca puisi saya dibayar tiga kali lipat dari honor waktu saya menjadi top model,” ungkap Ratih.
Ternyata lagi, teman-teman tidak menjauhinya. Kalau satu dua ada yang menjauh, itu pertanda dia ditolong Allah. Sebab Ratih selalu berdoa agar dijauhi dengan teman yang menjauhkannya dengan Allah.
Masih soal rezeki dari Allah, tatkala Ratih menerbitkan Noor Kerudung Cantik (27 Reka Gaya Berkerudung-2004), Ratih memang khawatir bukunya akan tak laris, sebab paramuda sekarang ingin modern bagai pemain senetron, penyanyi idola.
Tapi kenyataannya buku karangan Ratih malah laris manis sampai dicetak ulang hingga cetakan ke lima (September 2004). Di Gramedia buku Ratih hanya bersaing dengan buku Harry Potter saja. Bravo-lah Ratih. Kendati cerita ini tidak baru lagi bagi sebagian orang, namun sebagai kaji ulang, tentu ada manfaatnya bagi kita.
By. nani hs
Serambi Ind.
Berkurbanlah dengan Kurban Terbaik
QURBAN TERBAIK
> Oleh: Jojo Wahyudi
>
> Kuhentikan mobil tepat di ujung kandang tempat
> berjualan hewan Qurban. Saat pintu mobil kubuka, bau
> tak sedap memenuhi rongga hidungku, dengan spontan aku
> menutupnya dengan saputangan.
>
> Suasana di tempat itu sangat ramai, dari para penjual
> yang hanya bersarung hingga ibu-ibu berkerudung
> Majelis Taklim, tidak terkecuali anak-anak yang ikut
> menemani orang tuanya melihat hewan yang akan
> di-Qurban-kan pada Idul Adha nanti, sebuah
> pembelajaran yang cukup baik bagi anak-anak sejak dini
> tentang pengorbanan NabiAllah Ibrahim & Nabi Ismail.
>
> Aku masuk dalam kerumunan orang-orang yang sedang
> bertransaksi memilih hewan yang akan di sembelih saat
> Qurban nanti. Mataku tertuju pada seekor kambing
> coklat bertanduk panjang, ukuran badannya besar
> melebihi kambing-kambing di sekitarnya.
>
> "Berapa harga kambing yang itu pak?" ujarku menunjuk
> kambing coklat tersebut.
> "Yang coklat itu yang terbesar pak. Kambing Mega Super
> dua juta rupiah tidak kurang" kata si pedagang
> berpromosi matanya berkeliling sambil tetap melayani
> calon pembeli lainnya.
>
> "Tidak bisa turun pak?" kataku mencoba bernegosiasi.
> "Tidak kurang tidak lebih, sekarang harga-harga serba
> mahal" si pedagang bertahan.
> "Satu juta lima ratus ribu ya?" aku melakukan
> penawaran pertama
> "Maaf pak, masih jauh." ujarnya cuek.
>
> Aku menimbang-nimbang, apakah akan terus melakukan
> penawaran terendah berharap si pedagang berubah
> pendirian dengan menurunkan harganya.
> "Oke pak bagaimana kalau satu juta tujuh ratus lima
> puluh ribu?" kataku
> "Masih belum nutup pak " ujarnya tetap cuek
> "Yang sedang mahal kan harga minyak pak. Kenapa
> kambing ikut naik?" ujarku berdalih mencoba melakukan
> penawaran termurah.
>
> " Yah bapak, meskipun kambing gak minum minyak. Tapi
> dia gak bisa datang ke sini sendiri. Tetap saja harus
> di angkut mobil pak, dan mobil bahan bakarnya bukan
> rumput" kata si pedagang meledek.
>
> Dalam hati aku berkata, alot juga pedagang satu ini.
> Tidak menawarkan harga selain yang sudah di
> kemukakannya di awal tadi. Pandangan aku alihkan ke
> kambing lainnya yang lebih kecil dari si coklat.
>
> Lumayan bila ada perbedaan harga lima ratus ribu.
> Kebetulan dari tempat penjual kambing ini, aku
> berencana ke toko ban mobil. Mengganti ban belakang
> yang sudah mulai terlihat halus tusirannya. Kelebihan
> tersebut bisa untuk menambah budget ban yang harganya
> kini selangit.
>
> "Kalau yang belang hitam putih itu berapa bang?"
> kataku kemudian
> "Nah yang itu Super biasa. Satu juta tujuh ratus lima
> puluh ribu rupiah" katanya
>
> Belum sempat aku menawar, di sebelahku berdiri seorang
> kakek menanyakan harga kambing coklat Mega Super tadi.
> Meskipun pakaian "korpri" yang ia kenakan lusuh,
> tetapi wajahnya masih terlihat segar.
>
> "Gagah banget kambing itu. Berapa harganya mas?"
> katanya kagum
> "Dua juta tidak kurang tidak lebih kek." kata si
> pedagang setengah malas menjawab setelah melihat
> penampilan si kakek.
> "Weleh larang men regane (mahal benar harganya) ?"
> kata si kakek dalam bahasa Purwokertoan
>
> "Bisa di tawar-kan ya mas ?" lanjutnya mencoba
> negosiasi juga.
> "Cari kambing yang lain aja kek. " si pedagang
> terlihat semakin malas meladeni.
>
> "Ora usah (tidak) mas. Aku arep sing apik lan gagah
> Qurban taun iki (Aku mau yang terbaik dan gagah untuk
> Qurban tahun ini) Duit-e (uangnya) cukup kanggo
> (untuk) mbayar koq mas." katanya tetap bersemangat
> seraya mengeluarkan bungkusan dari saku celananya.
>
> Bungkusan dari kain perca yang juga sudah lusuh itu di
> bukanya, enam belas lembar uang seratus ribuan dan
> sembilan lembar uang lima puluh ribuan dikeluarkan
> dari dalamnya.
>
> "Iki (ini) dua juta rupiah mas. Weduse (kambingnya)
> dianter ke rumah ya mas?" lanjutnya mantap tetapi
> tetap bersahaja.
>
> Si pedagang kambing kaget, tidak terkecuali aku yang
> memperhatikannya sejak tadi. Dengan wajah masih ragu
> tidak percaya si pedagang menerima uang yang
> disodorkan si kakek, kemudian di hitungnya perlahan
> lembar demi lembar uang itu.
>
> "Kek, ini ada lebih lima puluh ribu rupiah" si
> pedagang mengeluarkan selembar lima puluh ribuan
> "Ora ono ongkos kirime tho...?" (Enggak ada ongkos
> kirimnya ya?) si kakek seakan tahu uang yang
> diberikannya berlebih
>
> "Dua juta sudah termasuk ongkos kirim" si pedagang yg
> cukup jujur memberikan lima puluh ribu ke kakek
> "Mau di antar ke mana mbah?" (tiba-tiba panggilan
> kakek berubah menjadi mbah)
> "Alhamdulillah, lewih (lebih) lima puluh ribu iso di
> tabung neh (bisa ditabung lagi)" kata si kakek sambil
> menerimanya
> "Tulung anter ke ning deso cedak kono yo (tolong antar
> ke desa dekat itu ya),
> sak sampene ning mburine (sesampainya di belakang)
> Masjid Baiturrohman, takon ae umahe (tanya saja
> rumahnya) mbah Sutrimo pensiunan pegawe Pemda Pasir
> Mukti, InsyaAllah bocah-bocah podo ngerti (InsyaAllah
> anak-anak sudah tahu)."
>
> Setelah selesai bertransaksi dan membayar apa yang
> telah di sepakatinya, si kakek berjalan ke arah sebuah
> sepeda tua yang di sandarkan pada sebatang pohon
> pisang, tidak jauh dari X-Trail milikku. Perlahan di
> angkat dari sandaran, kemudian dengan sigap di
> kayuhnya tetap dengan semangat.
>
> Entah perasaan apa lagi yang dapat kurasakan saat itu,
> semuanya berbalik ke arah berlawanan dalam
> pandanganku.
>
> Kakek tua pensiunan pegawai Pemda yang hanya
> berkendara sepeda engkol, sanggup membeli hewan Qurban
> yang terbaik untuk dirinya.
>
> Aku tidak tahu persis berapa uang pensiunan PNS yang
> diterima setiap bulan oleh si kakek. Yang aku tahu, di
> sekitar masjid Baiturrohman tidak ada rumah yang
> berdiri dengan mewah, rata-rata penduduk sekitar desa
> Pasir Mukti hanya petani dan para pensiunan pegawai
> rendahan.
>
> Yang pasti secara materi, sangatlah jauh di banding
> penghasilanku sebagai Manajer perusahaan swasta asing.
> Yang sanggup membeli rumah di kawasan cukup bergengsi
> Yang sanggup membeli kendaraan roda empat yang harga
> ban-nya saja cukup membeli seekor kambing Mega Super
> Yang sanggup mempunyai hobby berkendara moge (motor
> gede) dan memilikinya
> Yang sanggup mengkoleksi “raket” hanya untuk olah-raga
> seminggu sekali
> Yang sanggup juga membeli hewan Qurban dua ekor sapi
> sekaligus
>
> Tapi apa yang aku pikirkan?
> Aku hanya hendak membeli hewan Qurban yang jauh di
> bawah kemampuanku yang harganya tidak lebih dari
> service rutin mobil X-Trail, kendaraanku di dunia
> fana. Sementara untuk kendaraanku di akhirat kelak,
> aku berpikir seribu kali saat membelinya.
>
> Ya Allah, Engkau yang Maha Membolak-balikan hati
> manusia balikkan hati hambaMu yang tak pernah
> ber-Syukur ini ke arah orang yang pandai men-Syukuri
> nikmatMu
> Oleh: Jojo Wahyudi
>
> Kuhentikan mobil tepat di ujung kandang tempat
> berjualan hewan Qurban. Saat pintu mobil kubuka, bau
> tak sedap memenuhi rongga hidungku, dengan spontan aku
> menutupnya dengan saputangan.
>
> Suasana di tempat itu sangat ramai, dari para penjual
> yang hanya bersarung hingga ibu-ibu berkerudung
> Majelis Taklim, tidak terkecuali anak-anak yang ikut
> menemani orang tuanya melihat hewan yang akan
> di-Qurban-kan pada Idul Adha nanti, sebuah
> pembelajaran yang cukup baik bagi anak-anak sejak dini
> tentang pengorbanan NabiAllah Ibrahim & Nabi Ismail.
>
> Aku masuk dalam kerumunan orang-orang yang sedang
> bertransaksi memilih hewan yang akan di sembelih saat
> Qurban nanti. Mataku tertuju pada seekor kambing
> coklat bertanduk panjang, ukuran badannya besar
> melebihi kambing-kambing di sekitarnya.
>
> "Berapa harga kambing yang itu pak?" ujarku menunjuk
> kambing coklat tersebut.
> "Yang coklat itu yang terbesar pak. Kambing Mega Super
> dua juta rupiah tidak kurang" kata si pedagang
> berpromosi matanya berkeliling sambil tetap melayani
> calon pembeli lainnya.
>
> "Tidak bisa turun pak?" kataku mencoba bernegosiasi.
> "Tidak kurang tidak lebih, sekarang harga-harga serba
> mahal" si pedagang bertahan.
> "Satu juta lima ratus ribu ya?" aku melakukan
> penawaran pertama
> "Maaf pak, masih jauh." ujarnya cuek.
>
> Aku menimbang-nimbang, apakah akan terus melakukan
> penawaran terendah berharap si pedagang berubah
> pendirian dengan menurunkan harganya.
> "Oke pak bagaimana kalau satu juta tujuh ratus lima
> puluh ribu?" kataku
> "Masih belum nutup pak " ujarnya tetap cuek
> "Yang sedang mahal kan harga minyak pak. Kenapa
> kambing ikut naik?" ujarku berdalih mencoba melakukan
> penawaran termurah.
>
> " Yah bapak, meskipun kambing gak minum minyak. Tapi
> dia gak bisa datang ke sini sendiri. Tetap saja harus
> di angkut mobil pak, dan mobil bahan bakarnya bukan
> rumput" kata si pedagang meledek.
>
> Dalam hati aku berkata, alot juga pedagang satu ini.
> Tidak menawarkan harga selain yang sudah di
> kemukakannya di awal tadi. Pandangan aku alihkan ke
> kambing lainnya yang lebih kecil dari si coklat.
>
> Lumayan bila ada perbedaan harga lima ratus ribu.
> Kebetulan dari tempat penjual kambing ini, aku
> berencana ke toko ban mobil. Mengganti ban belakang
> yang sudah mulai terlihat halus tusirannya. Kelebihan
> tersebut bisa untuk menambah budget ban yang harganya
> kini selangit.
>
> "Kalau yang belang hitam putih itu berapa bang?"
> kataku kemudian
> "Nah yang itu Super biasa. Satu juta tujuh ratus lima
> puluh ribu rupiah" katanya
>
> Belum sempat aku menawar, di sebelahku berdiri seorang
> kakek menanyakan harga kambing coklat Mega Super tadi.
> Meskipun pakaian "korpri" yang ia kenakan lusuh,
> tetapi wajahnya masih terlihat segar.
>
> "Gagah banget kambing itu. Berapa harganya mas?"
> katanya kagum
> "Dua juta tidak kurang tidak lebih kek." kata si
> pedagang setengah malas menjawab setelah melihat
> penampilan si kakek.
> "Weleh larang men regane (mahal benar harganya) ?"
> kata si kakek dalam bahasa Purwokertoan
>
> "Bisa di tawar-kan ya mas ?" lanjutnya mencoba
> negosiasi juga.
> "Cari kambing yang lain aja kek. " si pedagang
> terlihat semakin malas meladeni.
>
> "Ora usah (tidak) mas. Aku arep sing apik lan gagah
> Qurban taun iki (Aku mau yang terbaik dan gagah untuk
> Qurban tahun ini) Duit-e (uangnya) cukup kanggo
> (untuk) mbayar koq mas." katanya tetap bersemangat
> seraya mengeluarkan bungkusan dari saku celananya.
>
> Bungkusan dari kain perca yang juga sudah lusuh itu di
> bukanya, enam belas lembar uang seratus ribuan dan
> sembilan lembar uang lima puluh ribuan dikeluarkan
> dari dalamnya.
>
> "Iki (ini) dua juta rupiah mas. Weduse (kambingnya)
> dianter ke rumah ya mas?" lanjutnya mantap tetapi
> tetap bersahaja.
>
> Si pedagang kambing kaget, tidak terkecuali aku yang
> memperhatikannya sejak tadi. Dengan wajah masih ragu
> tidak percaya si pedagang menerima uang yang
> disodorkan si kakek, kemudian di hitungnya perlahan
> lembar demi lembar uang itu.
>
> "Kek, ini ada lebih lima puluh ribu rupiah" si
> pedagang mengeluarkan selembar lima puluh ribuan
> "Ora ono ongkos kirime tho...?" (Enggak ada ongkos
> kirimnya ya?) si kakek seakan tahu uang yang
> diberikannya berlebih
>
> "Dua juta sudah termasuk ongkos kirim" si pedagang yg
> cukup jujur memberikan lima puluh ribu ke kakek
> "Mau di antar ke mana mbah?" (tiba-tiba panggilan
> kakek berubah menjadi mbah)
> "Alhamdulillah, lewih (lebih) lima puluh ribu iso di
> tabung neh (bisa ditabung lagi)" kata si kakek sambil
> menerimanya
> "Tulung anter ke ning deso cedak kono yo (tolong antar
> ke desa dekat itu ya),
> sak sampene ning mburine (sesampainya di belakang)
> Masjid Baiturrohman, takon ae umahe (tanya saja
> rumahnya) mbah Sutrimo pensiunan pegawe Pemda Pasir
> Mukti, InsyaAllah bocah-bocah podo ngerti (InsyaAllah
> anak-anak sudah tahu)."
>
> Setelah selesai bertransaksi dan membayar apa yang
> telah di sepakatinya, si kakek berjalan ke arah sebuah
> sepeda tua yang di sandarkan pada sebatang pohon
> pisang, tidak jauh dari X-Trail milikku. Perlahan di
> angkat dari sandaran, kemudian dengan sigap di
> kayuhnya tetap dengan semangat.
>
> Entah perasaan apa lagi yang dapat kurasakan saat itu,
> semuanya berbalik ke arah berlawanan dalam
> pandanganku.
>
> Kakek tua pensiunan pegawai Pemda yang hanya
> berkendara sepeda engkol, sanggup membeli hewan Qurban
> yang terbaik untuk dirinya.
>
> Aku tidak tahu persis berapa uang pensiunan PNS yang
> diterima setiap bulan oleh si kakek. Yang aku tahu, di
> sekitar masjid Baiturrohman tidak ada rumah yang
> berdiri dengan mewah, rata-rata penduduk sekitar desa
> Pasir Mukti hanya petani dan para pensiunan pegawai
> rendahan.
>
> Yang pasti secara materi, sangatlah jauh di banding
> penghasilanku sebagai Manajer perusahaan swasta asing.
> Yang sanggup membeli rumah di kawasan cukup bergengsi
> Yang sanggup membeli kendaraan roda empat yang harga
> ban-nya saja cukup membeli seekor kambing Mega Super
> Yang sanggup mempunyai hobby berkendara moge (motor
> gede) dan memilikinya
> Yang sanggup mengkoleksi “raket” hanya untuk olah-raga
> seminggu sekali
> Yang sanggup juga membeli hewan Qurban dua ekor sapi
> sekaligus
>
> Tapi apa yang aku pikirkan?
> Aku hanya hendak membeli hewan Qurban yang jauh di
> bawah kemampuanku yang harganya tidak lebih dari
> service rutin mobil X-Trail, kendaraanku di dunia
> fana. Sementara untuk kendaraanku di akhirat kelak,
> aku berpikir seribu kali saat membelinya.
>
> Ya Allah, Engkau yang Maha Membolak-balikan hati
> manusia balikkan hati hambaMu yang tak pernah
> ber-Syukur ini ke arah orang yang pandai men-Syukuri
> nikmatMu
Bantu Aku Saat sedang Berbuat Dzolim
Oleh Syamsul Arifin
Hadis riwayat Jabir bin Abdullah رضي الله عنه, ia berkata: Dua orang pemuda, yang satu dari golongan Muhajirin dan yang lain dari kaum Ansar, saling berbaku-hantam. Seorang dari kaum Muhajirin berteriak: Wahai kaum Muhajirin! Dan seorang dari Ansar juga berteriak: Wahai orang-orang Ansar! Kemudian keluarlah Rasulullah صلی الله عليه وسلم dan berkata: Ada apa ini? Kenapa harus berteriak dengan seruan jahiliah? Mereka menjawab: Tidak ada apa-apa wahai Rasulullah! Kecuali ada dua pemuda yang berkelahi sehingga seorang dari keduanya memukul tengkuk yang lain. Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda: Kalau demikian, tidak apa-apa! Tapi hendaklah seseorang itu menolong saudaranya yang lain baik yang zalim maupun yang dizalimi. Kalau ia berbuat kezaliman hendaklah dicegah karena begitulah cara memberikan pertolongan kepadanya dan apabila dizalimi maka hendaklah ia membelanya. (HR Bukhari-Muslim)
Bantulah saudara kita ketika sedang dizalimi maupun ketika sedang berbuat zalim.
Dalam kacamata umum, melihat/mengetahui ketika saudara kita sedang dizalimi merupakan suatu hal yang mungkin relatif mudah, (terlepas dari apakah nanti bisa membantu/menolongnya dari penindasan/penzaliman).
Namun, hal yang lebih sulit yaitu ketika kita membantu saudara kita ketika ia sedang berbuat zalim. Baik itu menzalimi dirinya sendiri maupun ketika ia sedang menzalimi orang lain.
Terkadang, muncul perasaan tidak enak, merasa sungkan, khawatir tersinggung, takut salah, dll. Padahal, budaya saling mengingatkan itu merupakan bagian dari kaum muslimin semenjak dulu. Bahkan, seharusnya, kita sebagai seorang muslim, meminta dinasihati/diingatkan.
Seorang manusia pasti tidak terlepas dari ke-khilaf-an. Kesempurnaan seorang manusia bukanlah karena ia tidak pernah salah, namun ketika ia menjadi ingat ketika melakukan kesalahan.
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. (QS. Al-A'raaf: 201)
Ada beberapa catatan yang mungkin bisa kita lakukan ketika berusaha mengingatkan saudara kita.
• Awali dengan niat yang suci, lurus karena Allah agar saudara kita tersadar dari perbuatan khilafnya, mengingatkan bukan untuk memalukannya, maupun membuatnya merasa terpojok dengan merasa diri sebagai orang yang paling benar dan membuatnya seakan-akan dia adalah manusia yang paling bersalah di dunia ini
• Gunakan hati, karena hati hanya bisa disentuh oleh hati pula. Bukan sekedar
kata-kata kering yang meluncur dari lisan yang tidak dibalut cinta, dan bukan berasal dari pribadi yang memiliki rasa sayang kepada sesama saudara
• Sebisa mungkin buatlah peringatan tersebut menjadi sebuah peringatan pribadi, atau diingatkan secara personal, untuk menghindari rasa malu dan juga sifat membela diri secara berlebihan. Namun jika memang diperlukan, sebagai pelajaran bagi
saudara-saudaranya yang lain, tidak ada salahnya mengingatkannya secara umum dan terbuka, namun tidak diarahkan langsung ke orang yang bersangkutan.
• Kalau perlu marah, marahlah. Lakukan pada orang yang tepat, diwaktu dan tempat yang tepat, dengan kadar yang tepat, dan karena alasan yang tepat pula.
• Gunakan metode-metode yang mungkin dilakukan, dengan melihat skala dari kezaliman dan kemampuan yang kita miliki. Mencegah kezaliman dengan tangan (kekuasaan, -red), atau mencegahnya dengan lisan atau perkataan (termasuk juga melalui tulisan).
• Bersikap bijaklah dalam memandang suatu permasalahan. Milikilah ilmu dan pandangan yang luas dalam bersikap, karena bisa jadi, peringatan yang kita lakukan malah
membuat masalah menjadi semakin besar, atau bisa juga malah menciptakan suatu permasalahan baru. Beberapa hal yang bersifat parsial, cabang maupun tambahan seharusnya tidak lebih diutamakan dari hal-hal yang bersifat pokok dan prinsipil.
• Terakhir, sadari, bahwa setiap insan memiliki potensi untuk berbuat salah, dan terkadang ia/mereka tidak melihat/mengetahui ketika berbuat salah. Bukankah orang yang berada dalam hutan tidak dapat mengetahui gambaran hutan secara keseluruhan. Karena itu, dibutuhkan semangat saling ingat-mengingatkan, bantu-membantu dalam bingkai iman dan rasa cinta karena Allah.
Janganlah ragu tuk membantuku ketika diriku sedang berbuat zalim…
“… Kalau ia berbuat kedzaliman hendaklah dicegah karena begitulah cara memberikan pertolongan kepadanya…”
---
Jakarta, 22 Januari 2008
Hadis riwayat Jabir bin Abdullah رضي الله عنه, ia berkata: Dua orang pemuda, yang satu dari golongan Muhajirin dan yang lain dari kaum Ansar, saling berbaku-hantam. Seorang dari kaum Muhajirin berteriak: Wahai kaum Muhajirin! Dan seorang dari Ansar juga berteriak: Wahai orang-orang Ansar! Kemudian keluarlah Rasulullah صلی الله عليه وسلم dan berkata: Ada apa ini? Kenapa harus berteriak dengan seruan jahiliah? Mereka menjawab: Tidak ada apa-apa wahai Rasulullah! Kecuali ada dua pemuda yang berkelahi sehingga seorang dari keduanya memukul tengkuk yang lain. Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda: Kalau demikian, tidak apa-apa! Tapi hendaklah seseorang itu menolong saudaranya yang lain baik yang zalim maupun yang dizalimi. Kalau ia berbuat kezaliman hendaklah dicegah karena begitulah cara memberikan pertolongan kepadanya dan apabila dizalimi maka hendaklah ia membelanya. (HR Bukhari-Muslim)
Bantulah saudara kita ketika sedang dizalimi maupun ketika sedang berbuat zalim.
Dalam kacamata umum, melihat/mengetahui ketika saudara kita sedang dizalimi merupakan suatu hal yang mungkin relatif mudah, (terlepas dari apakah nanti bisa membantu/menolongnya dari penindasan/penzaliman).
Namun, hal yang lebih sulit yaitu ketika kita membantu saudara kita ketika ia sedang berbuat zalim. Baik itu menzalimi dirinya sendiri maupun ketika ia sedang menzalimi orang lain.
Terkadang, muncul perasaan tidak enak, merasa sungkan, khawatir tersinggung, takut salah, dll. Padahal, budaya saling mengingatkan itu merupakan bagian dari kaum muslimin semenjak dulu. Bahkan, seharusnya, kita sebagai seorang muslim, meminta dinasihati/diingatkan.
Seorang manusia pasti tidak terlepas dari ke-khilaf-an. Kesempurnaan seorang manusia bukanlah karena ia tidak pernah salah, namun ketika ia menjadi ingat ketika melakukan kesalahan.
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. (QS. Al-A'raaf: 201)
Ada beberapa catatan yang mungkin bisa kita lakukan ketika berusaha mengingatkan saudara kita.
• Awali dengan niat yang suci, lurus karena Allah agar saudara kita tersadar dari perbuatan khilafnya, mengingatkan bukan untuk memalukannya, maupun membuatnya merasa terpojok dengan merasa diri sebagai orang yang paling benar dan membuatnya seakan-akan dia adalah manusia yang paling bersalah di dunia ini
• Gunakan hati, karena hati hanya bisa disentuh oleh hati pula. Bukan sekedar
kata-kata kering yang meluncur dari lisan yang tidak dibalut cinta, dan bukan berasal dari pribadi yang memiliki rasa sayang kepada sesama saudara
• Sebisa mungkin buatlah peringatan tersebut menjadi sebuah peringatan pribadi, atau diingatkan secara personal, untuk menghindari rasa malu dan juga sifat membela diri secara berlebihan. Namun jika memang diperlukan, sebagai pelajaran bagi
saudara-saudaranya yang lain, tidak ada salahnya mengingatkannya secara umum dan terbuka, namun tidak diarahkan langsung ke orang yang bersangkutan.
• Kalau perlu marah, marahlah. Lakukan pada orang yang tepat, diwaktu dan tempat yang tepat, dengan kadar yang tepat, dan karena alasan yang tepat pula.
• Gunakan metode-metode yang mungkin dilakukan, dengan melihat skala dari kezaliman dan kemampuan yang kita miliki. Mencegah kezaliman dengan tangan (kekuasaan, -red), atau mencegahnya dengan lisan atau perkataan (termasuk juga melalui tulisan).
• Bersikap bijaklah dalam memandang suatu permasalahan. Milikilah ilmu dan pandangan yang luas dalam bersikap, karena bisa jadi, peringatan yang kita lakukan malah
membuat masalah menjadi semakin besar, atau bisa juga malah menciptakan suatu permasalahan baru. Beberapa hal yang bersifat parsial, cabang maupun tambahan seharusnya tidak lebih diutamakan dari hal-hal yang bersifat pokok dan prinsipil.
• Terakhir, sadari, bahwa setiap insan memiliki potensi untuk berbuat salah, dan terkadang ia/mereka tidak melihat/mengetahui ketika berbuat salah. Bukankah orang yang berada dalam hutan tidak dapat mengetahui gambaran hutan secara keseluruhan. Karena itu, dibutuhkan semangat saling ingat-mengingatkan, bantu-membantu dalam bingkai iman dan rasa cinta karena Allah.
Janganlah ragu tuk membantuku ketika diriku sedang berbuat zalim…
“… Kalau ia berbuat kedzaliman hendaklah dicegah karena begitulah cara memberikan pertolongan kepadanya…”
---
Jakarta, 22 Januari 2008
Mengenang Keluhuran Akhlak Rasulullah
Setelah Nabi wafat, seketika itu pula kota Madinah bising dengan tangisan ummat Islam; antara percaya – tidak percaya, Rasul Yang Mulia telah meninggalkan para sahabat. Beberapa waktu kemudian, seorang arab badui menemui Umar dan dia meminta, Ceritakan padaku akhlak Muhammad. Umar menangis mendengar permintaan itu. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Ia menyuruh Arab badui tersebut menemui Bilal. Setelah ditemui dan diajukan permintaan yg sama, Bilal pun menangis, ia tak sanggup menceritakan apapun. Bilal hanya dapat menyuruh orang tersebut menjumpai Ali bin Abi Thalib.
Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi. Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad. Dengan berharap-harap cemas,
Badui ini menemui Ali. Ali dengan linangan air mata berkata, Ceritakan padaku keindahan dunia ini!. Badui ini menjawab, Bagaimana mungkin aku dapat menceritakan segala keindahan dunia ini… Ali menjawab, Engkau tak sanggup menceritakan keindahan dunia padahal Allah telah berfirman bahwa sungguh dunia ini kecil dan hanyalah senda gurau belaka, lalu bagaimana aku dapat melukiskan akhlak Muhammad, sedangkan Allah telah berfirman bahwa sungguh Muhammad SAW memiliki budi pekerti yang agung! (QS. Al-Qalam[68]: 4).
Badui ini lalu menemui Siti Aisyah r.a. Isteri Nabi yang sering disapa Khumairah oleh Nabi ini hanya menjawab, khuluquhu al-Qur’an (Akhlaknya Muhammad itu Al-Qur’an). Seakan-akan Aisyah ingin mengatakan bahwa Nabi itu bagaikan Al-Qur’an berjalan. Badui ini tidak puas, bagaimana bisa ia segera menangkap akhlak Nabi kalau ia harus melihat ke seluruh kandungan Qur’an. Aisyah akhirnya menyarankan Badui ini untuk membaca dan menyimak QS Al-Mu’minun[23]: 1-11.
Bagi para sahabat, masing-masing memiliki kesan tersendiri dari pergaulannya dengan Nabi. Kalau mereka diminta menjelaskan seluruh akhlak Nabi, linangan air mata-lah jawabannya, karena mereka terkenang akan junjungan mereka. Paling-paling mereka hanya mampu menceritakan satu fragmen yang paling indah dan berkesan dalam interaksi mereka dengan Nabi terakhir ini.
Mari kita kembali ke Aisyah. Ketika ditanya, bagaimana perilaku Nabi, Aisyah hanya menjawab, ah semua perilakunya indah. ketika didesak lagi, Aisyah baru bercerita saat terindah baginya, sebagai seorang isteri. Ketika aku sudah berada di tempat tidur dan kami sudah masuk dalam selimut, dan kulit kami sudah bersentuhan, suamiku berkata, ‘Ya Aisyah, izinkan aku untuk menghadap Tuhanku terlebih dahulu.’ Apalagi yang dapat lebih membahagiakan seorang isteri, karena dalam sejumput episode tersebut terkumpul kasih sayang, kebersamaan, perhatian dan rasa hormat dari seorang suami, yang juga seorang utusan Allah.
Nabi Muhammad jugalah yang membikin khawatir hati Aisyah ketika menjelang subuh Aisyah tidak mendapati suaminya disampingnya. Aisyah keluar membuka pintu rumah. terkejut ia bukan kepalang, melihat suaminya tidur di depan pintu. Aisyah berkata, mengapa engkau tidur di sini. Nabi Muhammmad menjawab, aku pulang sudah larut malam, aku khawatir mengganggu tidurmu sehingga aku tidak mengetuk pintu. itulah sebabnya aku tidur di depan pintu. Mari berkaca di diri kita masing-masing. Bagaimana perilaku kita terhadap isteri kita? Nabi mengingatkan, berhati-hatilah kamu terhadap isterimu, karena sungguh kamu akan ditanya di hari akhir tentangnya. Para sahabat pada masa Nabi memperlakukan isteri mereka dengan hormat, mereka takut kalau wahyu turun dan mengecam mereka.
Buat sahabat yang lain, fragmen yang paling indah ketika sahabat tersebut terlambat datang ke Majelis Nabi. Tempat sudah penuh sesak. Ia minta izin untuk mendapat tempat, namun sahabat yang lain tak ada yang mau memberinya tempat. Di tengah kebingungannya, Rasul memanggilnya. Rasul memintanya duduk di dekatnya. Tidak cukup dengan itu, Rasul pun melipat sorbannya lalu diberikan pada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Sahabat tersebut dengan berlinangan air mata, menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk akan tetapi mencium sorban Nabi.
Senangkah kita kalau orang yang kita hormati, pemimpin yang kita junjung tiba-tiba melayani kita bahkan memberikan sorbannya untuk tempat alas duduk kita. Bukankah kalau mendapat kartu lebaran dari seorang pejabat saja kita sangat bersuka cita. Begitulah akhlak Nabi, sebagai pemimpin ia ingin menyenangkan dan melayani bawahannya. Dan tengoklah diri kita. Kita adalah pemimpin, bahkan untuk lingkup paling kecil sekalipun, sudahkah kita meniru akhlak Rasul Yang Mulia.
Nabi Muhammad juga terkenal suka memuji sahabatnya. Kalau kita baca kitab-kitab hadis, kita akan kebingungan menentukan siapa sahabat yang paling utama. Terhadap Abu Bakar, Rasul selalu memujinya. Abu Bakar-lah yang menemani Rasul ketika hijrah. Abu Bakarlah yang diminta menjadi Imam ketika Rasul sakit. Tentang Umar, Rasul pernah berkata, syetan saja takut dengan Umar, bila Umar lewat jalan yang satu, maka Syetan lewat jalan yang lain. Dalam riwayat lain disebutkan, Nabi bermimpi meminum susu. Belum habis satu gelas, Nabi memberikannya pada Umar yang meminumnya sampai habis. Para sahabat bertanya, Ya Rasul apa maksud (ta’wil) mimpimu itu? Rasul menjawab ilmu pengetahuan.
Tentang Utsman, Rasul sangat menghargai Ustman karena itu Utsman menikahi dua putri nabi, hingga Utsman dijuluki dzu an-Nurain (pemilik dua cahaya). Mengenai Ali, Rasul bukan saja menjadikannya ia menantu, tetapi banyak sekali riwayat yang menyebutkan keutamaan Ali. Aku ini kota ilmu, dan Ali adalah pintunya. barang siapa membenci Ali, maka ia merupakan orang munafik.
Lihatlah diri kita sekarang. Bukankah jika ada seorang rekan yang punya sembilan kelebihan dan satu kekurangan, maka kita jauh lebih tertarik berjam-jam untuk membicarakan yang satu itu dan melupakan yang sembilan. Ah…ternyata kita belum suka memuji; kita masih suka mencela. Ternyata kita belum mengikuti sunnah Nabi.
Saya pernah mendengar ada seorang ulama yang mengatakan bahwa Allah pun sangat menghormati Nabi Muhammad. Buktinya, dalam Al-Qur’an Allah memanggil para Nabi dengan sebutan nama: Musa, Ayyub, Zakaria, dll. tetapi ketika memanggil Nabi Muhammad, Allah menyapanya dengan Wahai Nabi . Ternyata Allah saja sangat menghormati beliau.
Para sahabatpun ditegur oleh Allah ketika mereka berlaku tak sopan pada Nabi. Alkisah, rombongan Bani Tamim menghadap rasul. Mereka ingin Rasul menunjuk pemimpin buat mereka. Sebelum Nabi memutuskan siapa, Abu Bakar berkata: Angkat Al-Qa’qa bin Ma’bad sebagai pemimpin. Kata Umar, Tidak, angkatlah Al-Aqra’ bin Habis. Abu Bakar berkata ke Umar, Kamu hanya ingin membantah aku saja, Umar menjawab, Aku tidak bermaksud membantahmu. Keduanya berbantahan sehingga suara mereka terdengar makin keras.
Waktu itu turunlah ayat: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. Takutlah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha Mendengar dan maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menaikkan suaramu di atas suara Nabi. janganlah kamu mengeraskan suara kamu dalam percakapan dengan dia seperti mengeraskan suara kamu ketika bercakap sesama kamu. Nanti hapus amal-amal kamu dan kamu tidak menyadarinya (al-Hujurat 1-2)
Setelah mendengar teguran itu Abu Bakar berkata, Ya Rasul Allah, demi Allah, sejak sekarang aku tidak akan berbicara denganmu kecuali seperti seorang saudara yang membisikkan rahasia. Umar juga berbicara kepada Nabi dengan suara yang lembut. Bahkan konon kabarnya setelah peristiwa itu Umar banyak sekali bersedekah, karena takut amal yang lalu telah terhapus. Para sahabat Nabi takut akan terhapus amal mereka karena melanggar etiket berhadapan dengan Nabi.
Dalam satu kesempatan lain, ketika di Mekkah, Nabi didatangi utusan pembesar Quraisy, Utbah bin Rabi’ah. Ia berkata pada Nabi, Wahai kemenakanku, kau datang membawa agama baru, apa yang sebetulnya kau kehendaki. Jika kau kehendaki harta, akan kami kumpulkan kekayaan kami, Jika Kau inginkan kemuliaan akan kami muliakan engkau. Jika ada sesuatu penyakit yang dideritamu, akan kami carikan obat. Jika kau inginkan kekuasaan, biar kami jadikan engkau penguasa kami
Nabi mendengar dengan sabar uraian tokoh musyrik ini. Tidak sekalipun beliau membantah atau memotong pembicaraannya. Ketika Utbah berhenti, Nabi bertanya, Sudah selesaikah, Ya Abal Walid? Sudah. kata Utbah. Nabi membalas ucapan utbah dengan membaca surat Fushilat. Ketika sampai pada ayat sajdah, Nabi bersujud. Sementara itu Utbah duduk mendengarkan Nabi sampai menyelesaikan bacaannya.
Peristiwa ini sudah lewat ratusan tahun lalu. Kita tidak heran bagaimana Nabi dengan sabar mendengarkan pendapat dan usul Utbah, tokoh musyrik. Kita mengenal akhlak nabi dalam menghormati pendapat orang lain. Inilah akhlak Nabi dalam majelis ilmu. Yang menakjubkan adalah perilaku kita sekarang. Bahkan oleh si Utbbah, si musyrik, kita kalah. Utbah mau mendengarkan Nabi dan menyuruh kaumnya membiarkan Nabi berbicara. Jangankan mendengarkan pendapat orang kafir, kita bahkan tidak mau mendengarkan pendapat saudara kita sesama muslim. Dalam pengajian, suara pembicara kad
Ketika Nabi tiba di Madinah dalam episode hijrah, ada utusan kafir Mekkah yang meminta janji Nabi bahwa Nabi akan mengembalikan siapapun yang pergi ke Madinah setelah perginya Nabi. Selang beberapa waktu kemudian. Seorang sahabat rupanya tertinggal di belakang Nabi. Sahabat ini meninggalkan isterinya, anaknya dan hartanya. Dengan terengah-engah menembus padang pasir, akhirnya ia sampai di Madinah. Dengan perasaan haru ia segera menemui Nabi dan melaporkan kedatangannya. Apa jawab Nabi? Kembalilah engkau ke Mekkah. Sungguh aku telah terikat perjanjian. Semoga Allah melindungimu. Sahabat ini menangis keras.
Bagi Nabi janji adalah suatu yang sangat agung. Meskipun Nabi merasakan bagaimana besarnya pengorbanan sahabat ini untuk berhijrah, bagi Nabi janji adalah janji; bahkan meskipun janji itu diucapkan kepada orang kafir. Bagaimana kita memandang harga suatu janji, merupakan salah satu bentuk jawaban bagaimana perilaku Nabi telah menyerap di sanubari kita atau tidak.
Dalam suatu kesempatan menjelang akhir hayatnya, Nabi berkata pada para sahabat, Mungkin sebentar lagi Allah akan memanggilku, aku tak ingin di padang mahsyar nanti ada diantara kalian yang ingin menuntut balas karena perbuatanku pada kalian. Bila ada yang keberatan dengan perbuatanku pada kalian, ucapkanlah! Sahabat yang lain terdiam, namun ada seorang sahabat yang tiba-tiba bangkit dan berkata, Dahulu ketika engkau memeriksa barisa di saat ingin pergi perang, kau meluruskan posisi aku dengan tongkatmu. Aku tak tahu apakah engkau sengaja atau tidak, tapi aku ingin menuntut qishash hari ini. Para sahabat lain terpana, tidak menyangka ada yang berani berkata seperti itu. Kabarnya Umar langsung berdiri dan siap membereskan orang itu.
Nabi melarangnya. Nabi pun menyuruh Bilal mengambil tongkat ke rumah Nabi. Siti Aisyah yang berada di rumah Nabi keheranan ketika Nabi meminta tongkat. Setelah Bilal menjelaskan peristiwa yang terjadi, Aisyah pun semakin heran, mengapa ada sahabat yang berani berbuat senekad itu setelah semua yang Rasul berikan pada mereka.
Rasul memberikan tongkat tersebut pada sahabat itu seraya menyingkapkan bajunya, sehingga terlihatlah perut Nabi. Nabi berkata, lakukanlah! Detik-detik berikutnya menjadi sangat menegangkan. Tetapi terjadi suatu keanehan. Sahabat tersebut malah menciumi perut Nabi dan memeluk Nabi seraya menangis, Sungguh maksud tujuanku hanyalah untuk memelukmu dan merasakan kulitku bersentuhan dengan tubuhmu!. Aku ikhlas atas semua perilakumu wahai Rasulullah. Seketika itu juga terdengar ucapan, Allahu Akbar berkali-kali. sahabat tersebut tahu, bahwa permintaan Nabi itu tidak mungkin diucapkan kalau Nabi tidak merasa bahwa ajalnya semakin dekat. Sahabat itu tahu bahwa saat perpisahan semakin dekat, ia ingin memeluk Nabi sebelum Allah memanggil Nabi.
Suatu pelajaran lagi buat kita. Menyakiti orang lain baik hati maupun badannya merupakan perbuatan yang amat tercela. Allah tidak akan memaafkan sebelum yang kita sakiti memaafkan kita. Rasul pun sangat hati-hati karena khawatir ada orang yang beliau sakiti. Khawatirkah kita bila ada orang yang kita sakiti menuntut balas nanti di padang Mahsyar di depan Hakim Yang Maha Agung ditengah miliaran umat manusia. Jangan-jangan kita menjadi orang yang muflis. Na’udzu billah…..
Nabi Muhammad ketika saat haji Wada’, di padang Arafah yang terik, dalam keadaan sakit, masih menyempatkan diri berpidato. Di akhir pidatonya itu Nabi dengan dibalut sorban dan tubuh yang menggigil berkata, Nanti di hari pembalasan, kalian akan ditanya oleh Allah apa yang telah aku, sebagai Nabi, perbuat pada kalian. Jika kalian ditanya nanti, apa jawaban kalian? Para sahabat terdiam dan mulai banyak yang meneteskan air mata. Nabi melanjutkan, Bukankah telah kujalani hari-hari bersama kalian dengan lapar, bukankah telah kutaruh beberapa batu diperutku karena menahan lapar bersama kalian, bukankah aku telah bersabar menghadapi kejahilan kalian, bukankah telah ku sampaikan pada kalian wahyu dari Allah…..?
Untuk semua pertanyaan itu, para sahabat menjawab, benar ya Rasul!
Rasul pun mendongakkan kepalanya ke atas, dan berkata, Ya Allah saksikanlah…Ya Allah saksikanlah…Ya Allah saksikanlah! . Nabi meminta kesaksian Allah bahwa Nabi telah menjalankan tugasnya. Di pengajian ini saya pun meminta Allah menyaksikan bahwa kita mencintai Rasulullah. Ya Allah saksikanlah betapa kami mencintai Rasul-Mu, betapa kami sangat ingin bertemu dengan kekasih-Mu, betapa kami sangat ingin meniru semua perilakunya yang indah; semua budi pekertinya yang agung, betapa kami sangat ingin dibangkitkan nanti di padang Mahsyar bersama Nabiyullah Muhammad, betapa kami sangat ingin ditempatkan di dalam surga yang sama dengan surganya Nabi kami. Ya Allah saksikanlah…Ya Allah saksikanlah Ya Allah saksikanlah…..
Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi. Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad. Dengan berharap-harap cemas,
Badui ini menemui Ali. Ali dengan linangan air mata berkata, Ceritakan padaku keindahan dunia ini!. Badui ini menjawab, Bagaimana mungkin aku dapat menceritakan segala keindahan dunia ini… Ali menjawab, Engkau tak sanggup menceritakan keindahan dunia padahal Allah telah berfirman bahwa sungguh dunia ini kecil dan hanyalah senda gurau belaka, lalu bagaimana aku dapat melukiskan akhlak Muhammad, sedangkan Allah telah berfirman bahwa sungguh Muhammad SAW memiliki budi pekerti yang agung! (QS. Al-Qalam[68]: 4).
Badui ini lalu menemui Siti Aisyah r.a. Isteri Nabi yang sering disapa Khumairah oleh Nabi ini hanya menjawab, khuluquhu al-Qur’an (Akhlaknya Muhammad itu Al-Qur’an). Seakan-akan Aisyah ingin mengatakan bahwa Nabi itu bagaikan Al-Qur’an berjalan. Badui ini tidak puas, bagaimana bisa ia segera menangkap akhlak Nabi kalau ia harus melihat ke seluruh kandungan Qur’an. Aisyah akhirnya menyarankan Badui ini untuk membaca dan menyimak QS Al-Mu’minun[23]: 1-11.
Bagi para sahabat, masing-masing memiliki kesan tersendiri dari pergaulannya dengan Nabi. Kalau mereka diminta menjelaskan seluruh akhlak Nabi, linangan air mata-lah jawabannya, karena mereka terkenang akan junjungan mereka. Paling-paling mereka hanya mampu menceritakan satu fragmen yang paling indah dan berkesan dalam interaksi mereka dengan Nabi terakhir ini.
Mari kita kembali ke Aisyah. Ketika ditanya, bagaimana perilaku Nabi, Aisyah hanya menjawab, ah semua perilakunya indah. ketika didesak lagi, Aisyah baru bercerita saat terindah baginya, sebagai seorang isteri. Ketika aku sudah berada di tempat tidur dan kami sudah masuk dalam selimut, dan kulit kami sudah bersentuhan, suamiku berkata, ‘Ya Aisyah, izinkan aku untuk menghadap Tuhanku terlebih dahulu.’ Apalagi yang dapat lebih membahagiakan seorang isteri, karena dalam sejumput episode tersebut terkumpul kasih sayang, kebersamaan, perhatian dan rasa hormat dari seorang suami, yang juga seorang utusan Allah.
Nabi Muhammad jugalah yang membikin khawatir hati Aisyah ketika menjelang subuh Aisyah tidak mendapati suaminya disampingnya. Aisyah keluar membuka pintu rumah. terkejut ia bukan kepalang, melihat suaminya tidur di depan pintu. Aisyah berkata, mengapa engkau tidur di sini. Nabi Muhammmad menjawab, aku pulang sudah larut malam, aku khawatir mengganggu tidurmu sehingga aku tidak mengetuk pintu. itulah sebabnya aku tidur di depan pintu. Mari berkaca di diri kita masing-masing. Bagaimana perilaku kita terhadap isteri kita? Nabi mengingatkan, berhati-hatilah kamu terhadap isterimu, karena sungguh kamu akan ditanya di hari akhir tentangnya. Para sahabat pada masa Nabi memperlakukan isteri mereka dengan hormat, mereka takut kalau wahyu turun dan mengecam mereka.
Buat sahabat yang lain, fragmen yang paling indah ketika sahabat tersebut terlambat datang ke Majelis Nabi. Tempat sudah penuh sesak. Ia minta izin untuk mendapat tempat, namun sahabat yang lain tak ada yang mau memberinya tempat. Di tengah kebingungannya, Rasul memanggilnya. Rasul memintanya duduk di dekatnya. Tidak cukup dengan itu, Rasul pun melipat sorbannya lalu diberikan pada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Sahabat tersebut dengan berlinangan air mata, menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk akan tetapi mencium sorban Nabi.
Senangkah kita kalau orang yang kita hormati, pemimpin yang kita junjung tiba-tiba melayani kita bahkan memberikan sorbannya untuk tempat alas duduk kita. Bukankah kalau mendapat kartu lebaran dari seorang pejabat saja kita sangat bersuka cita. Begitulah akhlak Nabi, sebagai pemimpin ia ingin menyenangkan dan melayani bawahannya. Dan tengoklah diri kita. Kita adalah pemimpin, bahkan untuk lingkup paling kecil sekalipun, sudahkah kita meniru akhlak Rasul Yang Mulia.
Nabi Muhammad juga terkenal suka memuji sahabatnya. Kalau kita baca kitab-kitab hadis, kita akan kebingungan menentukan siapa sahabat yang paling utama. Terhadap Abu Bakar, Rasul selalu memujinya. Abu Bakar-lah yang menemani Rasul ketika hijrah. Abu Bakarlah yang diminta menjadi Imam ketika Rasul sakit. Tentang Umar, Rasul pernah berkata, syetan saja takut dengan Umar, bila Umar lewat jalan yang satu, maka Syetan lewat jalan yang lain. Dalam riwayat lain disebutkan, Nabi bermimpi meminum susu. Belum habis satu gelas, Nabi memberikannya pada Umar yang meminumnya sampai habis. Para sahabat bertanya, Ya Rasul apa maksud (ta’wil) mimpimu itu? Rasul menjawab ilmu pengetahuan.
Tentang Utsman, Rasul sangat menghargai Ustman karena itu Utsman menikahi dua putri nabi, hingga Utsman dijuluki dzu an-Nurain (pemilik dua cahaya). Mengenai Ali, Rasul bukan saja menjadikannya ia menantu, tetapi banyak sekali riwayat yang menyebutkan keutamaan Ali. Aku ini kota ilmu, dan Ali adalah pintunya. barang siapa membenci Ali, maka ia merupakan orang munafik.
Lihatlah diri kita sekarang. Bukankah jika ada seorang rekan yang punya sembilan kelebihan dan satu kekurangan, maka kita jauh lebih tertarik berjam-jam untuk membicarakan yang satu itu dan melupakan yang sembilan. Ah…ternyata kita belum suka memuji; kita masih suka mencela. Ternyata kita belum mengikuti sunnah Nabi.
Saya pernah mendengar ada seorang ulama yang mengatakan bahwa Allah pun sangat menghormati Nabi Muhammad. Buktinya, dalam Al-Qur’an Allah memanggil para Nabi dengan sebutan nama: Musa, Ayyub, Zakaria, dll. tetapi ketika memanggil Nabi Muhammad, Allah menyapanya dengan Wahai Nabi . Ternyata Allah saja sangat menghormati beliau.
Para sahabatpun ditegur oleh Allah ketika mereka berlaku tak sopan pada Nabi. Alkisah, rombongan Bani Tamim menghadap rasul. Mereka ingin Rasul menunjuk pemimpin buat mereka. Sebelum Nabi memutuskan siapa, Abu Bakar berkata: Angkat Al-Qa’qa bin Ma’bad sebagai pemimpin. Kata Umar, Tidak, angkatlah Al-Aqra’ bin Habis. Abu Bakar berkata ke Umar, Kamu hanya ingin membantah aku saja, Umar menjawab, Aku tidak bermaksud membantahmu. Keduanya berbantahan sehingga suara mereka terdengar makin keras.
Waktu itu turunlah ayat: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. Takutlah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha Mendengar dan maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menaikkan suaramu di atas suara Nabi. janganlah kamu mengeraskan suara kamu dalam percakapan dengan dia seperti mengeraskan suara kamu ketika bercakap sesama kamu. Nanti hapus amal-amal kamu dan kamu tidak menyadarinya (al-Hujurat 1-2)
Setelah mendengar teguran itu Abu Bakar berkata, Ya Rasul Allah, demi Allah, sejak sekarang aku tidak akan berbicara denganmu kecuali seperti seorang saudara yang membisikkan rahasia. Umar juga berbicara kepada Nabi dengan suara yang lembut. Bahkan konon kabarnya setelah peristiwa itu Umar banyak sekali bersedekah, karena takut amal yang lalu telah terhapus. Para sahabat Nabi takut akan terhapus amal mereka karena melanggar etiket berhadapan dengan Nabi.
Dalam satu kesempatan lain, ketika di Mekkah, Nabi didatangi utusan pembesar Quraisy, Utbah bin Rabi’ah. Ia berkata pada Nabi, Wahai kemenakanku, kau datang membawa agama baru, apa yang sebetulnya kau kehendaki. Jika kau kehendaki harta, akan kami kumpulkan kekayaan kami, Jika Kau inginkan kemuliaan akan kami muliakan engkau. Jika ada sesuatu penyakit yang dideritamu, akan kami carikan obat. Jika kau inginkan kekuasaan, biar kami jadikan engkau penguasa kami
Nabi mendengar dengan sabar uraian tokoh musyrik ini. Tidak sekalipun beliau membantah atau memotong pembicaraannya. Ketika Utbah berhenti, Nabi bertanya, Sudah selesaikah, Ya Abal Walid? Sudah. kata Utbah. Nabi membalas ucapan utbah dengan membaca surat Fushilat. Ketika sampai pada ayat sajdah, Nabi bersujud. Sementara itu Utbah duduk mendengarkan Nabi sampai menyelesaikan bacaannya.
Peristiwa ini sudah lewat ratusan tahun lalu. Kita tidak heran bagaimana Nabi dengan sabar mendengarkan pendapat dan usul Utbah, tokoh musyrik. Kita mengenal akhlak nabi dalam menghormati pendapat orang lain. Inilah akhlak Nabi dalam majelis ilmu. Yang menakjubkan adalah perilaku kita sekarang. Bahkan oleh si Utbbah, si musyrik, kita kalah. Utbah mau mendengarkan Nabi dan menyuruh kaumnya membiarkan Nabi berbicara. Jangankan mendengarkan pendapat orang kafir, kita bahkan tidak mau mendengarkan pendapat saudara kita sesama muslim. Dalam pengajian, suara pembicara kad
Ketika Nabi tiba di Madinah dalam episode hijrah, ada utusan kafir Mekkah yang meminta janji Nabi bahwa Nabi akan mengembalikan siapapun yang pergi ke Madinah setelah perginya Nabi. Selang beberapa waktu kemudian. Seorang sahabat rupanya tertinggal di belakang Nabi. Sahabat ini meninggalkan isterinya, anaknya dan hartanya. Dengan terengah-engah menembus padang pasir, akhirnya ia sampai di Madinah. Dengan perasaan haru ia segera menemui Nabi dan melaporkan kedatangannya. Apa jawab Nabi? Kembalilah engkau ke Mekkah. Sungguh aku telah terikat perjanjian. Semoga Allah melindungimu. Sahabat ini menangis keras.
Bagi Nabi janji adalah suatu yang sangat agung. Meskipun Nabi merasakan bagaimana besarnya pengorbanan sahabat ini untuk berhijrah, bagi Nabi janji adalah janji; bahkan meskipun janji itu diucapkan kepada orang kafir. Bagaimana kita memandang harga suatu janji, merupakan salah satu bentuk jawaban bagaimana perilaku Nabi telah menyerap di sanubari kita atau tidak.
Dalam suatu kesempatan menjelang akhir hayatnya, Nabi berkata pada para sahabat, Mungkin sebentar lagi Allah akan memanggilku, aku tak ingin di padang mahsyar nanti ada diantara kalian yang ingin menuntut balas karena perbuatanku pada kalian. Bila ada yang keberatan dengan perbuatanku pada kalian, ucapkanlah! Sahabat yang lain terdiam, namun ada seorang sahabat yang tiba-tiba bangkit dan berkata, Dahulu ketika engkau memeriksa barisa di saat ingin pergi perang, kau meluruskan posisi aku dengan tongkatmu. Aku tak tahu apakah engkau sengaja atau tidak, tapi aku ingin menuntut qishash hari ini. Para sahabat lain terpana, tidak menyangka ada yang berani berkata seperti itu. Kabarnya Umar langsung berdiri dan siap membereskan orang itu.
Nabi melarangnya. Nabi pun menyuruh Bilal mengambil tongkat ke rumah Nabi. Siti Aisyah yang berada di rumah Nabi keheranan ketika Nabi meminta tongkat. Setelah Bilal menjelaskan peristiwa yang terjadi, Aisyah pun semakin heran, mengapa ada sahabat yang berani berbuat senekad itu setelah semua yang Rasul berikan pada mereka.
Rasul memberikan tongkat tersebut pada sahabat itu seraya menyingkapkan bajunya, sehingga terlihatlah perut Nabi. Nabi berkata, lakukanlah! Detik-detik berikutnya menjadi sangat menegangkan. Tetapi terjadi suatu keanehan. Sahabat tersebut malah menciumi perut Nabi dan memeluk Nabi seraya menangis, Sungguh maksud tujuanku hanyalah untuk memelukmu dan merasakan kulitku bersentuhan dengan tubuhmu!. Aku ikhlas atas semua perilakumu wahai Rasulullah. Seketika itu juga terdengar ucapan, Allahu Akbar berkali-kali. sahabat tersebut tahu, bahwa permintaan Nabi itu tidak mungkin diucapkan kalau Nabi tidak merasa bahwa ajalnya semakin dekat. Sahabat itu tahu bahwa saat perpisahan semakin dekat, ia ingin memeluk Nabi sebelum Allah memanggil Nabi.
Suatu pelajaran lagi buat kita. Menyakiti orang lain baik hati maupun badannya merupakan perbuatan yang amat tercela. Allah tidak akan memaafkan sebelum yang kita sakiti memaafkan kita. Rasul pun sangat hati-hati karena khawatir ada orang yang beliau sakiti. Khawatirkah kita bila ada orang yang kita sakiti menuntut balas nanti di padang Mahsyar di depan Hakim Yang Maha Agung ditengah miliaran umat manusia. Jangan-jangan kita menjadi orang yang muflis. Na’udzu billah…..
Nabi Muhammad ketika saat haji Wada’, di padang Arafah yang terik, dalam keadaan sakit, masih menyempatkan diri berpidato. Di akhir pidatonya itu Nabi dengan dibalut sorban dan tubuh yang menggigil berkata, Nanti di hari pembalasan, kalian akan ditanya oleh Allah apa yang telah aku, sebagai Nabi, perbuat pada kalian. Jika kalian ditanya nanti, apa jawaban kalian? Para sahabat terdiam dan mulai banyak yang meneteskan air mata. Nabi melanjutkan, Bukankah telah kujalani hari-hari bersama kalian dengan lapar, bukankah telah kutaruh beberapa batu diperutku karena menahan lapar bersama kalian, bukankah aku telah bersabar menghadapi kejahilan kalian, bukankah telah ku sampaikan pada kalian wahyu dari Allah…..?
Untuk semua pertanyaan itu, para sahabat menjawab, benar ya Rasul!
Rasul pun mendongakkan kepalanya ke atas, dan berkata, Ya Allah saksikanlah…Ya Allah saksikanlah…Ya Allah saksikanlah! . Nabi meminta kesaksian Allah bahwa Nabi telah menjalankan tugasnya. Di pengajian ini saya pun meminta Allah menyaksikan bahwa kita mencintai Rasulullah. Ya Allah saksikanlah betapa kami mencintai Rasul-Mu, betapa kami sangat ingin bertemu dengan kekasih-Mu, betapa kami sangat ingin meniru semua perilakunya yang indah; semua budi pekertinya yang agung, betapa kami sangat ingin dibangkitkan nanti di padang Mahsyar bersama Nabiyullah Muhammad, betapa kami sangat ingin ditempatkan di dalam surga yang sama dengan surganya Nabi kami. Ya Allah saksikanlah…Ya Allah saksikanlah Ya Allah saksikanlah…..
Langganan:
Postingan (Atom)



